
“Sebenarnya kau ini kenapa sih??” Ethelyne menarik tangannya dari cengkraman Kathelyne, dia menatap kesal gadis itu. “Kenapa kau menarikku pergi?? Lagipula Liya masih sangat kecil dan tidak mengerti apapun!”
“Tidak mengerti apapun?” Kathelyne bersedekap dada. “Apa membunuh tiga pembunuh terlatih itu termasuk tidak mengerti apa-apa?”
“Apa maksudmu?? Liya itu masih sangat kecil! Tidak mungkin dia bisa menghabisi tiga pembunuh terlatih!”
Kathelyne berdecak sambil membuang muka. “Sudah kuduga kau tidak akan percaya,” gumamannya.
“Kathel, kau berubah.”
Kathelyne menatap Ethelyne dengan kening berkerut.
“Kau dulu tidak seperti ini, kau tidak akan sampai menghancurkan dunia manusia seperti tadi hanya karena masalah sepele. Bahkan kau juga mulai membatasi dengan siapa aku harus berteman.”
“Tidak, Ethel. Kau salah paham, aku hanya--”
“Ah, benar juga. Meskipun kita dulunya adalah satu jiwa, tapi kau tetaplah seorang iblis dan itu tidak akan berubah. Yah, benar yang dikatakan Tuan William. Iblis dan gadis suci tidak akan bisa bersama.”
“Apa yang kau...”
Ethelyne menatap serius Kathelyne. “Kau dulu memintaku untuk pergi dari kerajaanmu kan? Maka hari ini akan kulakukan, aku akan pergi dari kerajaanmu. Kita tidak perlu lagi bertemu, dan jika suatu saat nanti. Kita bertemu tanpa sengaja, maka. Buatlah seolah kita tidak saling mengenal, itu saja.” Dia berbalik dan berjalan pergi.
“Tunggu, Ethel! Apa maksud ucapanmu??”
Ethelyne berhenti melangkah, dia melirik Kathelyne. “Bukankah ucapanku sudah cukup jelas? Aku sudah muak bersama iblis sepertimu, kau tahu? Aku sudah menahannya cukup lama. Jujur saja, berada di istanamu ini membuatku ingin mual!”
Kathelyne menatap tak percaya. “Ethel, kau...”
“Jangan memanggilku sok akrab begitu, dan ya. Jangan mengurusi urusan pribadiku... orang asing.”
~♥~
“Apa Anda yakin soal ini?” tanya Mika sembari meletakkan secangkir teh di depan Ethelyne yang terlihat gusar.
__ADS_1
Sejak datang ke hutan para peri, gadis itu tampak tak bersemangat sama sekali. Matanya pun sembab karena menangis.
“Iya. Ini yang terbaik, lagipula, jika aku ada di sini. Mungkin saja Murry bisa menemukan sesuatu yang bisa menghancurkan benih iblis ini.”
“Nona, sebenarnya saya tidak bermaksud untuk ikut campur. Tapi keberhasilan untuk menghilangkan benih iblis ini hanya 3,2%. Apa Anda yakin ingin meninggalkan kerajaan iblis? Saya takut, Anda...”
“Benar juga, dengan tingkat keberhasilan yang rendah, mungkin saja aku gagal menghilangkan benih iblisnya. Tapi setidaknya, aku bisa membawa benih iblis itu bersamaku jika aku mati.”
Mika menghela napas. “Apa Anda yakin? Pasalnya...”
Ethelyne berdiri dari duduknya. “Murry memanggilku, aku harus segera menemuinya.” Dia berbalik dan berjalan pergi.
Mika menatap kepergiannya dengan tatapan tak terbaca, dia menghela napas. ‘Kenapa harus selalu Anda yang menderita?’ Mika menyatukan kedua tangannya di depan dada memohon. ‘Ya Dewa, Nona Maria, Nona Earlene... dan gadis suci Virgian yang lain. Tolong, tolong bantulah Nona Ethelyne. Karena jika beliau meninggal, kemurkaan Naga tidak akan bisa dihindari lagi.’
~♥~
“Apa Anda yakin? Tingkat keberhasilannya sangat kecil, jika terjadi apa-apa--”
“Tapi, jika demikian. Anda tidak akan bisa bereinkarnasi.”
Ethelyne tersenyum. “Mengorbankan satu jiwa tidak ada apa-apanya dibanding mengorbankan seribu nyawa.”
“Tapi, bagaimana jika Yang Mulia Ratu tiba-tiba mengamuk saat tau Anda di sini?”
“Jika itu terjadi... maka kau bisa menyegel sisa jiwaku yang ada di jiwa Kathel.”
