Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
73. Pengorbanan (2)


__ADS_3

“Silahkan, bagaimana kabar Yang Mulia sekarang?” tanya Meli sambil meletakkan secangkir teh di atas meja, dia menoleh ke arah Ethelyne yang duduk di tepi jendela sambil menopang dagunya. “Yang Mulia …”


“Hem?”


“Apa Anda akan benar-benar menjadikan semua manusia itu menjadi makanan para iblis?” tanya Meli ragu.


Ethelyne menoleh ke arahnya dengan raut wajah bingung. “Maksudmu?”


“Saya mendengar dari Tuan Harvey dan Gareth, katanya. Anda akan menjadikan semua tahanan sebagai tumbal untuk para iblis.” Meli menyembunyikan kepalan tangannya di balik gaun pelayan yang dia kenakan. “Apa, Anda tidak bisa mengurangi hukuman mereka?”


Ethelyne menoleh ke arah jendela. “Sebenarnya, itu tidak termasuk hukuman. Karena pada dasarnya, bagi iblis. Manusia adalah nutrisi yang sempurna … tapi jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apapun pada mereka. Setelah tiba saatnya nanti, aku akan membebaskan mereka dan mengembalikan semua manusia ke dunia tengah.”


“Begitu, ya.” Meli tersenyum tipis. “Silahkan minum tehnya selagi panas, Yang Mulia juga harus ingat untuk menjaga kesehatan Anda.”


“Iya, iya. Jangan mengomel lagi … oh iya, tolong temui Loreen dan minta dia mengambilkan buah di hutan gelap.”


“Buah apa? Biar saya yang mengambilkannya.”


“Tidak usah repot-repot, biar Loreen yang pergi. Kau cukup sampaikan pesanku.”


“Baiklah, saya permisi.” Meli membungkuk dan berjalan keluar.


Di dalam kamar, Ethelyne menghela napas. Warna matanya silih berganti antara merah dan biru. ‘Dasar bodoh, kau tidak bisa bertahan lama dengan sisa jiwa yang sangat sedikit. Aku tidak pernah mengira kau akan mengorbankan dirimu demi seorang manusia biasa.’ Dia kembali menghela napas. “Lupakan, aku benar-benar tidak ada suasana hati untuk berbicara denganmu.”




“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Aelene khawatir.



“Aku baik-baik saja, apa rencananya berjalan sempurna?”



“Rencana apa! Kau hampir saja mati karena meminum racun itu!!” marah Zachary, bisa-bisanya sang kakak memikirkan soal rencana yang justru mengancam nyawanya.



“Tidak usah pedulikan aku, bagaimana rencananya?” tanya Eadric datar.



Zachary menatapnya geram, pria itu berdecak sambil membuang muka.



“Rencananya berjalan dengan baik, tapi karena rencana itu. Anda hampir saja mati keracunan.”



“Oh.”



“Oh?!” Zachary menatap Eadric dengan raut wajah frustasi. “Apa nyawamu itu hanya sekedar "Oh" saja??”



“Sudahlah, lagipula aku baik-baik saja.”



“Iya, kau baik-baik saja karena bantuan Ethelyne. Jika dia tidak datang, kau akan mati. Bahkan jiwamu pun tidak akan bisa bereinkarnasi lagi!!”



“Maksudmu?”


__ADS_1


Zachary menarik napas dalam-dalam, dia kini siap untuk mengomeli Eadric sepuasnya. Namun baru saja hendak bicara, Aelene menghentikannya.



“Biar aku yang jelaskan,” kata gadis itu dan melangkah ke arah Eadric, dia mengangkat tangannya dan menyentuh dahi Eadric. “Racunnya sudah mulai menghilang, sepertinya. Ethelyne, dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanmu.”



“Apa?? Apa maksudmu? Bukankah yang kuminum hanya racun biasa.”



“Racun biasa matamu!” kata Zachary ngegas, namun sedetik kemudian. Dia diberi tatapan tajam oleh sang tunangan. “Baik, aku akan diam.”



Aelene menghela napas, dia mulai menceritakan semua yang mereka dengar sebelumnya.



Setelah mendengar semuanya dengan seksama, Eadric sendiri tampak terkejut. Dia tidak menyangka racun yang dia anggap biasa ternyata bisa membahayakan nyawanya.



“Lalu, bagaimana keadaan Ethelyne sekarang??”



