
“Luna percaya pada Mama, maafkan Luna. Luna sering terbawa emosi akhir-akhir ini.”
Ethelyne melepas pelukannya. “Bukankah itu wajar? Lagipula, kau masih kecil. Kau tidak perlu memikul beban apapun di usia sekecil ini, kau hanya perlu bermain dengan sepuasnya. Luna, jika ada yang membebani pikiranmu. Ceritakan pada Bibi Meli atau Mama, jangan pernah mencoba untuk memendamnya sendiri.”
“Iya, Luna akan ingat ucapan Mama.”
‘Ah, aku sangat lelah. Suasana hatiku langsung membaik setelah bertemu gadis kecilku yang imut.’ Ethelyne tersenyum senang, dia berdiri dan berjalan keluar. ‘Hah, selalu sepi seperti biasa. Aku sangat bosan akhir-akhir ini, jika aku terus mengunjungi Luna. Dia juga akan menjadi bosan dan tidak mau menemuiku lagi. Huuh.’
Dengan langkah pelan, Ethelyne menelusuri lorong istana. Tidak sampai lima menit, dia tiba di depan sebuah pintu besar yang diberi dengan banyak gembok. Ethelyne mengangkat tangannya, asap hitam keluar dari telapak tangannya dan mengelilingi semua gembok-gembok itu. Seketika semua gembok yang mengunci pintu besar itu meleleh.
Ethelyne membuka pintu besar tersebut dan berjalan masuk, dia langsung disuguhi dengan dua peti kayu. Ethelyne berjalan masuk, pintu di belakangnya tertutup secara otomatis dan terdengar suara pintu yang dikunci.
Namun bukannya takut, Ethelyne tetap melangkah ke dua peti itu dan berdiri di hadapan keduanya. Dia menatap kedua peti tanpa ekspresi, Ethelyne mengangkat tangannya dan menyentuh wajah pucat pasi sang kakak.
“Sepertinya Mili benar-benar merawat kalian dengan baik ya, untunglah boneka-bonekaku tidak lecet sama sekali. Karena jika tidak, maka aku akan menghabisi Mili atas kecerobohannya.” Ethelyne melirik Ryan. “Ada apa, kak? Apa kau menjadi sangat dendam padaku? Kau pasti sangat tersiksa ya, telah mati tapi jiwa tetap tidak meninggalkan raga sepenuhnya. Bukankah itu sama saja dengan terkurung, aku sangat kasihan pada kalian. Tapi, jika aku membantu kalian. Maka aku akan kehilangan dua boneka yang berharga, jadi maafkan aku. Mungkin kau bisa membalas dendam di kehidupanmu selanjutnya, itupun jika kau bisa bebas dari tubuhmu itu.” Dia berbalik dan berjalan pergi. “Aku kemari hanya untuk mengunjungi kalian dan bermain-main, tapi sepertinya suasana hatiku sedang tidak dalam keadaan yang baik. Jadi, mari kita bermain-main di lain waktu … mungkin saat perang tiba nanti.”
Pintu besar di depannya mulai terbuka lebar, Ethelyne melangkah keluar dan diikuti oleh pintu yang kembali tertutup rapat. Muncul gembok baru yang kini kembali mengunci pintu besar itu.
‘Ah, aku sangat bosan. Aku harus melakukan apa ya? Hem, ah. Lebih baik aku pergi ke dapur dan melihat Meli dan Loreen memasak, lagipula. Aku tidak pernah kedapur sejak kecil, jadi sepertinya tidak akan masalah jika aku pergi sekali.’ Dengan langkah riang, Ethelyne berjalan ke arah dapur sambil bersenandung kecil.
Lorong ke dapur dari ruangan itu mulai tampak beberapa pelayan yang tengah berberes-beres, mereka pun membungkuk hormat saat melihat Ethelyne lewat.
“Jangan memaksakan diri, meskipun iblis abadi. Tapi banyak iblis yang regenerasinya sangat lemah, jangan sampai kelelahan ataupun terluka.”
“Baik, terima kasih atas perhatian Anda. Yang Mulia.”
“Hamba akan menuruti setiap permintaan Anda.”
“Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia.”
__ADS_1
“Seperti yang Anda inginkan, Yang Mulia.”
Ethelyne tersenyum tipis sambil tersenyum tipis, langkahnya terhenti di tangan belakang istana. Tidak ada yang spesial kecuali bunga-bunga berwarna hitam. ‘Tidak banyak yang berubah di taman ini setelah 700 tahun lamanya, ah. Aku tiba-tiba merasa rindu, taman ini adalah taman yang menyimpan lebih banyak kenangan bersama Ibu. kapan ya, aku bisa bertemu Ibu lagi.’
