Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
90. Ilusi Kematian


__ADS_3

Mika yang berdiri di sampingnya menepuk pundak Ethelyne dan berbisik. “Tenanglah, aku yakin. Ritualnya akan berjalan lancar.”


Ethelyne menatap Mika resah, dia melirik jiwa sucinya yang masih terbelenggu oleh rantai. ‘Semoga saja.’




‘Sebenarnya aku ini apa? Aku di mana? Meski sudah tinggal di sini sejak lahir, tapi kenapa aku masih merasa asing dengan dunia ini? Kenapa aku merasa kalau hatiku sangat kosong?’ Gadis berambut perak dengan warna mata biru menyentuh dadanya yang berdetak tak karuan. ‘Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?’



“Ethelyne! Ayo cepat, kalau tidak. Kau akan kehabisan!!”



Teriakan itu sontak membuat gadis berambut perak itu terlonjak kaget. “Ah, iya. Aku akan datang!” Dia yang dipanggil Ethelyne berlari kecil ke arah gadis seumurannya yang berambut dan bermata merah.



Gadis itu tampak berkacak pinggang sambil menatap Ethelyne. “Ada apa? Wajahmu terlihat pucat, apa kau sedang sakit? Kau seharusnya tidak memaksakan dirimu! Bagaimana jika Erik tau? Dia pasti akan menghabisiku!”



Ethelyne terkekeh kecil. “Tidak akan separah itu kok, lagipula. Tina kan sahabatku, omong-omong. Di mana yang lainnya? Tidak mungkin kan mereka meninggalkan kita.”



“Ah, mereka ya.” Tina menunjuk ke satu arah dengan kipasnya. “Itu, mereka saling berebutan untuk melihat Erik bodoh itu.”



“Hahaha, kakakmu populer juga ya.”



Tina menghela napas. “Mau bagaimana lagi, kakakku kan sangat tampan. Lagipula, aku yakin. Tidak akan ada yang berani mendekati kakak saat melihat kakak ipar.”



“Duh, jangan memanggilku begitu. Lagipula, kenapa mereka tidak mendekati Erik? Apa aku terlihat sangat menakutkan?” tanya Ethelyne dengan raut wajah yang tampak sedih.



“Bukan seperti itu, kakak ipar~ hanya saja kan. Kalau kakak bersama Kak Erik, gadis-gadis lain akan menjadi tidak percaya diri dan iri karena melihat kecantikan kakak ipar yang tidak ada duanya. Jadi tentu saja mereka tidak akan berani mendekati kakak, terlebih lagi kan. Kakak ipar adalah putri kesayangan Raja, jadi tidak akan ada yang berani menganggu kakak.”



“Baik, baik.” Ethelyne tersenyum sambil mengacak rambut Tina. “Tapi berhenti memanggilku kakak ipar, ok.”



“Tapi kan, Kakak ipar sudah bertunangan dengan kakak. Dan jika kakak ipar menikah dengan kakak, maka kakak tetap akan kupanggilkan kakak ipar kan. Jadi.” Tina memeluk lengan Ethelyne. “Lebih baik dibiasakan dari sekarang.”



“Eum … terserah kau saja deh.”



Tina tersenyum senang, dia menarik tangan Ethelyne ke arah kerumunan. “Permisi, permisi. Beri jalan, Calok kakak iparku ingin lewat,” katanya sambil menggeser gadis-gadis yang saling berdesak-desakan.

__ADS_1



Ethelyne tiba-tiba menarik tangan Tina keluar dari kerumunan.



“Ish, kakak ini kenapa? Bukannya ingin mengajak Kak Erik untuk berbelanja bersama.” Tina menggembung pipinya kesal.



“Nanti saja ya, lagipula. Erik sepertinya sedang sibuk, bagaimana jika kita mengajaknya lain kali saja?”



“Tapi kan, aku inginnya sekarang!”



Ethelyne mengacak rambut Tina. “Anak baik, dengarkan kata-kata kakak ya. Kau ingin aku jadi kakak iparmu kan?”



Tina mengangguk kecil dengan raut wajah polos.



Ethelyne tersenyum. “Jadi, kau harus menurut pada kakak atau kakak akan meninggalkanmu. Mengerti.”



“Eh, apa kau juga akan meninggalkanku?”




Ethelyne langsung berdiri di belakang Tina sambil memegang lehernya yang gatal. “Kau!” katanya dengan wajah memerah.



