
“Bagaimana keadaanmu, Kak Ethelyne?” tanya Aliya dengan senyum manis.
“Aku baik-baik saja, aku hanya terlalu memaksakan diriku saat itu.”
“Syukurlah.” Aliya memainkan jemarinya gugup. “Aku senang kakak baik-baik saja.”
Ethelyne mengusap kepala Aliya. “Aku senang kau mengkhawatirkanku.” Dia berjalan pergi. “Sampai jumpa, semoga kita akan bertemu lagi.”
“Tunggu, kakak mau kemana??”
Ethelyne berhenti, dia melirik Aliya dengan seringai. “Mencari adikku yang bersembunyi.”
“A-adik?”
~♥~
“Hentikan dia!”
“Jangan biarkan dia masuk!”
“Ada keributan apa di luar?” tanya sang Kaisar iblis sambil menatap Solara.
“Saya tidak tahu, Yang Mulia.”
Kaisar iblis berdecak, dia bangun dari takhtanya dan berjalan turun. Namun, pintu tiba-tiba terbuka dan membuatnya berhenti melangkah. Raut wajah Kaisar iblis berubah dingin.
“Lama tidak berjumpa, adikku tersayang.” Ethelyne alias Dewa Iblis berjalan masuk dengan santainya.
“Tidak kusangka kau menemukan tempat ini.”
“Heh, itu sangat mudah.” Dewa iblis mengibaskan rambutnya, dia tampak terbiasa dengan raga Ethelyne. “Dengan kekuatan gadis ini yang bisa membaca pikiran Ratu kegelapan, aku bisa menemukan tempat ini dengan sangat mudah. Tentu saja, hal itu tidak akan terwujud seandainya kau tidak memanggil Ratu kegelapan kemari.” Dewa Iblis berjalan ke arah Kaisar iblis dengan santainya.
“Jangan bergerak!”
__ADS_1
Dewa iblis langsung berhenti bergerak, dia melirik Solara yang kini mengarahkan belati beracun ke lehernya. Dewa iblis tersenyum lebar. “Apa kau pikir racun bisa melukaiku?”
“Racun memang tidak bisa melukai jiwa Anda yang seorang Dewa, tapi belum tentu racun ini tidak bisa melukai raga Anda yang hanya manusia biasa. Saya pun bingung, kenapa Anda masih bisa hidup. Seharusnya tubuh manusia itu tidak bisa menahan energi iblis Anda dan meledak, tapi sepertinya. Raga itu baik-baik saja dan mulai beradaptasi dengan kekuatan Anda.”
“Hm, kau benar. Tubuh baru ini mulai beradaptasi dengan kekuatan iblisku, kau bertanya kenapa tubuh baruku tidak hancur dengan kekuatan iblis yang kuat kan? Jawabannya sangat mudah, itu karena--”
“Itu karena jiwa gadis itu sebelumnya bersatu dengan Jiwa Ratu kegelapan,” sela Kaisar iblis dan berjalan turun.
“Wah, benar.” Dewa iblis tersenyum manis. “Kau menjadi sangat pintar ya, Rio.”
“Hentikan semua itu, Kakak. Bukan, Ryu! Hentikan semua perbuatanmu ini sebelum terlambat!”
“Wah..” Ryu menutup mulutnya seolah terkejut, dia tersenyum. “Bisa-bisanya kau menceramahiku padahal kau sendiri berlumuran darah, apa kau lupa?” Ryu menyeringai, dia mengangkat dagunya sombong. “Kau yang membunuh Ayahanda, dengan tanganmu sendiri.” Ryu tertawa kecil. “Sepertinya kau sudah lupa bagaimana caramu membunuh Ayah yang sangat menyayangimu, dan sekarang. Kau malah ingin aku menghentikan perbuatanku?? Sungguh lucu!”
“Itu karena kau yang menghasutku!!” bantah Rio. “Jika bukan karena kau yang menghasutku tentang Ayahanda, aku tidak akan menghabisinya!!”
“Ha-hahaha.” Ryu tertawa keras, dia menatap Rio penuh hina. “Itu karena kau terlalu lemah dan terlalu percaya padaku.” Ryu memiringkan kepalanya. “Kau itu terlalu bodoh hingga mempercayai semua ucapanku. Kau itu, lebih cocok jadi anjing di bawah kakiku!”
Solara menggertakkan giginya menahan amarah, dia menatap tajam Ryu. Solara hendak memotong leher Ryu namun dihentikan oleh Rio.
Solara tak membalas, dia menutup matanya dengan sebelah tangan yang memegang belati beracun yang mengarah ke leher Ryu. “Saya mengerti, Yang Mulia.”
