Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
14. Laurie Yang Malang


__ADS_3

“Siapa-- Sstth.” Pria itu meringis sambil memegang lukanya, dia ingin menyerang Ethelyne namun karena keadaannya yang sedang terluka. Dia tidak bisa bergerak ataupun mengayunkan pedang di pinggangnya.


“Jangan khawatir, aku tidak ingin melukaimu. Racun di tubuhmu telah menghilang, tapi entah kenapa. Lukamu tidak ikut sembuh.” Ethelyne memegang dagunya. “Apa karena aku menggunakan Roh kegelapan ya?” gumamannya pelan.


“Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?”


Ethelyne menatap polos pria di depannya, dia memiringkan kepalanya sambil mengerjap lucu. “Aku tidak menginginkan apapun darimu, ah. Aku ingat! Aku membutuhkan batu ruby, kau tau kan batu ruby. Batu yang berwarna merah itu loh.”


“Aku tau, tapi kenapa kau menginginkannya?”


Ethelyne kembali memegang dagunya berpikir keras, dia melirik pria di depannya dan tersenyum manis. “Karena, aku memerlukannya untuk membuat sesuatu.”


“Sesuatu? Apa kau akan … membuat benda ini?” Pria itu menunjukkan sebuah kalung dengan liontin dari amethyst.


Ethelyne merebut kalung itu dan memperhatikannya dengan seksama, dia melirik Pria itu dengan tatapan menyelidik. “Dari mana kau mendapatkannya?” tanyanya dengan nada dingin, tidak ada lagi Ethelyne yang ramah-tamah.


“Kenapa aku harus memberitahumu?”


Ethelyne mengepalkan tangannya yang memegang kalung hingga liontinnya hancur berkeping-keping, di dalam amethyst terdapat batu transparan dengan aura biru-hitam di dalamnya. “Terserah kalau begitu, maka sebagai gantinya. Aku akan mengambil ini.” Ethelyne berdiri dan berjalan pergi. “Balut lukamu dengan baik, karena jika tidak. Kau akan mati kehabisan darah.”


~♥~


‘Kenapa batu ini ada di dalam liontin milik pria itu? Siapa yang ingin mencelakainya?’


“Master!! Aku kembali!!”


Tiba-tiba, Laurie muncul dengan suara nyaring dan hampir saja membuat Ethelyne terkejut setengah mati.

__ADS_1


“Huh, aku pikir kau sudah mati dimangsa hewan buas,” kata Ethelyne dengan nada sinis, dia memasukkan batu itu ke dalam saku jubahnya dan berdiri. Ethelyne melempar keranjang kosong di sampingnya. “Sebagai hukuman, isi keranjang ini dengan herbal hingga penuh. Jika kau gagal menjalankan misi.” Dia tersenyum manis namun terkesan horor.


Laurie menelan salivanya, dia merutuki dirinya yang langsung saja pergi karena tertarik dengan suara merdu yang mengalun di telinganya sampai-sampai lupa dengan pekerjaan yang diberikan sang majikan. Dengan gusar, Laurie mengambil keranjang itu dan mulai mencari herbal.


‘Setidaknya itu bisa membuatnya jera sekaligus jadi pelajaran agar dia tidak pergi tanpa pamit, tapi yang paling penting sekarang adalah batu ini.’ Ethelyne mengeluarkan batu di saku jubahnya dan menatapnya lekat, warna mata Ethelyne berubah menjadi merah sedikit demi sedikit.


Ethelyne menggenggam batu berukuran kecil itu. “Siapa yang mengincar nyawa pria itu sampai menggunakan batu kutukan? Dan terlebih lagi, dari mana dia mendapatkannya. Batu kutukan seperti ini hanya berada di dunia iblis, dan terlebih lagi. Hanya berada di tambang khusus yang hanya bisa dimasuki orang-orang dari istana.” Dia berdecak. “Siapa sebenarnya pengkhianat itu dan kenapa dia menggunakan batu kutukan pada pria itu?”


Tanpa sengaja, batu di tangan Ethelyne pecah. Aura biru-hitam itu langsung lenyap begitu saja, Ethelyne menggertakkan giginya. “Aku pasti akan mencari tau pengkhianat yang menjadi penyebab kebencian berlebihan terhadap iblis! Aku berjanji akan hal itu!”


