
“Apa?! Jadi Anda Lady suci itu??”
“Eh, kau, kau dengar dari mana??” tanya Ethelyne kaget.
Wanita paruh baya itu tampak membulatkan matanya, dia langsung berlutut dan membuat Ethelyne tambah kaget.
“Maafkan ketidaksopanan hamba, Lady suci. Hamba benar-benar tidak tau kalau itu Anda.”
“Tunggu, tunggu. Apa yang Nyonya lakukan? Tolong cepat berdiri.” Ethelyne berusaha membantu wanita itu berdiri, namun sang wanita tetap ngotot untuk berlutut.
Wanita itu menoleh ke arah Aliya, dia mengangkat sebelah tangannya ke arah gadis kecil itu dengan senyum lembut. “Sayang kemarilah.”
Meskipun tampak bingung, Aliya tetap berjalan ke arah sang ibu.
“Aliya, kamu sangat beruntung sayang.” Wanita itu mengusap wajah Aliya dengan lembut.
“Beruntung?”
“Iya, sayang. Kakak ini adalah seorang Lady suci, dia akan menjadi pelindung dunia ini.”
Aliya menoleh ke arah Ethelyne dengan tatapan kagum. “Kakak pelindung dunia? Berarti kakak memiliki kekuatan yang besar kan?”
Ethelyne menggaruk pipinya dengan pandangan yang mengarah ke arah lain. ‘Padahal aku ingin menyembunyikan indetitasku, lagipula. Sudah beberapa bulan berlalu (mungkin) kenapa mereka masih bisa mengingatku? Sialan! Aku hanya ingin hidup normal!!’
“Sejak Anda lahir, hidup Anda sudah terikat dengan semesta, Master.”
Ethelyne terdiam membeku dengan mata membulat. ‘Laurie?!!’
“Master... huaaaaaa, saya sangat merindukan Anda master, saya. Saya sangat kesepian saat tidak ada Anda.”
“Jangan berteriak keras begitu, bodoh!”
“Huaaa! Vio memarahiku lagi!”
“Sudah kukatakan diam!”
“Aduh, berhenti memukulku, apa kau tidak kasihan padaku??”
“Tidak tuh.”
“Dasar serigala beruban!”
“Apa?? Dasar--”
__ADS_1
‘Sudah, sudah. Berhenti bertengkar, lagipula, kita sudah lama tidak berbicara bersama-sama,’ batin Ethelyne melerai keduanya.
“Humph, kalau bukan karena Nona. Aku pasti akan memukulmu lagi.”
“Dasar Vio bodoh!”
“Hng!”
Ethelyne tersenyum canggung. “Fyuuh, untunglah mereka berhenti bertengkar. Jika tidak, mungkin gendang telingaku akan pecah mendengar suara mereka. Omong-omong, sudah lama sekali sejak terakhir kali kami berbicara dengan saling bertatapan, bagaimana ya wujud Laurie dan Vio kali ini? Apa mereka bertambah besar? Aku tidak sabar melihat keduanya.’
“Kak Ethelyne.”
Ethelyne tersadar dari lamunannya, dia menunduk dan menatap Aliya yang menarik ujung lengan pakaiannya pelan. “Ada apa?”
“A-anu...” Aliya memainkan jemarinya sambil menunduk. “Jika kakak tidak keberatan, apa kakak bisa menunjukkan kekuatan kakak padaku?”
“Eh?”
“A-aku tidak memaksa kok,” jelas Aliya gelagapan, dia menunduk. “Aku hanya ingin tau, bagaimana kekuatan suci itu...” cicitnya.
Ethelyne tersenyum, dia berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Aliya. “Baiklah, tapi bukan hari ini ya. Bagaimana kalau kita bertemu besok di ...”
“Bagaimana kalau di hutan?” tanya Aliya saat melihat Ethelyne kebingungan.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Tentu, mari bertemu lagi besok di hutan pada siang hari.” Dia menggenggam kedua tangan mungil Aliya. “Ini hadiah terima kasih dariku padamu.”
“Bagaimana? Indah kan? Kupu-kupu ini akan melindungi Liya saat aku tidak ada, jadi. Bagaimana kalau memberinya nama?”
“Em!” kata Aliya dengan semangat, dia menutup matanya sambil memikirkan sebuah nama yang bagus. Aliya tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan berbinar. “Elf!”
“Wah, nama yang bagus. Baiklah, mulai sekarang, namanya adalah Elf.”
Elf terbang dan mengelilingi Aliya.
Ethelyne yang melihat itu tersenyum. “Sepertinya Elf sangat menyukai nama barunya.” Dia mengusap kepala Aliya. “Kau sangat pintar memilihkan nama, Liya.”
