Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
87. Rencana


__ADS_3

‘Dasar pelayan-pelayan itu, bagaimana mereka bisa bergosip sesuka hati tentang majikan mereka! Apa mereka pikir, Yang Mulia orang yang terobsesi dengan darah dan daging manusia!’ Meli berjalan ke arah ruang kerja Ethelyne dengan tergesa-gesa, dia sungguh marah saat tidak sengaja mendengar gosip dari para pelayan yang kebetulan lewat. “Permisi, Yang Mulia. Saya …” Meli langsung terdiam saat dia baru saja membuka pintu, raut wajahnya tampak terkejut. “Yang Mulia … apa, apa yang sedang Anda lakukan?”


“Ah, aku? Aku sedang menikmati 'makananku'.” Ethelyne tersenyum manis, dia mengarahkan piring berisi 'daging mentah' yang masih tersisa bekas darah.


Meli tentu tau daging itu, dia menutup mulutnya saking terkejutnya. “Anda, apa yang sedang Anda lakukan?!”


“Cih, berisik sekali.” Ethelyne meletakkan piring di atas meja dengan kasar, dia berdiri dan berjalan ke arah Meli. “Kau tidak lihat aku sedang menikmati makananku?? Jika kau tidak ingin makan, setidaknya. Jangan berteriak sekeras itu.”


“Yang Mulia, daging itu. Jangan-jangan, itu milik …” Mata Meli tampak bergetar, dia bahkan tidak memperdulikan nafsunya karena rasa kecewa, sedih, dan kemarahannya lebih besar dan mengalahkan nafsu iblisnya yang kuat.


“Menurutmu?” Ethelyne menatap datar Meli, dia berbalik dan kembali duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya. “Makananku adalah manusia, daripada membuat mereka bersenang terlalu lama di dunia ilusi. Lebih baik membangunkan mereka lebih cepat agar mereka bisa membedakan mata yang kenyataan dan mana yang ilusi.”


“Lalu, lalu kenapa Anda membunuh tawanan?”


“Kau masih bertanya? Karena, tawanan yang kubawa kemari memang untuk menjadi makanan.”


“Tapi, janji Anda pada …”


“Hah? Memang kau pikir, seorang iblis akan memperdulikan soal janji yang sudah berlalu? Lagipula, apa menurutmu. Bangsa iblis akan benar-benar menepati janji mereka, hah. Sungguh pemikiran yang bodoh.” Ethelyne mengambil gelas di meja dan menatap datar cairan merah yang terisi penuh di gelas. “Pada dasarnya, manusia memang terlahir untuk menjadi makanan.”


“Apa yang sebenarnya terjadi pada Anda?? Kenapa sikap Anda menjadi semenjijikkan ini?!” teriak Meli marah, dia benar-benar tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


“Menjijikkan? Apa kau tidak salah.” Ethelyne menatap Meli dari pantulan di gelas. “Aku hanya melakukan hal yang seharusnya sudah kulakukan sejak lama.”


“Anda benar-benar …” Meli melangkah mundur dengan raut wajah tak percaya. “Kau mengecewakanku dan juga kakak!!” Dia berbalik dan berlari pergi sembari menyeka air matanya, apa benar gadis di hadapannya tadi adalah keponakan yang telah dia rawat dengan baik dan tidak pernah dia ajarkan berbuat hal buruk. Lalu kenapa gadis itu tiba-tiba berubah? Kenapa dia benar-benar mirip, seperti seorang Iblis? Apa karena darah yang mengalir ditubuhnya adalah darah seorang iblis. Meli benar-benar tidak bisa mengerti apapun, dia mungkin tidak sanggup menemui sang kakak di akhirat nanti. Kakaknya pasti akan kecewa melihat putri satu-satunya yang kini bertindak selayaknya iblis hina.

__ADS_1


Disisi lain, seorang gadis dengan pakaian pelayan tengah bersembunyi di balik tembok. Gadis itu menyeringai melihat kejadian di depan matanya. ‘Bagus, semakin kau membunuh manusia. Maka dia akan semakin membencimu, dan naluri iblismu akan semakin kuat dan pada akhirnya. Kau akan membunuh kelima pengganggu itu, hah. Kau sungguh bernasib buruk karena berhasil masuk dalam perangkapku, Yang Mulia. Tidak, tapi Ethelyne.’ Dia berbalik dan berjalan pergi. ‘Rencananya berjalan lancar, dengan begini. Aku tidak perlu kesusahan untuk memprovokasinya lagi dan lagi.’


