
Hari-hari berlalu seperti biasa, istana yang semula sepi mulai dihiasi dengan indah dan megah. Ethelyne yang tidak tau harus melakukan apa hanya diam di kamar atau sesekali berjalan-jalan di hutan gelap.
Dan tidak terasa, seminggu telah berlalu dengan cepat. Dan sesuai janji seminggu yang lalu, Ethelyne kini tengah duduk di hadapan Eadric, Ned, dan Glory.
“Hem, sepertinya kau membawa seorang gadis. Apa dia yang ingin kau jadikan tumbal?” tanya Ethelyne menatap Glory penuh selidik, setelah dilihat dari dekat. Gadis itu memang sangat cantik, tatapan dan senyumnya yang manis membuat hati seseorang akan meleleh ketika menatapnya.
“Yang Mulia, kami telah berbicara dengan Raja kerajaan Iceworld. Kami akan menumbalkan sepuluh ribu orang untuk kerajaan iblis asal Anda mau beraliansi dengan Kerajaan Iceworld.”
“Heh, sepuluh ribu orang ya?” gumam Ethelyne, dia melirik Glory dan Eadric yang duduk berdampingan. “Aku mengubah pemikiranku, asal kau memberikan gadis itu. Maka aliansi akan terjalin.” Ethelyne menunjuk Glory yang sedari tadi menunduk sambil memainkan jemarinya gugup.
“Maafkan kami, Yang Mulia. Tapi dia adalah gadis yang berharga, jadi kami tidak bisa memberikannya pada Anda. Jika Anda ingin, kami bisa mencarikan gadis yang lebih baik dari dia.”
“Aku hanya ingin dia, jikapun kalian tidak bisa memberikannya. Maka aku akan memberikan penawaran yang cukup baik … berikan seratus ribu manusia, dengan begitu. Maka aku akan mempertimbangkan aliansi.”
Eadric dan Ned saling melirik, keduanya menatap Glory yang tampak sangat gugup.
“A-aku …”
“Ada apa? Apa kalian tidak ingin memberikannya?”
Eadric menghela napas, dia berdiri. “Yang Mulia, jika bisa. Tolong ikut saya ke suatu tempat.”
Ethelyne menaikkan sebelah alisnya. “Ke mana? Apa kau tau apa saja yang ada di dunia iblis ini?”
“…Ya, jadi silahkan ikut saya.” Eadric, Ned, dan Glory berjalan keluar.
Dengan raut wajah bingung, Ethelyne berdiri dan mengikuti ketiganya keluar dari istana.
__ADS_1
Tidak sampai dua puluh menit, keduanya sampai di sebuah hutan yang sangat dikenali Ethelyne. Hutan gelap.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Ethelyne sambil memperhatikan sekitaran, dia tentu sangat familier dengan seisi hutan.
“Yang Mulia, apa kau benar-benar tidak akan memikirkan tentang negosiasi kami?” tanya Ned tanpa menatap Ethelyne.
“Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian membawaku ke hutan ini?”
Eadric berbalik dan menatap Ethelyne yang berdiri tak jauh dari mereka, dia menatap gadis itu penuh selidik. ‘Dia benar-benar mirip gadis bodoh itu.’
“Kalian jawablah!”
“Maaf karena ketidaksopanan kami, Yang Mulia. Nona Glory, sekarang!”
Tiba-tiba, sebuah pedang menembus dada Ethelyne. Gadis itu masih terdiam kaku seolah tidak bisa mencerna apapun.
“Maafkan kami, Yang Mulia. Tapi ini adalah kesalahan Anda sendiri, seandainya Anda ingin bernegosiasi dengan kami. Kami pasti tidak melakukan hal ini.” Ned menatap Ethelyne dengan tatapan kecewa, seolah gadis itu telah berbuat kesalahan yang fatal.
“M-maafkan saya, Yang Mulia. S-saya tidak ingin menghabisi Anda, t-tapi saya terpaksa,” kata Glory terbata-bata.
“Pedang itu adalah pedang suci yang dimiliki oleh gadis suci, Anda akan mati perlahan-lahan tanpa rasa sakit.”
Eadric sedari tadi hanya diam dan memperhatikan Ethelyne dengan seksama, dia seolah-olah tidak rela kehilangan gadis di depannya. Eadric menyentuh dadanya yang terasa nyeri. ‘Apa yang terjadi padaku? Dia hanyalah Ratu dari kegelapan, lalu kenapa aku merasa sedih melihatnya mati?’
