Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
54. Tokoh Barang Antik


__ADS_3

“Kau ini …”


Tiba-tiba, sebuah pisau muncul di atas kepala pria berambut pirang itu dan langsung menancap di kepalanya. Seketika darah mulai mengucur dengan derasnya, pria itu terjatuh ke tanah. Kakinya perlahan-lahan menghilang menjadi abu dan merambat ke seluruh tubuhnya hingga benar-benar menjadi abu.


Para Raja iblis yang masih berada di ruang rapat terkejut bukan main, apalagi saat melihat pisau di lantai yang telah direndam dalam air suci.


“Sudah kukatakan, aku akan mengampuni kalian sekali. Tapi sepertinya kalian tidak mendengarkan ucapanku sama sekali, maka terimalah akibatnya!”


Suara Ethelyne seolah menggema di ruang rapat, para Raja iblis segera berlutut.


“Mohon maafkan kami, Yang Mulia. Kami tidak akan melakukannya lagi. Mohon kemurahan hati Anda.”


“Kenapa aku harus mendengarkan kalian? Dasar rendahan, kalian membicarakanku dari belakang bukan. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hanya memaafkan kesalahan kalian sekali dan tidak akan berulang kali!”


Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari dalam ruang rapat. Darah perlahan-lahan mengalir keluar dari celah di bawah pintu.


“Mili,” panggil Ethelyne yang masih terus berjalan menjauh dari ruang rapat.


“Ya, Yang Mulia!”


“Bersihkan kekacauan, aku tidak suka ada kuman di ruanganku. Jika aku menemukan setetes darah saja, kau akan kujadikan makanan para binatang iblis … ah iya, aku lupa. Aku juga harus menghukummu karena memberitahu Meli soal kepergianku.”


“I-itu, saya tidak sengaja keceplosan dan didengar oleh Meli. Maafkan saya, Yang Mulia!” Meli membungkuk dengan penuh penyesalan. “Akan saya pastikan ruang rapat bersih tanpa meninggalkan sedikitpun noda!”


“Selain itu, lantik beberapa iblis terhebat dan terkuat untuk menggantikan posisi ketujuh Raja iblis itu.”

__ADS_1


“Baik!”


‘Ah, aku sungguh lelah. Aku sangat ingin bertemu Luna hari ini.’ Ethelyne berjalan pergi. ‘Kira-kira, hadiah apa yang yang cocok dibawakan untuk gadis kecilku yang imut itu?’


Suasana hati Ethelyne langsung berubah damai dan berbunga-bunga saat mengingat sang putri tersayang.


‘Hem, apa aku pergi ke dunia manusia saja dan mencarikannya hadiah ya? Tapi …’ Ethelyne melirik sekitar, dia menghela napas. ‘Aku melakukan perang di hari yang salah, bagaimana aku bisa pergi ke dunia manusia dengan identitas- aku tau! Aku bisa menggunakan identitas Katrine, ah. Untung saja aku membuat identitas lain, sempurna! Dengan begini, aku bisa memberikan Luna hadiah dari dunia manusia. Ok! Mari laksanakan misi mencari hadiah istimewa untuk putri yang istimewa!’ batin Ethelyne semangat.


~♥~


Suara bel terdengar saat Ethelyne membuka pintu toko antik, dia berjalan masuk dan menatap semua barang antik yang berjejeran rapi di lemari kaca. ‘Hm, kira-kira. Berikan Luna apa ya? Di toko ini sepertinya banyak yang bagus meskipun antik, tapi justru itu keunggulannya! Jika aku membelikannya, itu bisa dijadikan kenang-kenangan karena hanya ada satu.’


“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” tanya kakek tua pemilik toko dengan ramah.


”Ah, aku mencari benda yang digemari anak kecil. Apa Anda menjualnya di sini?”


“Hm, begitu ya? Lalu, apa ada barang yang hanya ada satu-satunya di dunia?”


