
“lihat, bukankah itu gadis aneh yang kau sebutkan tadi?”
“Iya, lihatlah dia. Dia selalu memakai jubah atau menggunakan cadar, bukankah itu karena dia tidak ingin wajahnya di lihat.”
“Mungkin saja karena wajahnya jelek, atau mungkin dia memiliki bekas luka ataupun tanda lahir yang tidak ingin dia perlihatkan ke siapapun. Aku sendiri merasa aneh, kenapa Yang Mulia Pangeran membawanya pulang.”
“Aku dengar, itu semua karena gadis aneh itu menolong Yang Mulia. Atau mungkin saja, dia yang melukai Yang Mulia dan berpura-pura menolongnya.”
“Jadi maksud kalian, Yang Mulia begitu lemah sampai-sampai bisa diracuni oleh gadis biasa??”
Ethelyne yang semula fokus menyiram tanaman menoleh ke asal suara, dia menatap bingung seolah gadis cantik dengan pakaian bangsawan mewah yang bersedekap dada sambil menatap kesal para gadis pelayan yang bergosip tadi.
“Lady Laura, kami tidak bermaksud seperti itu.”
“Cukup, aku mendengar semua ucapan kalian. Apa kalian tau apa akibat dari orang yang merendahkan Yang Mulia Pangeran ke6??” Gadis bangsawan yang dipanggil Laura menoleh ke Ethelyne.
Melihat hal itu, Ethelyne segera mengalihkan pandangannya agar tidak bertatapan langsung dengan sang pemilik mata pink yang terlihat indah. ‘Gawat, gawat! Apa dia menyadari kalau aku sedari tadi menatapnya?’
“Hai, kau pasti pelayan yang dibawa Yang Mulia Pangeran pulang kan? Siapa namamu? Aku Laura Kiehl, kau bisa memanggilku Laura,” sapa Laura yang tiba-tiba saja muncul di samping Ethelyne dengan senyum manisnya.
Ethelyne segera membungkuk hormat. “Hormat saya, Lady. Saya bernama Et- Rimuru, silahkan beritahu saya jika Anda butuh sesuatu.”
“Terima kasih, omong-omong. Bagaimana keadaan Yang Mulia Pangeran sekarang? Aku dengar dia diracuni saat pergi berburu dengan para pengawal.”
‘Mana aku tau, aku tidak pernah bertemu dengannya. Lagipula, kita tidak akrab sama sekali jadi berhenti bersikap seperti kita ini adalah teman.’ Ethelyne tersenyum sopan meski dalam hati dia ingin memukul dan mengumpati gadis di depannya. “Saya tidak tau, Lady. Saya tidak sengaja bertemu Yang Mulia saat sedang mengumpulkan herbal.”
“Wah, hebat. Apa kau mengerti soal obat-obatan? Aku sangat tertarik dengan ilmu pengobatan, tolong ajari aku ya!” Laura menggenggam tangan Ethelyne dengan wajah penuh harap.
“Ah, hahaha. Saya tidak begitu mengerti, saya mengumpulkan herbal karena keinginan saudara jauh saya. Itu sebabnya.”
“Begitu ya?” Laura memasang ekspresi cemberut, dia berdehem dan tersenyum sopan. “Maaf karena kelancanganku tadi, aku hanya terlalu senang. Jika ada waktu, kau panggilan saudara jauhmu itu ke istana. Aku yakin dia bisa diterima sebagai tabib.”
Ethelyne kembali membungkuk. “Terima kasih atas kemurahan hati Lady Laura, saya izin permisi untuk mengerjakan tugas yang lain.”
“Ok, hati-hati ya.” Laura melambaikan tangannya hingga sosok Ethelyne benar-benar menghilang di hadapannya, senyum ramah yang selalu ditampilkan menghilang dan digantikan raut wajah kesal sekaligus jijik. “Aku pikir dia spesial karena Yang Mulia sendiri yang membawanya masuk, tapi ternyata aku terlalu berharap. Bahkan wajahnya saja sangat jelek hingga ditutupi dengan cadar.” Dia bersedekap dada. “Cih, aku bingung kenapa Yang Mulia terlihat tertarik pada gadis jelek seperti itu. Tidak bisa dibiarkan! Aku harus membuatnya pergi dari Yang Mulia secepatnya!” Laura menyeringai. ‘Sepertinya aku menemukan ide yang brilian, Rimuru. Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu malu di hadapan semua orang!’
