
“Yang Mulia, gawat! Prajurit yang menjaga perbatasan melaporkan tentang kemunculan gerombolan iblis yang berjalan mengarah ke Kota Starlaxy!”
“Hem, ternyata Ratu iblis bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan. Segera perintahkan prajurit untuk bersiap-siap di perbatasan!”
“Baik, Yang Mulia!” Prajurit itu segera berlari keluar.
Raja Iceworld berdecak. “Ini semua karena anak bodoh itu! Jika saja dia bisa bernegosiasi dengan Ratu iblis, aku bisa memanfaatkannya untuk meruntuhkan kerajaan lain. Dasar anak tidak berguna!”
“Yang Mulia, apa Anda benar-benar akan mengikuti perang ini?” tanya Harvey.
Ethelyne yang tengah mengerjakan dokumen-dokumen penting meliriknya sekilas. “Ya, begitulah. Aku dengar, ketujuh Raja iblis ingin mengadakan rapat. Apa itu benar?”
“Ya, Yang Mulia. Para Raja Iblis tidak menyukai cara Anda yang menyerang manusia secara langsung, terlebih lagi. Di siang hari yang akan membuat pasukan kita mati.”
“Hah, bodoh sekali. Apa mereka pikir, aku akan melakukan perang tanpa persiapan.” Ethelyne berdiri dan berjalan ke arah Harvey, dia berhenti di samping pria itu dan menepuk pundaknya. “Kau akan memimpin pasukan iblis untuk menyerang manusia, jika suasana menjadi kacau. Beritahu aku menggunakan sihir pelacak.”
“Baik, Yang Mulia. Saya akan memastikan pasukan iblis bisa kembali dengan kemenangan.”
“Semangat yang bagus.” Ethelyne berjalan melewati Harvey. “Ajak Leyton, Gareth, dan Verlin bersamamu.”
“Sesuai perintah Anda!”
Ethelyne melewati lorong istana yang sepi seperti biasa. ‘Jika benar-benar berhasil, maka kerajaan Iceworld akan mudah untuk dijatuhkan. Dan juga, ketika aku memenggal kepala Raja Iceworld dan mempersembahkannya pada Ibu. Mungkin saja Ibu akan bisa tenang dan bereinkarnasi.’ Dia menyentuh dadanya. “Ibu, aku harap kita bisa tetap menjadi ibu dan anak di kehidupan selanjutnya.”
“Yang Mulia!!”
Ethelyne menoleh ke belakang, dia menatap Meli yang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
“Bibi? Ada apa? Kenapa Bibi terlihat sangat marah?”
“Bagaimana tidak?! Anda ingin pergi ke medan perang! Medan perang bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dalam sekali jentikan jari, Anda tidak tau betapa berbahayanya medan perang itu! Bagaimana jika Anda kembali dengan luka? Bagaimana jika Nyonya melihat Anda dari atas dan mengomeli Anda yang selalu keras kepala?!” tanya Meli diikuti omelan yang tidak ada habis-habisnya.
“Bibi, tenanglah. Aku tidak akan mati dengan mudah.” Ethelyne berusaha menenangkan amukan Meli yang menjadi-jadi, entah siapa yang memberitahu Bibinya itu bahwa dia akan ke medan perang.
“Bagaimana saya bisa tenang?? Anda akan ke medan perang dan melawan manusia, manusia! Terlebih lagi. Anda melakukannya di siang hari?? Apa Anda tidak tau, iblis tidak bisa--”
“Bibi, aku tau semuanya!” Ethelyne menggenggam kedua tangan Meli dan membuat wanita itu langsung diam. “Aku tidak akan pernah melakukan hal yang tidak bisa kumenangkan, Bibi. Dengarkan aku, aku akan memenangkan perang ini. Bibi hanya perlu percaya padaku dan tidak perlu memikirkan hal lain!”
__ADS_1
“Tapi …”
“Omong-omong, siapa yang memberitahu bibi bahwa aku akan ke medan perang?”
“Ah, itu ya? Mili yang memberitahu saya, dia menemui saya pagi ini dan berceloteh panjang tentang Anda.”
‘Gadis sialan itu! Akan kupastikan aku menguburmu di tengah hutan gelap saat aku kembali nantinya!’ batin Ethelyne geram.
“Yang Mulia,” panggil Meli tiba-tiba.
“Ah, ada apa?”
“Yang Mulia, saya harap. Anda bisa kembali dengan selamat dan meraih kemenangan.”
