Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
121. Pernikahan


__ADS_3

“Nona, apa Anda yakin ingin menghadiri pesta pernikahan ini?” tanya Meli sambil menata rambut Ethelyne.


Gadis itu tersenyum tipis. “Tentu saja, lagipula. Aku diundang sebagai tamu spesial, dan untuk memberikan berkat sebagai gadis suci.”


“Tapi, undangan ini...” kata Meli ragu-ragu.


“Jangan khawatir, Meli. Aku tidak suka mencampur urusan pribadiku dengan pekerjaanku, percayalah. Semuanya akan baik-baik saja, aku tidak akan melakukan hal yang akan menghancurkanku nantinya.”


Meli terdiam sesaat. “Baik,” cicitnya.


Ethelyne tersenyum. “Aku tau Meli sangat mengkhawatirkanku, tapi sebagai seorang gadis suci. Aku tidak boleh lalai terhadap tugasku, jadi. Bahkan jika aku tidak mau sekalipun, aku harus tetap datang. Tapi Meli jangan khawatir, karena aku akan berusaha untuk menahan diri,” katanya dengan senyum manis. ‘Menahan diri untuk tidak kabur.’


Meli tersenyum. “Saya percaya pada Anda... rambut Anda sudah selesai ditata, apa Anda perlu hal lain lagi?”


Ethelyne berdiri dari duduknya, dia menggeleng. “Eum, ini sudah cukup. Terima kasih sudah mau membantuku bersiap-siap, kau bisa keluar.”


Meli membungkuk hormat sebelum berjalan keluar, dia menutup pintu dan menutup matanya.


Dua pria langsung muncul, dia adalah Harvey dan Leyton.


“Ada apa kau tiba-tiba memanggil kamu?” tanya Leyton.


Meli membuka matanya. “Yang Mulia Ratu sedang melaksanakan rencana itu, tapi Nona Ethelyne akan pergi ke pesta di dunia manusia. Dan jika itu terjadi, kemungkinan besar akan ada bahaya. Itu sebabnya, awasi Nona Ethelyne dan buang beliau pingsan di tempat yang sepi. Karena jika Yang Mulia tau Nona Ethelyne datang ke pesta itu, beliau akan marah besar.”


“Aku mengerti, kami akan segera melaksanakan tugas itu.”


Meli mengangguk-anggukkan kepalanya, kedua pria itu langsung menghilang tanpa jejak. Keduanya seolah ditelan bumi.


Sementara itu, di dalam kamar.


“Master, dari yang saya dengar. Meli sedang merencanakan sesuatu untuk menghalangi Master sampai ke pesta.” #


‘Apa kau bisa dengar yang mereka katakan?’


“Maaf, master. Tapi di sekitar kamar Anda ada kekuatan sihir yang kuat. Membuat saya tidak bisa mendengar yang mereka katakan dengan jelas.” #


‘Begitu ya.’ Ethelyne membuka matanya. ‘Sepertinya mereka berencana untuk menghancurkan pesta itu, terlebih lagi. Karena di sini ada sihir yang kuat. Aku yakin itu adalah sihir Kathel, apa Kathel dalang dari semua ini? Tapi kenapa? Tidak bisa! Jika memang Kathel ingin menghancurkan pesta itu, maka aku harus menghentikannya! Untungnya, kekuatanku dan kekuatan milik Kathel pernah menjadi satu. Dengan begitu, aku pasti bisa menembus sihir itu tanpa ketahuan. Aku harus bergegas atau semuanya akan terlambat.’ Dia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah jendela, Ethelyne menunduk dan mengukur tinggi dari tanah hingga ke kamarnya yang ada di lantai tiga. ‘Sepertinya mustahil kalau melompat, maka dari itu...’

__ADS_1


~♥~


“Seharusnya Nona akan lewat jalan ini.”


“Ya, itu yang dikatakan Meli. Kita harus menyergap Nona tanpa membuatnya terluka sama sekali.”


Leyton menghela napas. “Bagaimana cara membuat Nona pingsan tanpa melukainya? Pukulan saja tidak akan membuatnya pingsan karena sihir suci bisa menyembuhkannya.”


“Menyembuhkan... benar! Kita hanya perlu membuat Nona pingsan dengan sihir, dengan begitu. Nona tidak akan terluka dan kita bisa menahannya agar tidak sampai di kerajaan manusia itu.”


“Ide yang brilian, Harvey! Tapi, di mana Nona sekarang? Aku tidak melihatnya di manapun.”


“Perhatikan dengan teliti, kita tidak boleh kehilangan Nona.” Harvey berjalan mendekat dan ikut mengawasi.


“Kalian sedang apa?”


