
“Cih, bukankah rapatnya tiga bulan lagi. Kenapa kau memanggilku sekarang??” tanya Ethelyne dengan raut wajah kesal, bagaimana tidak. Dia yang tengah berada di kamarnya sambil bermalas-malasan malah diteleportasikan secara paksa ke hutan para peri.
“Karena kejadian tidak terduga kemarin, kami mempercepat rapatnya.” Murry menjeda ucapannya, dia melirik William. “Kita akan mempercepat pembangkit jiwa suci Lady Ethelyne.”
“Sungguh?? Apa dia benar-benar bisa dibangkitkan kembali??”
“Ya, tapi. Kemungkinan besar, karena kebangkitannya yang terlalu awal. Jiwa Lady Ethelyne tidak akan bersatu dengan tubuh mu lagi, dari kata lain. Dia akan membangun raga baru untuk menjadi wadah jiwanya.”
Ethelyne terdiam, dia menarik napas dalam-dalam. “Tidak apa-apa, asal dia bisa dibangkitkan. Aku harus melakukan apa untuk membantumu mempercepat kebangkitannya?”
“Mudah saja, kumpulkan semua barang yang pernah digunakan Lady Ethelyne dan bakar menggunakan api suci.”
“Apa hanya itu?”
“Ya, dan minta Naga emas itu kemari. Dengan keberadaannya di sini, kita bisa menggunakan kontrak seumur hidup padanya dan Lady Ethelyne.”
Ethelyne berdiri dari kursinya. “Baiklah, aku akan kembali ke mari seminggu lagi. Jika butuh sesuatu yang lain, beritahu aku!” Dia menghilang dan hanya meninggalkan jejak sihir hitam.
William yang sedari tadi diam menatap Murry yang tenggelam dalam lamunan. “Tuan, kenapa Anda tidak memberitahu Ratu iblis soal 'benda' itu?”
“Tidak perlu.” Murry berdiri dan menatap mereka semua bergantian. ”Rapat sampai di sini, kembali ke tempat masing-masing.”
“Baik, Tuan Murry.”
“Eugh …” Ethelyne meregangkan otot-otot bahunya yang kaku, dia menatap barang-barang yang kini berserakan di kasur mewahnya. ‘Sekarang, harus melakukan apa? Aku tidak bisa menggunakan api suci sama sekali, jangankan api suci. Menyentuh kekuatan suci saja tidak bisa, hah …’ Ethelyne memijat pelipisnya.
“Ratu, apa Anda memanggil saya?” tanya Laurie dengan kepala yang menyembul.
Ethelyne menoleh ke arah pintu dengan senyum tipis. “Ya, kemari.”
Laurie melangkah masuk dan memberi hormat. “Ada apa Ratu memanggil saya?”
“Kau ingin segera menemui mastermu, bukan?”
“Kenapa Ratu bertanya?” tanya Laurie dengan kening berkerut, dia menatap serius Ethelyne namun tak dapat memprediksi pikiran gadis di hadapannya itu.
“Aku butuh kau untuk melakukan kontrak seumur hidup dengan mastermu, dengan begitu. Syarat kebangkitannya bisa diselesaikannya lebih cepat dan dia bisa dibangkitkan lebih cepat.”
__ADS_1
“Sungguh?? Saya akan melakukan apapun demi membangkitkan master!”
Ethelyne duduk sembari menopang dagunya. “Temui Murry, dia akan mengurus soal kontrakmu dengan Ethelyne.”
“M-murry??”
Ethelyne menatap Laurie bingung. ‘Kenapa ekspresinya terlihat sangat terkejut? Apa dia terkejut karena bertemu sesama jenis yang sama? Atau dia terkejut karena akan bertemu Tuan Naga legendaris?’
“R-ratu, apa. Apa Master pernah bertemu Mur-Tuan Murry?” tanya Laurie ragu.
Ethelyne memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung. “Kenapa memangnya? Bukankah kau yang lebih sering bersama mastermu.”
“Memang benar.” Laurie menunduk. “Tapi saat perang terjadi, saya dan Vio pergi ke medan perang untuk mengawasi situasi dan sangat jarang bertemu master.”
“Oh, begitu ya. Mungkin saja Ethelyne tidak pernah bertemu Murry, memang kenapa?” Ethelyne kembali menopang dagunya dan menatap Laurie yang terlihat lega.
