
Ethelyne segera berdiri tegak, dia membungkuk sambil memegang kedua ujung gaunnya dengan anggun. “Salam kenal, saya Ethelyne Virgian. Senang bertemu dengan Anda, pangeran ke6.”
“Senang bertemu dengan Anda juga, Lady Ethelyne. Saya lihat, kalian berdua tampak mirip ya.”
Ethelyne berdiri tegak dan menatap Kathelyne, dia mengalihkan pandangannya ke arah Eadric dan tersenyum manis. “Mungkin karena kami berasal dari rahim yang sama.”
“Jadi, kalian saudara?” Eadric menopang dagunya sambil menatap keduanya bergantian, jika bukan karena warna rambut dan mata keduanya. Dia tidak mungkin bisa membedakan mana Ratu iblis dan mana gadis suci.
“Yah, bisa dianggap seperti itu.” Ethelyne menatap Kathelyne yang sedari tadi menatap Eadric dengan tampang datarnya. “Oi, kathel.”
Kathelyne melirik Ethelyne yang berbisik. “Hm?”
Ethelyne membuang napas. “Bukankah tadi kau berkata kalau harus menjaga sopan santun, menatap orang secara terang-terangan seperti itu tidak sopan tau!”
“Ada apa? Kau cemburu?”
“Hah??” Ethelyne menatap Kathelyne tak percaya. “Cemburu?? Untuk apa? Lagipula ini pertemuan pertama kalian, bagaimana mungkin langsung jatuh cinta. Ucapanmu itu tidak masuk akal, benar-benar tidak masuk akal!”
“Oh.” Kathelyne tersenyum tipis yang entah kenapa membuat Ethelyne merasakan firasat buruk. “Lalu kenapa kau tampak berkeringat dingin begitu? Wajahmu juga tampak memerah, lagipula. Aku tidak mengatakan kalau kau mencintai pangeran manusia itu.” Dia melirik Eadric yang tampak berkedip dengan raut polos yang imut.
“A-apa?! Tidak kok! Mukaku baik-baik saja! Aku, aku berkeringat karena cuaca sedang panas!” Ethelyne dengan panik menjelaskan, namun hal itu malah membuat kecurigaan Kathelyne semakin kuat.
“Lalu kenapa kau menjadi panik? Itu kan juga hanya asumsiku saja, aku tidak bilang kalau kau benar-benar suka.”
Wajah Ethelyne semakin memerah. “K-kathel, kau ini …” Dia tersenyum paksa sambil mengepalkan tangannya menahan amarah. “Kau memang harus diberi pelajaran!” Ethelyne memukul kepala Kathelyne dengan cukup keras.
“Entah kenapa kau jadi suka sekali ya menggunakan kekerasan,” kata Kathelyne dengan tampang acuhnya sambil memegang kepala yang dipukul Ethelyne.
“Masa bodoh!” Ethelyne berbalik membelakangi Kathelyne sambil bersedekap dada, namun sedetik kemudian. Dia baru ingat dengan Eadric yang masih duduk di depan keduanya, Ethelyne segera membungkuk hormat. “Maaf karena membuat Yang Mulia jadi melihat hal yang tidak sepantasnya.”
“Ya, tidak masalah. Lagipula.” Eadric tersenyum tipis. “Menonton pertengkaran antara iblis dan manusia itu benar-benar menarik.”
“Baiklah jika begitu.” Ethelyne berdiri tegak dan menatap Eadric serius. “Ada masalah apa sampai Anda berdua memanggil saya kembali?” tanyanya formal.
“Yah, kau bisa menanyakannya pada Ratu iblis.”
Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah Kathelyne yang tampak menopang dagunya sambil menutup mata. “Kathel.”
“Aku memanggilmu kemari karena ingin membahas sesuatu.” Kathelyne membuka matanya dan melirik Ethelyne. “Hal ini berhubungan dengan dirimu selanjutnya.”
“Tentang saya? Tapi mengapa?”
“Kau tidak bisa tinggal di istana iblis lebih lama lagi.”
“Eh?!” Ethelyne menatap Kathelyne kaget. “Tapi kenapa? Apa karena saya bersikap tidak sopan? Tapi kan kita adalah saudara, lagipula. Kalau saya tidak tinggal di istana iblis, maka saya tidak akan memiliki tempat tinggal lagi.”
__ADS_1
“Bukankah di dunia atas kau bisa tinggal dengan para roh lain?”
Ethelyne melirik ke arah lain. “Saya … tidak mau kembali ke sana lagi.”
“Hm, kenapa?” tanya Eadric kepo.
