
‘Hahaha, mereka pikir. Mereka bisa menangkapku dengan mudah. Sayang sekali, mereka terlalu naif!’ batin Ethelyne sambil berjalan pergi dengan tertatih-tatih. ‘Tapi aku kehabisan energi karena membuka borgol suci itu, sialan! Aku harus memakan darah--’ Matanya langsung membulat saat tiba-tiba sebuah petir muncul dan menyambarnya, Ethelyne jatuh ke tanah. ‘Apa... akh!’ sekali lagi, sebuah petir menyambar Ethelyne. Tidak ada bekas luka ataupun pakaian yang gosok, karena petir itu langsung melukai jiwanya, bukan raganya.
Sayangnya, Ethelyne (roh jahat) yang belum memulihkan kekuatannya tak bisa menahan hukum dewa dan sedang sekarat.
‘Tidak bisa! Aku tidak boleh mati di sini! Benar, hanya jiwaku yang terluka. Asal aku bisa menanamkan benih iblis pada gadis ini, aku pasti bisa terlahir kembali di tubuhnya, aku pasti...’ Ethelyne menutup matanya sebelum sempat menyelesaikan kata-kata dalam batinnya, perlahan-lahan. Muncul cahaya di dahinya.
Cahaya itu menyelimuti seluruh tubuh Ethelyne, cahaya yang terang muncul sesaat sebelum menghilang bersamaan dengan hilangnya tubuh Ethelyne.
~♥~
‘Eh? Apa ini? Kupikir aku sudah mati, kenapa aku masih hidup? Tunggu, siapa aku? Dan, tempat macam apa ini?’ Gadis berambut perak dengan mata biru yang indah celingak-celinguk dengan raut bingung, dia memiringkan kepalanya dengan tatapan polos. ‘Aneh, sepertinya aku familier dengan ruangan ini. Apa aku pernah kemari sebelumnya? Tapi kenapa aku tidak mengingat apapun?’
“Eh, Rimuru. Kenapa kau berdiam di situ?”
Gadis itu menoleh ke belakang, menatap seorang gadis asing dengan tanda berbentuk love di bawah matanya. “Siapa kau? Apa kau mengenaliku?”
“Hm? Apa kau sedang bermain sebuah permainan? Kau lupa denganku, Aelene.”
“Aelene? Lalu apa kau tau siapa aku?”
Aelene menatap gadis itu bingung, sedetik kemudian. Dia tertawa terbahak-bahak. “Ayolah, kenapa kau berpura-pura di depanku begitu. Aku tidak sepolos itu sampai tertipu dengan aktingmu yang buruk.” Aelene mengusap setetes air mata di pelupuk matanya.
“Aku tidak sedang berakting, aku sungguh tidak mengenalmu sama sekali! Dan jika kau mengenalku, kau pasti tau namaku dan asalku kan?”
Aelene berhenti tertawa, dia menatap gadis itu dengan kening berkerut. “Kau sungguh tidak ingat apapun?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Satupun? Namamu, asalmu, atau mungkin orang berhargamu?”
“Aku tidak ingat apapun, yang bisa kuingat di otakku hanyalah seorang wanita cantik dan gadis cantik dengan mata merah.”
“Hm, sepertinya kau benar-benar tidak sedang berpura-pura.” Aelene memegang dagunya berpikir.
“Kan sudah kubilang!”
__ADS_1
“Baiklah, baiklah. Jangan emosian begitu, dengarkan aku ya. Namamu itu Rimuru, kau berasal... dari sebuah pulau terpencil dan orang yang paling berharga bagimu adalah adikmu.”
“Adik? Aku punya adik? Siapa namanya? Berapa umurnya? Dia perempuan atau laki-laki?”
“Ugh, bertanyalah satu-satu.” Aelene menutup telinganya, dia kemudian menatap menurunkan tangannya dan menatap Gadis itu dengan senyum lembut. “Aku akan memberitahu kau semuanya, tapi mari kita keluar dulu dari sini,” katanya dengan tangan terulur.
Tanpa ragu, gadis itu menyambut uluran tangan Aelene. Sebuah cahaya muncul dari celah tangan keduanya, cahaya itu menjadi sangat terang dan membuat gadis itu menutup matanya karena silau.
~♥~
“Bagaimana?”
“Masih belum ada respon apapun, saya menduga jika Nona Ethelyne tidak sadar dalam beberapa hari ini. Maka Nona akan mati.”
“Jangan mengatakan hal itu lagi kalau kau tidak ingin berakhir seperti mereka!”
“Ma-tolong maafkan saya, Yang Mulia.”
“Cih, keluarlah.”
‘Suara siapa itu? Ah, aku ingat. Itu suara Kathel, tapi kenapa dia di sini? Apa aku... sudah kembali? Syukurlah jika memang begitu, dunia aneh itu. Membuatku muak.’ Ethelyne menatap lurus ke langit-langit kamar, dia bernapas dengan lemah. ‘Aku pikir, aku akan mati waktu itu. Tidak disangka, aku masih bisa melihat langit-langit kamar ini. Hah, rasanya sudah lama sekali sejak aku menginjakkan kaki di tempat ini.’ Dia tersenyum tipis. ‘Aku merindukan semua orang.’