~♥~


‘Sepertinya orang itu sudah pergi.’ Ethelyne menghela napas sambil mengusap dadanya lega, dia menatap jijik daging di atas piring. ‘Rasanya sangat menjijikkan, sebenarnya. Hewan apa yang dibunuh Mili dan mengambil dagingnya??’ Ethelyne memijat pelipisnya. ‘Sudahlah, daripada itu. Aku harus memikirkan rencana untuk menghubungi Murry secara diam-diam dan juga bersikap seolah jari diriku benar-benar muncul, itu juga cukup bagus. Setidaknya, aku tidak perlu bertemu orang-orang menyebalkan itu dalam waktu yang dekat.’


“Akting Anda sungguh terlihat sangat natural, Yang Mulia!” Meli keluar dari tempat persembunyiannya, dia menatap Ethelyne takjub. Dia tidak pernah menyangka kalau Ratunya itu juga sangat berbakat dalam akting.


“Cih, kau membawa daging apa untukku sih?? Rasanya sangat tidak enak!”


“Hehehe, maaf. Saya membawakan daging dari harimau yang saya bunuh.”


“Harimau? Lalu kenapa rasanya sangat tidak enak,” gumam Ethelyne pada dirinya sendiri.


“Ah, mungkin saja karena penggunaan bumbunya yang salah. Soalnya, saya menambahkan bumbu secara acak, Saya juga menggunakan bumbu berwarna putih yang saya temukan di lemari atas sebelah kanan. Saya tidak tau apa kegunaannya sih.”


“Ya, kenapa Yang Mulia tau?”


Ethelyne menutup mulutnya dengan raut wajah ngeri, dia berlari ke arah jendela dan langsung memuntahkan semua yang dia makan.


“Yang Mulia, apa yang terjadi? Kenapa Anda memuntahkan semuanya?”


Ethelyne menyeka mulutnya dengan lengan gaun, dia menatap Mili dengan wajahnya yang tampak pucat. “Mili sialan!! Kubunuh kau!!”


“Maafkan saya, Yang Mulia!”

__ADS_1


~♥~


“Kenapa Ethel jadi jarang kemari?”


“Kenapa kau memikirkan iblis itu?” tanya Zachary sinis, dia tidak suka sang tunangan membicarakan orang lain di hadapannya.


“Zac, kau diamlah. Aku benar-benar ingin tau keadaannya sekarang, sejak terakhir kali bertemu. Dia bersikap aneh, dia bersikap seolah dia benar-benar tidak bermaksud menyelamatkan kita ataupun membantu kita. Mungkinkah, dia melakukannya hanya karena kasihan atau karena balas budi?”


“Tidak perlu memikirkannya, lagipula. Dia itu iblis, dia tidak akan mati dengan mudah.”


“Zion! Apa kau masih kesal karena dikatai lemah oleh Ethel??”


“Cih, diam!”


“Tidak mau!”


“Aelene!”


“Jangan membentak Aeli!”


“Cukup, kalian semua!” kata Eadric jengah, dia menatap kesal ketiganya. “Apa kalian tidak bisa melihat situasi?? Barier di luar diperkuat dan bahkan penjaganya semakin ketat, bukannya memikirkan cara untuk keluar. Kalian malah berdebat tentang hal yang tidak berguna di sini!”


“Maaf,” cicit ketiganya sambil menunduk dengan kedua tangan yang di belakang punggung.


Eadric menghela napas, dia memijat pelipisnya pusing. Matanya tanpa sengaja melihat seorang gadis yang familier dari luar jendela, dia berdiri dan berjalan ke balkon hingga dapat melihat gadis itu dengan jelas. ‘Ethel? Kenapa dia ada di taman sini?’

__ADS_1


~♥~


‘Hah, aku merindukan taman ini. Taman yang pernah kudatangi beberapa kali bersama ibu.’ Ethelyne menatap seisi taman yang mulai tak terurus, dia menatap sendu taman yang dulunya sangat indah kini menjadi taman buangan yang tidak diperdulikan siapapun lagi. ‘Ibu, maaf membuat Bibi marah dan kecewa. Tapi hanya ini satu-satunya cara, saat itu. Aku beruntung hingga kekuatan yang digunakan penipu itu tidak berhasil masuk ke tubuhku dan membuat setiap provokasinya menjadi sia-sia, tapi. Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya jika dia menggunakan sihir lagi padaku.’


__ADS_2