Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
63. Gadis Suci Yang Asli


__ADS_3

Kedua pangeran, Zion, Ned, dan Aelene tengah berjalan-jalan di ibukota ketika langit tiba-tiba menjadi mendung.


Mereka yang tidak sengaja mendengar gosip para rakyat menatap satu sama lain.


“Jadi, Nona Glory itu palsu?” tanya Aelene sambil menatap Eadric dan Zachary.


“Begitulah, kami tau akan hal itu saat bertemu dengan Ratu iblis terakhir kali.”


“Jadi, siapa gadis suci yang asli? Apa kalian sudah tau?”


Eadric dan Ned saling melirik, keduanya saling mengode lewat mata.


“Zac!”


“Tenanglah, Aili. Aku yakin, kakak dan Ned pasti bisa membujuk gadis suci untuk membantu kita kan.” Zachary menoleh ke arah Eadric dan Ned dengan mata penuh harap.


“Eh, sebenarnya … gadis suci yang asli itu, adalah …” Ned menjawab dengan ragu-ragu.


“Ratu iblis sendiri,” lanjut Eadric yang sudah jengah dengan sikap Ned yang tidak berterus terang.


“Apa?!” Ketiganya menatap Eadric dan Ned terkejut.


“Bagaimana bisa Ratu iblis menjadi gadis suci!”


“Kami juga tidak percaya.” Ned memijat pelipisnya. “Tapi Ratu iblis menggunakan sihir suci di hadapan kami bertiga saat itu.”


“Sihir suci seperti apa? Bisa saja dia menyerap kekuatan Glory dan berpura-pura menjadi gadis suci!”


“Ratu iblis memunculkan pedang suci, pedang yang hanya bisa dibangkitkan oleh gadis suci pertama, Lady Maria Virgian.”


“Apa?!” Lagi-lagi, ketiganya dibuat terkejut dengan kebenaran yang baru saja mereka dengar.


“Oleh sebab itu--”


“Bahaya! Gadis suci sedang dalam kemarahannya! Kerajaan ini dalam bahaya!!” Teriakan salah satu warna membuat ucapan Ned terpotong.


Kelimanya menoleh ke asal suara, bahkan para rakyat yang berada di ibukota semuanya ricuh dan berlari untuk menyelamatkan diri.


Namun belum sempat berlari jauh, sebuah cahaya dari langit mengalihkan perhatian para rakyat yang tengah rusuh.


“Cahaya itu! Itu adalah cahaya dari gadis suci!”


“Apa gadis suci benar-benar marah? Tapi apa penyebab hingga beliau menjadi marah?”


“Ya Dewa, tolong maafkan kesalahan yang kami lakukan pada gadis suci. Tolong redakan amarahnya.”


Semua rakyat yang melihat cahaya itu menyatukan tangan di depan dada memohon sambil menunduk dengan mata tertutup.


Cahaya menyilaukan itu seperti sebuah anak panah yang dengan cepat melesat ke bawah, tepat di mana Ethelyne berdiri. Cahaya itu seolah terserap ke dalam tubuhnya, lingkaran sihir yang terus menguarkan cahaya yang hangat tiba-tiba muncul di bawah gadis itu. Ukuran lingkaran sihir sangat besar, kira-kira. 10 kali lebih besar dari lingkaran sihir pada umumnya.

__ADS_1


“Lihat! Dia adalah gadis suci yang asli!” Salah seorang rakyat menunjuk ke arah Ethelyne yang berdiri di tengah-tengah lingkaran sihir dengan mata tertutup dan kedua tangan yang disatukan di depan dada memohon.


Para rakyat lain yang melihat hal itu segera bersujud.


“Maafkan kesalahan kami, Lady.”


“Maafkan semua kesalahan kami, Lady.”


“Maafkan kami yang tidak bisa mengenali Anda.”


Berbagai ucapan permintaan maaf terlontar dari mulut semua rakyat yang bersujud dan memohon ampun.


Perlahan-lahan, jubah yang menutupi Ethelyne terbakar oleh api. Jubah itu berubah menjadi abu dan terbang terbawa angin.


Karena tidak ada lagi jubah yang digunakannya, gaun berwarna biru yang dipakainya kini terlihat jelas. Sangat indah dengan permata biru dan merah yang berada di gaunnya.


Ethelyne membuka matanya, warna matanya yang awalnya emas berubah kembali menjadi biru. Namun sebelah warna matanya tetaplah merah darah.


“Semuanya, aku tidak menyalahkan kalian.”


