Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
127. Dunia Pararel


__ADS_3

Gadis berambut perak membuka matanya, memperlihatkan sebuah mata yang tampak berwarna-warni seperti pelangi. Dia melirik kesana-kemari dengan tatapan bingung. ‘Hm, di mana aku?’


“Kiaraa!!”


Gadis itu menoleh ke asal suara, tiba-tiba saja. Tangannya digenggam tanpa alasan dan ditarik.


“Tunggu, Ran! Kau mau membawaku kemana?” tanya Gadis yang dipanggil Kiara itu secara refleks.


Ran melepas genggamannya, dia menatap Kiara panik. “Ini gawat! Sangat gawat! Bibi Earlene sudah tau kalau kau memanjat pohon, jika Bibi menemukanmu. Kau pasti akan habis.”


“Apa? Tunggu, kenapa bisa? Waktu itu kita cuma berdua, tidak. Jangan membual! Bagaimana mungkin ibuku bisa tau tanpa diberitahu siapapun.”


“Aku tidak membual! Sepertinya ada orang lain yang melihatmu memanjat waktu itu, ayo cepat pergi atau Bibi akan menemukan kita.” Ran kembali menggenggam tangan Kiara dan menariknya pergi.


“Kalian berdua! Berhenti di sana!!”


•~•~•


“Sudah berapa kali ini mengatakan ini! Jangan memanjat! Kau itu seorang Bangsawan, kenapa sikapmu sama sekali tidak mencerminkan seorang bangsawan sama sekali??” omel seorang wanita sembari berkacak pinggang, dia menatap Kiara dan Ran dengan tatapan galak.


“Maaf Bu/Bibi,” kata Kiara dan Ran bersamaan, keduanya menunduk dengan tatapan penuh penyesalan.


“Kia tidak bermaksud untuk melanggar perintah Ibu, Kia hanya...”


“Cukup, Kiara. Ibu tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi! Kamu dan Ran ibu hukum! Kalian tidak boleh keluar kamar sampai kalian merenungkan kesalahan kalian!”


“Tapi Bu--”


“Tidak ada tapi-tapi! Kembali ke kamar kalian, sekarang!” tekan Earlene di akhir kalimatnya.


Kiara dan Ran berjalan ke kamar dengan lesu.


“Alex.”


“Apa Anda memerlukan sesuatu, Nyonya?” tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di belakang Earlene.


“Awasi Kiara dan Ran, jangan sampai mereka kabur dari kamar. Dan, laporkan apa yang Kiara lakukan sejam sekali.”


“Saya mengerti.” Pria bernama Alex itu langsung menghilang tanpa jejak.

__ADS_1


Earlene menatap ke depan dalam diam. ‘Apa yang sebenarnya diinginkan Yang Mulia?’


•~•~•


“Humph! Ini semua salahmu!”


“Oh ayolah, aku juga tidak tau kalau Bibi akan tau kalau kita memanjat. Lagipula, kenapa Bibi melarangmu sampai sebegitunya? Memang gadis bangsawan memiliki peraturan yang ketat ya?”


“Tidak juga sih, aku juga tidak tau kenapa ibu sampai sebegitunya. Dari yang kudengar, saat aku kecil. Aku memanjat pohon dan tidak sengaja jatuh, tangan kiri dan kaki kananku patah. Saat itu ingatanku juga menghilang... aku tidak tau apa itu yang sebenarnya, karena itu hanya diceritakan oleh Ayah Ibu. Tapi tidak mungkin kan mereka berbohong.”


Ran meletakkan tangannya di belakang kepala berpikir. “Jadi Bibi sampai semarah itu karena kau pernah terjatuh dan kehilangan ingatanmu? Memang pohonnya setinggi apa sampai kau mengalami banyak patah tulang.”


“Entahlah.” Kiara mengangkat bahunya acuh. “Ayah tidak pernah memberitahuku tentang itu.”


Ran menghela napas. “Sayang sekali, tapi yasudahlah. Aku bisa mengerti kekhawatiran Bibi, aku yakin saat itu bibi pasti sangat sedih ketika melihatmu dalam keadaan yang buruk. Itu normal karena seorang ibu sangat menyayangi anaknya lebih dari apapun, jadi kemarahan Bibi itu wajar. Justru kau yang aneh! Bukannya mendengar perintah Orang tuamu, kau tetap nekat memanjat.”


“Hah?? Bukankah kau yang menyuruhku mengambil mangga itu!”


“Benar sih, tapi kau kan bisa menolaknya! Kalau kau menceritakan ini lebih awal, aku tidak mungkin memaksamu untuk memanjat.”


“Kenapa jadi menyalahkanku?? Ini kan idemu untuk mencuri--”


“Ssstth! Pelankan suaramu atau kau akan didengar oleh orang lain!” sela Ran sambil menutup mulut Kiara, tidak berselang lama. Ran kembali menurunkan tangannya sambil melirik ke kanan-kiri. “Aku memintamu untuk memanjat karena orang yang kusukai akan muncul,” bisiknya tanpa menatap lawan bicara.


