
“Itu bukan masalah.” Kathelyne melirik ke arah lain. “Lagipula aku juga tidak menyukai mereka.”
“P-pokoknya jangan khawatir, aku meminta Mili untuk menyimpan mayat keduanya dan merawatnya sebaik mungkin. Apabila Kathel ingin menghidupkan mereka kembali, aku tidak akan keberatan.” Ethelyne menunduk, meski berkata demikian. Tapi hatinya tetap berdenyut nyeri. ‘Tidak boleh begini, Ethel! Kau harus memikirkan kebahagian Kathel juga!’
“Kau ini bodoh ya.” Kathelyne menyentil dahi Ethelyne dengan senyum tipis. “Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu, aku juga tidak ingin membuat mereka menjadi monster. Karena pada dasarnya, jiwa keduanya telah menghilang dari dunia iblis.”
“Maaf,” cicit Ethelyne sambil memegang dahinya yang memerah akibat sentilan Kathelyne. “Seharusnya aku tidak membunuh dan hanya mengurung mereka, tapi karena bertindak tanpa pikir panjang. Aku jadi membuat Kathel sakit hati, aku memang orang yang payah.”
“Hei, jangan berkata seperti itu.” Kathelyne menatap Ethelyne dengan senyum manis yang terus menghiasi wajahnya. “Aku sendiri ingin menghabisi keduanya sejak awal, tapi karena kau membunuh mereka lebih awal. Aku jadi tidak bisa membunuh keduanya dengan tanganku sendiri.” Dia menghela napas berat.
“Sungguh?” tanya Ethelyne dengan mata berkaca-kaca. “Kau tidak marah karena aku membunuh kedua kakakmu? Mau bagaimanapun, kau dan keduanya adalah saudara.”
“Saudara tiri maksudmu.” Kathelyne berdiri dan mengarahkan tangannya ke Ethelyne. “Ayo kita masuk, aku akan segera kembali ke istana. Sebelum benar-benar pergi, aku akan merekam suaramu di ingatanku. Jadi saat aku merindukan sahabatku, aku akan bisa mengingatmu.”
“Tidak mau!”
Kathelyne menatap Ethelyne bingung. “Kenapa?”
“Karena aku tidak mau berpisah dari Kathel! Aku tidak mau berpisah dengan kau, aku hanya ingin dengan kau. Kau adalah saudari sekaligus sahabatku yang terakhir, aku mohon.” Ethelyne menggenggam kedua tangan Kathelyne sambil menunduk dengan air mata berlinang. “Aku benar-benar memohon, jangan membuangku … aku tidak, memiliki siapapun lagi.”
“E-ethelyne, kau salah paham. Aku tidak bermaksud membuang--”
“Aku mohon …” Ethelyne sama sekali tidak mendengar ucapan Kathelyne, dia hanya terus memohon sambil menunduk dengan air mata berlinang. “Jangan tinggalkan aku.”
Kathelyne menarik napas dalam-dalam. “Baiklah, aku akan membawamu kembali. Jadi berhentilah menangis karena aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Sungguh?” tanya Ethelyne sambil mendongak dan menatap Kathelyne dengan mata sembab.
“Ya, jadi berhentilah menangis dan bangunlah. Jika dalam hitungan ketiga kau tidak berdiri dan berhenti menangis, maka aku akan pergi dan tidak membawamu kembali! Satu, dua. Tig--”
Ethelyne buru-buru berdiri sambil mengusap matanya dengan kasar dan menatap Kathelyne serius dengan mata sembabnya. “Aku sudah berdiri dan berhenti menangis, sekarang bawa aku kembali.”
Kathelyne terdiam sejenak, dia tersenyum tipis dan mengacak rambut Ethelyne. “Ayo kita kembali ke rumah.”
“Iya.” Ethelyne tersenyum sangat manis hingga matanya tampak menyipit.
“Jadi Anda menangis sampai mata Anda sembab hanya karena tidak ingin ditinggalkan??” tanya Mili sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Ethelyne menatap Mili kesal, dia mengalihkan pandangannya ke arah Kathelyne dengan niat protes. Namun tidak berani dia sampaikan karena melihat Kathelyne yang tampak sibuk dengan berkas-berkasnya hingga tidak istirahat.
“Mili, menurutmu. Kenapa Kathel hanya terus bekerja tanpa istirahat? Padahal, di ruang lain Gareth dan yang lainnya juga bekerja tanpa istirahat. Tapi kenapa aku merasa berkas-berkasnya malah semakin menumpuk?” bisik Ethelyne pada Mili di sampingnya.
