
“Kenapa?? Kenapa harus ibuku?” tanya Ethelyne terisak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dirinya kini berada di tengah hutan gelap setelah pesta itu berakhir lebih cepat dari yang dijadwalkan. “Kenapa?” tanyanya sesegukan, sakit. Itulah yang dirasakannya sekarang, rasa sakit yang sudah dilupakannya kembali muncul dan seolah menggerogoti tubuhnya. “Kenapa? Kenapa Dewa sangat tidak adil!! Kenapa?!” teriaknya sembari mendongak ke langit.
Tiba-tiba, seseorang memeluknya dari belakang. “Ethelyne …” Suara yang amat familier menyapu telinganya, suara yang terdengar lembut dan hangat.
“Kenapa?” tanya Ethelyne lirih, tiba-tiba. Warna matanya berubah biru sedetik sebelum kembali berwarna merah. “Apa kesalahanku sampai sangat dibenci oleh Dewa? Aku berusaha, berusaha sangat keras untuk tidak menghabisi manusia. Aku hanya ingin berdamai, tapi kenapa? Kenapa hal ini justru terjadi padaku?”
“Ini bukan kesalahanmu sama sekali, kau tidak salah. Ethelyne.”
Ethelyne menangis sesegukan. “Kenapa aku tidak pernah bisa menerima kasih sayang dan cinta sejak kecil? Sejak kecil, kehidupan masa kecilku direnggut dan keadaan memaksaku untuk dewasa lebih awal. Kenapa? Aku juga ingin hidup seperti manusia pada umumnya, setidaknya. Menjadi iblis biasa yang hidup bahagia, tapi kenapa takdirku justru berbeda? Aku tidak butuh kekuasaan dan harta, aku hanya ingin ada yang mencintaiku dan menyayangiku dengan tulus. Apa sesulit itu? Bahkan, saat aku memiliki satu orang yang perduli. Dia pergi saat aku benar-benar membutuhkannya, apa aku sesial itu sampai tidak bisa merasakan cinta dan kasih sayang? Apa sesulit itu untukku?”
Orang itu melepas pelukannya dan memaksa Ethelyne berbalik ke arahnya, dia mengusap pipi gadis itu. Matanya tampak sembab karena banyak menangis. “Aku bisa mencintaimu dengan tulus, kau tidak sendirian. Ethelyne, aku akan selalu ada di sampingmu apapun yang terjadi.”
Ethelyne menatapnya dengan sayu, dia tersenyum miris. “Kau salah, Eadric. Kau mencintai jiwa lain dari diriku, dari pandangan kalian semua. Aku hanyalah iblis hina yang hanya bisa menikmati kehidupan mewah dan memangsa manusia sesuka hati, padahal … padahal aku hanya ingin membantu kalian.”
“Sssth.” Eadric meletakkan jari telunjuknya di bibir gadis di hadapannya, dia tersenyum tipis. “Aku mengerti, aku selalu mempercayaimu. Tidak perduli kau jiwa iblis ataupun jiwa suci, aku tetap akan mencintaimu. Selamanya, aku hanya akan mencintaimu seorang. Ethelyne.” Eadric mendekap erat tubuh rapuh gadis di hadapannya.
“Aku sangat lelah dengan kehidupan,” kata Ethelyne tiba-tiba. “Aku lelah berpura-pura bahagia, aku tidak bisa menjadi seperti dia. Yang selalu tersenyum dan ramah meskipun dia merasakan rasa sakit yang membuatnya ingin mati, dia yang selalu bersikap kasar dan menyebalkan meski dalam dirinya adalah seorang yang lembut dan penyayang. aku tidak bisa seperti dia yang diterima semua orang, mungkinkah … dia juga akan menangis saat ada di dalam posisiku saat ini?”
“Sssth, kau tidak perlu memikirkan hal itu.” Eadric mendekap Ethelyne dengan sangat erat, seolah gadis itu akan menghilang jika dia lengah sedikit saja.
“Aku sangat lelah, Eadric. Kehidupan selalu saja mempermainkanku, luka yang selama ini berusaha kusembuhkan malah kembali terbuka dan bahkan lebih menyakitkan.” Ethelyne terisak.
“Ethel,” panggil Eadric lembut. “Maukah kau memberitahuku kenapa kau mengurung kami semua di sini? Bukankah kau bilang ingin membantu kami.”
