
Sudah hampir tiga bulan sejak kembalinya Ethelyne dari hutan para roh, dia kini menjalani kehidupan sehari-harinya seperti biasa. Kehidupan membosankan ditemani berkas-berkas yang setia menemaninya setiap saat.
Helaan napas berat terdengar dari mulutnya, dia menopang dagunya sambil membalik halaman buku yang berada di hadapannya. ‘Sudah tiga bulan, kenapa tidak ada satupun dari mereka yang memberi kabar? Apa mereka semua baik-baik saja di dunia manusia?’ Ethelyne menghela napas gusar, dia menggeser buku-buku di hadapannya dan menelungkupkan wajahnya. ‘Aku sangat bosan, jiwaku yang lain pun entah sedang apa. Dia tidak lagi pernah mengambil alih tubuh ataupun berbicara denganku, apa yang sedang dilakukannya ya? Akh! Ethelyne, kau bodoh! Seharusnya kau senang, bukankah sangat bagus karena hanya kau sendiri yang mengendalikan tubuh ini, jika jiwaku yang lain mengendalikannya. Maka sisa jiwaku yang tersisa akan memudar perlahan-lahan, aku pun mungkin tidak bisa mempertahankan keberadaanku.’ Ethelyne mendongak dan menatap gambar seorang wanita cantik dengan senyum manis dan seorang bayi imut di gendongannya. “Ibu … kenapa kau malah memberikan beban seberat ini padaku?”
“Master, bagaimana kabar Anda?” tanya Laurie yang tiba-tiba muncul di belakang Ethelyne, tentunya ditemani oleh Vio yang tetap terlihat acuh tak acuh.
“Kenapa kalian ada di sini?” Ethelyne melirik keduanya malas.
Laurie menggembungkan pipinya kesal. “Apa Anda tidak ingin saya datang??”
“Yah, begitulah,” jawab Ethelyne acuh. Dia kembali menelungkupkan wajahnya.
“Anda sangat jahat, Master! Saya membenci Anda!”
“Masa bodoh.”
“Humph!” Laurie bersedekap dada sambil menatap ke arah dengan raut wajah dibuat semarah mungkin.
“Berhenti bersikap kekanak-kanakan.” Vio tanpa perasaan menyentil dahi Laurie cukup keras, dia menoleh ke arah Ethelyne. “Nona, kami datang kemari untuk melaporkan informasi dari medan perang.”
“Eh, kalian?” Ethelyne bangun dan berbalik menatap Vio. “Kenapa kalian bisa ada di medan perang?”
“Lebih tepatnya hanya saya.”
“Bukankah sama saja!”
“Diam, Laurie! Vio, jelaskan apa yang terjadi di medan perang dalam tiga bulan terakhir.” Ethelyne menatap datar Vio.
“Huh.” Pria itu menghela napas. “Dalam tiga bulan terakhir … saya sudah menulis semuanya di sini.” Vio menyerahkan buku berwarna biru tua itu.
Ethelyne mengambil buku itu dan membukanya, dia membaca setiap kata-kata yang tertulis di buku dengan konsentrasi penuh. Senyum tipis merekah di wajahnya, dia menutup buku dan menatap Vio. “Tidak sia-sia kau menjadi penjaga bunga lima warna, dan untung saja Eadric membawa kelopak bunga itu ke medan perang. Apa dia pernah memanggilmu?”
“Tidak, sepertinya Tuan Eadric belum tau bahwa saya terhubung langsung dengan bunga lima warna. Jadi jika dia meneteskan darahnya ke bunga, maka kontrak antara saya dan dia akan terjalin. Tapi--”
“Kenapa Master memberikan bunga lima warna itu dan kenapa Anda membuat Vio melakukan dua kali kontrak?” Laurie tiba-tiba menyela ucapan Vio, dia melirik pria itu dengan senyum tengil.
“Hem, kenapa ya? Aku sendiri tidak begitu tau.”
__ADS_1
“Hah?”
“Mungkin karena aku tetap manusia, dan hati nuraniku tidak bisa melihat seorang manusia terluka.”
“Ah, begitu ya.” Laurie mengangguk. ‘Tapi kenapa harus pangeran ke6? Kenapa tidak Duke, count, atau raja atau ratu atau … yah, semualah. Kenapa harus pada pangeran ke6??’
“Laurie.”
“Ya!”
“Apa kau sudah lupa, aku bisa bertelepati denganmu. Dalam arti kata lain, ucapan yang kau katakan dalam batin tadi … aku mendengarnya!” Ethelyne menatap Laurie kesal, kenapa gadis sialan itu langsung mengambil kesimpulan tanpa berpikir panjang.
