
Ethelyne menutup mulutnya terkejut. “Iblis? Kenapa mereka bisa sampai di sini? Bukankah mereka seharusnya tidak bisa terkena sinar matahari?”
“Aku juga tidak tau, lebih baik. Kita menemui Tuan Murry dan Tuan William untuk melapor.”
Ethelyne mengangguk. “Kau benar, kita harus segera melaporkannya. Mika pergilah terlebih dahulu, aku akan menemui Nina terlebih dahulu sebelum ke Tuan-tuan.”
“Baiklah, cepat menyusul ya.” Mika berjalan terlebih dahulu.
Tiba-tiba, sebuah pedang menembus perutnya dari belakang. Dia memuntahkan banyak darah, masih dalam keadaan terkejut. Mika menoleh ke belakang. “Lady, Ethelyne. Kenapa …”
“Hah, kau sangat bodoh ya.” Sihir kamuflase perlahan-lahan memudar dan menunjukkan warna mata Ethelyne yang asli. “Kau bahkan tidak sadar bahwa yang ada di hadapanmu adalah jiwa iblisnya. Aku jadi ragu, apa kau benar-benar seorang Roh? Tidak mungkin ada roh selemah kau.” Dia berpura-pura berpikir, Ethelyne melirik Mika dengan senyum mengejek. “Dasar roh lemah, kau bahkan tidak bisa membedakan mana iblis mana manusia.” Dia mendekat dan berbisik. “Jangan khawatir, aku pasti akan bisa menghancurkan jiwa suci dalam tubuhku dalam waktu dekat.” Ethelyne menepuk bahu Mika. “Rasakan saja rasa sakit ini sampai kau mati, sebelum aku kembali dan membalas dendam. Aku akan kembali dan mengumpulkan semua energi yang kalian gunakan saat menjadikanku eksperimen.” Dia berbalik dan berjalan pergi, dengan mudahnya. Ethelyne menembus barier dan berjalan menjauh dari hutan para roh. ‘Merepotkan, aku sangat ingin menghabisi mereka semua sekarang! Sayang sekali kekuatanku tidak mencukupi untuk menghabisi Murry sialan itu! Jika saja aku tidak menggunakan semua energiku saat melawan mereka berdua saat itu, aku pasti bisa menghabisi mereka sekarang!’
“Apa kalian merindukanku? Meli, Mili.”
Meli dan Mili menoleh ke asal suara, keduanya menatap Ethelyne terkejut. Segera keduanya berlari dan memeluk gadis itu dengan eratnya. “Yang Mulia, syukurlah. Syukurlah Anda baik-baik saja.”
“Benar, kami sangat menghawatirkan Anda. Yang Mulia.”
Ethelyne masih memasang wajah datarnya, dia membalas pelukan keduanya. “Aku kembali, aku sangat merindukan kalian semua.”
“Saya juga sangat merindukan Anda, Yang Mulia.”
“Saya juga, Yang Mulia. Kami berdua sangat merindukan dan khawatir pada Anda.”
“Sekarang tidak apa-apa.” Ethelyne berkedip sekali, warna matanya berubah biru. Dia melepas pelukannya dan menatap keduanya dengan senyum tipis. “Kita tidak akan berpisah lagi mulai sekarang, aku berjanji. Selama sisa hidupku, aku pasti akan melindungi dan menjaga kalian semua. Tidak perduli apapun yang terjadi … meskipun aku tidak bisa menyatukan iblis dan manusia, tapi aku akan tetap berusaha melindungi kalian semua. Kalian adalah orang paling berharga dalam hidupku setelah ibu.”
“Maafkan kami yang tidak bisa membantu Anda, Yang Mulia.”
“Aku baik-baik saja, Meli. Aku bisa keluar berkat bantuan kalian juga.” Ethelyne menunduk sambil tersenyum miris. “Berkat bantuan Elf yang kalian perintahkan, aku bisa keluar hari ini.” Dia menyembunyikan tangannya yang terkepal di balik gaun putih yang digunakannya. ‘Aneh, kenapa aku merasa tidak rela? Bukankah seharusnya aku senang karena bisa kembali dan bertemu mereka lagi. Tapi kenapa? Kenapa aku merasa … sangat sedih? Kenapa hatiku seolah menginginkan aku kembali dan menghilangkan benih iblis dalam tubuh ini?’ Ethelyne menggeleng cepat. ‘Tidak boleh begitu, Ethelyne! Ingatlah, sebentar lagi. Kau akan mati! Setidaknya, sebelum kau benar-benar hancur dan menghilang dari dunia. Kau harus bertemu semua orang yang kau sayangi dan menghabiskan sisa hidupmu bersama mereka!’