“Aku ingin kau naik ke atas pohon dan menabur bunga saat kami berdua berdiri di bawah pohon nantinya, dengan begitu. Akan ada suasana yang romantis dan mungkin saja dia akan menyukainya,” lanjut Ran dengan nada pelan.


Kiara tercengang dengan penjelasan Ran yang tampak malu-malu. “Jadi kau memintaku untuk mencomblangkan kalian?? Kau ini menganggapku apa??”


“Ayolah Kia, kau kan sahabat ter~baikku,” bujuk Ran dengan mata memohon.


Kiara berusaha mengalihkan pandangannya, namun dia menghela napas. “Iya, iya. Akan kubantu.”


“Yai! Terima kasih Kia.” Ran memeluk Kiara penuh semangat.


Sementara itu, Kiara hanya memasang raut pasrah. ‘Huh, kenapa dia jadi melebih-lebihkan begini??’


~♥~


“Halo Ran, ada apa kamu memanggilku kemari?” tanya Pria tampan dengan senyum tipis.

__ADS_1


Wajah Ran langsung memerah, dia melirik kesana-kemari gugup. “A-halo, Taylor. A-aku...”


Kiara yang berada di atas pohon dengan sekeranjang bunga menepuk kepalanya sendiri saat melihat sikap sang sahabat. ‘Kenapa kau harus terbata-bata begitu??’ batinnya frustasi.


“A-aku, sebenarnya aku...”


‘Mereka bicara apasih? Suara Ran terlalu kecil.’ Kiara mengusap telinganya yang terasa gatal, matanya tanpa sengaja melihat ular mainan yang tersangkut di dahan pohon tak jauh dari tempatnya berada. Tiba-tiba, ide usil muncul di otak Kiara. Dia mengambil ular mainan itu dan menjatuhkannya tepat di bahu Ran.


Di sisi lain.


Ran kini tidak tau harus berbicara apa, jantung dan pikirannya tidak bisa bekerja dengan baik.


“Ran? Ada apa? Kau terlihat tidak baik-baik saja,” tanya Taylor saat melihat wajah Ran yang memerah.


“Ah, aku--” Ran seketika terdiam saat merasakan ada yang jatuh di bahunya, dia menoleh dengan kaku. Matanya seketika membulat saat melihat ular. “Aaa!! Ular!!” Ran langsung histeris sambil melempar ular itu entah kemana dan memeluk Taylor karena ketakutan.


Kiara yang melihat hal itu cekikikan, dia berusaha menahan tawanya dan menaburkan bunga tepat di atas keduanya. ‘Kau harus mentraktirku makanan Ran.’


”R-ran, apa kau baik-baik saja?” tanya Taylor yang masih terkejut.


Ran seketika tersadar, matanya membulat dan dia segera mendorong Taylor menjauh dan memalingkan wajahnya ke arah lain. ‘Aaa! Apa yang barusan aku lakukan?! Aku memeluknya? Aku memeluknya!! Bagaimana kalau dia jadi membenciku? Bagaimana kalau dia tidak mau menemuiku lagi??’


“Ini... ular mainan.”


Ran tersadar dari lamunannya, dia menoleh ke arah Taylor yang sudah berada di tempat ular tergeletak. Pria itu tampak takut memegang ular itu dan membuat Ran bergidik. “Ular mainan? Tapi di sini...” Dia seketika terdiam. ‘Ulahmu ya Kiara! Kubunuh kau jika Taylor jadi membenciku!’


“Hem. Sepertinya ada yang sengaja menjatuhkannya dari atas untuk menakutimu.” Taylor berdiri dan mendongak, namun. Dia tak melihat siapapun.


Tiba-tiba, terdengar suara benda yang jatuh.


“Siapa itu?!” Taylor menatap waspada, dia menarik Ran ke belakangnya dan memegang pedang yang sedari tadi terikat di pinggangnya.


‘T-taylor, dia. Dia memegang tanganku! Aa- tidak-tidak! Kau tidak boleh begini saat ini!’ Ran menggelengkan kepalanya, dia menatap Taylor yang hendak memeriksa tempat suara berasal. “T-tunggu dulu!” Ran memegang tangan Taylor dan membuat pria itu tak jadi melangkahkan kakinya.


“Ada apa? Bagaimana jika itu musuh yang bersembunyi untuk mengamati kita.”


Ran segera menggelengkan kepalanya cepat. “M-mungkin itu hanya buah mangga, lagipula. Kita berada di bawah pohon mangga.” Dia melingkarkan tangannya di lengan Taylor. “Bagaimana kalau kita pergi saja? Aku masih sedikit trauma karena ular mainan kemarin.”


“Apa kau yakin? Bisa saja--”

__ADS_1


“Itu hanya buah mangga! Ayo pergi!” Ran menarik tangan Taylor pergi. ‘Semoga kau baik-baik saja, Kiara.’


~♥~~♥~


__ADS_2