Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
110. Dua dunia yang berbeda


__ADS_3

“Eugh.” Ethelyne bangun sambil mengucak matanya dan menatap sayu ke luar jendela, dia menguap kecil dan kembali berbaring sekaligus menarik selimut hingga menutupi tubuhnya hingga leher. ‘Aku sangat mengantuk, mataku juga tidak bisa dibuka seperti ada lem nya. Kira-kira, apa muncul lingkaran hitam di bawah mata Kathel ya? Sepertinya dia akan terlihat lucu dengan mata panda.’ Ethelyne tersenyum dan memeluk gulingnya erat. ‘Ugh, aku masih mengantuk. Sepertinya tidak apa-apa jika aku kembali … ti-dur~’


“Nona Ethelyne!!” Meli berteriak sambil membuka pintu dengan kasar, dia membangunkan Ethelyne sambil berteriak.


“Eugh, Ibu … biarkan aku tidur lima menit lagi,” gumam Ethelyne mengigau.


Meli yang hendak membangunkan Ethelyne langsung terdiam mendengar gumaman gadis itu, raut wajahnya tampak sedih dan tak bisa dijelaskan. “Nona,” gumamnya, dia tersenyum tipis dan mengusap surai Ethelyne lembut. “Baiklah, tapi hanya lima menit saja ya.”


Ethelyne hanya berdehem sambil mempernyaman tidurnya. ‘Aku … tidak bisa bangun, mataku tidak bisa dibuka sama sekali. Apa yang … terjadi padaku??’




“Lyne, putriku. Akhirnya aku menemukanmu, ternyata kau bersembunyi di dunia ini ya.”



“Putriku, kenapa kau kabur dari istana? Apa kau tidak menyukai keluargamu ini?”



Ethelyne membuka matanya, raut wajahnya tampak terkejut saat melihat Fiona dan Dion yang menatapnya dengan senyum lembut. “Mustahil,” gumamnya tak percaya.



“Lyne, apa kau begitu membenci pertunangan kita hingga kau kabur ke dunia lain? Apa kau sebegitunya tidak ingin bertunangan denganku?”



Ethelyne menoleh ke arah Erik yang entah sejak kapan berdiri tak jauh dari samping kanannya. ‘Bagaimana … kenapa aku bisa di sini??’



“Lyne, putriku sayang.” Fiona hendak memeluk Ethelyne, namun tangannya ditepis oleh gadis itu.



“Jangan menyentuhku!”



“Lyne, kenapa kau tiba-tiba berubah?” tanya Fiona dengan raut wajah sedih sekaligus khawatir, bukan hanya dia. Dion dan Erik pun memasang ekspresi yang sama.



“Kenapa, kenapa kalian membawaku kemari?!” tanya Ethelyne berteriak.

__ADS_1



“Lyne, kenapa kau menjadi seperti ini? Apa maksudmu sebenarnya? Kau adalah putri ibu, kau adalah putri yang paling ibu sayangi.”



“Bohong!” Ethelyne melangkah mundur dengan raut tak percaya. “Aku bukan putri kalian! Berhenti berharap karena putri kalian telah lama mati! Dia telah lama mati!!”



Sebuah tamparan mendarat di pipi Ethelyne, rasa perih langsung menjalar dari pipinya yang memerah. Dia menatap Fiona yang juga menatapnya penuh kecewa.



“Kenapa kau berkata seperti itu, Lyne?? Kau belum mati! Kau tidak pernah mati, tidak. Lyneku tidak pernah mati!!” Fiona menutup telinga dan juga matanya. “Jangan mengatakan hal bohong!”



“Bohong?” Ethelyne tersenyum miris. “Bukankah kau selalu berpikir putrimu masih ada di sampingmu, tapi pada dasarnya. Ethelyne, putrimu itu telah lama mati. Kau hanya tidak bisa menerimanya dan menjadikan orang lain sebagai pengganti putrimu, miris sekali. Aku sangat kasihan pada putrimu, dia pasti sedih karena kau dengan mudahnya menemukan penggantinya.”



“Diam-diam diam!!”




“Bohong! Kalian bukan keluargaku! Kalian membawaku secara paksa dan memisahkanku dengan keluargaku!”



Dion yang membantu Fiona agar tetap stabil menatap Ethelyne penuh amarah. “Beraninya kau bersikap tidak sopan!! Kau benar-benar tidak mencerminkan sikap manis Lyneku!”