Ethelyne terdiam, dia memeluk Meli sambil tersenyum tipis. “Tidak perlu khawatir, Bibi. Aku akan kembali dengan selamat untuk Bibi dan … Putriku,” gumamnya di akhir kalimat.
Meli balas memeluk Ethelyne sambil menahan air matanya. “Saya tau, Anda pasti akan meraih kemenangan dan kembali,” katanya dengan suara bergetar.
“Bibi, selama aku pergi. Aku ingin Bibi menjaga istana ini, jangan biarkan siapapun masuk tanpa seizin bibi. Jika Bibi tidak mengenal mereka, bibi bisa mengusir mereka keluar. Bibi tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena aku. Tidak akan membiarkan siapapun melukai bibi sedikitpun.”
~~~♥~~~
“Bagaimana pergerakan dari prajurit kerajaan Iceworld?” tanya Harvey.
“Manusia berbaris di perbatasan dan sepertinya mulai mengumpulkan pasukan, apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Jenderal?”
“Kita--”
“Sepertinya semuanya berjalan lancar ya.”
Harvey dan Gareth menoleh ke asal suara, keduanya segera berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan.
“Maaf tidak menyadari kehadiran Anda, Yang Mulia.”
“Tidak ada apa-apa, bagaimana persiapan?”
__ADS_1
“Ya, semuanya berjalan dengan baik. Jika semuanya berjalan seperti yang Anda pikirkan, maka kita bisa menang dengan mudah.”
“Kerja bagus, sepertinya tidak membutuhkan bantuanku. Jadi aku akan kembali ke istana, aku menunggu kabar baik dari kalian.” Ethelyne berbalik dan melambaikan tangannya sambil berjalan keluar, sebuah portal tiba-tiba muncul di depannya. Ethelyne masuk ke portal itu dan tepat setelah itu portal seolah terhisap ke tengah-tengah portal dan menghilang.
“Kami akan pastikan bahwa prajurit iblis kembali dengan kemenangan.”
~~~♥~~~
“Ada apa ini?” tanya Ethelyne sambil mengetuk-ngetuk meja, dia melirik para pria yang menjadi Raja iblis.
“Yang Mulia, bukankah terlalu tergesa-gesa jika berperang dengan manusia sekarang? Mau bagaimanapun, kita para iblis tidak bisa tahan terhadap sinar matahari. Anda melakukannya sekarang sama saja dengan menghabisi semua pasukan Anda.” Pria tampan berambut pirang berdiri dan mulai berbicara sambil menatap pria-pria lain yang mengangguk membenarkan.
“Lalu?”
“Jadi, jika bisa. Anda harus menarik pasukan kita kembali.”
Ethelyne bersandar sambil menatapnya datar. “Jadi, kau meragukan keputusanku?”
“Saya tidak mungkin memikirkan hal itu, hanya saja-- egh!” Sebuah asap hitam tiba-tiba muncul dari bawah meja dan mencekiknya, kaki dan tangannya ditahan oleh asap hitam dan tidak bisa bergerak apalagi memberontak.
“Lebih baik kau tetap diam jika ingin tetap hidup.” Ethelyne menatap raja iblis yang lain, dia menopang dagunya. “Apa kalian mengatakan sesuatu?”
Mereka hanya diam tak menjawab, kepala mereka kini tertunduk dan tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka.
“Jika aku bertanya, jawab!”
“M-maafkan kami, Yang Mulia. Kami telah salah karena mengikutinya, tolong ampuni kami!” kata mereka semua berdiri dan langsung bersujud.
“Kali ini kalian kubebaskan, tapi jika terulang lagi. Jangan berpikir untuk bisa selamat.” Ethelyne berdiri bertepatan dengan asap hitam yang mulai menghilang. “Rapat hari ini selesai sampai di sini, kalian semua bisa kembali ke kerajaan masing-masing.” Dia berjalan keluar tanpa pikir panjang.
“Baik!” jawab mereka serempak, kecuali pria berambut pirang.
Pria berambut pirang berdecak, dia menatap ke pintu yang telah tertutup. “Dia pikir, hanya karena dia orang yang terpilih. Dia bisa menguasai semua dunia kegelapan? Pada akhirnya, dia juga akan mati seperti Demon King terdahulu.”
“Jaga bicaramu! Kita masih berada di istananya,” tegur pria tampan berambut cokelat.
__ADS_1
Pria berambut pirang kembali berdecak, dia merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.