Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
92. Ilusi Kematian (3)


__ADS_3

“Kak Lyne, di sini!” Tina melambaikan tangannya sambil berteriak.


Ethelyne yang semula mencari keberadaan gadis itu berjalan ke asal suara, dia menatap Tina yang tersenyum senang dengan paper bag yang memenuhi kedua tangannya.


“Sepertinya kau membeli banyak gaun ya, apa perlu bantuanku?”


“Tidak perlu! Apa kakak tau di mana Kak Erik? Dia berjanji akan datang hari ini, tapi aku sudah menunggunya lama tapi dia tidak datang juga.” Tina menggembung pipinya dengan raut wajah kesal.


“Tidak tau, biasanya kan dia bersama Josua. Apa kau juga tidak melihat Josua?”


Tina menggeleng. “Mereka kemana ya? Padahal aku pikir mereka berdua bersama Kak Lyne karena keduanya menghilang sejak pagi tadi, huh.”


“Mungkin saja keduanya menemui Kak Xander, lagipula. Aku dengar, akan ada perang di perbatasan dan mereka sedang mempersiapkan semuanya. Mungkin Joshua dan Erik dipanggil ke istana untuk mengatur strategi perang.”


“Hem, benar juga. Omong-omong, siapa Kakak-kakak tampan itu?” tanya Tina sambil melirik dua pria tampan dengan seragam Kesatria.


“Oh, mereka ya? Mereka kesatria yang akan mengawal kita sementara, pria berambut hijau itu bernama Sir Rey dan yang berambut abu-abu bernama Sir Leo.”


“Halo, Sir Rey. Sir Leo, Aku Tina,” kata Tina dengan senyum manis dan tangan yang dilambaikan.


Namun, kedua kesatria itu hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. Jangankan ekspresi, membalas perkenalan dirinya saja tidak.


Tina memasang raut wajah cemberut, dia menatap Ethelyne dengan raut wajah memelas.


“Sudah ya, keduanya memang begitu. Ayo kita pergi membeli beberapa makanan ringan, kau pasti lapar setelah berbelanja banyak hal kan.” Ethelyne menarik Tina memasuki sebuah restoran diikuti kedua Kesatria dari belakang.


Tanpa keempatnya sadari, seorang pria tampan berambut biru berdiri di balik pohon tak jauh dari tempat keduanya berbicara. ‘Ternyata kau ada di sini, jiwa suci.’




Ethelyne mondar-mandir di kamarnya, sudah tiga minggu sejak ritualnya di mulai. Namun dia belum mendapat kabar apapun dari roh-roh ataupun William, apalagi dia yang tidak bisa masuk ke hutan para roh seperti biasanya.



‘Bagaimana ini?? Apa ritualnya berjalan lancar? Kenapa belum ada kabar sama sekali??’



“Yang Mulia, Anda kenapa? Anda terlihat khawatir.”



Ethelyne tersentak kaget, dia menatap Meli dengan senyum kaku. “A-aku baik-baik saja, aku sedang memikirkan. Memikirkan … tentang kerajaan ini! Ya, aku sedang memikirkan kerajaan ini.”



“Baik-lah~ apa Anda perlu sesuatu?”



“Tidak, tidak. Aku tidak butuh apa-apa.” Ethelyne duduk sambil mengambil berkas-berkas di meja dan berpura-pura membacanya, dia sesekali melirik Meli yang berdiri di samping pintu. ‘Cari cara agar Meli cepat pergi, pikirkan. Pikirkan, pikirkan!! Meli tidak boleh tau tentang kebangkitan Ethelyne!’



Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya, Ethelyne berdehem dan menatap Meli.



“Tolong siapkan cokelat panas untukku.”



“Baik, Yang Mulia.” Meli membungkuk dan berjalan keluar, dia sempat melirik Mili yang tengah berdiri di depan pintu sambil bersiul.

__ADS_1



Setelah memastikan Meli benar-benar pergi, barulah Mili berjalan masuk.



“Ada apa? Apa sudah ada kabar?”



“Yah, bagaimana ya memberitahunya.” Mili menggaruk pipinya yang tak gatal. “Khem, begini. Ritual pembangkitannya berjalan sempurna.”



“Huuh, untunglah.”



“Tapi … Jiwa lady suci terjebak dalam dimensi waktu.”



“Apa??”



“Ya.” Mili menatap serius Ethelyne. “Berkat bantuan Tuan Naga legendaris dan Tuan William, seharusnya Lady bisa dibangkitkan dalam waktu dekat. Tapi karena jiwanya terjebak, dia tidak bisa langsung dibangkitkan atau yang ada hanya tubuh kosong tanpa jiwa sama sekali. Selain itu--”



“Tunggu, tunggu! Bukankah sebelumnya Murry bilang kalau perlu lima tahun untuk membangkitkannya, sementara baru tiga minggu sejak ritualnya dimulai.”