Sedetik kemudian, Ethelyne menepuk dahinya sendiri. “Astaga, aku lupa memberitahu Flowing kalau Ethelyne pernah bertemu Murey sekali.” Dia menatap jejak sihir yang mulai menghilang. “Yah, sudahlah. Lagipula, cepat atau lambat. Flowing juga akan tau dengan sendirinya … sekarang, aku perlu meminta Murey untuk meminjamkan kekuatan sucinya. Seharusnya tidak apa-apa kan? Lagipula, kekuatan suci Ethelyne masih membekas di jiwaku. Jadi seharusnya tidak masalah jika aku meminjam kekuatan Murey.”
“Yang Mulia, gawat!!” Fiona tiba-tiba saja membuka pintu dengan kasar sembari berteriak.
“Ssh, ada apa sih? Kau sangat berisik,” kata Ethelyne sembari menutup kedua telinganya.
“Maaf, maaf, mohon maafkan saya. Yang Mulia.” Fiona membungkuk berkali-kali.
“Sudahlah, ada masalah apa?”
“Begini … T-tawanan spesial Anda, mereka tidak sengaja memasuki dungeon tingkat S.”
__ADS_1
“Apa??” Saking kagetnya, Ethelyne sampai berdiri dari kursinya. “Apa bariernya melemah lagi?? Kenapa akhir-akhir ini mereka bisa keluar dengan mudah!”
“Saya tidak tau, Yang Mulia.” Fiona menyembunyikan tangannya yang bergetar di balik gaun pelayannya.
Ethelyne berdecak, dia berjalan keluar dengan tergesa-gesa. ‘Manusia-manusia bodoh itu, lihat saja nanti. Aku pastikan kalian jera untuk mencari jalan keluar!’ batinnya dengan raut wajah datar dan atmosfer tidak mengenakkan.
~~~♥~~~
“Kak, apa yang harus kita lakukan? Mustahil bagi kita untuk mengalahkan Penguasa tingkat S!” Zachary terus menghindari setiap sihir hitam yang mengarah ke dia dan Aelene, dia sempat menyerang Penguasa Dungeon. Namun pedang yang dicurinya dari penjaga malah patah saat mengenai zirah yang dikenakan penguasa Dungeon.
“Tetap bertahan! Kita harus segera menemukan kelemahannya!”
Zachary, Eadric, Zion, dan Ned tampak kelelahan. Mereka telah melawan penguasa Dungeon setengah jam yang lalu namun tidak bisa meninggalkan luka sama sekali, jangankan luka. Menembus zirah yang digunakannya pun tidak mungkin, justru senjata mereka yang patah.
“Huaa!! Tenagaku sudah habis!!” teriak Zion histeris sembari mengayunkan pedangnya ke sembarang arah.
‘Tidak bisa!’ Aelene mengepalkan tangannya. ‘Jika seperti ini terus, kita pasti akan kalah. Mereka berempat juga sudah mencapai batasnya, pikirkan sesuatu. Aelene! Jangan buat dirimu selalu dilindungi!’ Dia tiba-tiba teringat sesuatu, Aelene mengigit hari telunjuknya dan meletakkan tangannya di atas tanah berdarah Dungeon. “Dark knight!”
Muncul tiga lingkaran sihir di depan dan kanan kiri Aelene, perlahan-lahan. Dan lingkaran sihir muncul kesatria dengan zirah hitam, ketiga Kesatria itu langsung menyerang penguasa Dungeon.
“Aelene, ini …”
“Tidak ada waktu! Ayo cepat kabur!!”
Mereka mengangguk, selagi Dark knight mengalihkan perhatian penguasa Dungeon. Kelimanya melarikan diri.
“Huh, tidak menarik. Aku pikir mereka cukup kuat, aku heran kenapa Ethelyne melindungi mereka … aha! Aku punya ide!” Gadis berambut cokelat dengan mata merah darah yant berdiri di atas batu besar yang tak jauh dari tempat kejadian memperhatikan semuanya, gadis itu menjentikkan jarinya. Seketika muncul berier gelap yang mengurung kelima manusia itu bersama ketiga dark knight dan penguasa Dungeon, gadis itu menyeringai. ‘Hehe, dengan begini. Semuanya akan semakin menarik, sekarang. Tidak ada cara selain mengalahkan Reli dan keluar dari Dungeon, hah. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini, tapi karena kalian terlalu suka berjalan kesana-kemari. Maka kalian pun harus menanggung resikonya, manusia-manusia yang malang. Akankah kalian mengalahkan Reliku? Atau kalian yang akan jadi makanan tengkorak di kuburan Dungeon ini? Kira-kira, akan bagaimana ya akhirnya? Akankah keempat pemeran utama pria berhasil melindungi pemeran utama wanita dari bahaya? Hah, aku sungguh tidak sabar menanti yang akan terjadi selanjutnya.’
__ADS_1