Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
131. Kematian


__ADS_3

Suara teriakan terdengar sangat nyaring, Aliya yang tengah berada di kamarnya membuka pintu dan menatap bingung pelayan dan prajurit yang berjalan ke arah yang sama dengan tergesa-gesa.


“Hei, apa yang terjadi? Kenapa kalian sangat tergesa-gesa?” tanya Aliya pada seorang pelayan yang lewat.


“B-begini, kami menemukan mayat Nona Sela di dalam kamarnya. Beliau...” Pelayan itu tampak ragu. “Beliau dibunuh dengan tragis, seluruh tubuhnya terputus dan tergeletak di tempat yang berbeda sementara organ tubuh Nona...” Dia mengalihkan pandangannya, Pelayan itu tak sanggup melanjutkan ucapannya sama sekali, yang dia lihat secara langsung sudah cukup untuk membuatnya shock dan trauma.


Mata Aliya membulat. “M-maksudmu, o-organ dalamnya... tidak ada?” tanyanya memberanikan diri.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya kecil.


Aliya menutup mulutnya tak percaya. ‘Kenapa bisa... nenek sihir itu dibunuh dengan sekejam itu?? Bahkan, aku tidak menghabisi para pembunuh itu dengan cara yang keji. Tapi orang ini... dia adalah monster yang sebenarnya!!’ Dia berjalan pergi dengan tergesa-gesa. ‘Apa yang nenek sihir itu yang mati? Semoga tidak terjadi apa-apa pada Kak Ethelyne.’


~♥~


“Ethel!!”


Ethelyne menoleh ke asal suara dengan kaget. “Kathel? Ada apa? Kenapa kau tergesa-gesa begitu?”


Kathelyne berjalan ke arah Ethelyne dengan cepat, dia menggenggam bahu Ethelyne. “Syukulah kau baik-baik saja, aku sangat khawatir. Aku dengar, ada pembunuhan di sini. Itu sebabnya aku takut, aku takut terjadi sesuatu padamu.”


“Pe-pembunuhan?” Ethelyne tampak terkejut. “Kenapa bisa ada yang berani membunuh di istana ini? Daripada itu, siapa yang dibunuh? Apa pembunuhnya sudah ditangkap?”


“Aku tidak tau, tapi kita harus segera pergi dari sini. Istana ini sudah tidak aman lagi!” Kathelyne menarik tangan Ethelyne, namun dia seketika terhenti saat melihat gadis itu tak bergerak sama sekali.


Ethelyne menatap serius Kathelyne. “Kathel, aku seorang gadis suci. Asal dia belum mati terlalu lama, mungkin... aku bisa mempertahankan hidupnya.”


“Tunggu, apa? Apa kau gila! Kau memang seorang gadis suci, tapi kau itu bukan Dewa yang bisa menghidupkan orang lain!!” bentak Kathelyne marah.


Ethelyne menutup matanya, dia menghela napas. “Tapi jika aku hanya berdiam diri sana.” Ethelyne membuka matanya. “Aku tidak pantas menjadi seorang gadis suci.”


Kathelyne terdiam, dia menatap Ethelyne yang juga menatapnya serius. “Baiklah,” katanya pasrah. “Tapi kau tidak boleh memaksakan dirimu! Jika kau benar-benar tidak bisa melakukannya, maka jangan melakukannya!”

__ADS_1


Ethelyne tersenyum manis. “Iya.”


~♥~


“Apa yang terjadi??” Ethelyne segera melewati beberapa pelayan dan prajurit yang berkerumun, dia berdiri diam menatap mayat yang tengah disatukan dan ditutupi dengan kain putih. Ethelyne melirik beberapa bekas darah yang berceceran di lantai, dia menghela napas dan berusaha mengontrol detak jantungnya.


“N-nona--”


“Ini mayat siapa?” sela Ethelyne setelah mendapat kembali kontrol tubuhnya.


Pelayan itu tampak ragu memberitahukan, namun dia tetap berbicara. “Itu, itu mayat Nona Sela.”


“Sela??” Ethelyne menatap miris mayat di hadapannya. “Berapa lama dia telah mati?”


“K-kami kurang tau, tapi tabib istana berkata Nona Sela baru mati 5 menit yang lalu.”


“5 menit...” gumam Ethelyne, dia berjongkok dan sedikit membuka kain itu. Kathelyne menatap dingin tangan yang sudah terpisah dari tubuh. Dia menatap rasa jijik dan mengarahkan tangannya ke tangan Sela, Ethelyne menutup matanya. ‘Kumohon, Dewa. Tolong bantulah aku, aku tau mustahil untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati. Tapi kumohon, aku, aku akan mengorbankan energi suciku demi menghidupkannya kembali. Kumohon... Dewa.’


Cahaya hijau muncul di antara tangan Ethelyne ke tangan Sela, perlahan-lahan. Tangan tersebut mulai bergerak ke tubuh yang telah terpisah.