“Sssth. Jangan bersuara atau Nona akan sadar kami mengawasinya,” kata Leyton tanpa sadar, dia seketika merinding saat mengingat kembali suara itu.


Leyton dan Harvey sontak menoleh ke belakang.


Sementara itu, Ethelyne tersenyum manis. “Mengawasi Nona? Yang kalian maksud itu aku?”


“Sejak kapan Anda ada di sini?”


“Hem, sejak kapan ya?” Ethelyne menyentuh dagunya dengan jari telunjuk, berpura-pura berpikir. “Ah, aku ingat. Sejak kalian berbicara ingin menyergapku diam-diam.”


“M-menyergap? Apa, apa yang Anda katakan? Kami tidak mengerti.” Leyton mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Tangkap Nona!”


“Wah, sepertinya sudah terlambat untuk itu.” Ethelyne tersenyum.


Entah sejak kapan, muncul kabut di bawah kaki mereka. Kabut itu semakin naik hingga menutupi leher mereka.


“Apa, kabut apa ini??”


Tanpa sengaja, Harvey dan Leyton menghirup kabut itu. Pandangan keduanya jadi kabur, Harvey dan Leyton jatuh ke tanah tak sadarkan diri.

__ADS_1


Tidak lama setelah keduanya pingsan, Vio berjalan keluar dari kegelapan. “Apa Anda baik-baik saja, Nona?”


“Tentu saja, terima kasih sudah mau membantuku dengan segenap tenagamu. Vio, sekarang kau bisa kembali dan istirahat.”


“Baik.” Vio membungkuk, dia kemudian perlahan menghilang. Tepat saat itu juga, kabut menghilang tanpa jejak sedikitpun.


Ethelyne menatap datar Harvey dan Leyton, dia menghela napas. “Maaf, kalian berdua. Tapi aku harus ke pesta itu, karena jika Kathel benar-benar menyerang para manusia, maka hanya aku yang bisa menghentikannya. Untuk sementara waktu, tidurlah di sini.” Ethelyne menatap ke jalan keluar dari gang yang ditempatinya. ‘Aku pasti akan menyelamatkan mereka, maafkan aku. Kathel.’


~♥~


“Wah, kalian berdua terlihat sangat serasi.”


“Terima kasih, Madam Carmilla.” Sela tersenyum sopan, dia melirik Eadric yang berdiri di sampingnya. “Semuanya berkat pangeran Eadric, beliau memilih gaun yang indah.”


“Wah, tidak saya sangka selera Yang Mulia pangeran tentang gaun sangat bagus,” kata Madam Carmilla dengan tatapan kagum.


Sela tersenyum. ‘Sebenarnya aku yang memilih gaun itu, tapi yasudah lah. Lagipula, Pangeran Eadric akan menjadi suamiku sebentar lagi, tidak ada salahnya membuat orang lain memuji (calon) suamiku.’


“Yang Mulia Raja dan Yang Mulia permaisuri memasuki ruangan,” kata seorang Kasim. “Yang Mulia Pangeran Pertama, Yang Mulia Pangeran Kedua, Yang Mulia pangeran ketiga, Yang Mulia pangeran keemapt, Yang Mulia pangeran kelima, Yang Mulia pangeran keenam, Yang Mulia pangeran kedelapan, dan Yang Mulia Putri memasuki ruangan.”


Orang-orang yang berada di dalam aula (termasuk Eadric dan Sela) membungkuk hormat.


Raja, permaisuri, dan Putra-Putri Raja memasuki istana.


Masing-masing duduk di kursi yang disiapkan, termasuk Aliya. Yang duduk di atas takhta, berdampingan dengan Zachary.


Raut wajah Aliya tampak tidak senang, sama seperti Zachary. Sementara para pangeran lain, mereka tampak biasa-biasa saja dan tidak perduli.


“Terima kasih sudah mau hadir ke pesta pernikahan Eadric dan Sela. Sebelum saya memulai pesta ini, saya akan menyambut seorang tamu terhormat dan yang akan memberi berkat pada kedua pengantin.” Raja melirik ke arah Kasim, dia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sang Kasim yang mengerti segera membunyikan terompet di tangannya.


“Lady Ethelyne Virgian memasuki ruangan!!” kata Kasim lain dengan lantang.


Seisi aula langsung heboh, terlebih lagi Zachary, Aliya, dan tentu saja Eadric.


~♥~~♥~

__ADS_1


Karena ga mau para pembaca bosan, Mimin bakal skip cerita di akhir cerita kayak ini. Dan... Mimin bakal berusaha buat happy ending (kalau bisa)😗


Salam hangat dari Author tersayang 🥰


__ADS_2