“Yah, kami tidak tau dengan pasti. Tapi sepertinya dia baik-baik saja, lebih baik. Kau istirahatlah sejenak, jika ada kesempatan. Aku akan menyelinap keluar dan mengecek keadaanya.”



“Tidak bisa, itu terlalu berbahaya untuk seorang gadis sepertimu. Biar aku saja yang pergi.”



“Kau tidak mengenal Ethelyne dengan baik, Zion. Meskipun aku tidak tau dengan jelas struktur istana ini, tapi aku yakin. Aku bisa menemukannya nanti.”




“Apa kau lupa yang dikatakan roh waktu saat itu?” Aelene menunduk sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. “Kekuatan Demon sangat berbahaya, Zion. Dulu, aku berpikir kekuatan itu akan menjadikannya sangat kuat dan tidak terkalahkan. Tapi ternyata, itu hanyalah kutukan berbahaya yang akan merenggut nyawanya suatu hari nanti.”



“Ayolah Aelene, berhenti bersikap dramatis. Lagipula, dia sudah melewati umur 20 tahun. Dia tidak akan mati karena jiwa Demon dalam dirinya sudah musnah.”



“Meaki begitu--”



“Cukup! Apa kalian hanya akan beradu argumen di sini sampai ada kabar kematian gadis itu?! Jika kalian tidak ingin pergi, maka biar aku saja yang mengecek keadaannya!” lerai Eadric.



“Tapi--”



“Tidak ada bantahan!!”



Keempatnya hanya bisa menghela napas, mah bagaimana lagi. Sang pangeran telah membuat keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.



“Baik, jika itu keinginan kakak.”

__ADS_1



“Bagus, kalau begitu. Kalian bantu aku alihkan perhatian pelayan yang berjaga di luar, saat ada celah. Aku akan keluar dari barier dan menemuinya segera.”



“Kami akan membantumu sebisa mungkin!” kata Aelene dengan penuh semangat.



~~~♥~~~



“Master, kenapa Anda tiba-tiba ke dunia manusia? Bukankah itu terlalu berbahaya, apalagi. Wabah sudah muncul di desa-desa sekitaran,” kata Laurie sambil mengikuti langkah kaki Ethelyne yang sangat cepat.



“Kau cukup diam dan ikuti aku, hanya ini satu-satunya cara agar jiwa suci Ethelyne bisa bertahan.”



Laurie langsung terhenti mendengar ucapan Ethelyne. “Apa Anda … ingin membantu master?”



Ethelyne melirik Laurie sambil berdecak. “Kau cukup diam dan ikuti aku.” Dia masuk ke sebuah toko obat yang kini ditinggalkan, Ethelyne mengambil beberapa ramuan herbal dan menumbuknya. Dia kemudian memeras tanaman herbal itu hingga mengeluarkan air.



“Apa yang sebenarnya ingin Anda lakukan?”



“Sudah kukatakan, kau cukup diam dan lihat saja … lupakan ucapanku, pergi ke istana matahari dan bawa bunga lima warna kemari.”



“Anda sebenarnya ingin membuat apa? Apa semuanya sungguh untuk menyelamatkan master?”



“Sudah kukatakan untuk diam dan ikuti saja perintahku!” kata Ethelyne marah, waktu terus berjalan namun gadis sialan di belakangnya malah menanyakan hal yang tidak berfaedah.



“Maaf. Saya akan segera membawakannya.” Laurie berbalik dan berlari keluar, karena energinya yang terhubung dengan jiwa suci Ethelyne. Dia tidak bisa menggunakan semua kekuatannya, bahkan. Karena jiwa Ethelyne yang sisa sedikit, dia jadi ikut lemah dan tidak bisa berteleportasi sama sekali. ‘Cepat, cepat! Jika kau ingin master selamat, kau harus cepat mengambil bunga itu!!’



~~~♥~~~



“Mama, kenapa Mama melakukan hal yang nekat lagi?”



“Hahaha, bagaimana ya menjelaskannya.” Ethelyne tertawa hambar sambil menggaruk pipinya yang tak gatal.



Luna menggembungkan pipinya. “Mama lagi-lagi mengingkari janji.”



“Hehehe.”



“Jangan tertawa! Mama pikir ini lucu??”

__ADS_1



“Baik, baik. Mama tidak akan tertawa lagi.” Ethelyne berjongkok dan mencubit pipi chubby Luna. ‘Imutnya, andaikan saja dia bukan anakku. Mungkin aku akan menculiknya dan tidak membiarkannya pergi dari hadapanku.’


__ADS_2