“Setelah kematian Anda, Yang Mulia Raja akan menggantikan Anda sebagai Raja di kerajaan Iblis. Anda tidak perlu khawatir, karena Yang Mulia Raja tidak akan membuat bangsa iblis jatuh.”
Ethelyne menutup matanya dengan tangan kanan, dia menghela napas. “Apa kalian pikir, kalian bisa menghabisiku semudah itu?” Ethelyne membuka matanya, dapat dilihat warna mata merah darah dari celah jari-jarinya.
__ADS_1
Aura yang menguar dari tubuh Ethelyne menjadi gumpalan asap hitam yang membentuk tangan dan mencekik Glory yang masih berdiri di belakangnya, asap hitam itu mengangkat Glory hingga kaki gadis itu tidak lagi menapak di tanah.
Seberusaha apapun dia melepaskan asap itu, namun tidak bisa. Tangannya justru tidak bisa menyentuh asap hitam sama sekali.
Satu tangan muncul dari asap hitam itu dan memegang gagang pedang, tiba-tiba. Tangan hitam itu menarik pedang itu hingga benar-benar bebas dari tubuh Ethelyne dan meleburkannya.
“B-bagaimana mungkin??” tanya Ned terkejut, Eadric pun tampak terkejut namun dia tetap tak mengatakan apapun.
“Hah, sayang sekali. Ketika aku ingin membiarkan kalian, kalian malah masuk lebih dalam ke kandang harimau.” Ethelyne berjalan ke arah keduanya, luka yang berlubang di dadanya mulai beregenerasi dan sembuh tanpa bekas sedikitpun. Dia berhenti 5 langkah dari Eadric. “Kasihan sekali, kalian pikir. Gadis itu benar-benar gadis suci? Hah, sungguh lucu.” Ethelyne mengangkat sebelah tangannya, pedang suci tiba-tiba muncul dan melayang di udara. Ethelyne dengan santainya mengambil pedang itu dan melirik ke arah Ned dan Eadric, ekspresi mereka tentu dapat dia tebak dengan mudah.
“Bagaimana, bagaimana bisa pedang suci ada padamu?”
Ethelyne tersenyum di balik cadarnya. “Sepeetinya kau masih belum mengerti ya?” Dia menyeret pedang itu ke arah Ned, Ethelyne mengangkat pedang itu dan meletakkan ujungnya yang runcing di bahu Ned. “Aku adalah gadis suci terakhir, Ethelyne Virgian.”
“T-tidak mungkin.” Ekspresi Ned tampak sangat terkejut, apalagi saat melihat Ethelyne dengan mudahnya mengangkat pedang suci yang bahkan bisa membakar tubuh iblis.
“Sepertinya tidak ada yang menceritakannya ya, pertama-tama. Akan kuperkenalkan diriku secara lengkap, namaku. Ethelyne Virgian Blisterzz, Putri dari Raja Iblis Blisterzz dan Earlene Virgian.” Ethelyne menatap Ned datar. “Menurutmu, kenapa aku ingin menyerang kerajaan Iceworld saja?”
“A-pasti karena kau ingin menawan manusia dan memakan mereka kan!”
“Salah, jika aku benar-benar menginginkan manusia.” Ethelyne melirik Eadric yang masih diam di tempatnya. “Aku hanya perlu meruntuhkan kekaisaran, tapi aku hanya menyerang Kerajaan Iceworld seorang. Alasannya sangat sederhana, karena … ibuku, Earlene Virgian. Dibunuh oleh Raja Kerajaan Iceworld.”
“Apa?!’
“Kenapa? Kau tampak sangat terkejut, ya. Aku juga sangat terkejut, bagaimana bisa. Raja kerajaan Iceworld tidak tau balas budi, setelah kerajaannya ditolong, dia malah menghabisi ibuku dengan tragis. Manusia menjijikkan!” desis Ethelyne menahan amarah.
“Tidak! Kau pasti berbohong! Yang Mulia Raja terdahulu tidak mungkin seperti itu!!” teriak Ned tak terima.
__ADS_1
“Heh?” Ethelyne menempelkan ujung pedang yang tajam ke leher Ned hingga mengeluarkan sedikit darah. “Kenapa kau berpikir aku berbohong? Semuanya terjadi 700 tahun yang lalu, meskipun aku baru berumur 3 tahun. Tapi aku memiliki gen khusus para iblis, ingatan kami tidak akan menghilang meski telah lewat beribu-ribu tahun lamanya.”