Ethelyne mendongak dan membuat tatapan keduanya bertemu. “Aku tidak bisa memberitahumu.” Dia menunduk sambil mengalihkan pandangannya. “Saat semuanya benar-benar menghilang, maka kau akan tau dengan sendirinya.”
“Baiklah, terserah kau saja. Aku tidak akan memaksamu.” Eadric menatap lurus ke depan, ke hutan gelap yang seolah tidak memiliki batasan sama sekali. ‘Sebenarnya, apa yang sudah kau alami selama ini?’
Eadric yang merasakan napas Ethelyne mulai teratur menunduk dan menatap gadis itu yang sudah tertidur lelap, wajahnya yang tertidur benar-benar terlihat sangat polos dan imut.
“Eadric.”
Eadric menoleh ke belakang, keningnya tampak mengerut melihat keempat teman-temannya. “Kenapa kalian bisa ada di sini?”
“Yah, bagaimana ya?” Zachary menggaruk pipinya yang tak gatal. “Kami melihatmu pergi dengan tergesa-gesa, jadi kami diam-diam mengikutimu.”
“Sudah berapa lama kalian ada di sini?” tanya Eadric sembari menggendong Ethelyne ala bridal style.
“Tidak lama, mungkin saat kau memeluk Ethelyne dari belakang,” jawab Zion dengan tampang polosnya, namun langsung dihadiahi tatapan tajam oleh ketiga temannya yang lain. “Apa? Aku tidak salah bicara kan, kita memang sudah di sini saat Eadric memeluk Ethelyne.”
Ketiganya menatapnya kesal, mereka diam-diam melirik Eadric yang diam sembari menatap mereka datar seolah mencari jawaban.
“Ahahaha, sebenarnya. Kami tadi tidak sengaja melihat sedikit, ingat. Hanya sedikit!”
__ADS_1
Eadric berdecak, dia berjalan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
“Hei! Tunggu kami, di sini sangat gelap tau!!” Keempatnya segera menyusul Eadric yang semakin menjauh.
‘Kuharap aku bisa meringankan beban di hatimu suatu hari nanti, Ethelyne Blisterzz.’
“Hahaha, maaf. Kalian jadi melihat sisi anehku kemarin,” kata Ethelyne sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia benar-benar malu mengingat kejadian tadi malam.
“Tidak apa-apa kok, itu membuktikan kalau kau itu masih memiliki hati.” Aelene tersenyum manis namun berbeda dengan Ethelyne yang tiba-tiba mendapat firasat buruk.
“Bagaimana keadaanmu hari ini? Kau menangis sampai matamu bengkak kemarin.”
Ethelyne menatap kesal Eadric. “Aku tau! Kau tidak perlu mengingatkankan--”
“Apa?? Tapi kenapa bisa??”
“Aku tidak tau, pokoknya kau ikut aku saja!” Vivian menggenggam tangan Ethelyne dan langsung menghilang.
“Eadric, Ethel …”
“Aku juga khawatir, semoga saja dia baik-baik saja.”
__ADS_1
“Yup! Semoga dia baik-baik saja!” kata Zachary dengan semangat, namun dia justru ditatap tak jelas oleh keempat temannya.
“Aneh.”
~~~♥~~~
“Murey, apa yang terjadi??” tanya Ethelyne yang tiba di gua tempat jiwa suci dipulihkan.
“Namaku Murry--”
“Tidak perduli!! Apa yang terjadi pada jiwa sucinya??”
Murry berdecak, dia melirik ke dalam berier. Ethelyne mengikuti arah pandangan Murry, pandangannya langsung jatuh pada seorang gadis yang seolah diikat oleh rantai. Aura berwarna-warni terus saja masuk ke tubuhnya tanpa bisa dihentikan, bahkan. Warna rambutnya perlahan-lahan berubah putih.
“Apa, apa yang terjadi padanya?”
“Aku juga tidak tau, tapi sepertinya energi sihir di sekitaran diserap olehnya. Terlebih lagi, bukan hanya sihir cahaya. Tapi seluruh energi sihir yang ada di hutan para roh, jika ini terus terjadi. Kemungkinan besar dia tidak akan bisa menahan besarnya kekuatan dari kesebelas sihir dan melebur seperti besi.”
“Apa tidak ada cara untuk menyelamatkannya??”
“Tentu ada, aku sudah menyiapkan manusia yang cocok.” Murry menoleh ke arah lorong gua yang tampak sepi.
__ADS_1
Namun, sedikit demi sedikit. Terlihat pria berambut perak yang berjalan mendekat sembari menyeret seseorang.