
“Marilyn, menurutmu. Apa aku cantik?” tanya Ethelyne sambil memperlihatkan gaun biru laut yang digunakannya, dia berdiri di depan cermin sambil memutar-mutar gaunnya dengan senyum mengembang.
“Sangat! Anda selalu cantik menggunakan gaun apapun, Tuan Putri!” puji Marilyn dengan tatapan takjub.
Ethelyne terkekeh. “Benar kan, aku sangat senang karena Marilyn sudah mau menjadi pelayanku selama ini. Marilyn, terima kasih ya.”
“Apa yang Anda katakan, Tuan Putri. Justru saya yang sangat bersyukur karena bisa melayani Putri sebaik Anda, biasanya. Seorang bangsawan akan memperlakukan bawahannya dengan semena-mena, tapi Anda tidak pernah bertindak kasar pada kami.”
“Bohong.” Ethelyne menggembungkan pipinya kesal. “Padahal kemarin aku sudah meneriaki Marilyn saat membawakan makanan. Marilyn, aku benar-benar minta maaf. Aku masih belum bisa menerima pertunangan dengan orang asing, apalagi pangeran yang tidak pernah kutemui.”
“Saya mengerti yang Anda rasakan, Tuan Putri. Saya juga pernah merasakan hal yang sama, jika saja Tuan Putri tidak menolong saya waktu itu. Mungkin saja saya sudah dijual oleh orang tua saya.”
Ethelyne berbalik dan memeluk Marilyn. “Marilyn, boho~ kenapa Erik membatalkan pertunangan kami? Apa dia membenciku? Apa dia sejak awal memang sudah berselingkuh??”
“Itu tidak benar, Tuan Putri.” Marilyn ingin sekali menjelaskan yang sebenarnya, namun dia tidak memiliki keberanian sama sekali. Marilyn hanya bisa diam dan menenangkan Ethelyne yang menangis sesegukan.
‘Memang hanya akting sih, tapi kenapa dadaku benar-benar sakit? Nyut, nyut. Rasanya seperti ditikam oleh pisau berkali-kali.’ Ethelyne tenggelam dalam lamunannya sejenak, dia tersadar saat mendengar suara ketukan pintu. Ethelyne dengan cepat melepas pelukannya dan menyeka air matanya. “Maaf ya. Marilyn, aku jadi cengeng begini. Ayo kita cepat ke aula.” Dia berjalan keluar kamar lebih dulu dan meninggalkan Marilyn yang masih berdiri diam di depan cermin.
“Ini bukan kesalahan Anda, Tuan Putri. Lagipula, Anda masih remaja. Seharusnya Anda tidak mengalami semua ini.” Marilyn mengepalkan tangannya penuh penyesalan. “Maafkan saya karena tidak bisa menolong Tuan Putri sama sekali.”
“Gawat, Yang Mulia!! Tuan Putri tidak ada di kamarnya!” lapor seorang prajurit dengan tergesa-gesa.
“Apa??” Fiona yang tengah dirias langsung berdiri dari kursinya, dia menatap pantulan cermin dengan wajah menahan marah. “Bagaimana bisa Lyne melarikan diri?! Apa kalian sudah mencarinya ke seluruh istana?!”
“K-kami sudah mencarinya, Yang Mulia. Tapi kami tidak dapat menemukan Tuan Putri, kami--” Prajurit itu langsung meringis saat mendengar suara pecahan kaca, dia dengan takut-takut menatap ke depan.
Fiona berdiri di depan pecahan pot dengan wajah merah padam, dia berjalan keluar kamarnya. “Beritahu Raja dan perintahkan semua prajurit mencarinya ke seluruh penjuru Negara! Jika tidak ketemu, kalian yang akan mati!!”
“B-baik.”
~~~♥~~~
“Apa kalian yakin tidak akan ketahuan?”
“Tenang saja, Lady. Kami akan mengawal Anda keluar dari dunia ini dengan selamat.”
“Semoga saja.” Ethelyne bersedekap dada, dia kini memakai pakaian seorang pria dengan topi yang menutupi wajahnya. Penampilannya benar-benar mirip pria dengan sedikit makeup.
“Lady, apa Anda khawatir?”
__ADS_1
Ethelyne menoleh ke arah William, dia tersenyum. “Tidak, aku tidak perduli sama sekali. Aku hanya … merasa sangat senang akan bertemu 'dengannya' secara langsung.”
“Apa Anda ingin saya ceritakan apa saja yang dilakukan Jiwa kegelapan Anda saat Anda tidak ada?”
