
Ethelyne memijat pelipisnya, dia melirik Eadric dan teman-temannya yang sedari tadi hanya diam mendengar omelannya. “Asal kau tau.” Ethelyne menunjuk Eadric dengan tatapan tajamnya. “Karena ulahmu, dia hampir saja mati!”
“Apa, apa maksudmu?!”
“Seperti yang kukatakan tadi, 70% kekuatan bunga ada padamu. Dan itu artinya, 70% jiwa Serigala salju berada di bawah kendalimu. Sementara Serigala salju itu terus muncul bersama naga sialan itu! Karena kekuatan bunga padanya tidak cukup untuk mengendalikan Serigala salju, dia jadi menggunakan energi sucinya. Setiap saat, setiap saat Serigala salju muncul. Bahkan saat memasuki hutan para peri dan saat terkurung pun.” Ethelyne mengepalkan tangannya, pantas saja jiwa suci itu merasakan rasa sakit yang parah. Bukan hanya karena pil suci, melainkan karena energi sucinya yang terus terkuras dan tidak bisa dipulihkan. Dia pun juga mulai tidak merasakan kehadiran jiwa suci itu di tubuh mereka, apa itu karena benih suci yang tertanam di tubuh Ethelyne kini mulai menghilang.
“Berhenti berbohong! Iblis seperti kau-” Eadric tidak dapat melanjutkan ucapannya, dia tidak bisa memaki ataupun mengumpati gadis di hadapannya. Meski dia adalah jiwa iblis, tapi raga yang ditempatinya adalah raga orang yang dia sayangi. Eadric tentu tidak akan tega melakukan hal jahat meski hal itu sebenarnya tertuju pada jiwa iblis dalam diri gadis itu.
“Iblis seperti aku ini kenapa?” tanya Ethelyne dengan tatapan dingin. “Asal kau tau, ini semua adalah kesalahanmu! Jika bukan karena kau, aku mungkin tidak akan kehilangan teman-” Dia tiba-tiba terdiam. “Teman?” gumamannya pelan. ‘Sejak kapan aku menganggapnya teman? Dia yang memiliki sikap dan cara berpikir yang bertolak belakang denganku, bagaimana bisa aku menganggapnya sebagai teman? Padahal aku ingin melahap semua jiwanya dan menghancurkannya, tapi kenapa? Kenapa dia malah memasang senyum seperti itu?’ Ethelyne tiba-tiba teringat dengan pembicaraannya bersama jiwa suci saat hendak menuju kemari. ‘Ini tidak benar! Kau tidak boleh goyah, Ethel! Kau tidak boleh berpikir dengan membawa perasaanmu! Semua ucapannya hanyalah omong kosong! Dia hanya tidak ingin pergi dari tubuh ini!
“Rimuru …” Aelene melangkah mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah Ethelyne.
Namun gadis itu justru menepis tangannya dengan kasar. “Jangan menyentuhku! Aku bukanlah dia, jadi jangan pernah berharap aku akan bersikap baik dan polos seperti jiwa sialan itu. Ingatlah satu hal, Aelene Tiatha Alys. Aku bukanlah gadis polos yang mudah dibodohi seperti dia, jadi hentikan sikapmu itu.”
“Rimuru, kau … kenapa kau menjadi seperti ini?” tanya Aelene pelan.
“Heh, kau tanya kenapa?” Ethelyne memandangnya sinis. “Akan kujawab, tapi sebelum itu. Aku ingin bertanya, apa kalian ingin menjawabnya dengan jujur? Jika kalian menjawab lima pertanyaanku dengan jujur, maka akan kubiarkan kalian melihat Ethelyne Virgian. Tapi, jika satu pertanyaan salah. Maka energi sihirku akan melahap jiwa Ethelyne Virgian.”
“Kau jahat! Kau iblis!”
“Akan kuanggap ucapan pertamamu sebagai pujian, dan untuk ucapan keduamu aku tidak akan tersinggung. Karena memang pada awalnya, aku adalah iblis.” Ethelyne menatap mereka bergantian. “Mari kita mulai, apa kau tau. Siapa nama raja Iceworld yang ketujuh?”
“Aelous Elrond,” jawab Eadric tanpa ragu.
Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah pria itu, dia tersenyum tipis. “Benar, Aelous Elrond.” Ethelyne menutup matanya. “Siapa yang menghabisi Raja dan Ratu Iblis?”