“Tidak ada alasan khusus.” Ethelyne memiringkan kepalanya sambil menatap Eadric dengan senyum tipis. “Saya hanya … merasa muak berada di dunia atas.”
“Oh, begitu ya.” Eadric terdiam sejenak. “Kalau begitu, lanjutkan saja pembicaraan yang tertunda sebelumnya.”
“Saya mengerti, Pangeran ke6.”
Kathelyne hanya diam sambil menutup matanya.
“Boho~ aku di buang,” gumam Ethelyne dengan raut sedih dalam keadaan berjongkok sambil membuat lingkaran di tanah dengan jari telunjuknya. “Aku tidak diperlukan lagi, boho~ aku sudah dibuang.”
“Hah, bukankah sudah kujelaskan? Aku tidak bermaksud membuangmu,” kata Kathelyne yang entah sejak kapan berdiri di belakang Ethelyne sambil bersandar dan bersedekap dada.
“Oi, matamu nanti kemasukan pasir!” Kathelyne menjentikkan jarinya, sebuah bola air berukuran sedang muncul di depan Ethelyne. “Cuci tanganmu.”
Ethelyne menoleh ke arah Kathelyne, matanya tampak berkaca-kaca. Dia memasukkan tangannya ke dalam air dan menggosok hingga tanah di tangannya hilang, setelah itu. Kathelyne kembali menjentikkan jarinya dan membuat bola air itu menghilang.
“Aku memang tidak perduli tentang omongan orang lain.” Kathelyne menghela napas panjang. “Tapi kau akan kesusahan jika muncul rumor kalau kau bekerjasama dengan seorang iblis, apalagi ratu iblis.”
“Tapi kan, aku sama sepertimu. Aku tidak memperdulikan omongan--”
“Kau akan lebih sering muncul di dunia manusia, berbeda denganku. Kau akan dianggap sebagai Dewi yang melindungi mereka semua, sementara jika ketahuan kau tinggal denganku. Maka bisa saja mereka akan menganggapmu bekerjasama denganku dan justru mencemoohmu.”
__ADS_1
“Tapi aku--”
“Kau mungkin tidak memperdulikan ucapan orang-orang, tapi aku perduli. Aku tidak ingin manusia seperti mereka membicarakan hal yang tidak-tidak tentangmu, jika aku mendengar mereka mencemooh atau membicarakan hal buruk tentangmu. Tebak saja, apa yang akan kulakukan untuk membungkam mulut mereka.”
“Tapi …” Ethelyne menunduk sambil memainkan jemarinya.
“Ethel, kau tau kan. Bertapa berharganya kau bagi diriku, aku akan sangat marah kalau kau terkena luka sekecil apapun. Meskipun sebelumnya ibu menyegelku, tapi aku ingat dengan jelas ucapan terakhir ibu sebelum hawa keberadaannya menghilang.”
“Ucapan … terakhir?”
“Ya, ibu memintaku untuk menjagamu selamanya. Meskipun jiwa kita berbeda dan kekuatan kita bertolak belakang, tapi bagiku. Kau adalah sahabatku, saudaraku satu-satunya. Mungkin bagimu ucapan saat di depan Eadric tadi hanyalah untuk mengelabuinya, tapi bagiku …” Kathelyne meremas ujung gaunnya. ‘Aku tidak ingin, kehilangan hal berharga lagi. Keluargaku yang telah mati mungkin tidak akan bisa dibangkitkan, dan sekarang yang tersisa hanya kau dan Meli. Jika kalian juga pergi, maka kehidupanku tidak ada artinya sama sekali. Jika bisa memilih, aku pasti--’
Kathelyne terdiam kaku saat Ethelyne tiba-tiba memeluknya, dia tidak menyadari kapan gadis itu berdiri. Namun pelukannya terasa hangat hingga dia tidak mau melepaskannya.
“Apa kau lupa?”
Kathelyne dapat merasakan tetesan air mata yang jatuh ke bahunya.
“Kalau aku …” Suara Ethelyne tampak bergetar, dia tersenyum dan membuat air matanya semakin mengalir. “Bisa membaca pikiranmu.”
“Maaf.” Kathelyne membalas pelukan Ethelyne. “Bukannya membuatmu bahagia, aku malah membuatmu menangis. Aku benar-benar tidak pantas dipanggil kakak.”
__ADS_1
“Itu tidak benar!” Ethelyne melepas pelukannya dan menatap tajam Kathelyne dengan mata sembabnya. “Bagiku, kau adalah kakak terbaik yang pernah ada. Aku juga … mau minta maaf, jika bukan karena aku yang membunuh Kak Zen dan Kak Ryan. Kathel pasti masih memiliki saudara kandung.”