Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
43. Mika, Roh Cahaya


__ADS_3

“Lalu aku harus bagaimana untuk menghentikan mereka?”


“Hem, sebenarnya ini cukup sulit. Kau harus menemui naga legendaris di tengah hutan para peri, tapi meski begitu. Tidak ada yang pernah tau di mana keberadaan pastinya, bahkan. Tidak ada yang tau bagaimana wujud naga legendaris itu kecuali Maria.”


“Apa krisisnya akan berakhir jika aku menemui naga legendaris itu?”


“Mungkin tidak sepenuhnya, tapi Murry bisa menghancurkan energi gelap dalam diri setiap iblis dan juga … dia bisa membantumu untuk menjadi gadis suci sepenuhnya.”


“Aku tidak ingin menjadi gadis suci ataupun iblis, Mika. Aku hanya ingin bertemu ibu.”


Mika menatap Ethelyne dengan iba. “Jika kau menginginkan hal itu, maka artinya. Kau sudah siap untuk mati, tapi kau tau kan. Tidak ada yang bisa membunuh iblis kecuali gadis suci, dan gadis suci di depanku adalah gadis suci yang terakhir dan tidak bisa membunuh dirinya sendiri.”


Ethelyne berdesah frustasi. “Maka aku akan mencari naga Murry itu, tapi sebelum itu. Aku akan menyelesaikan semua pekerjaanku di dunia ini.” Dia berdiri dan membuat Mika ikut berdiri. “Terima kasih sudah menjaga kenangan terakhir ibuku, Roh Cahaya. Aku akan mengingat jasamu.” Ethelyne berjalan pergi, saat dia membuka pintu. Pandangannya langsung terarah ke Laurie dan Vio yang berdebat tanpa sebab. “Ayo kita kembali,” katanya sambil memakai gelang itu.


“Ah, master. Anda sudah datang. Saya sangat bosan dan marah di sini, jadi ayo kita cepat kembali ke istana dan makan cemilan.” Laurie menggandeng tangan kanan Ethelyne sambil mengejek Vio.


“Ya, terserah saja. Ayo kita kembali, dan juga … bukankah kalian berdua kuhukum untuk tidak muncul selama seminggu! Kenapa kalian malah menemaniku kemari??”


“Hahaha, Anda sudah ingat ya,” Laurie tertawa hambar, dia dan Vio sepakat menggunakan sihir untuk menghapus sedikit ingatan Ethelyne. Namun siapa yang sangka, sihir itu hanya bisa bertahan selama 7 jam. Padahal keduanya telah menggunakan semua energi mereka.


“Kembali sekarang dan jangan temui aku sebelum masa hukuman selesai.”


“Eh, tapi--”


“Kembali!!”


Di dalam rumah, Mika duduk termenung. Pikirannya kini menjadi berkecamuk. ‘Bagaimana aku bisa membantumu, Ethelyne? Sihir gelap, kekuatan Demon, dan ditambah sihir suci. Semuanya saling bertolak belakang, jika dibiarkan terlalu lama. Energimu bisa saja tidak terkendali dan membunuhmu.’ Dia berdesah frustasi. “Bahkan Murry ini juga tidak tau bagaimana cara menolongmu, kecuali mengorbankan inti jiwamu. Tidak ada cara lain untuk menghilangkan krisisnya, tapi bagaimana dengan janjiku pada Earlene? Jika aku membunuh putrinya dan mengingkari janji, akankah dia membenciku juga?” Mika mengacak rambutnya frustasi. “Akh! Aku sungguh tidak bisa mengurus hal ini! Dasar Murry sialan, bisa-bisanya dia memintaku menyamar sebagai dia dan dia sendiri bertranformasi dan pergi ke dunia manusia dan bersenang-senang! Sialan, sialan, sialan. Pekerjaannya yang menumpuk sungguh membuatku stress!”




“Selamat datang kembali, Yang Mulia. Apa Anda ingin sarapan terlebih dahulu?” tanya Meli sambil membungkuk hormat.



“Tidak ingin, siapkan saja air panas untukku. Aku akan mandi sebelum ke kota Arandelle bersama para tahanan.”



“Eh, apa Anda ingin ke hutan gelap? Tapi untuk apa membawa tahanan?”



Ethelyne duduk dan mengambil buku tebal di mejanya. “Aku akan membiarkan mereka memilih,” gumamannya pelan.


