Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
35. Restoran


__ADS_3

Seperti janji siang tadi, Ethelyne dan Aelene kini berada di sebuah restoran dekat pinggiran kota. Keduanya berhasil kabur dari penjagaan para prajurit yang mengendur saat pergantian jam.


“Eum, ini sangat enak. Kenapa kakak bisa menemukan tempat seperti ini?” tanya Ethelyne terkagum-kagum.


“Ah, restoran ini ya. Ini adalah restoran kesukaanku, sejak kecil. Ayah selalu membawaku kemari setelah kematian ibu, masakan dari restoran ini benar-benar sangat mirip dengan masakan ibu. Jadi aku benar-benar merasa sangat tenang dan bahagia ketika berada di restoran ini.”


“Memang, ibu kakak Aelene kemana?”


“Ibuku ya? Dia adalah seorang kesatria saat masih hidup, sayangnya. Dia dibunuh oleh iblis tepat setelah ulang tahunku yang ke 8”


Ethelyne seolah tersambar petir, tangannya memegang sendok dengan gemetar. “Apa, iblis apa yang membunuh ibu kakak?”


“Aku tidak tau.” Aelene menatap sedih sup kentang rebus di hadapannya. “Tapi dari gosip para kesatria, iblis itu memiliki kekuatan yang sangat kuat dan bahkan bisa menghabisi satu pasukan hanya dalam sekali pukulan.”


‘Jangan-jangan … Demon King?!’ Ethelyne makin menatap takut Aelene, dia takut Aelene akan benar-benar membencinya ketika tau dia adalah iblis dan terlebih lagi. Dia adalah penerus dari Demon King terdahulu. “Apa, apa De- iblis itu seorang pria? Bagaimana perawakannya?”


“Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?”


“A-aku …” Ethelyne menunduk, rasa bersalah tiba-tiba menusuk hati kecilnya. “Aku hanya ingin tau, karena … ibuku juga, dibunuh oleh iblis.”


“Apa??” Aelene menggebrak meja dan membuat beberapa pengunjung kaget. “Apa yang kay katakan itu benar?!”


Ethelyne mengangguk kecil. ‘Ya, iblis yang lebih keji dan para iblis. Dia adalah iblis sesungguhnya, yang bersembunyi di balik sifat manusia dan berpura-pura menjadi baik.’


“Tidak bisa dibiarkan, para iblis itu benar-benar sudah keterlaluan!”


Ethelyne melirik Aelene yang sedari tadi menyumpah serapah seseorang, dia sendiri cukup terkejut karena Aelene ternyata sangat marah karena mengetahui bahwa nasibnya dan Ethelyne hampir sama.


“Lalu, apa kau tinggal bersama ayahmu?” tanya Aelene yang amarahnya mulai mereda, dia duduk sambil meminum teh yang disediakan.


“Aku … tidak punya ayah.”


“Apa?! Apa ayahmu juga dihabisi oleh iblis??” tanya Aelene yang lagi-lagi menggebrak meja, mungkin saja kali ini dia memukul terlalu keras hingga tangannya menjadi sakit. “Aduh, tanganku,” cicitnya sambil menatap tangannya yang memerah.


“Tidak, ayahku adalah orang yang jahat. Ayah berkomplot dengan iblis yang membuat ibu terpaksa membunuh ayah, tapi pada akhirnya. Ibu juga dibunuh oleh iblis peliharaan Ayah.” Ethelyne mengepalkan tangannya. “Yang kumiliki sekarang hanya Meli dan Loreen, mereka berdua adalah orang yang mengasuhku saat Ayah dan ibumu tiada.”


“Lalu, apa kau tidak punya saudara?” tanya Aelene yang kembali duduk, dia mungkin saja tidak menggebrak meja lagi. “Pelayan, tolong berikan aku teh lagi.”


“Aku … tidak memiliki siapapun kecuali mereka berdua.” Ethelyne mengendurkan kepalan tangannya. ‘Ya, sejak awal. Aku hanya sendiri, sejak awal. Senyum lembut yang diperlihatkan Kak Ryan itu hanyalah palsu, semua perhatian yang kuterima di kerajaan iblis semuanya palsu … mungkin juga, Loreen pun palsu.’


Aelene tiba-tiba menggenggam tangan Ethelyne dan menyadarkan gadis itu. “Rimuru, entah bagaimanapun akhirnya. Aku akan tetap memihakmu, meski tidak akan ada yang percaya. Aku akan tetap percaya padaku, aku akan berusaha sebisaku untuk membuatmu bahagia. Jadi, jangan sungkan membagi bebanmu padaku.”


