Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
67. Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

“Tapi, bukankah kau mengatakan kalau kau masih memiliki kakak!” kata Zachary.


“Kakak yang mana yang kau katakan? Kakak pertamaku yang menyanyangiku atau kakak keduaku yang ingin membunuhku?”


“Sebenarnya kau ini memiliki berapa saudara?”


“Khem.” Ethelyne berdehem. “Aku memiliki dua saudara, saudara pertama bernama Ryan Blisterzz. Dia adalah saudara yang paling menyayangiku sejak kecil, dan saudara kedua bernama Zen Blisterzz. Dia selalu membenci dan mencoba membunuhku.”


“Mereka berdua itu keluargamu kan! Lalu kenapa kau bersikap seolah-olah kau tidak memiliki keluarga lagi! Kau seharusnya bersyukur, setidaknya. Kau masih memiliki dua kakak dan pengasuh meskipun dia telah menjadi iblis! Kau tidak tau bagaimana nasib manusia yang kehilangan kedua orang tuanya di usia muda, tidak ada kerabat ataupun saudara yang bisa diandalkan,” kata Zion dengan suara yang makin mengecil.


“Saudara mana yang kau maksud?” tanya Ethelyne dengan senyum manisnya. “Apa, kedua saudara yang sudah kubunuh itu?”


“Apa??”


“Seperti yang kukatakan tadi, Kak Ryan dan Kak Zen dibunuh olehku. Eh, maksudnya. Kak Zen dibuat sekarat oleh jiwa Demon Queenku lalu aku menghilang penopang hidupnya dan dia pun mati, kalau untuk Kak Ryan. Memang aku sih yang membunuhnya, aku menusuk jantungnya dengan pedang suci. Apa itu terlalu berlebihan ya?” gumam Ethelyne tanpa rasa bersalah.


“Kau, kau bukanlah Rimuru! Kau adalah monster, iblis!!” teriak Aelene marah, bagaimana mungkin seseorang tega membunuh saudaranya sendiri. Dia jadi tidak yakin kalau gadis di depannya adalah Rimuru.


“Terserah apa yang kau katakan, aku tidak perduli.” Matanya menatap Eadric yang menatapnya penuh benci, dia tersenyum. “Ada apa? Apa sekarang, kau menyesal karena pernah menyukaiku?”


“Aku tidak pernah menyesal menyukaimu, aku hanya kecewa dan kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa melihat dirimu yang sebenarnya.”


“Ah, begitukah?” tanya Ethelyne, dia memiringkan kepalanya dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. “Kau tidak menyesal menyukaiku? Lalu apa-apaan tatapan penuh kebencian yang sedari tadi kau arahkan padaku!” Ethelyne menunjuk ke arah mata Eadric dengan raut wajah geram. “Kau jadi manusia sungguh menyebalkan!”


“Mama.”


Ethelyne tiba-tiba terdiam. “Luna?” Dia celingak-celinguk dan berusaha mencari asal suara, namun tidak menemukan apapun.


“Kenapa Mama terus membohongi diri Mama sendiri?”


Ethelyne berdiri dengan raut wajah panik. “Mama tidak pernah-”


“Mama selalu seperti ini, Mama bahkan tidak pernah memikirkan diri Mama sendiri. Apa Mama tidak lelah dengan derita yang Mama alami selama ini? Luna tidak mau … Mama jadi seperti ini.”


“Luna …”


“Apa Mama ingat? Luna berada di dimensi yang Mama buat, Luna bisa tau apa yang Mama rasakan. Luna bisa melihat masa depan, tapi Luna tidak melihat Mama bersama Luna. Apa Mama ingin meninggalkan Luna? Apa Mama tidak menyayangi Luna lagi?”


Suara Luna yang terdengar parau membuat setetes air mata lolos dari pelupuk mata gadis itu. “Luna, kau salah paham. Mama tidak pernah tidak menyayangimu sedetikpun, Mama selalu ingat-”


“Lalu kenapa Mama tidak menjaga diri Mama sendiri? Apa Mama ingat ucapan Luna dulu? Luna tidak ingin Mama terluka, Luna … Luna sangat sedih melihat Mama menderita.”


Ucapan berserta suara isak tangis tersebut membuat hati Ethelyne berdenyut sakit, dia menunduk sambil menyentuh dadanya. “Luna …”


“Mama tidak pernah mengerti! Mama selalu tidak menepati janji yang Mama buat! Mama selalu terluka saat berada di sana, Mama kenapa tidak memperdulikan diri Mama sendiri?! Luna membenci diri Luna sendiri, Luna benci diri Luna yang tidak bisa melindungi Mama dan menjaga Mama. Luna sangat tidak berguna!”


