
“Yang Mulia, apa Anda. Mempermainkan saya?” tanya Meli dengan mata memicing curiga.
Ethelyne masih mempertahankan wajah polosnya yang lucu. “Apa maksud Anda, Bibi? Bagaimana mungkin aku tega mempermainkan Bibi.”
“Yang Mulia!” kata Meli geram.
“Hahaha, Bibi ternyata bisa ditipu!” Ethelyne tertawa terbahak-bahak sambil berlari menjauh.
Meli yang melihat hal itu menghela napas sambil memijat pelipisnya. “Dasar anak ini.”
Ethelyne bersembunyi di gudang terbengkalai, dia bersandar di dinding sambil menyentuh dadanya. ‘Aku harus bagaimana? Haruskah aku membantu manusia sebagai gadis suci, atau membantai manusia sebagai pembalasan dendam dan kewajibanku sebagai iblis.’ Ethelyne menghela napas, dia luruh ke lantai yang penuh debu. “Aku harus bagaimana? Pikiran ini selalu membebaniku, haruskah aku … membantu mereka, atau menghabisi mereka.” Ethelyne menghela napas, dia memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di antara lutut. “Aku sangat lelah, ibu … kenapa kau memberikan tanggungjawab yang sangat besar? Ethel tidak bisa melakukan semuanya, Ethel harus bagaimana? Ethel sudah sangat lelah dengan keadaan, Ethel merasa sangat tidak berdaya sekarang ini.”
‘Master, bagaimana jika membiarkan para manusia?’ -
‘Itu tidak boleh, Laurie. Mereka telah menghabisi para iblis tak berdosa.’ --
‘Tak berdosa bagaimana?? Para iblis memangsa manusia tak bersalah!’ -
‘Tapi itu karena kesalahan mereka sendiri.’ --
‘Sudahlah, aku tidak ingin bicara denganmu!’ -
‘Aku juga tidak ingin bicara dengan naga bodoh sepertimu!’ --
‘Hah?! Kau menyebutku apa??’ -
‘Naga jelek yang bodoh!’ -
‘Kau serigala hantu!’ -
‘Wlee, dasar naga bodoh.’ -
‘Serigala sialan!’ -
Ethelyne menutup kedua telinganya, namun mau bagaimanapun. Suara keduanya yang tengah bertengkar tetap terdengar di telinganya, dia menghela napas. Ingatanya tiba-tiba kembali pada Alice dan neneknya yang mati dimangsa iblis, tanpa sadar. Kuku-kukunya menjadi panjang.
‘Eh?? Master, sadarlah. Apa yang Anda lakukan??’ -
__ADS_1
‘Biarkan saja, lagipula. Nona tidak akan melakukan hal yang akan merugikannya.’ --
‘Tapi …’ -
‘Lupakan saja, lebih baik tutup matamu jika tidak ingin melihat adegan berdarah.’ --
Ethelyne berdiri dengan ekspresi darah, aura sekitar berubah menjadi aura membunuh. Warna matanya pun berubah merah, gaunnya yang semua kotor berubah menjadi gaun merah selutut dengan sepatu hak tinggi berwarna sama. Beberapa warna helai rambutnya berubah menjadi merah, Ethelyne dengan anggunnya berjalan keluar dari gudang dan menatap sekitar dengan tatapan tajam.
Helaan napas keluar dari mulutnya. “Tidak ada siapapun, aku sangat lapar hari ini. Apa aku berburu saja ya?” Ethelyne tersenyum smirk, kabut hitam perlahan mengelilinginya. Saat kabut mulai mereda, Ethelyne telah diteleportasikan entah kemana.
~~~♥~~~
Eadric menghela napas, baru saja dia selesai mengerjakan dokumen-dokumen yang membuatnya pusing.
“Ned, apa pekerjaanku besok?”
“Anda akan mengecek lokasi invasi iblis besok. Yang Mulia, apa Anda benar-benar menyerah pada pencarian Nona Rimuru?”
Ned yang mengerti ucapan Eadric membungkuk hormat dan berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. ‘Yang Mulia, kenapa Anda sangat mengkhawatirkan gadis penyihir itu? Meskipun Anda menyerah untuk mencarinya, tapi. Bukankah Anda selalu mencari informasi tentang gadis Penyihir itu diam-diam.’
Di dalam istana, Eadric menghela napas panjang. Dia menatap bosan berkas-berkas di hadapannya. ‘Kenapa gadis itu suka sekali pergi tanpa pemberitahuan? Apa dia tidak tau kalau Aelene mengkhawatirkannya.’
Tiba-tiba, istana Matahari menjadi gelap gulita. Semua lilin yang menjadi penerang tiba-tiba mati tanpa sebab, bahkan angin pun tidak masuk ke kamar Eadric.