~♥~


Tiga hari berlalu dengan cepat, Laurie menjalani hari penuh dengan siksaan. Setiap hari di suruh untuk mengumpulkan dua keranjang herbal, memasak, mengambil air, membuat api, mengumpulkan buah-buahan, dan lain-lain.


Sementara itu, Ethelyne dengan santainya duduk di bawah pohon rindang sambil bersandar dan menatap Laurie yang bolak-balik mengambil air dari sungai yang jauhnya 100 langkah.


“Master, maafkan saya. Saya tidak akan kabur lagi,” kata Laurie sambil berlutut di depan Ethelyne dengan mata berkaca-kaca.


“Master,” rengek Laurie, air mata mengalir keluar dan membasahi pipinya. “Huaa … Master!! Tolong maafkan saya yang tidak berguna, bodoh, dan merepotkan ini!!” teriaknya kencang.


Ethelyne menutup kedua telinganya. “Diam! Percuma saja kau berpura-pura menangis, hukumanmu tetap akan sama. Lalukan segera atau kau tidak akan keluar dari hutan.”


Laurie berdecak, dia berdiri dan berjalan pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Ethelyne hanya menatapnya datar, dia menutup matanya dan berusaha rileks. Namun ocehan tak terbatas yang terlontar dari mulut Laurie terus saja menganggu konsentrasinya, dia membuka matanya dan menatap sekitaran. Namun Laurie tidak ada di dekatnya sama sekali, Ethelyne mencoba menutup telinganya dan dia mendapatkan hasil yang memuaskan.


‘Berhenti mengoceh atau aku akan merobek mulutmu itu!’ batin Ethelyne kesal.

__ADS_1


Laurie yang terus mengoceh dalam hati tersentak, dia menoleh ke sekitaran namun tak menemukan siapapun. ‘M-master, k-kenapa aku bisa mendengar suaramu?’


‘Mana kutahu, mungkin saja karena kita sudah terhubung sejak kecil. Itu sebabnya aku bisa mendengar suara hatimu meski kau berada jauh dan dalam wujud manusia.’


‘Huhu, Master. Akhirnya kita bisa berkomunikasi dari jarak jauh.’ Laurie menangis sesegukan, dia menghapus air matanya dengan lengan pakaian.


‘Berisik! Jika kau menangis sekali lagi, aku tidak akan membiarkanmu menjadi manusia lagi!’


~♥~


Ethelyne menarik napas dalam-dalam, sudah lama dia tidak merasakan kedamaian yang selalu dia damba-dambakan.


Tiba-tiba, sebuah belati terbang ke arah Ethelyne. Namun gadis itu menghindar dan membuat belati tertancap ke pohon di belakangnya, Ethelyne membuka matanya dan menatap datar anak buah dari pria yang ditolongnya tiga hari yang lalu.


“Kau sangat berkonsentrasi ya sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku.”


“Apa yang kau inginkan?” tanya Ethelyne langsung, dia berdiri dan mencabut belati di pohon. “Sepertinya kau bukan seorang pembunuh.”


“Oh ayolah, apa kau lupa?” Pria itu menyerahkan amethyst yang sempat Ethelyne minta tiga hari yang lalu.


Gadis itu terperangah, dia menatap pria di depannya tak percaya. “Dari mana kau mendapatkan amethyst ini?”


“Kau tidak perlu tau, bagi kami. Sangat mudah mengambil sesuatu bahkan yang tidak bisa dimiliki manusia sekaligus.”


Ethelyne mengerutkan keningnya. “Apa … maksud perkataanmu itu?”


Pria berpakaian hitam itu tersenyum sarat arti. “Tidak ada maksud apa-apa, hanya saja. Tuan kami ingin bertemu denganmu, jadi silahkan ikut kami tanpa perlawanan.”

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Ethelyne dikepung dari segala penjuru. Lima orang berjubah yang ditemuinya telah mengepungnya dari lima arah, Ethelyne memperhatikan mereka sekilas.


Dari yang dapat disimpulkannya, mereka membawa pedang dan belati tersembunyi. Selain itu, terdapat bubuk racun yang tersembunyi di salah satu saku orang berpakaian hitam. Mengapa Ethelyne tau, jawabannya adalah Dragon Eyesight. Meskipun dapat melihat dalam kegelapan, sebenarnya. Fungsi asli dari Dragon Eyesight adalah dapat melihat dari jarak jauh (tergantung energi sihir) dan juga dapat menembus apapun yang menghalangi penglihatannya.


__ADS_2