“Kak Erik! Kenapa kakak ada di sini, bukannya tadi …” Tina mengalihkan pandangannya ke belakang, pria yang mirip Erik masih terlihat jelas di dalam kereta kuda. Dia mengalihkan kembali pandangannya ke arah pria tampan berambut merah maron di hadapannya. “Jangan-jangan, yang ada di gerbong itu …” Tina cekikikan. “Kasihan sekali kak Joshua,” katanya di sela tawanya.



“Mau bagaimana lagi, jika dia tidak menggantikanku. Aku mana bisa menemui kalian.” Erik mengalihkan pandangannya ke arah Ethelyne yang bersembunyi di balik Tina. “Kenapa bersembunyi? Tunanganku.”



“Diam ya! Jangan, jangan memanggilku seperti itu!” Ethelyne menunjuk wajah Erik meski dia masih bersembunyi di belakang Tina.



“Wah, Kak Lyne jadi pemalu di depan Kak Erik ya. Padahal di istana tadi, Kakak selalu membicarakan tentang kak--”



Sebelum Tina menyelesaikan kalimatnya, Ethelyne sudah lebih dulu membekap mulutnya gadis itu. “Hahaha, kau ini bicara apa sih? Aku tidak pernah membicarakan siapapun tuh,” katanya sambil tertawa hambar. “Kau jangan buka rahasia dong!” bisiknya pelan.



Tina hanya bisa mengangguk karena mulutnya masih dibekap, setelah memastikan Tina benar-benar diam. Ethelyne baru menurunkan tangannya.

__ADS_1



Erik hanya tersenyum melihat keduanya. “Katanya kalian ingin mengajakku berbelanja.”



“Oh iya!” Tina menepuk dahinya, dia menggenggam tangan Ethelyne dan Erik. “Ayo kita cepat pergi! Jika tidak, aku akan kehabisan barang itu!” Tina menarik keduanya menjauh dari keramaian.



“Mama! Bangunlah, Mama!!” ~



Ethelyne tiba-tiba berhenti sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.



“Kak Lyne? Kau kenapa?” tanya Tina khawatir.



“Jika kau sakit, lebih baik tidak usah ke pasar hari ini. Biar kuantar ke istana,” kata Erik yang sama khawatirnya.



Ethelyne tersenyum manis. “Aku baik-baik saja, kepalaku hanya sedikit pusing. Mungkin akan sembuh setelah istirahat sebentar, kalian duluan saja.”



“Janji ya, kau harus menyusul.” Tina berjanji kelingking dengan Ethelyne, dia kemudian menarik Erik memasuki pasar dan menghilang dalam keramaian.



Ethelyne yang masih berdiri diam di tempatnya menghela napas, dia celingak-celinguk dan berjalan ke arah satu bangku. Ethelyne duduk sambil memijat pelipisnya. ‘Aneh, kenapa aku sering mendengar suara itu dalam sebulan ini? Itu suara siapa? Sepertinya suara anak kecil? Tapi kenapa hanya aku yang bisa dengar?’ Dia bersandar dan mendongak, menatap langit biru yang cerah. ‘Perasaanku ini sungguh aneh, sebenarnya aku kenapa? Aku merasa … sangat asing, kenapa aku seolah melupakan sesuatu? Kenapa aku merasakan kehilangan hal penting?’ Ethelyne menunduk sambil menyentuh dadanya, detak jantungnya terdengar sangat lemah. ‘Aku ini … kenapa?’



“Oh, Nona Ethelyne? Kenapa kau bisa ada sini? Bukankah kau seharusnya bersama Erik dan Tina.”



Ethelyne mendongak ke asal suara, dia tersenyum formal. “Ah, Nona Glory. Lama tidak bertemu, bagaimana keadaan keluargamu? Aku dengar, keluargamu kekurangan uang akhir-akhir ini.” Ethelyne menatap Glory sambil bersedekap dada.



“T-tentu saja keluargaku baik-baik saja, lagipula. Tunanganku seorang pangeran yang baik.”



“Hem? Tunangan?” Ethelyne berdiri dan menatap Gory dari ujung kaki hingga kepala. “Aku pikir tidak akan ada yang mau dengan gadis jahat sepertimu, Nona Glory.”



“Apa, apa maksudmu?? Aku adalah gadis yang cantik, bagaimana mungkin ada yang tidak mau denganku!”



“Oh, benarkah?” Ethelyne menutup mulutnya dengan raut wajah terkejut. “Lalu, siapa nama tunanganmu itu? Apa dia lebih hebat dari tunanganku?”


__ADS_1


“Tentu saja!” kata Glory refleks, sedetik kemudian. Dia tampak gelagapan. “T-tunanganku itu adalah pangeran dari kerajaan lain, Namanya … namanya Eadric!”


__ADS_2