“Ya, sebenarnya awalnya memang begitu.” Mili memegang dagunya.




“Benar sekali.” Mili menatap Ethelyne dengan raut wajah serius. “Tapi karena inti jiwa Endear sialan itu, pembangkitannya bisa dilakukan lebih awal. Tapi karena terjebak dalam dimensi, jadi sepertinya. Akan sulit untuk membangkitkannya.”



“Ah, kenapa banyak sekali masalah yang terjadi?!” Ethelyne mengacak rambutnya frustasi, dia berdiri dan menarik Mili keluar.



“Loh, Yang Mulia. Nona Mili, kalian ingin kemana? Saya sudah …” Meli tidak lagi melanjutkan ucapannya karena Ethelyne dan Mili yang sudah lebih dulu menghilang dari pandangannya, dia menghela napas panjang. ‘Apa yang terjadi pada Yang Mulia dan Nona?’



~~~♥~~~



“Lyne, ada apa? Kau selalu melamun akhir-akhir ini,” kata Gavin sambil menepuk pundak Ethelyne yang tengah melamun.



“Aku baik-baik saja, kak.” Ethelyne tersenyum semakin mungkin, dia menunduk dan menatap kedua tangannya. ‘Aku hanya merasa sangat aneh, aku seolah terikat dengan sesuatu. Tapi apa?’



“Aku dengar, kau dan Erik akan kencan hari ini.” Gavin menarik kursi terdekat dan duduk, dia mengacak rambut Ethelyne. “Apa itu sebabnya kau melamun?”

__ADS_1



“Bukan kencan kak! Lagipula, akan ada Tina nanti.” Ethelyne menghela napas.



“Oh, jadi itu sebabnya kau terlihat sangat cemberut dan tidak bersemangat?” tanya Gavin dengan senyum menggoda. “Bagaimana jika kuajak Tina jalan-jalan agar kalian berdua--”



“Sudahlah kak.” Ethelyne berdiri dan berjalan keluar. “Aku sedang tidak ingin kemana-mana ataupun melakukan apapun.”



‘Apa yang terjadi pada gadis kecil itu?’



~~~♥~~~



“Tuan Putri, apa Anda membutuhkan sesuatu?” tanya seorang wanita dengan pakaian khas pelayan.



Ethelyne yang tengah sibuk dengan buku-buku di tangannya menggeleng tanpa menatap pelayan itu. “Tidak perlu, kau keluarlah. Jika ibu atau siapapun mencarikanku, beritahu saja kalau aku sedang istirahat dan tidak ingin ditemui.”



“Apa … termasuk Tuan Erik juga?” tanya pelayan ragu-ragu.



Ethelyne terdiam sejenak, dia menutup buku di tangannya dan mengambil buku lain.



“Tuan Putri?”



“Ya, jangan biarkan siapapun menggangguku. Termasuk Erik.”



“Saya mengerti, jika Anda perlu sesuatu. Silahkan panggil saya.” Pelayan itu membungkuk hormat dan berjalan keluar.



Ethelyne meletakkan tumpukan buku di atas meja dan duduk di kursi, dia mengambil satu buku medis dan membacanya. ‘Aku harus cari tau apa yang terjadi padaku, jika memang aku menderita penyakit. Seharusnya ada cara untuk menyembuhkan penyakitku kan, dan pasti semuanya tercatat di buku medis di istana.’



Sepuluh jam berlalu tanpa disadarinya, Ethelyne telah membaca tiga buku medis tapi tidak dapat memastikan penyakit yang dideritanya sekarang. Dia berdecak sambil memijat pelipisnya pusing. ‘Aku tidak menemuinya sesuatu yang berguna, apa memang tidak ada di buku medis? Mungkinkah ada di buku lain?’ Ethelyne berdiri dan berjalan ke arah rak penuh buku, dia menatap semua buku-buku itu teliti. Matanya tanpa sengaja menangkap sebuah buku tebal dengan sampul berwarna hitam tanpa judul.



Ethelyne mengambil buku itu, dia cukup kesusahan mengambilnya karena buku itu diapit oleh dua buku tebal lainnya. Selain itu, tempatnya yang cukup tinggi membuat Ethelyne cukup kesusahan meraih buku itu.



Ethelyne berkacak pinggang sambil menatap sekitaran, dia berjalan ke arah kursi dan mendorongnya mendekati tak buku itu. Setelah memastikan aman, Ethelyne menaiki kursi itu dan mengambil buku bersampul hitam itu.


__ADS_1


Senyum puas terbit di wajahnya saat tangannya berhasil meraih buku, namun karena tidak berhati-hati. Kursi yang diinjaknya tiba-tiba saja hancur tanpa sebab dan membuatnya terjatuh.


__ADS_2