“Heh..” Ryu menatap Solara dengan senyum sinis, dia mengalihkan pandangannya ke arah Rio. “Kau sangat beruntung, Rio. Kau memiliki gadis yang bersedia menjadi anjingmu. Fufufu, sungguh bodoh.”
“Ryu!!” teriak Rio penuh amarah. “Jangan sesekali kau menghina Solara!!”
“Heh.. apa kau sudah berpindah hati dari seorang Dewi yang mulia menjadi pelayan yang sangat rendah? Seleramu itu turun drastis ya.”
“Sudah cukup!” Rio munculkan sebuah pedang berwarna hitam pekat, dia tiba-tiba menghilang.
Solara yang melihat hal itu segera melompat mundur dan menjauh dari Ryu.
Rio tiba-tiba muncul kembali di depan Ryu, dia langsung mengarahkan pedang di tangannya tepat ke arah leher Ryu. Namun dengan mudah ditahan hanya dengan tangan kosong, Rio tampak terkejut.
__ADS_1
“Fufufu.” Ryu tertawa kecil, dia menatap Rio dengan kornea mata yang berubah jadi merah darah. “Kau pikir pedang iblis bisa mempan padaku? Seorang Dewa iblis.”
“Ba-bagaimana bisa..” Rio menarik pedangnya, namun Ryu sama sekali tak mau melepaskan pedang itu.
Ryu memunculkan sebuah bola sihir berwarna ungu gelap dengan sebelah tangannya.
Rio yang merasakan adanya bahaya segera melepaskan pedangnya dan melompat mundur.
Namun, Ryu sama sekali tak membatalkan sihirnya. Dia memadatkan sihir itu membentuk pedang sihir, Blood Sword. Ryu dengan cepat tiba-tiba muncul di depan Rio dan mengayunkan pedangnya.
Rio yang kehilangan pedangnya hanya bisa menghindari setiap ayunan dari pedang Blood Sword yang mengeluarkan racun mematikan, bahkan bagi iblis sekalipun.
“Kau lumayan hebat, kau lebih lincah dari saat terakhir kali kita bertemu,” kata Ryu di sela-sela pertarungan, dia terus mengayunkan pedangnya ke arah Rio. Sementara pria itu terus menghindar tanpa ada waktu untuk bernapas. “Hahaha, kenapa kau hanya terus menghindar??”
Karena melancarkan serangan bertubi-tubi, ayunan pedang Ryu semakin melambat.
Rio yang menyadari hal itu melirik pedangnya yang tergeletak di lantai. ‘Ayunan pedang Ryu semakin melambat, itu pasti karena kekuatannya belum beradaptasi dengan sempurna! Aku harus memanfaatkan kesempatan ini dan mengalahkannya secepat mungkin atau aku akan kehabisan energi terlebih dahulu! Melawan sesama iblis itu hanya sia-sia saja!’
“Kena kau!” kata Ryu saat pedangnya mengenai leher Rio, namun. Pria itu tiba-tiba menghilang dan membuatnya berdecak. “Dia menghilang lagi!” Ryu menoleh ke arah samping, tepatnya ke arah pedang Rio tergeletak.
Di sana, Rio telah berdiri sambil memegang pedangnya dengan kedua tangan. Lehernya tampak mengeluarkan darah karena pedang Ryu yang mengenai lehernya, napas Rio tampak tak beraturan. ‘Sial! Jika terlambat sedikit saja, aku pasti sudah mati!’
“Hei.” Raut wajah Ryu berubah dingin. “Bisa tidak jangan menghindar terus.” Dia menancapkan pedangnya ke lantai dengan mudah. “Kau membuatku jengkel,” lanjutnya sambil bersedekap dada.
“Aku.. tidak akan membiarkanmu menang! Bahkan jika harus mengorbankan nyawaku sekalipun, aku pasti akan menghabisimu!”
Ryu memicingkan matanya, dia tersenyum sinis. “Menghabisiku?? Mengatur napasmu saja tidak bisa, dan kau bermimpi untuk menghabisiku??”
“Jangan bertele-tele!! Aku akan, menebus dosaku pada Ayahanda..” kata Rio dengan napas tersengal-sengal. “Demi, Ayahanda. Aku pasti.. akan membunuhmu!!”
“Wah.” Ryu menutup mulutnya. “Sungguh anak yang berbakti,” katanya dengan senyuman manis, dia menatap Rio. “Tapi kamu terlalu lemah!” Ryu tiba-tiba saja menghilang dan hanya meninggalkan kabut hitam, dia kemudian muncul secara tiba-tiba tidak jauh di belakang Rio.
“Yang Mulia!!”
__ADS_1
Rio memuntahkan banyak darah dengan mata membulat sempurna, darah memuncrat keluar dari lehernya yang kini dipedang oleh Ryu dan telah terpisah dari tubuhnya.
~♥~~♥~