
“Tuan Putri, tolong buka pintunya.”
“Tidak mau! Sudah kubilang, aku tidak akan membatalkan pertunanganku dengan Erik!!” teriak Ethelyne dari dalam kamar, dia duduk di atas kasur sambil memeluk kedua lututnya. Ethelyne benar-benar sangat marah pada semua orang di istana, bisa-bisanya dia dipaksa untuk membatalkan pertunangannya dan bertunangan dengan pria asing. Mereka pikir dia itu barang yang bisa ganti pemilik sesuka hati.
“Tapi Tuan Putri, jika Anda tidak makan. Anda bisa sakit, Yang Mulia Raja juga khawatir pada Anda.”
“Bohong.” Suara Ethelyne tampak bergetar. “Jika memang ayah khawatir dan menyayangiku, dia pasti tidak akan memaksaku membatalkan pertunangan dan bertunangan dengan orang lain. Semuanya hanya demi kepentingan politik, aku sama sekali tidak lebih dari barang rongsokan yang bisa dibuang dan diambil kapanpun!”
“Tidak seperti itu, Tuan Putri. Anda salah paham pada Yang Mulia Raja.”
“Diam!! Pergi atau kau juga akan kubenci!”
“Tuan Putri--”
“Pergi!!”
Pelayan yang berdiri di depan pintu menunduk, dia sudah menyerah untuk membujuk Tuan Putrinya itu.
Pelayan itu berbalik dan berjalan pergi, namun langkahnya langsung dihentikan oleh seorang pria berpakaian kesatria dengan rambut biru yang sedikit acak-acakan.
“Eum, Tuan Rio? Apa Anda ingin menemui Tuan Putri?”
“Ya, apa Tuan Putri ada di kamarnya?”
Pelayan itu menoleh ke arah pintu yang tertutup, dia menghela napas. “Iya, Tuan Putri menolak untuk membuka pintu kamarnya. Beliau bahkan belum makan atau minum sejak pagi tadi, jika seperti ini terus. Saya takut beliau akan jatuh sakit.”
Rio mengambil alih nampan di tangan pelayan itu. “Kau pergilah, biar aku yang memberikan ini pada Tuan Putri.”
“Baik, saya permisi.” Pelayan itu membungkuk hormat dan berjalan pergi ke arah yang berbeda.
Rio berjalan mendekati pintu dan mengetuknya.
“Sudah kukatakan untuk pergi!”
“Ini saya, Lady Ethelyne.”
__ADS_1
Ethelyne yang mendengar suara itu langsung terdiam dengan mata bergetar, dia menutup telinga dan matanya. ‘Suara itu lagi! Suara yang terdengar saat di taman tengah hutan!’
“Lady Ethelyne, buka--”
“Pergi!!” Ethelyne melempar benda di meja ke arah pintu dan menimbulkan suara. “Sudah kukatakan untuk tidak menggangguku! Sebenarnya, apa kesalahanku?! Kenapa kau selalu menerorku tanpa sebab!!”
“Saya tidak bermaksud begitu, Lady. Tapi Anda harus pergi dari dunia ini sekarang juga, dunia ini lebih busuk dari yang Anda bayangkan.”
“Bohong! Kau hanya ingin aku pergi kan! Pergi, tinggalkan aku sendiri. Jangan menggangguku dan kehidupanku!!”
“Maaf atas ketidaksopanan saya, Lady.”
“Apa?” Ethelyne membuka matanya, dia tidak lagi mendengar suara di luar pintu. Tiba-tiba, dia merasakan hembusan angin di belakangnya. Ethelyne segera menoleh, namun tidak sempat bereaksi. Seseorang sudah lebih dulu menutup matanya. “Hei! Lepaskan aku!” Dia berusaha melepaskan tangan orang itu dari matanya, namun terhenti saat melihat ingatan-ingatan yang dulunya hitam putih kini berwarna. Ingatan yang pernah dia lupakan kini kembali teringat tanpa rasa sakit sama sekali. “Aku … apa aku mengalami kehidupan kedua? Jadi, apa ini ingatanku di kehidupan pertama?” gumamnya masih tak percaya.
Orang itu menurunkan tangannya, Ethelyne membuka matanya. Mata biru lautnya mendongak dan menatap pria berambut biru di depannya.
“Murry? Tunggu, kenapa kau bisa ikut ke dunia keduaku? Di mana Jiwa kegelapanku? Kenapa aku melihat orang yang mirip Eadric??”