“Barang yang satu-satunya di dunia? Kalau itu, sepertinya ada di sini.” Kakek pemilik toko berjalan melewati deretan lemari kaca dan sampai di sebuah satu lemari kayu yang berada di sudut toko, kakek pemilik toko membuka lemari kayu itu dan mencari-cari sesuatu. “Hm, sepertinya aku meletakkannya di sini. Tapi ke mana ya? Ah, ketemu! Ini dia, ini satu-satunya barang yang ada di dunia. Dulu memiliki 3 yang sama, tapi keduanya dihancurkan oleh seorang Raja yang kuat. Jadi hanya tersisa satu, dan juga. Karena bentuknya yang unik dan ukirannya yang tidak bisa ditiru, ini hanya satu-satunya di dunia,” katanya sambil menunjukkan sebuah gelang berwarna perak dengan ukiran mawar, naga, dan burung phoenix yang menjadi satu.


Ethelyne mengambil gelang itu dan menatapnya lekat. “Sepertinya Luna akan menyukainya, baik. Berapa harga gelang ini?”


“Hahaha, maaf Nona. Tapi gelang ini tidak dijual.”


“Hah?? Lalu kenapa kau menunjukkan padaku?”

__ADS_1


“Hahaha, itu karena aku pikir kau tertarik untuk melihatnya.”


Ethelyne menatapnya jengah. “Tolong juallah gelang ini padaku, aku akan membayar berapapun harganya!”


“Seperti yang aku katakan tadi, gelang ini tidak dijual. Tapi jika kau benar-benar menginginkannya, aku akan memberikannya padamu … dengan satu syarat.”


“Apa syaratnya?”


“Sangat mudah, kau cukup mengalahkan kakek tua itu.” Kakek pemilik toko melirik seorang kakek tua yang tengah duduk di samping pintu sambil menikmati tehnya.


‘Eh, dia kan. Kakek yang memberiku jepit rambut phoenix itu! Kenapa dia bisa di sini?’ Ethelyne menatap kakek tua itu seksama, dia kini yakin bahwa kakek itu adalah kakek yang dulunya memberikan jepit rambut phoenix.


‘Master, daripada itu. Bukankah Anda harus memperjelasnya, apa dia benar-benar Kakek Anda atau bukan.’


‘Ah, kau benar! Aku sampai lupa soal itu.’ Ethelyne mengalihkan pandangannya ke kakek tua pemilik toko. “Aku setuju, jika aku menang. Aku ingin kalian memberiku gelang ini dan mengabulkan satu permintaan kecilku.”


“Hahaha, tentu saja. Nona muda, silahkan ikut ke mari.” Kakek pemilik toko menuntun Ethelyne ke sebuah pintu yang digembok, dia membuka pintu itu dan mempersilahkan Ethelyne masuk.


“Eh, Anda tidak ikut masuk?”


“Tidak, Nona muda. Aku akan memperhatikan pertandingannya dari ruang khusus, kerahkan semua kekuatanmu untuk mengalahkannya. Meskipun dia seorang kakek tua, dia telah hidup selama 800 tahun lebih. Hahaha, dia memiliki kekuatan yang setara dengan jenderal iblis.” Kakek pemilik toko langsung berjalan pergi tanpa memberi kesempatan untuk Ethelyne berbicara.


‘Yasudah lah, aku hanya perlu memenangkan pertandingan kan. Lagipula, jika memang hanya memiliki kekuatan seperti jenderal iblis. Maka sepertinya aku yang seorang Ratu iblis pasti bisa mengalahkannya.’ Ethelyne mengepalkan tangannya di depan dada. “Semangat!”


Dia melangkah masuk mengikuti lorong yang terus lurus tanpa belokan, namun meski jalannya sangat lancar. Ethelyne seringkali kesusahan karena lorong yang entah kenapa semakin mengecil, apalagi ada senjata rahasia yang juga membuatnya kesulitan untuk sampai ke tempat pertandingan dengan cepat.

__ADS_1


Ethelyne mengatur napasnya, entah kenapa. Dia tiba-tiba merasa seolah energi sihir gelapnya terkuras habis. Ethelyne memegang bahu kirinya sambil terus bergerak maju, terdapat bekas goresan di pipi dan lengannya. Terlebih lagi, regenerasi khas iblisnya melemah dan bahkan hanya menyembuhkan bekas goresan membutuhkan waktu yang amat lama.


Setelah berjalan hampir satu jam tanpa istirahat, Ethelyne akhirnya sampai di sebuah ruangan luas yang kosong. Tidak ada jalan lain kecuali menuju ke ruangan itu, dengan langkah ragu. Dia memasuki ruangan, seketika muncul barier berwarna putih di belakangnya.


__ADS_2