Ethelyne menggertakkan giginya menahan rasa sakit yang seolah menusuk-nusuk tubuhnya, darah mulai mengalir keluar dari hidungnya.


“N-nona Ethelyne, Anda..”


“Ethelyne! Kau gila!! Kau melanggar janjimu!!” teriak Kathelyne yang tengah dihalangi oleh orang-orang yang tengah berkumpul.


Ethelyne berusaha mengabaikan suara Kathelyne, dia terus mempertahankan kekuatan penyembuhannya. Namun, seberusaha apapun dia. Kekuatan itu perlahan meredup. Ethelyne membuka matanya, dia mengigit bibir dalamnya saat melihat kekuatannya yang mulai meredup. ‘Tidak berhasil, apa sungguh semua yang kulakukan ini tidak berhasil? Aku, aku bahkan tidak dapat merasakan energi murniku.’ Pandangannya tiba-tiba menggelap, kesadaran Ethelyne perlahan-lahan mulai menghilang. Dia tetap berusaha mempertahankan kesadarannya sambil terus menggunakan sihir penyembuhan, namun percuma. Penglihatannya semakin menggelap sebelum benar-benar tidak ada cahaya sedikitpun.


“Percuma saja.”


Ethelyne celingak-celinguk mencari asal suara. ‘Suara siapa itu? Suara itu, sangat mirip dengan suaraku, bahkan suara Kathel memiliki sedikit perbedaan. Tapi suara ini, benar-benar mirip dengan suaraku.’ Dia berusaha untuk tetap berani. “Siapa kau?! Apa yang kau lakukan di alam bawah sadarku?!”

__ADS_1


Tiba-tiba, muncul energi gelap di depan Ethelyne. Energi itu membentuk seseorang yang benar-benar mirip dengan dirinya, bahkan sangat identik dan tidak ada perbedaan sama sekali.


“K-kau, kenapa kau... sangat mirip denganku??” tanya Ethelyne kaget.


Gadis itu membuka matanya, dia tersenyum dengan kepala memiring ke kiri. “Apa kau lupa padaku?”


“Siapa kau?! Aku tidak mengenalmu sama sekali!”


“Ah, sayang sekali. Tapi daripada identitasku, bagaimana kalau aku memberitahumu kenapa kau tidak bisa menggunakan energi murnimu.”


Ethelyne terkejut dengan yang dikatakan gadis di depannya. ‘Energi murni? Kenapa dia bisa tahu? Tidak banyak orang yang tahu tentang energi murniku! Siapa, gadis ini sebenarnya??’


“Fufufu, kau tidak akan bisa menggunakan energi murnimu selama-lamanya.”


“Apa? Tapi kenapa?”


“Karena kau, telah memberikannya padaku,” kata gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


“Aku, memberikannya padamu?” Ethelyne mengerutkan keningnya tak mengerti.


“Benar, apa kau lupa? Kau mengorbankan jiwa dan energi murnimu karena kau berpikir kau mengorbankan diri untuk pria yang dicintai gadis reinkarnasimu.”


“Aku, aku sama sekali-” Ethelyne terdiam, dia menatap gadis di depannya. “Apa kau... Dewa iblis?” tanyanya ragu.


Gadis itu tersenyum manis. “Benar sekali, sayangnya kau begitu polos karena percaya dengan ucapanku itu. Kau begitu bodoh hingga mengorbankan jiwamu sendiri, aku membiarkanmu keluar kali ini hanya untuk berpamitan. Tapi kau memanfaatkan kesempatan terakhirmu dengan hal yang tidak berguna, ah. Sungguh jiwa yang amat suci.”


“Sialan! Kau menipuku!!”


“Menipumu?” Gadis yang tak lain adalah Dewa iblis tertawa terbahak-bahak. “Aku tidak menipumu, gadis kecil. Kau memang reinkarnasi dari gadis yang kucintai. Tapi itu sudah berlalu berabad-abad, rasa cinta di hatiku ini sudah lama menghilang. Aku mengerti yang dirasakan ayahku saat menjadi seorang Dewa Iblis... benar, yang diperlukan Dewa iblis bukanlah hati, tapi kekuatan. Asal kau punya kekuatan yang kuat, maka kau akan dihormati dan aku merasakannya saat ini. Rasa cinta di hatiku ini sudah berubah, tapi kau sangat membantuku dengan jiwa dan energi murnimu itu. Meskipun aku tidak bisa kembali ke ragaku, tapi aku bisa memanfaatkan ragamu sampai kekuatan iblisku menyatu seutuhnya dengan energi murnimu.”


~♥~~♥~

__ADS_1


Mimin sebenarnya udah mau selesai-in ini cerita, tapi belum nemu alur yang cocok jadi tetep lanjut🙃


__ADS_2