~♥~
“Itu semua karena kau menghabiskan air suci!”
“Hah?? Bukannya kau yang menggunakan semuanya untuk mandimu!”
“Ugh, itu. Tapi kan kau yang membuang-buang air suci itu! Lagipula air itu efektif untuk memulihkan jiwa seperti kita!”
__ADS_1
“Jadi sekarang kau tidak menyangkal kalau kau yang menghabiskan air suci?”
“Bukan aku!”
Ethelyne menutup kedua telinganya dengan bantal, sudah hampir setengah jam Laurie dan Vio saling adu mulut, tak ada satupun di antara keduanya yang mau mengalah.
“Eum, semuanya--”
“Pokoknya ini salahmu!”
“Cih, padahal kau yang membuat air suci itu mubazir, salahmu sendiri menggunakan semuanya hanya untuk mandi.”
“Aku tidak menggunakan semuanya!”
“Cukup!!” kata Ethelyne dengan tegas dan penuh ancaman, dia menatap keduanya kesal. “Kenapa kalian tidak tau tempat sekali?! Kalian sedang ada di alam iblis tau, di alam iblis! Apa kalian pikir, jika iblis-iblis lain mendengar ucapan kalian. Mereka akan membiarkan kalian pergi?”
“Jangan menakut-nakuti kami, Master. Kami itu berkontrak dengan Anda, tidak akan ada yang berani menganggu kami asal menyebut nama Anda,” kata Laurie bangga, Vio mengangguk membenarkan.
“Heh.” Ethelyne tersenyum sembari bersedekap dada. “Kalau begitu, aku bilang saja pada Kathel kalau kalian itu menyebalkan. Kira-kira, apa ya yang akan dia lakukan?”
Laurie dan Vio seketika terkejut mendengar ucapan Ethelyne. “Tunggu, tidak perlu sampai meminta bantuan Yang Mulia Ratu kan?”
“Yah, mau bagaimana lagi? Kalian sudah tidak mau menurutiku lagi.” Ethelyne memulai aktingnya dan memasang raut sedih. “Padahal sudah lama kita tidak bertemu, tapi saat aku memanggil kalian berdua. Kalian malah sibuk bertengkar dan mengabaikanku. Oh~ sungguh kasihan sekali aku ini, kenapa tidak ada satupun yang perduli padaku?” tanyanya mendramatis, Dia pura-pura mengusap air matanya. “Aku ini--”
“Huaa, maafkan aku master~” kata Laurie sembari memeluk Ethelyne dan menangis sesegukan. “Padahal kita sudah lama tidak bertemu, tapi saya malah sibuk bertengkar dengan orang tua itu. Maafkan saya,” lanjutnya semakin terisak.
Ethelyne diam-diam melirik Vio saat mendengar sindiran dari Laurie yang entah disengaja atau tidak, dia menghela napas lega saat melihat Vio yang tak terpancing emosi atas ucapan Laurie.
“Bataimana kabarmu, Vio?” tanya Ethelyne sambil mengusap kepala Laurie yang masih memeluk perutnya.
“Saya baik-baik saja, Nona. Saya senang Anda bisa kembali dengan selamat.”
Ethelyne tersenyum lebar. “Aku juga senang bisa melihatmu lagi.” Dia menunduk dan menatap Laurie yang mulai tertidur. “Sepertinya hubungan kalian tidak terlalu baik ya.”
“Anda terlalu banyak berpikir, Nona. Hubungan kami baik-baik saja, kami hanya sering bertengkar karena hal sepele, tapi itu bukan apa-apa. Anda tidak perlu khawatir karena saya akan berusaha untuk melindunginya.”
“Terima kasih. Omong-omong, bagaimana keadaan Eadric? Apa dia pernah memanggilmu saat aku tertidur?”
“Soal itu...” Vio melirik ke arah lain dan berusaha menghindari tatapan dari Ethelyne yang tampak penasaran.
“Soal itu apa?”
“Sebenarnya, Yang Mulia pangeran membuang bunga lima warna itu. Jadi, saya tidak tau bagaimana keadaan beliau dan apa yang telah terjadi di istana, maafkan saya.”
__ADS_1
“Itu bukan kesalahanmu.” Ethelyne tersenyum lembut. ‘Tidak mungkin Eadric membuang bunga itu tanpa sebab, aku yakin pasti orang lain berpura-pura menjadi dia dan membuang bunga itu. Tapi siapa yang begitu dekat dengannya sampai bisa masuk ke kamarnya sesuka hati? Ned? Tidak, sepertinya bukan dia, lagipula. Kami tidak punya dendam apapun, jadi siapa pelakunya?’
~♥~~♥~