Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
74. Kehilangan


__ADS_3

“Bagaimana keadaan kalian?” tanya Ethelyne dengan nada datar, dia melirik ke arah mereka yang menatapnya dengan lekat. “Ada apa?”


“Kami baik-baik saja, kau sendiri. Bagaimana keadaanmu?” tanya Aelene sambil menunduk.


Ethelyne tersenyum. “Apa peduli Nona Aelene padaku?”


“Aku …”


“Aku hanya bercanda saja kok.” Ethelyne menatap mereka bergantian dengan senyum manis. “Syukurlah kalian baik-baik saja.”


“Kau, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Zion sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Aku?” Ethelyne menunjuk dirinya sendiri, Zion mengangguk kecil. “Ah, apa benar aku. Atau … jiwa suci dalam diriku?”


Zion menoleh ke arah Ethelyne, mereka baru sadar akan warna mata gadis itu.


“Kenapa?” Ethelyne menatap mereka semua dingin, senyuman di wajahnya berubah datar. “Kalian tidak pernah menduga aku yang akan muncul di hadapan kalian kan? Yah, bagaimana ya.” Dia bersedekap dada dengan mata mata tertutup. “Mau bagaimana lagi, jiwa suciku tidak lagi bisa mengambil alih tubuh ini sampai dia hancur.” Ethelyne membuka matanya dan menatap Eadric dengan mata memicing. “Ini semua karena ulah pangeran ke6, benar bukan. Jika saja dia tidak nekat meminum racun hitam itu, Ethelyne tidak akan mengorbankan jiwanya. Hah, gadis yang malang.”


“Apa, apa aku bisa bertemu dengannya??”


Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah Aelene. “Sudah kukatakan, dia tidak bisa muncul. Apa kalian ini bodoh atau bagaimana? Mengambil alih tubuh dengan dua jiwa itu sangat sulit dan membutuhkan kekuatan yang banyak, mungkin bagiku itu hal yang mudah. Tapi bagi jiwa suci sepertinya, itu sangat sulit. Apalagi karena jiwanya yang hanya setengah lebih, dan beberapa waktu yang lalu. Dia mengorbankan setengah jiwanya, jadi coba tebak. Bagaimana dia bisa bertahan jika energiku terus memakan jiwanya yang tersisa sedikit, bahkan energinya saat ini tidak bisa dikumpulkan.”


“Kumohon! Jika bisa, tolong bantu dia. Aku akan melakukan apapun asal kau mau membantunya untuk tetap hidup!”


“Apapun?” Ethelyne menatap Aelene yang mengangguk dengan mata memicing, dia menyeringai. “Baiklah, asal kau jangan … ugh!” Ethelyne menutup sebelah matanya dengan raut wajah kesakitan, dia terduduk di lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Ethelyne!” Aelene berlari ke arah Ethelyne dan berjongkok dihadapan gadis itu, dia menatap khawatir gadis di hadapannya.


Ethelyne menurunkan kedua tangannya, air mata tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya. “Aneh, kenapa aku menangis?” gumamnya


“Ethelyne, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menangis? Apa kau merasa sangat kesakitan? Apa kau sedih karena mengingat keluargamu?” tanya Aelene khawatir, namun gadis di hadapannya tidak menjawab sama sekali.


“Mustahil.” Mata Ethelyne tampak bergetar, dia mendorong Aelene yang hendak menyentuhnya dan berdiri lalu berlari keluar.


“Ethelyne!!”


“Aeli, apa kau baik-baik saja?” tanya Zachary yang khawatir.



__ADS_1


“Murry sialan! Apa-apaan ini! Kenapa aku tidak dapat merasakan jiwa suci dalam tubuh Ethelyne?!” tanya Ethelyne yang langsung saja mendobrak pintu ruang rapat dan mengangetkan semua orang yang ada di dalam.



“Kau …”



Ethelyne dengan tergesa-gesa berjalan ke arah Murry dan menggebrak meja. “Apa yang kau lakukan hah?? Kenapa dia tiba-tiba menghilang?! Tidak mungkin dia sudah menghilang, jiwa sucinya tidak sedikit itu untuk menghilang secepat ini!”



“Kenapa kau terlihat panik? Apa kau khawatir pada Lady Ethelyne?” tanya William dengan sebelah alis yang dinaikan.



“Kadal sepertimu lebih baik diam!” kata Ethelyne tegas sambil menunjuk tepat ke wajah William.



“Aku bukan kadal!”