“Tolong tenanglah, Lady. Saya akan menjawab pertanyaan Anda satu-persatu.” Rio alias Murry memijat pelipisnya.
“Iya, iya. Apa yang ingin Anda tanyakan?”
“Eum, pertama. Kenapa kau bisa ada di dunia keduaku?”
“Ini bukan dunia kedua, tapi dunia ilusi yang disebabkan oleh keinginan kuat Anda yang belum terselesaikan.”
Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Lalu, di mana jiwa kegelapanku berada? Sepertinya jiwaku dan jiwa kegelapanku sudah berpisah ya? Pantas saja aku merasa kosong.”
“Ya, saya dan para roh lain melakukan pemisahan jiwa pada Anda dan Ratu. Karena Anda yang selalu bertindak ceroboh hingga mengorbankan setengah jiwa Anda demi manusia biasa.”
“Haha, maaf ya. Sudah merepotkanmu.” Ethelyne tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Hah … tidak masalah, apa ada pertanyaan lain?”
“Iya, apa pangeran ketiga Victoria itu … benar-benar Eadric? Eandric Eldiano Elrond??”
__ADS_1
Murry mengangguk. “Apa ada lagi?”
“Ok, pertanyaan terakhir.” Ethelyne menarik napas dalam-dalam, dia menatap Murry serius. “Bagaimana caranya keluar dari dunia ilusi ini?”
Murry berdiri dan berjalan ke arah jendela, dia menatap ke luar lekat-lekat. “Meskipun mirip dunia asli, tapi sebenarnya. Dunia ilusi ini memiliki pembatas.”
“Pembatas?” Ethelyne yang masih duduk di kasur menatap Murry bingung. “Apa semacam perisai atau barier yang kau bangun untuk melindungi para roh?”
“Benar sekali! Tapi pembatas ini lebih lemah dari pembatas buatanku, asal kau bisa keluar dan menemukan batasan dunia. Maka kau bisa keluar dari dunia ini dan kembali ke dunia nyata.”
“Ternyata begitu.” Ethelyne menganggukkan kepalanya mengerti. “Apa kau--”
Tiba-tiba, seorang pria bermata ungu dengan rambut perak muncul di jarak lima langkah dari kasurnya. “Tuan Murry! Akhirnya saya bertemu Anda, apa Anda sudah menemukan Lady-- eh, Lady Ethelyne ada di sini??”
“Hai, William. Lama tidak bertemu.” Ethelyne melambaikan tangannya dengan senyum manis.
“Oh, halo. Lady Ethelyne, sepertinya ingatan Anda sudah dipulihkan ya.”
Ethelyne mengangguk kecil. “Jadi, apa kalian berdua tau di mata batasan dunia?”
“Ya, batasan dunia ilusi ini ada di … kerajaan Victoria.”
Ethelyne terdiam. ‘Apa itu sebabnya Eadric berkata kalau aku ke sana, aku mungkin tidak akan bisa kembali ke sini lagi.’ Dia menatap keduanya serius. “Apa ada cara agar bisa ke kerajaan Victoria?”
“Ya, kau perlu bersembunyi di kereta kuda Eadric. Jangan khawatir, kami bertiga akan membantu kau untuk keluar.”
Ethelyne kembali mengangguk, dia menatap keduanya dengan senyum. “Terima kasih sudah mau datang dan menolongku, aku senang bisa mengenal kalian.”
Murry dan William saling menatap. “Sebenarnya, kami tidak berniat untuk membawa Tuan Eadric. Tapi entah bagaimana, jiwanya justru masuk ke dunia ini dan menjadi pangeran ketiga. Kami berdua juga sempat terkejut saat melihatnya ke perpustakaan dan mengikutinya, awalnya. Kami pikir kalau pangeran ketiga dan Tuan Eadric hanya mirip, tapi setelah mendengar pembicaraan kalian dalam dua tahun terakhir. Kami kini yakin kalau sebenarnya pangeran ketiga adalah jiwa Tuan Eadric, yang menjadi masalahnya. Bagaimana dia bisa ikut masuk ke dunia ini.”
“Hem.” Ethelyne memegang dagunya berpikir. “Jadi dia tidak bersama kalian ya? Aku pikir dia muncul bersama dengan kalian berdua.”
“Tentu saja tidak, lagipula--”
“Omong-omong, bagaimana keadaan jiwa kegelapanku di dunia bawah? Apa dia bersikap baik pada teman-temanku?” Ethelyne menatap keduanya dengan mata memicing. “Dia tidak memakan manusia yang lain, kan?”
__ADS_1