“Sialan! Beraninya roh sialan itu mengendalikan Ethel, aku pasti akan mengeluarkannya dan menginjaknya sampai hancur!” kata Kathelyne dengan marah sambil memukul meja.
Ethelyne yang mendengar omelan tersebut tersenyum tipis. ‘Kathel memang... ugh.’ Dia memejamkan matanya dengan erat. ‘Ssth, kenapa jantungku tiba-tiba terasa sakit?’
“Ethel?? Kau sudah sadar? Apa yang terjadi??”
Ethelyne sontak membuka matanya, dia menatap kaget Kathelyne yang kini berdiri di sampingnya dengan raut khawatir. Senyum tipis perlahan terbit di wajah Ethelyne. “Aku sudah pulang, Kathel.”
~♥~
“Sebenarnya kenapa kau tidak ingin menceritakan apa yang terjadi padaku?” tanya Kathelyne sambil mengupas kulit buah.
“Kan sudah kukatakan, aku mengalami koma karena diracuni. Untungnya saja racunnya tidak begitu mematikan.”
__ADS_1
“Benarkah?” Kathelyne menatap Ethelyne dengan mata memicing. “Tapi penyihir memeriksamu dan mereka tidak bilang kau keracunan.”
“Yah, soal itu. Itu... karena racun yang mengenaliku adalah racun baru yang belum ada penawarnya, jadi. Tidak bisa dideteksi dengan mudah oleh para penyihir,” kata Ethelyne beralasan, matanya tampak melirik kesana-kemari, berusaha menghindari tatapan Kathelyne.
“Oh, begitu ya,” jawab Kathelyne cuek, dia meletakkan buah-buahan yang telah dikupas kulitnya dan dipotong membentuk bintang, kelinci, love, dan lain-lain di atas piring dan berdiri. “Karena kau terlihat baik-baik saja, aku akan pergi. Ingat untuk memakan buah yang kukupaskan.” Kathelyne berjalan keluar dengan tergesa-gesa, tak lupa kembali menutup pintu setelah berada di luar kamar. Dengan tatapan datar nan dingin, dia menjentikkan jarinya.
“Hoam... ada apa, Yang Mulia? Saya sedang tidur siang,” kata Mili yang tiba-tiba saja muncul di samping Kathelyne ditemani bantal gulingnya.
“Cari tau kemana menghilangnya roh jahat itu.” Kathelyne melirik Mili dengan tatapan dingin. “Jangan berharap untuk kembali sebelum kau menemukan roh itu!”
“Eh, tunggu. Apa? Tap--”
Sebelum Mili menyelesaikan ucapannya, dia sudah lebih dulu di teleportasikan secara paksa.
Kathelyne diam sejenak dengan tatapan datar. ‘Asal bisa menemukannya, maka semuanya akan baik-baik saja, aku yakin itu.’
Sementara itu, di dalam kamar...
Ethelyne menghela napas tepat setelah pintu tertutup, dia bersandar di sandaran kursi dengan raut lega. ‘Untunglah Kathel tidak banyak bertanya, karena jika tidak. Kebohonganku pasti akan ketahuan, tapi sepertinya Kathel mencurigaiku tadi, lagipula salahnya sendiri! Untuk apa dia meminta penyihir padahal aku baik-baik saja!’ Raut wajah kesal Ethelyne berubah menjadi lebih lembut ditemani senyuman tipis. ‘Kathel selalu saja khawatir secara berlebihan. Sama seperti Ibu, bahkan jika aku tidak sengaja memecahkan vas kesayangannya, ibu pasti tidak akan marah dan lebih dulu mengecek keadaanku. Sayang sekali, aku membalas kebaikan Kathel dengan cara yang kejam.’ Dia menunduk dengan kedua tangan di atas paha terkepal. “Kenapa aku harus membunuh Kak Ryan dan Kak Zen?”
~♥~~♥~
Hay, hay, hay. Para reader Mimin yang tercinta (\_/)
( ^•^)
( >❤️
Mimin (alias author) harap, kalian masih setia menunggu cerita Queen Of The Demon World ya. Cerita Mimin banyak kekurangannya, jadi Mimin harap, kalian bisa bantu Mimin untuk perbaiki kekurangan itu.
Mimin juga mau minta saran nih sama para reader, menurut kalian. Cerita ini bagusnya dapat akhir yang bagaimana? Sad End atau Happy End? atau biasa-biasa aja?
karena Mimin juga bingung, Mimin bakal adain voting. bantu Mimin yah buat milih antara kedua endingnya. kalau di episode 18 belum ada voting sama sekali, Mimin bakal buat akhirnya sesuai yang Mimin bisa.
see you in the next chapter❤️
__ADS_1