“Oh, itu ya. Itu karena Yang Mulia Ratu harus mengerjakan dokumen dari istana lain, kau tau kan. Bukan hanya kerajaan ini saja di dunia bawah, banyak kerajaan lain dan Yang Mulia sebagai Ratu Kegelapan turun andil untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Itu sebabnya pekerjaannya terlihat semakin menambah, lagipula. Iblis tidak akan pernah merasakan lelah meski bekerja selama berabad-abad.”
“Mungkin tubuh mereka tidak lelah, tapi …” Ethelyne menatap Kathelyne sayu. “Otak mereka juga pasti lelah, aku pernah merasakannya.”
“Hem? Merasakan apa?”
“Perasaan muak, kesal, marah, bosan, dan jenuh dengan pekerjaan yang sama saja setiap saat. Tanpa hiburan ataupun udara segar, otak akan menjadi sangat kelelahan. Aku ingin membantu Kathel, tapi aku takut. Aku takut aku hanya akan menghambat pekerjaannya dan malah menambah beban pikirannya, dan juga.” Ethelyne berbaring dan menutup matanya dengan lengan. “Aku tidak tau apa-apa soal politik, apalagi dunia iblis. Hah, otakku rasanya mau meledak hanya dengan memikirkannya.”
“Memang sih.” Mili ikut membaringkan tubuhnya di samping Ethelyne. “Aku juga kadang kesal karena terus tinggal di hutan gelap dan hanya melakukan pekerjaan yang sama terus, sepertinya aku mengerti perkataanmu sekarang … bagaimana kalau kita bantu Yang Mulia Ratu?”
“Yah, contohnya seperti mengerjakan tugas di istana ini atau membantunya mengikuti perjamuan di kerajaan lain. Pasti Yang Mulia Ratu akan setuju kalau kau yang memintanya, lagipula kau adalah satu-satunya orang yang berharga sebelum Meli.”
“Apa kau yakin? Padahal tadi, aku harus merengek terus baru Kathel setuju membawaku kembali.” Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Jika aku hanya diam saja, apa dia akan meninggalkanku di dunia manusia bersama Eadric?”
“Eadric?” Mili tiba-tiba bangun dan membuat Ethelyne menatapnya bingung. “Maksudmu Eadric yang pernah menjadi tawanan itu?”
“Iyap~ memangnya kenapa?”
__ADS_1
“Tidak, tidak. Aku hanya mendengar rumor kalau kau itu menyukai Eadric, tapi melihat kau yang tidak mau tinggal bersamanya. Sepertinya semuanya hanya benar-benar rumor.”
‘Tidak kusangka iblis kita suka bergosip,’ batin Ethelyne canggung, dia tersenyum sangat manis meski terkesan dipaksakan. “Ya-yang pasti, itu hanyalah rumor saja kan. Lagipula, bagaimana mungkin aku menyukai manusia. Meski aku seorang gadis suci, tapi aku pernah menjadi setengah iblis dan aku juga bisa mendengar suara batin Kathel. Selain itu--”
“Lebih baik kalian tidur daripada bergosip tanpa faedah.”
Ethelyne dan Mili menoleh ke arah Kathelyne yang berbicara dengan pandangannya yang terus terarah ke berkas-berkasnya.
“Tapi kan aku masih mau berbicara dengan Mili, kapan lagi aku punya teman bicara. Kau juga sangat jarang memanggil Mili, Laurie pun juga sangat jarang berbicaralah denganku. Bahkan Vio pun tidak pernah berbicara denganku lagi sejak hari itu, kenapa kalian semua mengesalkan sih!” omel Ethelyne sambil bangun dan menatap Kathelyne kesal, namun dia hanya dibiarkan mengomel tak jelas tanpa balasan apapun dari sang empu. “Kathel!”
“Kubilang tidur, jika tidak.” Kathelyne melirik Ethelyne datar.
“Cih, padahal tadi saja sangat baik padaku. Tapi dalam sepekian detik langsung berubah tak jelas, dasar bunglon!!” Ethelyne berdiri dan berjalan ke kamarnya sambil menghentakkan kakinya kesal.
“Mili kau kembalilah.”
“Tapi--”
“Kembali!” tekan Kathelyne di setiap katanya ditambah tatapan tajam yang diarahkan ke roh kegelapan itu.
Mili yang tidak bisa menang hanya bisa menghela napas dan kembali ke hutan gelap dengan setengah hati.
__ADS_1
“Dasar, mereka berdua sangat berisik sampai membuatku tidak bisa fokus,” gumam Kathelyne sambil memijat pelipisnya pusing. ‘Oh iya, aku masih harus mencari tau soal jiwa naga itu yang ada di bersatu dengan kekuatan Ethel. Argh!! Tugasku benar-benar menumpuk hingga otakku ingin meledak.’