“Mau! Aku sangat mau! Cepat ceritakan!”
“Baik, kita harus mulai dari mana dulu?” William menatap Murry dan Eadric yang hanya diam tanpa ekspresi, dia menghela napas.
“Ceritakan setelah aku pergi, apa yang dia lakukan? Apa dia sedih?” Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah Eadric yang terdiam termenung sambil terus menatapnya. “Eadric, apa Jiwa- maksudku. Ethel memperlakukanmu dengan baik?” Dia menatapnya dengan mata memicing. “Dia tidak membiarkan kalian kelaparan kan?”
Eandric tersadar dari lamunannya, dia menatap Ethelyne dengan senyum tipis. “Dia melakukan seperti yang kau inginkan.”
“Hah, syukurlah.” Ethelyne bernapas lega. “Jika dia berani menyakiti kalian, maka dia akan kena amarahku! Dia selalu saja bersikap semena-mena sejak dulu, dasar gadis bodoh itu!”
“Kalian tampak akrab ya.”
“Anda pasti kerepotan ya, Lady.”
“Be--”
“Hentikan kereta kudanya!”
Ethelyne tak lagi melanjutkan ucapannya, raut wajahnya berubah datar. “Itu suara Sir Leo, tidak kusangka mereka akan sangat cepat sampai di perbatasan,” gumamannya.
“Siapa orang di dalam?”
“Begini, Tuan kesatria. Orang di dalam adalah tamu dari kerajaan Victoria,” kata pak kusir.
“Kerajaan Victoria? Apa maksudmu pangeran dan ajudannya? Apa Yang Mulia Raja sudah mengizinkan mereka kembali??”
__ADS_1
“Saya kurang tau, silahkan Anda lihat sendiri.”
Leo berjalan ke belakang kereta kuda dan membuka tirai yang menghalangi.
“Ada apa? Sir Leo, kau tidak mungkin menganggu pangeran dari kerajaan Victoria kan?” William menatap Leo dengan senyum tipis yang terkesan remeh.
“Maaf, Tuan Wil. Tapi saya ingin tau apa kalian sudah mendapat izin untuk kembali ke kerajaan Victoria, kalian harus ingat. Ini di kerajaan Gezeweith, Anda tidak bisa datang dan pergi sesuka hati.”
“Ya, kami sudah mendapat izin Yang Mulia. Ini suratnya.” William memberikan secarik kertas.
Leo mengambil kertas itu dan membacanya dengan serius, dia melirik ke dalam kereta kuda. “Siapa pemuda itu? Saya pikir hanya kalian bertiga yang menjadi tamu kerajaan.”
“Ah, Dia adalah budak yang baru saja kubeli.”
“Budak?” Mata Leo tampak memicing curiga, dia menatap serius Ethelyne yang selalu menunduk. Pandangannya beralih ke arah William. “Saya pikir ada budak yang lebih baik di kerajaan Victoria, kenapa Anda justru tertarik dengan budak dari kerajaan Gezeweith?”
“Bukankah Anda tidak memiliki izin khusus untuk menanyakan hal itu, Sir Leo.” William menatapnya dingin, keduanya kini saling menatap dengan aura mengintimidasi yang menguar.
“Sir Leo--”
“Apa kalian bisa mengakhiri perbincangan ini?” tanya Eadric yang sedari tadi hanya diam, dia mengalihkan pandangannya ke arah Leo. “Maaf karena kami pergi secara tiba-tiba, tapi akhir-akhir ini. Terjadi pemberontakan di wilayah kerajaan Victoria, itu sebabnya kami pergi tergesa-gesa. Lagipula, Ayahanda sudah terlalu tua untuk mengurus pemberontak.”
Suasana berubah sunyi, aura mencekam terus menguasai kereta kuda itu. Bahkan sang kusir sampai berkeringat dingin.
“Baiklah.” Leo menoleh ke arah prajurit dan teman sekesatria. “Biarkan mereka lewat.”
“Terima kasih atas pengertiannya, Sir Leo.” William tersenyum dan menutup tirai.
Kereta kuda kembali berjalan, setelah memastikan kereta kuda menjauh dari kerajaan Gezeweith. Barulah Ethelyne menghembuskan napasnya. “Hah, kaget aku. Kupikir dia akan mengenaliku,” gumamnya sambil mengusap dadanya lega. “Oh, omong-omong--”
__ADS_1
“Berhenti di sana!!”