“Tenanglah, dia baik-baik saja. Aku hanya memindahkan sisa jiwanya ke tempat yang seharusnya.”



Kening Ethelyne tampak mengerut, dia menatap pria di hadapannya tak mengerti. “Maksudmu?”



“Nona Ethelyne.” Mika yang sedari tadi hanya diam berdiri dan menatap Ethelyne serius. “Karena jumlah jiwa Lady yang tidak mencukupi, kami terpaksa mengambil jiwanya secara paksa dan memasukkannya ke lingkaran jiwa untuk memulihkan semua jiwanya kembali. Itu sebabnya Anda tiba-tiba tidak merasakan kehadiran jiwa suci.”



“Sejak kapan …” Ethelyne melirik Nina yang sedari tadi hanya menunduk. “Pasti kau kan! Roh waktu sialan!!”


__ADS_1


“N-nina hanya ingin menyelamatkan Lady …”



“Dasar--”



“Cukup! Kau tidak punya hak untuk memarahi roh di dunia atas, jika kau tidak memiliki keperluan lain. Silahkan pergi dari sini, Ratu Iblis.”



Ethelyne menatap Murry penuh permusuhan, dia mengepalkan tangannya hingga mengeluarkan darah. “Baik, aku akan keluar. Tapi sebelum itu, aku ingin bertemu jiwa Ethelyne. Setelah itu, aku tidak akan menemui kalian lagi.”



Murry melirik William dan para roh, mereka hanya mengangguk menyetujui. Murry menghela napas. “Baiklah, tapi hanya lima menit!”



Senyum manis merekah di wajah Ethelyne, gadis itu mengangguk berkali-kali.



“Silahkan ikut saya.” Roh air, Maira. Berdiri dan menuntun jalan ke sebuah gua yang ditutupi tanaman merambat.



Tidak sampai setengah jam sejak memasuki gua, Ethelyne sudah dapat melihat cahaya obor. Dia berhenti di depan barier suci, Ethelyne menatap seorang gadis yang dikelilingi kupu-kupu tengah berdiri di tengah-tengah lingkaran sihir dengan mata tertutup, gadis itu benar-benar mirip dengannya. Tangannya terangkat dan menyentuh barier, Ethelyne tersenyum tipis.



“Saya akan menunggu Nona di luar,” kata Maira yang seolah tau situasi, dia kemudian berjalan keluar dan meninggalkan Ethelyne sendirian.



“Maaf, aku tidak bisa membantumu sama sekali,” kata Ethelyne dengan raut wajah sedih. “Aku sungguh ingin menyelamatkanmu, tapi kekuatanku justru hanya akan semakin melukaimu.” Dia menunduk sambil menatap kedua tangannya. “Aneh ya, padahal dari awal aku yang ingin kau pergi. Tapi setelah kau benar-benar pergi, aku malah merasa sedih dan kesepian. Mungkinkah karena tidak ada yang memperdulikanku dengan tulus seperti kau? Tapi sejak kapan, sejak kapan aku peduli pada musuhku sendiri? Aku merasa sangat tidak nyaman.” Ethelyne meletakkan tangannya di atas dada. “Hatiku seolah diiris oleh belati tajam, sakit. Kenapa aku merasakan rasa sakit ini saat kau pergi? Bukankah seharusnya aku bahagia, tapi kenapa aku malah merasa sedih? Aku tidak ingin kau pergi.” Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan. “Aku ingin kau kembali, kembali dan hidup bersamaku lagi. Ethelyne, jika sejak awal aku dilahirkan sebagai manusia. Mungkinkah ini tidak akan terjadi, tapi … apa kita bisa bertemu jika aku menjadi manusia? Kau adalah seorang Virgian, sementara jika aku menjadi manusia biasa. Aku hanya akan selalu merendahkan diriku sendiri, aku mungkin tidak ingin bersama kau karena minder dan iri. Aku mungkin akan menjadi jahat dan melukai dirimu sendiri, maaf. Maafkan aku, Ethelyne. Semuanya salahku, maaf. Maafkan aku.”



“**Ini bukan kesalahanmu sama sekali**.”

__ADS_1



Ethelyne mendongak dan menatap ke arah gadis dengan mata yang masih terus tertutup. ‘Aku akan berusaha untuk membantumu tetap hidup, setidaknya. Seagai teman, aku bisa menyelamatkan temanku. Terima kasih selama ini sudah mau perduli dan tidak membenciku, hanya kau ibu, dan Meli yang menyayangiku dan tulus padaku.


__ADS_2