__ADS_1
“Yang Mulia?”
“Ah, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit pusing, apa kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin istirahat.”
“Baik, Yang Mulia. Apa Anda ingin diantarkan makanan?”
“Tidak perlu, kau keluarlah terlebih dahulu.”
“Baik.” Meli dan Mili membungkuk hormat, keduanya berjalan keluar.
“Mili tetap di sini, aku ingin menyampaikan sesuatu.”
Meskipun tampak bingung, Mili tetap mengangguk dan hanya Meli yang keluar dari kamar. Pintu perlahan tertutup.
“Ada apa, Yang Mulia?”
“Soal itu …” Mili mengalihkan pandangannya. “Kemarin, Tuan Harvey memberi kabar. Karena sihir gelap yang tiba-tiba menghilang dan membuat cahaya matahari mengenai Medang perang. Banyak pasukan iblis yang … terbakar sinar matahari.”
Tangan Ethelyne semakin terkepal hingga dia dapat merasa kuku-kukunya yang menancap. “Aku mengerti, minta Gareth, Leyton, dan Verlin untuk mengumpulkan semua abu para iblis. Setiap abu satu iblis harus dipisahkan dengan abu iblis yang lain, karena jika tidak … maka semuanya akan gagal.”
“Baik, tapi apa saya boleh bertanya. Kenapa Anda ingin mengumpulkan abu setiap iblis?”
Ethelyne berbalik dan berjalan ke arah jendela. “Kau tidak perlu tau, kau cukup beritahu perintahku barusan. Selain itu, jika iblis di medan perang tidak mencukupi … aku sendiri yang akan turun tangan.”
“Eh, tapi kan--”
__ADS_1
“Kau bisa pergi.”
“Baik,” gumam Mili gusar, dia mengenal Ethelyne meski tidak sebaik Meli. Setelah Ratunya itu memutuskan satu hal, maka akan sangat sulit untuk membujuknya kembali kecuali jika itu memang keinginannya sendiri.”
~~~♥~~~
“Mama! Mama kemana saja selama ini? Luna sangat khawatir pada Mama!”
“Maaf ya sayang, Mama tidak sempat memberitahu Luna. Mama pergi ke dunia manusia untuk membelikan Luna hadiah.” Dengan senyuman manis, Ethelyne menunjukkan gelang yang diberikan oleh William sebelumnya.
“Wah, indahnya. Di mana Mama mendapatkannya?”
“Mama diberikan oleh seorang Kakek tua yang baik hati, sini. Biar Mama pasangkan, Luna pasti terlihat sangat cantik dengan gelang ini.” Ethelyne memasangkan gelang itu di pergelangan tangan kanan Luna dengan sangat hati-hati, seolah gadis kecil itu adalah kaca yang mudah pecah. “Sudah, Luna terlihat sangat cocok memakainya.”
“Mama, terima kasih hadiahnya.” Luna tersenyum sangat manis.
“Putriku memang sangat menggemaskan, jika saja kau bukan putri Mama. Mama mungkin akan menculikmu dan membawamu pergi jauh.”
Luna yang mendengar hal itu terkekeh. “Mama juga sangat cantik, Luna sangat senang memiliki Mama sebagai orang tua Luna.”
“Gadis kecilku, kau sudah pintar berkata-kata manis ya.”
Luna hanya tersenyum menanggapi.
“Baiklah, karena sebentar lagi Luna akan keluar. Mari kita rayakan di hari ini, hari ini akan menjadi hari ulang tahun Luna di dunia luar nanti.” Ethelyne menggenggam tangan Luna dan menuju ke paviliun.
__ADS_1
“Iya.” Luna tersenyum, saat dia menatap lurus. Senyum manisnya berubah menjadi sendu. ‘Luna tau semuanya, Luna tau Mama berbohong pada Luna. Tapi Luna mengerti, Mama tidak ingin Luna dibebani oleh pikiran. Tapi jika seperti ini terus, Mama bisa sakit karena terlalu banyak berpikir. Luna tidak ingin melihat Mama sakit, Luna ingin melindungi Mama seumur hidup Luna. Luna sangat menyayangi Mama.’ Luna menyeka air matanya.