“Kau …” Pandangan Ethelyne tiba-tiba mengabur, sebelum dia bereaksi. Pandangannya sudah lebih dulu menjadi gelap. ‘Rasa sakitnya tidak terasa lagi, aku hanya merasakan ketenangan dan kedamaian … tidak ada derita sama sekali, hanya kehangatan … kapan ya, terakhir kali aku merasakan kehangatan yang sama? Dan siapa orang itu? Aku tidak dapat mengingatnya dengan jelas, ingatanku mengabur. Apa aku pernah bertemu orang itu? Kegelapan ini membuatku tenang, namun sedikit menakutkan. Aku ingin agar bisa melihat cahaya lagi, tapi apa itu bisa terjadi? Setelah terjatuh dalam kegelapan tanpa dasar, bisakah aku menemui secercah cahaya?’

__ADS_1




“Ethel! Ethel bangunlah! Ethelyne!!” Aelene menepuk-nepuk pipi Ethelyne pelan, rasa terkejut sekaligus khawatir langsung memenuhi pikirannya saat melihat Ethelyne tak sadarkan diri. Apalagi saat barier yang menjadi kurangan mereka tiba-tiba memudar dan menghilang. “Ethelyne! Sadarlah!” Dia menatap keempat pria yang sedari tadi berdiri tak jauh dengan tatapan yang berbeda-beda. “Kalian ini kenapa?? Apa kalian hanya ingin diam dan melihat saja! Panggil seseorang kemari!”



“Aeli, kenapa kau memperdulikan gadis itu? Dia sudah mengurungmu.”



“Zac, kau tidak tau apa-apa! Panggil seseorang!!”



Zachary berdecak, dia berjalan keluar dan celingak-celinguk. Namun anehnya, dia tidak menemukan siapapun di sepanjang lorong. “Tidak ada siapapun, aku harus memanggil siapa?”



“Cari siapapun, cepat! Jika terjadi sesuatu pada Ethelyne, maka aku akan membunuhmu!”



“Kau sudah terbiasa memanggilnya Ethelyne ya,” kata Zion yang masih diam berdiri di samping Eadric dan Ned.




“Tidak mau.”



“Bocah sialan!”



“Nona Aelene, izinkan saya memeriksanya.” Ned berjalan maju dan membuat Aelene segera menyingkir dan memberi tempat.



“Memang kau bisa?”



“Sedikit, saya pernah belajar kedokteran pada Bibi saya.” Ned menyentuh pergelangan tangan Ethelyne, dia dengan serius mengecek denyut nadi gadis itu.

__ADS_1



“Apa Ethelyne baik-baik saja?” tanya Aelene khawatir, apalagi saat melihat Ned yang tampak mengerutkan keningnya.



Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Aelene dengan raut serius. “Denyut nadi Nona Ethelyne tidak beraturan, dari yang saya dengar. Penyebab denyut nadi seperti ini mungkin saja karena energi sihirnya yang tidak stabil.”



“Tidak stabil?”



“Ya.” Ned diam-diam melirik Eadric yang sedari tadi hanya diam. “Jika terus seperti ini, mungkin saja akan terjadi ledakan energi sihir dalam diri Nona Ethelyne. Dan jika itu terjadi …”



Aelene menutup mulutnya terkejut, dia menatap Ethelyne khawatir. “Apa sungguh tidak ada cara untuk membuat energi sihirnya stabil?”



Ned menggeleng. “Karena energi sihir Nona Ethelyne bertolak belakang, maka akan lebih sulit menstabilkan sihirnya. Apalagi, dia adalah Lady Virgian dan juga Ratu Iblis.”



“Lalu, apa yang harus dilakukan?” gumam Aelene khawatir.



“*Wahai Manusia yang lugu, apa kalian memerlukan bantuanku*?”



Tiba-tiba, sebuah suara lembut terdengar menggema di kamar. Mereka menatap ke sekeliling berusaha mencari asal suara namun sia-sia.



“Siapa itu!” Eadric menatap datar sekitaran, dia diam-diam mengambil belati yang dia sembunyikan di balik pakaiannya sejak awal.



“Manusia yang manis, kau tidak bermaksud untuk menyerangku kan.” Sebuah cahaya muncul di tengah-tengah mereka.



Zachary segera berdiri di hadapan Aelene dan melindungi gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2