Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
15. Pertemuan Kedua


__ADS_3

Ethelyne mengangkat kedua tangannya. “Baik, aku akan ikut kalian. Tapi jangan melukaiku.”


Salah satu dari mereka menggangguk, mereka kemudian menunjukkan jalan sambil tetap dalam kondisi waspada dan cukup jauh dari tempat Ethelyne berada.


‘Susah sekali, aku tidak bisa menyerang mereka menggunakan seni beladiri jika jaraknya sejauh ini. Jika soal sihir, aku hanya bisa sihir cahaya dan kegelapan. Tidak mungkin kan aku memakai sihir kegelapan, tapi sihir cahayaku tetap tidak stabil meski aku berubah menjadi gadis suci. Itu adalah hal yang aneh sih, karena sepertinya. Ibu tidak pernah mengalami hal itu.’


Karena terlalu asik dengan lamunannya, Ethelyne sampai tidak sadar jika mereka memasuki sebuah kastil hancur yang ada di tengah hutan. Di sekeliling kastil itu penuh dengan bekas kebakaran dan darah yang mengering.


Ethelyne seolah merasa kepalanya berdengung, dia memegang kepalanya dengan mata tertutup. ‘Aneh sekali, aku kembali merasakan sensasi yang sama. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?’


“Ada apa? Ayo cepat jalan!”


Ethelyne tersadar, dia segera mengikuti salah satu dari mereka hingga sampai di sebuah kamar yang masih tampak utuh meski terdapat retakan di tembok.


“Yang Mulia menunggumu di dalam.”


‘Yang Mulia? Bukankah orang ini kemarin memanggil pria itu dengan sebutan Tuan, lalu kenapa sebutannya tiba-tiba berubah. Apa ada yang tidak beres? Lebih baik memastikannya terlebih dahulu.’ Ethelyne menggunakan Dragon Eyesight untuk melihat apa yang terjadi di dalam, namun sialnya. Dia tidak bisa menembus tembok di depannya, seolah ada perisai yang amat kuat yang menghalangi pandangannya. “Apa kau tidak ikut masuk?” tanyanya berlagak polos meski dalam hati sudah sangat waspada.


“Kami di larang untuk masuk ke kamar ini, kau masuklah dan temui Yang Mulia. Jangan sampai membuatnya tersinggung ataupun marah jika tidak mau terkena akibatnya.” Pria berpakaian hitam itu berjalan pergi dan menghilang dalam kedipan mata.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu, Ethelyne mengetuk pintu. “Permisi, apa ada yang memanggilku kemari?”


Tidak berselang lama, pintu terbuka secara tiba-tiba. Ethelyne melangkah masuk dengan wajah was-was. ‘Ada apa di sini? Apa akan terjadi pertumpahan darah? Apa dia sadar kekuatanku? Apa dia ingin membunuhku? Tapi, sepertinya dia bukan orang biasa. Karena, tidak ada yang bisa menyembunyikan apapun dari Dragon Eyesightku yang kini telah mencapai tingkat tiga tinggi. Kecuali jika dia menggunakan perisai tingkat spirit, maka tentu saja Dragon Eyesightku tidak akan mempan.’


“Apa kau yang menolongku?”


Ethelyne menoleh ke asal suara, entah sejak kapan. Pria itu sudah duduk santai di sofa tunggal sambil menikmati teh.


“Ya, perkenalkan. Aku Rimuru, aku berprofesi sebagai ahli herbal. Tapi meski begitu, aku ini bukan seorang tabib,” kata Ethelyne dengan nada ramah. ‘Lebih baik menggunakan identitas yang berbeda dari yang lain, karena jika ketahuan sama. Aku akan dalam masalah.’


“Hm? Aku pikir kau adalah seorang penyihir, tapi ternyata aku salah.”


“Ahaha, Anda bercanda Tuan. Saya bahkan tidak mengerti apapun tentang sihir.” Ethelyne tertawa hambar demi menutupi kegugupannya, dia memang bukan seorang penyihir. Tapi jika ketahuan kekuatan sihirnya adalah kegelapan, bisa saja dia dibunuh karena dianggap sebagai penyihir jahat. Meskipun tidak bisa mati dengan pedang biasa, tapi tetap saja rasa sakitnya akan sama. Bahkan mungkin lebih sakit dari manusia biasa, namun meski begitu. Ethelyne memiliki kekuatan regenerasi tingkat tinggi, tapi justru karena hal itu juga. Dia bisa saja ketahuan iblis karena lukanya yang pulih dengan sendirinya tanpa sihir ataupun ramuan apapun.