“Apa??” tanya William kaget. “Tapi kenapa? Bukankah dengan sisa jiwa itu Anda bisa dibangkitkan kembali.”
“Tapi kekuatan murni yang terkandung dalam jiwaku bisa membuat Kathel hilang kendali dan bisa saja, kalian ikut kena imbasnya.” Ethelyne menunduk dengan kedua tangan menyatu di depan dada memohon. “Aku mohon, ini mungkin permintaan terakhirku.”
William menelan salivanya, dia mengangguk. “Saya mengerti, saya akan berusaha untuk meningkatkan tingkat keberhasilannya!”
Ethelyne tersenyum lembut. “Terima kasih, William. Aku bisa tahu lebih banyak tentang Ibuku hanya karena bantuanmu dan Murry. Jika kalian tidak ada, mungkin aku tidak akan tau banyak tentang para Gadis suci Virgian.”
__ADS_1
“Iya, saya akan--”
“Apa kalian sudah selesai bicara?” sela Murry sembari berjalan ke arah keduanya dengan tatapan datar, dia menoleh ke arah Ethelyne. “Apa kau sudah siap?”
Ethelyne menganggukkan kepalanya yakin.
Murry menghela napas, dia mengangkat tangannya ke depan. Tiba-tiba, angin bertiup dengan kencang. Lingkaran sihir yang semula tertutup dedaunan kering mulai terlihat.
“Berdiri di tengah lingkaran sihir itu.”
Tanpa berkata apapun, Ethelyne melangkahkan kakinya dan memasuki lingkaran sihir.
Murry menyatukan kedua tangannya di depan dada dan menutup matanya. ‘Roh air, roh api, roh tanah, roh angin, roh cahaya, roh waktu. Berikan aku kekuatanmu untuk membuka pintu dunia pararel. Apabila Gadis suci ke11 tidak dapat menemukan pintu keluar. Maka tuntunan dia dan jagalah jiwanya dari Dewa Iblis.’ Dia membuka matanya. “Jika kau gagal menemukan jalan keluar, maka kau akan benar-benar hancur. Bahkan jiwamu pun tidak akan tersisa sedikitpun, meski begitu. Apa kau yakin akan tetap melakukan ritual ini?”
“Ya! Karena hanya dengan ini aku bisa menyingkirkan benih iblis, entah itu menyingkirkannya dengan menemukan jalan keluar, atau menyingkirkannya dengan energi murniku.”
Murry terdiam sesaat. “Ya, baiklah,” katanya sembari memutar bola mata. ‘Puji pada Dewa Agung Waktu, jika engkau berkenan. Bantulah keturunanmu ini untuk membuka pintu dan menyelamatkan dirinya... White Fire.’
Tiba-tiba saja, muncul api putih di dalam lingkaran yang ditempati Ethelyne. Api itu tidak panas, tapi sangat dingin seperti es. Tubuh Ethelyne langsung mati rasa hanya dalam beberapa menit, penglihatannya mulai mengabur hingga matanya menutup dan tak terbuka lagi.
Tubuhnya perlahan-lahan mengambang di atas api putih itu, cahaya yang amat menyilaukan tiba-tiba keluar dari dada Ethelyne. Lebih tepatnya, dari jantungnya.
William dan Murry segera berlutut, keduanya menyatukan kedua tangan di depan dada memohon dengan mata tertutup.
Sementara itu, Mika sedang sangat cemas. Dia selalu mondar-mandir di tempatnya sambil mengigit kukunya gugup. ‘Bagaimana keadaan Nona Ethelyne? Apa ritual ini akan baik-baik saja? Apa Nona Ethelyne akan bertahan hidup? Dewa Agung, Kaisar Langit, dan untuk para Dewa dan Dewi. Kumohon, tolong bantulah Nona Ethelyne, aku mohon... Nona adalah, harapan terakhir kami semua. Aku sungguh memohon, tolong bantulah pemujamu ini.’
“Kau tidak perlu khawatir, Mika. Karena aku yakin, Nona Ethelyne akan baik-baik saja, beliau akan selamat dari dunia pararel dan... menjadi penakluk waktu.”
~♥~~♥~
maafin mimin ya, Mimin sebenarnya mau update. tapi ya ada Kouta, Mimin juga ngira kalau ga ada cerita yang udah selesai. jadi Mimin ga update, dan pas kebetulan cek cerita lagi ternyata udah ada yang selesai.
Mimin minta maaf yang sebesar-besarnya karena udah buat para pembaca menunggu🥺😖
__ADS_1