“A-a-a-aku hanya--”
“Tolong maafkan Laurie, Nona. Saya akan menasehati dan menghukumnya nanti, tolong lepaskan Laurie kali ini.”
Ethelyne menopang dagunya. “Ya, kau benar. Aku seharusnya tidak marah pada Laurie. Tapi …” Dia melirik Laurie tajam. “Kata-katanya itu sungguh menyebalkan! Apa dia tidak berpikir sebelum mengatakan apapun dalam hati, aku melakukan semuanya karena sebuah alasan.”
“Apa Maksud Anda, Master?”
Ethelyne tersenyum tipis. “Untuk mendapatkan kepercayaan orang sepenuhnya, orang lain harus sedikit berkorban agar tujuannya bisa tercapai.”
“Nona.”
Ethelyne tersenyum manis. “Jangan khawatirkan apapun, aku tidak akan melukainya sama sekali. Dia hanya akan … yah, sedikit berhutang budi padaku nantinya. Dan untuk melaksanakan rencanaku, aku harus melakukan sedikit pengorbanan. Daripadanya itu, apa ketiganya sudah mengumpulkan semua abu para iblis?”
“Iya, Nona. Jika Anda mau. Saya bisa membantu Anda untuk membawanya kemari.”
“Tidak perlu, di mana abu-abu itu?”
“Saya dan Laurie telah mengumpulkan semuanya di aula utama, apa Anda ingin ke sana sekarang?”
“Tidak perlu, cukup pergi ke medan perang dan katakan pada Harvey. "Ratu Iblis akan datang dan membantumu seminggu lagi".”
Vio berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan. “Saya mengerti, saya akan menyampaikan pesan Anda.”
“Kau boleh pergi, Laurie. Kau ikut aku ke hutan gelap.”
__ADS_1
“Eh?? Kenapa harus saja?” tanya Laurie sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Aku perlu melakukan pemulihan, panggil Mili juga. Aku harus memberi pelajaran pada gadis sialan itu!” Ethelyne berdiri dan berjalan keluar, Laurie segera mengikutinya pergi sementara Vio kembali ke medan perang.
“Hua!! Yang Mulia, tolong maafkan saya. Saya mengaku salah, saya tidak akan melakukannya lagi!!” teriak Mili ketakutan, bagaimana tidak. Dia kini dikubur di tanah hingga hanya tersisa kepalanya saja yang muncul.
“Bukankah kau seharusnya memikirkan konsekuensinya sebelum memberitahu Meli.” Ethelyne menjentikkan jarinya, lima serigala iblis keluar dari bayangannya. Kelima serigala itu mengelilingi Mili yang berteriak histeris.
“Yang Mulia! Maafkan saya, tolong maafkan saya!!”
“Master, bukankah. Ini sedikit berlebihan?” tanya Laurie ragu, dia kini tidak akan berani menganggu Ethelyne setelah melihat kondisi Mili yang mengenaskan. Bisa saja dia benar-benar dilempar di jurang kematian.
“Hanya ini satu-satunya cara untuk mempercepat pengumpulan energi.”
“Eh, apa?” Laurie menatap Ethelyne bingung, keduanya kini duduk di cabang pohon kering yang tak jauh dari tempat Mili dikubur.
“Ini adalah satu-satunya cara agar bisa mempercepat pengumpulan energi kegelapan jiwaku yang lain, karena jumlah energi sihir jiwaku yang lain sangat sedikit. Dia tidak bisa mengambil alih tubuh ini dan mengumpulkan energi di hutan gelap, sementara aku sebagai pengganti Ibu tidak bisa menyerap energi gelap di hutan ini sama sekali. Jadi satu-satunya cara, hanyalah menyerap rasa takut dan keputusasaan seseorang.”
“Kenapa Anda ingin jiwa iblis Anda bangkit?”
__ADS_1
“Karena aku tidak bisa mengumpulkan energiku jika jiwa iblisku tidak mengambil alih, berbeda darinya. Aku hanya bisa mengumpulkan energiku di dimensi lain, kami berdua berbeda. Dia tidak bisa mengumpulkan energi dengan cepat di dimensiku, sementara aku tidak bisa mengumpulkan energi sama sekali di hutan gelap. Kecuali, jika aku pergi ke dunia manusia. Mungkin energi suciku bisa kembali tapi pasti pemulihannya akan memakan waktu yang sangat lama sementara aku hanya bisa pergi sebentar saja, apalagi perang sedang terjadi di perbatasan.”