“Lady Earlene Virgian!” Kali ini, Aelene yang menjawabnya.
__ADS_1
Ethelyne bersedekap dada sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, dia membuka kedua matanya yang berubah emas. “Pertanyaan ketiga, siapa yang membunuh Lady Earlene?”
“Raja Iblis!” Zachary menjawab dengan percaya dirinya.
“Salah.”
“Apa?”
“Sudah kukatakan, salah.” Ethelyne mengalihkan pandangannya ke yang lain. “Satu pertanyaan yang dijawab salah. Pertanyaan keempat, siapa nama anak Lady Earlene?”
Mereka saling menatap, mereka bahkan tidak tau kalau Earlene memiliki putri. Pasalnya, saat Earlene ke dunia iblis. Dia tidak lagi pernah kembali ke dunia manusia hingga kabar kematiannya yang bersamaan dengan kabar kematian Raja dan Ratu iblis tiba-tiba muncul.
“Apa tidak ada petunjuk? Kami tidak tau kalau Lady Earlene memiliki anak.”
Ethelyne melirik Zion, dia menghela napas berat. “Tiga petunjuk.”
“Kami akan menggunakan petunjuk yang pertama!” kata Aelene dengan semangat.
“Hanya itu? Apa tidak ada petunjuk untuk namanya?” tanya Zachary, memangnya dia tau siapa gadis yang disebutkan Ethelyne.
Gadis itu berdecak. “Kalian ini seenaknya saja, yasudah deh. Huruf pertama E, huruf keenam Y, dan huruf terakhir E.”
“Siapa yang punya nama aneh seperti itu?” gerutu Zion sambil berpikir keras, dia berusaha mencari nama dengan menggabungkan ketiga huruf yang disebutkan, namun dia tidak bisa menemukan nama yang cocok.
“Ethelyne.”
Ethelyne menoleh ke asal suara, tepatnya ke arah Ned yang sedari tadi hanya diam tak bergeming. Tatapan datar gadis itu menatap Ned yang berdiri di belakang antara Eadric dan Zachary. “… Benar.”
__ADS_1
“Apa?? Jadi maksudnya, kau adalah …”
“Ya, aku adalah Putri dari Earlene Virgian dan Raja iblis Blisterzz.”
“Eh??”
“Bagaimana kau bisa tau?” tanya Eadric yang acuh tak acuh dengan sekitaran.
“Saya teringat dengan nama Ratu Iblis, yaitu Ethelyne Virgian Blisterzz. Dan saya mencoba menebak-nebak dan benar saja, huruf pertama dari nama Ratu Iblis adalah E, huruf keenam adalah Y dan huruf terakhir adalah E.”
“Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran ya.”
“Pertanyaan terakhir.” Ethelyne menatap mereka semua dengan raut wajah tak terbaca. “Kenapa … ibuku dibunuh?”
“Pasti karena- humph!” Zachary tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sudah lebih dulu dibekap oleh Ned.
“Sudah saya lakukan, Yang Mulia,” kata Ned sambil menatap Eadric yang mengangguk ringan.
Eadric, Zion, dan Aelene saling menatap. Keduanya berkomunikasi lewat mata, tidak berselang lama. Ketiganya mengangguk secara bersamaan dan menatap Ethelyne. “Kami akan menggunakan petunjuk kedua!”
Ethelyne terdiam, dia tersenyum miris. “Aku tidak bisa memberikan petunjuk apapun, karena pada dasarnya. Aku juga ingin tau, kenapa ibuku dibunuh dengan keji.”
“Rimu- maksudku, Ethelyne. Apa kau sungguh tidak tau? Bukankah Raja iblis yang membunuh Lady Earlene.”
Ethelyne menatap Aelene datar. “Menurutmu, aku akan percaya pada ucapan orang lain sementara aku sendiri menyaksikan pembunuhan ibuku? Hah, lucu sekali.” Dia membuang muka. ‘Menjijikkan, manusia itu benar-benar munafik. Kalian tidak perlu menunjukkan wajah pura-pura kasihan itu, karena pada kenyataannya. Kalian menertawakanku kan, kalian menertawakan ketidakberdayaan diriku saat ini!’
“Ethelyne …”
__ADS_1
“Jangan dekat denganku!” Ethelyne menatap Aelene tajam. “Sudah kukatakan, jangan berpura-pura akrab denganku! Manusia hina seperti kalian, bahkan lebih menjijikkan dari kami para iblis!”
“Ethelyne!!”