‘Tidak, jangan katakan hal itu. Aku benar-benar tidak ingin berhutang budi padamu!’ Bibir Ethelyne bergerak seolah mengatakan sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.


“Apa yang kau katakan?”

__ADS_1


Ethelyne tersenyum tipis, dia menggeleng. “Tidak ada, tidak usah dipikirin. Aku hanya asal bergumam tadi, bagaimana jika kita pulang sekarang? Jika ada yang menyadari ketidakhadiran kita, pasti kepala pelayan akan menghukum kita.”


“Kau benar juga, ini juga sudah larut. Di mana kita bisa mendapatkan kereta kuda?”


“Heum, aku tidak tau. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Ethelyne balik bertanya, dia memegang dagunya sambil berpikir keras. ‘Aku ingin mengungkapkan indentitasku yang sebenarnya, tapi aku masih belum siap untuk menerima penolakan dari kau. Aelene, apa kau benar-benar akan selalu ada saat aku membutuhkanmu? Apa kau akan selalu membelaku meski semua orang menuduhku. Hah, setiap ucapanmu. Selalu saja membuatku kepikiran hingga tidak bisa tidur.’


“Aku tau! Kita bisa menghubungi penjaga bayangan Pangeran ke7, dia pasti akan mengirim kereta kuda kemari.”


Ethelyne tersenyum. “Iya, kakak benar. Tapi bagaimana kakak bisa tau penjaga bayangan Pangeran?”


“Oh, ah itu. A-aku pernah melihat dia muncul sekali, kalau tidak salah. Namanya Aaron.”


Bagai disambar petir, Ethelyne terkejut setengah mati. “A-aaron? Maksud kakak, kesatria sihir Aaron?”


“Oh iya yah, kalau dipikir-pikir. Aaron memang seorang kesatria sekaligus penjaga bayangan, hah. Pasti sangat memusingkan menjadi dia,” kata Aelene dengan nada iba.


‘Tidak mungkin itu benar-benar dia kan?! Aaron yang itu!!’




Keringat membasahi wajah Ethelyne, dia selalu menatap ke luar tanpa berani menatap dua orang di hadapannya.




‘Sial, kenapa dia bisa menjadi penjaga bayangannya Zachary!’



“Ada apa? Apa kau sakit?” tanya Aelene khawatir, dia menyentuh dahi Ethelyne yang sedikit panas. “Panas, apa kau demam? Kau berkeringat sangat banyak.”



“Ah, i-itu … Rimuru baik-baik saja, Rimuru hanya merasa tidak nyaman hari ini.” Ethelyne mengambil sapu tangannya dan mengusap keringatnya.



“Bagaimana jika kau tidur dulu? Aku akan membangunkanmu saat kita sampai nanti.”



‘Bagaimana aku bisa tidur kalau ditatap seperti itu terus.’ Ethelyne melirik Zachary yang sedari tadi menatapnya penuh permusuhan, entah apa kesalahannya sampai ditatap seperti itu oleh seorang pangeran.

__ADS_1



“A-aku …” Bola mata Ethelyne mengecil, tangannya bergetar pelan. Dia menutup wajahnya dengan sebelah tangan.



“Ada apa, Rimuru? Apa kau benar-benar sakit?” tanya Aelene yang sangat khawatir, dia hendak menyentuh kepala Aelene namun langsung ditepis.



“Hei!!”



“Maaf, Kak. Aku merasa sangat tidak enak badan, jika bisa. Biarkan aku turun di sini, aku ingin pergi ke rumah guruku dan meminta obat.”



“Obat?? Kau sungguh sakit?? Aaron, percepat keretanya!”



“Tidak, tidak! Hentikan keretanya sekarang juga!”



“Yang Mulia, saya harus menghentikan kereta kuda atau mempercepatnya?” tanya Aaron bingung.



“Hentikan kereta kudanya.”



“Zac- Yang Mulia! Rimuru sedang sakit, kita harus kembali sekarang atau dia akan semakin parah.”



“Aelene.” Zachary menatap Aelene serius. “Gadis itu yang ingin turun, biarkan saja dia pergi. Jika kau menghalanginya, dia akan semakin sakit karena terlambat mendapatkan obat.”



“Tapi …” Aelene melirik Ethelyne yang mengangguk membenarkan ucapan Zachary, dia menghela napas pasrah. “Baiklah, tapi kau harus segera pulang sebelum pagi tiba. Jika kau tidak kembali, aku akan mencarimu!”


__ADS_1


“Iya, kakak pulanglah dengan selamat.”


__ADS_2