“Karena aku memang bukan Lyne!!” Ethelyne balas berteriak, matanya berkaca-kaca. Ingatan bahagia saat bersama keluarga 'palsunya' malah membuat hatinya berdenyut nyeri. “Aku lelah.” Dia menunduk dengan air mata berlinang membasahi pipinya. “Aku selalu berpikir kalau dunia ini adalah duniaku, kehidupan bahagia dan damai adalah milikku. Tapi ternyata aku salah.” Ethelyne mengepalkan tangannya. “Bagi kalian, aku hanyalah boneka pengganti untuk putri kalian yang sudah mati. Apa kalian senang mempermainkan hati dan pikiran seseorang?!” tanyanya sambil menatap Fiona dan Dion dengan air mata yang terus berlinang dan mata memerah menahan tangis. “Aku sangat lelah, kenapa kalian tidak pernah mengerti dukaku? Kalian menganggapku sebagai putri kalian kan? Lalu kenapa kalian justru menyiksaku? Kenapa kalian yang menjadi keluargaku tidak mengerti pikiran dan hatiku? Kenapa …” gumamnya lirih.



“Lyne, Ibu tidak pernah berniat memperlakukanmu seperti itu.” Fiona menatap sedih Ethelyne, hatinya sangat sakit melihat sang putri tersayang menangis dengan begitu menyedihkannya. “Ibu hanya tidak ingin kehilangan kau lagi.” Dia berjalan ke arah Ethelyne sambil merentangkan kedua tangannya, namun Ethelyne justru menghindar dan membuatnya semakin sedih. “Ibu sangat menyayangimu, Lyne. Ibu tidak ingin kehilangan kau lagi, kau adalah sisa serpihan dari putri ibu. Jika ibu kehilangan kau lagi, ibu akan benar-benar menjadi gila. Ibu hanya ingin kau menjadi Lyneku yang dulu, Ibu hanya ingin keluarga kita hidup bahagia. Ibu tidak bermaksud membuatmu merasa sedih dan tersiksa, ibu hanya …”



“Cukup, Ratu. Kau tidak perlu menjelaskan apapun.” Dion menggenggam tangan Fiona dan menatap serius Ethelyne. “Kau tidak akan bisa pergi dari dunia ini, kau akan terus menjadi Lyne kami dan tidak akan pernah pergi kemanapun!”


__ADS_1


“Kalian …” Ethelyne terisak, dia menatap keduanya penuh kebencian. “Aku membenci kalian berdua!! Aku membenci dunia ini! Aku benci, benci, benci!!” Ethelyne berbalik dan berlari pergi.



Tanpa berkata apapun lagi, Dion mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Fiona. “Sihir terlarang, boneka kayu.”



Ethelyne tiba-tiba berhenti, matanya tampak kosong tanpa kehidupan sama sekali.



“Kembali ke mari.”



Ethelyne berbalik dan berjalan mendekat dengan mata tak berkedip, mata birunya yang kosong tampak seperti danau yang tenang di tengah tiupan angin.



“Mulai hari ini, kau akan terus tinggal di kamarmu dan introspeksi diri! Jangan pergi atau menuruti perintah siapapun kecuali aku, Ratu, dan Erik.”



Ethelyne mengangguk dengan pandangan yang terus kosong.



“Kembali ke kamarmu.”



Tanpa mengatakan sepatah katapun, Ethelyne berjalan ke arah kamarnya. Tanpa sadar, setetes air mata mengalir membasahi pipinya. ‘Siapapun … tolong a,ku~’



~~~♥~~~



“Gawat, aku tidak bisa merasakan energi kehidupan Ethel sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?!” tanya Kathelyne berteriak, dia seperti biasa berada di ruang kerjanya hingga Meli tiba-tiba membuka pintu ruang kerjanya secara kasar dan memberitahu keadaan Ethelyne.



“Saya tidak tau, Yang Mulia. Saat saya membangunkan Nona, Nona mengigau dan meminta agar dia bisa tidur selama lima menit, tapi setelah sepuluh menit berlalu. Saya mencoba kembali membangunkan Nona, tapi saya tidak bisa membangunkannya. Mau bagaimanapun saya mencobanya, Nona tetap tidak kunjung sadar.”


__ADS_1


Kathelyne menggertakkan giginya menahan amarah, dia melirik Ethelyne yang kini tengah 'tertidur' dengan damainya. ‘Sebenarnya apa yang terjadi padamu lagi? Tidak sampai beberapa hari sejak kedamaian di istana ini, kau malah kembali meninggalkanku. Bukankah kau pernah berjanji kau tidak akan terus ada di sisiku, lalu kenapa kau malah mengingkarinya? Kau benar-benar pembohong, Ethel. Jika tidak ingin aku membencimu, cepatlah bangun dan omeli aku sepuasmu. Tapi jangan seperti ini dan membuatku khawatir.’


__ADS_2