“Eum, apa Anda yakin?” tanya Ethelyne memastikan, pria di depannya mengangguk yakin.


Ethelyne memantapkan hatinya, dia membuka jubahnya. Pria itu terpesona melihat Ethelyne meski dalam jarak yang cukup jauh.


Rambut biru panjang yang indah, mata biru seindah lautan. Dan wajahnya yang sedikit memerah karena malu.

__ADS_1


‘Huh, untuk saja aku bisa mengubah warna rambutku dengan cepat. Setidaknya, dia tidak akan tau identitasku yang sebenarnya. Jadi biarkan aku berakting menjadi gadis polos yang lugu dan lemah, bahkan membunuh semut pun tidak bisa. Ngomong-ngomong soal semut, aku pernah membunuh yang berukuran besar di hutan gelap karena memakan cemilanku. Dasar iblis semut sialan, dia menghabiskan cemilan yang lupa kuambil tanpa menyisakan sedikitpun! Apa dia tidak tau, aku mendapatkannya susah payah dari dunia manusia!’ Darah Ethelyne seolah mendidih saat mengingat iblis semut yang mengambil cemilan kesukaannya yang tertinggal di tengah hutan gelap, jangan ditanya karena apa. Sejak kecil, Ethelyne selalu menjadikan hutan gelap sebagai pelampiasan akan amarah yang selalu dipendamnya di istana. Dia selalu merasakan ketenangan ketika berada di hutan gelap, berbeda sekali dengan istana yang setiap hari berisik karena pelayan dan pengawal yang terus berlalu-lalang.


“Khem, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu.”


“Apapun?” tanya Ethelyne memastikan.


Pria itu langsung merasakan firasat buruk, dia mengangguk. “Y-ya, apapun.”


Ethelyne tersenyum bahagia, dia menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan senyum manis. “Terima kasih atas kebaikan Tuan, aku hanya ingin agar Tuan bisa mengunjungi anak-anak di jalan Libreville. Aku yakin mereka akan sangat senang dengan kehadiran Anda, ah iya. Jika bisa, tolong bawakan mereka hadiah. Mereka anak-anak yang baik.” Ethelyne menunduk dengan raut wajah sedih. ‘Anak-anak di sana sangat miskin, aku tidak yakin bisa membantu mereka sendirian. Tapi jika dengan bantuan pria itu.’ Dia melirik pria yang masih duduk di sofa. ‘Aku yakin, dia pasti akan menolong mereka!’


“Hanya itu?” tanya pria itu tampak tercengang. ‘Aku telah menemui bermacam-macam orang di dunia ini. Mereka egois dan selalu melakukan apapun demi mendapatkan hal yang mereka inginkan, jika orang lain di tawari seperti ini. Mereka pasti akan meminta hal-hal yang menguntungkan diri mereka sendiri, kekayaan, kemewahan, posisi, dan lain-lain. Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan masyarakat luar.’ Dia tersenyum tipis. ‘Sudah kuduga, dia berbeda.’


“Baiklah, jika itu maumu. Aku akan mengunjungi mereka.”


Senyum manis merekah di wajah Ethelyne, berbeda dari yang sebelumnya. Dia kini benar-benar tersenyum dengan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, Ethelyne merasa lega di hatinya. Dia mengepalkan tangannya di atas dada. ‘Setidaknya, aku tidak akan terlalu merasa bersalah karena keluarga mereka yang mati dalam perang dan juga … dihabisi oleh iblis.’


“Tapi dengan syarat.”


“Apapun syaratnya, asal Anda mau menemui mereka. Aku akan melakukan apapun yang Anda minta!” kata Ethelyne dengan tegas tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


“Maka jangan menyesalinya. Kau- Rimuru, mulai hari ini. Kau akan menjadi pelayan di kerajaanku.”


”Hah?” Ethelyne menatap bingung. ‘Apa maksudnya dengan kata 'Kerajaanku'?’


__ADS_2