“Yang Mulia.”
Ethelyne melirik ke belakang. “Ah, Loreen ya. Ada apa?”
“Makan siang sudah siap, apa Anda ingin makan sekarang?”
“Antar saja makanan ke kamarku, aku akan makan nanti. Kalian makanlah terlebih dahulu.”
“Baik, Yang Mulia.” Loreen membungkuk hormat dan berjalan pergi.
Ethelyne duduk di salah satu bangku, dia memetik satu bunga mawar hitam dan menatapnya lekat. ‘Aku sangat merindukanmu, ibu. Jika kau tidak mati hari itu, akankah kita masih bisa tertawa bersama?’ Ethelyne tersenyum miris. “Itu tidak mungkin bisa, ibu hanyalah seorang manusia yang diberkati oleh Naga legendaris. Sementara aku, adalah iblis. Kehidupan kita berdua berbeda … andai saja ibu tidak ke istana ini, akankah ibu bisa hidup bahagia bersama kakek?” Dia tiba-tiba tersadar akan satu hal.
‘*Itu tidak mungkin, manusia biasa tidak mungkin bisa bertahan lebih dari 500 tahun. Meskipun bisa, dia pasti sudah kurus seperti kerangka*.’
‘*Benar juga sih, tapi kan. Bisa saja Kakek itu menggunakan semacam sihir atau mantra yang bisa membuatnya hidup lebih lama, contohnya seperti iblis. Padahal mereka berumur 800 tahun tapi masih seperti 18 tahun*.’
“Hah? Apa kau bermaksud menyindirku?”
‘*Ah. tidak, tidak! Saya, saya berbicara tentang iblis lain. Master tentu tidak bisa disamakan dengan iblis lain, kan*.’
‘*Mengaku saja, kau baru saja menyindir Nona kan*.’
‘*Tidak! Sudah aku katakan, aku membicarakan soal iblis lain. A-aku tidak pernah*--’
__ADS_1
“Kau dihukum membersihkan gudang sebulan.”
‘*Apa?? Tunggu master, saya bisa jelaskan*!’
“Tambah setengah bulan.”
‘*Tapi*--’
“Tambah dua bulan.”
‘*Baik* …’
‘*Pfft, hahaha. Akhirnya kau terkena karma*!’
“Vio juga dihukum membersihkan gudang sebulan.”
‘*Apa*??’
“Ada apa? Kau masih ingin hukumanmu ditambah?”
‘*Tidak* …’
‘*Tambahkan saja master! Biarkan serigala- maksud saya Vio dihukum lebih lama dari saya*!’
“Flowing, berhenti bicara jika tidak ingin hukumanmu ditambah.”
Tidak ada lagi balasan, Ethelyne menghela napas. Dia bersandar sambil menatap lekat bunga yang tengah di pegangnya, tanpa sengaja. Duri di tangkai bunga melukai tangannya hingga berdarah.
Anehnya, darah yang keluar justru berwarna hitam pekat. Ethelyne menatap darah yang terus menetes dengan tatapan datar. “Begitu ya? Ternyata, aku memang telah menjadi iblis sepenuhnya.” Dia menyentuh dadanya. ‘Apa itu sebabnya, aku tidak merasakan apapun lagi di hatiku? Rasa sakit, kasihan, duka, semuanya. Semuanya seolah menghilang dan membuat hatiku terasa sangat ringan, yah. Memang sejak awal, aku tidak seharusnya membantu manusia. Kenapa? Kenapa saat aku berubah menjadi iblis sepenuhnya, aku tetap tidak bisa melihat mereka dihabisi. Meskipun aku tidak bisa merasakan apapun untuk mereka, tapi entah kenapa. Aku merasa … selalu ingin menolong mereka.’ Ethelyne mendongak dan menatap langit. “Apa semuanya karena prinsip yang dulunya kubangun dengan susah payah? Mungkinkah aku masih belum terbiasa dengan kehidupan monster ini?”
__ADS_1
Ethelyne terkekeh sinis, dia menunduk dan kembali menatap lukanya yang beregenerasi dengan cepat. “Ah, aku sepertinya mengerti kenapa para iblis selalu memburu manusia dan memakan mereka. Regenerasi mereka tergantung dari jumlah manusia yang dimakan, semakin banyak. Maka regenerasinya akan semakin cepat dan bahkan bisa tahan terhadap logam setajam apapun.”