__ADS_1


“Yang Mulia?”



“Tidak ada apa-apa, cukup siapkan air panas untukku mandi. Dan Meli, kau tetap di sini.”



Loreen membungkuk hormat dan berjalan keluar, Ethelyne membuka buku di tangannya dan memperlihatkannya pada Meli. “Apa bibi tau tentang benda ini?”



“Itu, bukankah itu alat-alat suci. Kenapa Nona bertanya?” tanya Meli setelah memperhatikan gambar itu dengan teliti.



“Aku pergi ke hutan para peri tadi, dan roh cahaya. Mika, memberikanku ini.” Ethelyne menunjukkan gelang tersebut.



Meli menutup mulutnya terkejut. “Bukankah itu …”



“Ya, ini adalah alat-alat suci yang ditinggalkan ibu.”




Ethelyne terdiam, dia menatap Meli dengan wajah poker. “Bibi, apa … bibi tidak pernah ke hutan para peri?”



Meli menatapnya bingung, dia tersenyum tipis. “Tentu saja tidak, Anda tau kan. Hanya para gadis suci yang bisa menembus barier buatan naga legendaris, Tuan Murry.”



“Begitu, ya?” gumam Ethelyne pelan.



“Yang Mulia, apa Anda akan pergi ke dunia manusia lagi setelah ini?”



Ethelyne menatap Meli lekat, dia berjalan keluar kamar dan menatap luar kerajaan dari jendela di depan kamarnya. “Entahlah, mungkin aku tidak akan pergi ke sana lagi. Lagipula, sebentar lagi. Aku akan mendeklarasikan perang,” Ethelyne menjeda ucapannya, napasnya seolah tercekat. Dia membuka mulutnya dan seolah mengatakan sesuatu, namun tak ada kata-kata yang keluar.

__ADS_1



“Yang Mulia, jika Anda benar-benar tidak ingin melakukannya. Jangan memaksakan diri Anda.” Meli berjalan ke samping Ethelyne dan menyentuh kaca jendela. “Dunia Manusia dan dunia iblis sangat berbeda, jika Anda berada di dunia manusia. Anda akan bisa merasakan kehangatan matahari dan keindahan bumi, Anda tidak bisa melihat itu semua di sini. Setiap hari hanya awan hitam, dan bahkan tidak ada bunga yang mekar sama sekali.”



Ethelyne menatap langit. “Meli, apa kau merindukan dunia manusia?”



Meli menatap Ethelyne bingung, dia tersenyum lembut. “Mungkin saja, ya. Saya merindukan ayah yang berada di dunia manusia, entah beliau masih hidup atau tidak.” Meli terkekeh dengan ucapannya barusan. “Itu tidak mungkin, kan. Lagipula, sudah beratus-ratus tahun berlalu. Ayah tidak mungkin bisa hidup lebih dari sembilan puluh tahun.”



“Dari mana Bibi tau?”



“Karena begitulah manusia, sangat jarang manusia yang bisa hidup sampai beratus tahun. Yang Mulia, Anda harus menghargai kehidupan Anda. Di dunia manusia, banyak yang masih ingin hidup tapi mati karena alasan yang bahkan sangat konyol.”



“Begitukah?” Ethelyne berbalik dan bersandar di tembok, dia menatap Meli yang masih menatap ke luar jendela. “Apa Bibi menyukai menjadi iblis?”



“ … Tidak juga, hidup abadi dalam kesendirian itu lebih menyedihkan daripada mati muda. Meskipun aku berharap orang-orang di sekitarku akan berumur panjang.”



Ethelyne mengangguk mengerti. “Lalu, bagaimana jika aku mati lebih dahulu? Apa Bibi akan sedih?”



Meli menatap Ethelyne dengan melotot. “Apa maksud Anda, Yang Mulia?! Anda tidak boleh mati dulu, jika Anda mati. Siapa yang akan menjaga kerajaan ini!”



Ethelyne menatap Meli polos, dia terkekeh kecil. “Mau bagaimana lagi, gadis suci sudah muncul. Jika identitasku sebagai iblis ketahuan, maka aku akan langsung mati di tempat.”



“Anda tidak boleh mati! Jika gadis suci sudah muncul- eh?”



“Ada apa? Bukankah tadi Bibi sangat panik, kenapa Bibi tiba-tiba berubah menjadi bingung?”

__ADS_1


__ADS_2