“Achuu …” Ethelyne menggosok hidungnya yang gatal.
__ADS_1
“Ada apa? Apa kau sakit?” tanya seorang gadis berpakaian pelayan dengan raut wajah khawatir, terdapat tanda lahir berbentuk love di sebelah kiri bawah matanya.
“Ah, aku baik-baik saja. Omong-omong, pesta pernikahan Permaisuri akan diadakan tiga Minggu lagi kan? Apa kita juga harus menyiapkan hadiah?”
Gadis itu tersenyum sendu. “Bagaimana mungkin Yang Mulia Permaisuri akan menerima hadiah kita, lagipula. Rimuru, kau tidak boleh memanggil Yang Mulia Permaisuri seperti itu. Jika orang lain mendengarnya dan mengadukanmu pada permaisuri, kau akan dalam masalah.” Dia menyentil dahi Ethelyne pelan.
“Iya, iya. Aku tau kok, Aelene tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku, justru Aelene yang harus berhati-hati, aku sudah terbiasa dengan ucapan mereka. Tapi Aelene pasti masih sedih dan sakit hati saat mendengar ucapan mereka kan.”
Gadis bernama Aelene itu menghela napas, dia tersenyum lembut. “Aku bisa menjaga diri, justru aku yang seharusnya khawatir. Daripada aku, lebih banyak pelayan lain yang membicarakanmu. Aku takut kau akan menjadi sasaran perundungan mereka.”
Ethelyne menangkup wajahnya sendiri dengan senyum polos. “Asal Aelene tau ya, meskipun Rimuru itu seorang gadis. Tapi Rimuru bisa mengalahkan lima serigala besar!”
“Bagaimana caranya?” tanya Ethelyne antuasias.
“Caranya …” Aelene menunjuk dagu Ethelyne. “Dengan menginjak mereka.”
“Eh, maksudnya?”
“Tentu saja.” Aelene mengangguk. “Bukankah sangat mudah menginjak 10 boneka kayu berbentuk serigala.”
“Ihh! Bukan begitu maksudnya!” Ethelyne menghentak-hentakkan kakinya kesal. ‘Aktingku sudah benar tidak sih? Aku merasa geli sendiri melihat diriku yang bersikap seperti anak kecil.’
__ADS_1
“Hahaha, iya deh. Aku menyerah, Rimuru kan memang hebat. Jadi sekarang, Rimuru istirahat lebih awal ya. Tugasmu yang tersisa serahkan saja padaku.”
Ethelyne menggembungkan pipinya. “Aelene tidak boleh meremehkanku ya! Aku ini sudah berumur 18 Tahun dan sudah besar, jadi aku bisa mengurus tugasku dengan baik.”
“Iya deh, Rimuru yang kekanak-kanakan.” Aelene menepuk kepala Ethelyne sambil terkekeh kecil.
“Ihh! Aku marah ya sama Aelene!” Ethelyne bersedekap dada sambil membuang muka.
“Aduh, aduh. Adik manisku, kenapa marah sih? Apa Rimuru membenciku? Apa karena aku mengaggap Rimuru sebagai anak kecil? Tapi kan Rimuru memang kecil, Rimuru sendiri bersikap kecil. Dan lagi, Rimuru harus memanggilku kakak.”
“Tidak mau! Lagipula, aku lebih tua darimu!”
“Eh, siapa yang bilang? Aku ini 19 tahun, aku bahkan lebih tua setahun darimu.”
Ethelyne menatap Laura dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan menyelidik. “Tapi Aelene terlalu pendek, bahkan Rimuru lebih tinggi sedikit dari Aelene.”
“Itu bukan intinya!” Aelene berdehem, dia mengusap rambut Ethelyne dengan lembut. “Sudah ya, jangan marah lagi. Nanti aku akan memberikanmu kue, biarkan aku saja yang mengerjakan sisa tugasmu. Lagipula, Rimuru baru di kerajaan ini. Bagaimana jika Rimuru diganggu oleh pelayan-pelayan itu atau tersesat? Kakak ini tidak ingin Rimuru sampai terluka, jadi Kakak yang akan menggantikan Rimuru mengerjakan tugas. Rimuru di sini istirahat saja sekalian membiasakan diri.”
“Padahal kan, Aelene juga masuk ke istana bersama denganku,” gumam Ethelyne pelan.
“Hem, kau mengatakan sesuatu?” Aelene menatap Ethelyne dengan senyum manis.
__ADS_1