Kedua pangeran, Zion, Ned, dan Aelene yang tidak jauh dari tempat cahaya jatuh merasa penasaran dan mendekat. Kelimanya tampak terkejut saat melihat orang yang sangat familier di mata mereka.


“Rimuru?!” kata Ned, Zion, Zachary, dan Aelene bersamaan. Meskipun sudah menduganya, namun Eadric tetap terkejut saat melihat gadis itu muncul di tengah ibukota, apalagi sebagai seorang gadis suci.


“Tidak, tidak. Warna rambutnya sangat berbeda dengan Rimuru.” Aelene menggeleng, dia sempat terkejut karena mengira orang itu adalah Rimuru. Namun saat melihat warna rambutnya, rasa lega langsung memenuhi hatinya.


Aelene menoleh ke arah Eadric yang sedari tadi pandangannya tak lepas dari gadis yang mengaku gadis suci itu, begitupun dengan ketiga pria itu.


“Dia bukan Rimuru, apa kau lupa? Rimuru memiliki rambut berwarna biru!”


Eadric menatap Ned dan Zion. “Dia menggunakan sihir manipulasi untuk mengubah warna rambutnya, kalian melihatnya sendiri. Kan? Dia mengubah rambut dan matanya menjadi emas, bukanlah hal sulit baginya untuk mengubah warna rambutnya menjadi biru.”


“Jangan bercanda deh! Itu tidak lucu sama sekali!” Aelene tentu belum bisa menerima semuanya, bagaimana mungkin gadis lucu yang bersikap kekanak-kanakan itu adalah seorang gadis suci.


“Aku tidak berbohong, kau tanyakan saja padanya nanti.”


Aelene yang memang tak percaya akan ucapan Eadric nekat melangkah maju, Zachary berusaha menghentikan tunangannya itu namun gagal. Dia justru dipelototi oleh sang tunangan yang sedang dalam suasana hati yang buruk.


“Kak, apa kau sungguh yakin dia itu Rimuru? Mungkin saja itu orang lain yang mirip dengan gadis itu.”


“Benar, Eadric. Kau ingat kan, ucapannya dulu.”


Sementara keduanya berusaha membujuk Eadric, Ned hanya diam tak berkutik. Ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat mereka membawa Ethelyne ke hutan gelap.


Ned menatap Eadric yang masih kokoh dengan ucapannya. ‘Apa Ratu iblis itu … benar-benar si gadis penyihir?’



__ADS_1


“Aku melakukan hal ini bukan karena kemarahanku pada kalian yang tidak dapat mengenaliku sebagai gadis suci.” Ethelyne menatap semua rakyat yang kini bersujud, dia benar-benar tidak nyaman melihat hal tersebut. Namun jika dia menundanya semakin lama, maka kemungkinan besar dia tidak akan bisa menahan rasa sakit yang kini hampir menguasai seluruh tubuhnya.



“Maafkan kami, gadis suci. Kami seharusnya bisa mengenali Anda dengan baik.”



“Kami sungguh minta maaf.”



“Kami semua meminta maaf!” kata semua rakyat serentak.



“Sudah kukatakan, ini bukan …” Ethelyne menutup mulutnya, saat dia menatap tangannya. Tangannya telah berlumuran darah, dengan cepat. Ethelyne menyembunyikan tangannya di balik gaunnya. “Kalian jangan seperti ini, tolong angkat kepala kalian. Jika tidak, mungkin saja Para Dewa berpikir aku telah menyiksa kalian semua.”



“Maafkan kami, Lady!”



“Kami minta maaf!”



Ucapan maaf dan penyesalan mereka belum selesai juga, Ethelyne menghela napas. Dia yang tidak henti-hentinya terbatuk darah benar-benar menyusahkan.



Tiba-tiba, seseorang menarik gaunnya pelan. Ethelyne menunduk dan menatap seorang gadis kecil yang menjulurkan saputangan ke arahnya.



Dengan raut wajah bingung, Ethelyne memiringkan kepalanya.



Gadis kecil itu memberi isyarat dengan tangannya, Ethelyne yang mengerti akan isyarat tersebut hanya tersenyum tipis dan menyesuaikan tingginya dengan anak kecil itu.



“Gunakanlah saputangan ini, atau Kakak Lady akan ketahuan,” bisik gadis kecil itu.



Ethelyne tersenyum tipis. “Terima kasih, tapi siapa yang memberikanmu saputangan ini?”

__ADS_1


__ADS_2