Jendela yang semula tertutup tiba-tiba terbuka lebar, angin berhembus masuk ke dalam ruangan. Eadric yang merasakan keanehan berdiri dan hendak mengambil pedang di atas kasurnya.
Namun dia kalah cepat dari siluet bayangan yang tiba-tiba lewat di belakang, bayangan itu tiba-tiba muncul di belakangnya dan mengunci pergerakannya tanpa memberi celah sedikitpun.
“Siapa kau?” tanya Eadric, sebuah logam dingin tiba-tiba menyentuh lehernya. Pria itu terdiam. ‘Apa dia pembunuh yang dikirim dari musuh untuk menghabisiku? Tapi jika benar, kenapa dia tidak langsung membunuhku dan hanya diam saja?’
Terdengar suara tarikan napas di belakangnya, Eadric mencoba mencari tau orang di belakangnya. Namun karena gelapnya ruangan, dia tidak dapat melihat apapun.
“Ada apa? Apa kau ketakutan?”
__ADS_1
Suara yang mengalun di telinganya sangat dikenali Eadric, suara gadis yang sangat suka menghilang tanpa pesan ataupun petunjuk apapun. “Rimuru,” gumamnya pelan.
Ethelyne tersenyum tipis, warna mata merahnya tampak sedikit menyala. “Aku tidak menyangka pangeran sepertimu akan mengenali suaraku hanya dalam sekali dengar.”
“Kau … darimana saja?”
“Ada apa? Apa kau merindukanku?”
“Tidak, aku hanya--”
“Meskipun kau merindukanku, kita tidak akan bisa bersatu.”
“Tapi kenapa?? Jika hanya masalahnya hanya karena perbedaan kecil di antara kita, aku yakin. Aku bisa membuat semua di istana mengakuimu sebagai kekasihku.”
Ethelyne terdiam. “Bukan hanya itu,” katanya yang nyaris seperti gumaman. “Dunia kita berbeda, perbedaan di antara kita tidaklah kecil. Pangeran, tidak. Eadric, buang perasaanmu jauh-jauh. Karena sampai kapanpun, kita tidak akan pernah bisa bersama.” Dia menelan salivanya. ‘Sial, apa aku akan benar-benar sama seperti iblis biasanya? Aku sangat bodoh, kenapa aku malah berteleportasi ke sini dan berbicara dengannya!’
“Jika kau tidak mengatakan perbedaan yang kau maksud, aku tidak akan berhenti mengejarmu. Rimuru, entah apapun yang terjadi. Ayo kita menikah, jika memang istana tidak menerimamu sebagai istriku. Maka aku akan pergi dari istana ini, kita bisa memulai hidup kita di kerajaan lain.”
Ethelyne menghela napas. “Percuma, aku kemari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan dan juga mengambil hadiah.”
“Apa maksudmu?? Jangan bilang kau akan meninggalkanku lagi! Kau selalu menghilang entah kemana dan seolah tidak ada waktu untuk diriku, apa kau sebegitunya membenciku?!”
“Bukan begitu, tapi dunia kita sangat berbeda. Bagaikan langit dan bumi, aku tidak akan pernah bisa mencapaimu. Eadric, sampaikan salamku pada Aelene. Dan, aku ingin hadiah terakhir darimu.”
“Jangan bercanda! Jika kau tidak akan pergi sebelum aku menyampaikan salammu, maka aku tidak akan pernah menyampaikannya!”
“Jangan keras kepala.” Suara Ethelyne terdengar sangat lelah. “Mau kau memberitahunya atau tidak, aku akan tetap pergi.”
Eadric mengepalkan tangannya dalam diam. “Apa kau, benar-benar tidak akan kembali lagi?”
“Aku salah berucap, ini bukanlah salam perpisahan. Karena suatu hari nanti, kita akan kembali bertemu.” Mata merah Ethelyne perlahan redup. “Maukah kau berikan aku hadiah sebagai perpisahan kita kali ini?”
“Kau ingin apa? Akan kukabulkan semua yang kau inginkan, tapi tolong … jangan meninggalkanku di sini.” Eadric menunduk dengan air mata yang menggenang, dia berusaha keras untuk tidak meneteskan air mata.
“Maka, jangan menyesali ucapanmu.” Ethelyne hendak mengigit Eadric, namun dia tiba-tiba berhenti. Warna matanya perlahan-lahan berubah biru, matanya tampak bergetar. ‘Apa, yang hendak kulakukan?’ Ethelyne melangkah mundur dengan raut wajah terkejut. ‘Apa aku … tadi mencoba memakan Eadric?!’
__ADS_1