Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
29. Bandit


__ADS_3

Ethelyne berdecak, dia bergeser dan membiarkan tubuh Dior jatuh ke lantai berlumuran darah. “Kenapa kau malah mengambil mangsaku?”


“Aku tidak suka melihat kau dekat-dekat dengannya!”


Ethelyne bersedekap dada dengan senyum usil. “Apa kau cemburu?”


“Untuk apa?”


Ethelyne berjongkok dan mengecek denyut nadi Dior. “Ya, siapa tau kau diam-diam menyukaiku kan.” Dia mencabut anak panah yang masih bersarang di perut Dior. “Lukanya cukup parah, denyut nadinya juga melemah. Lebih baik aku menggunakannya,” gumamnya sambil mengeluarkan botol berukuran kecil dari balik gaunnya.


“Apa itu?”


Ethelyne membuka tutup botol dan menuangkannya ke luka Dior. “Obat penyembuh, aku yang membuatnya sesuai resep tabib. Tapi …” Dia mendongak dengan jari di atas bibir. “Aku mengubah sedikit resepnya, itu tidak akan memengaruhi penyembuhan.” Ethelyne kembali menunduk dan menatap luka Dior yang mulai sembuh. “Tapi dia akan merasakan rasa sakit yang lebih besar dari kematian.”


“Untuk apa? Bukankah dia tak sadarkan diri, percuma saja ramuanmu itu.”


Ethelyne tersenyum tipis, dia menatap anak panah yang ada di lantai. “Kau tidak tau apa-apa, Yang Mulia. Ramuan yang kubuat bukan sekedar ramuan biasa, dia akan mulai merasakan rasa sakit saat tersadar. Selain itu, aku menambah racun yang dapat membuat organ dalamnya membusuk.”


“Tunggu! Lalu bagaimana kita menginterogasinya nanti??”


Ethelyne berdiri dan berjalan ke arah meja rias, dia kembali duduk dan melepaskan kalungnya. “Itu bukan hal yang sulit, aku telah melindungi jantung dan hatinya. Selama jantungnya terus berdetak, dia tidak akan mati meskipun seluruh organ dalamnya membusuk.”


“Bagaimana itu bisa terjadi?”


Ethelyne menatap pantulan cermin Eadric yang terlihat kebingungan, dia tersenyum tipis. “Tidak ada hal yang mustahil bagiku, Yang Mulia. Aku mungkin bukan ahli racun, tapi salah satu temanku sangat ahli dalam membuat racun jenis apapun. Dia bahkan bisa menggunakan racun mematikan untuk membuat tubuh seseorang membusuk tapi jantungnya tetap berdetak dan hidup, dia bisa membuat seluruh tubuh seseorang lebur namun jantungnya tetap berdetak dan paru-parunya tetap bekerja.”


“Bagaimana … caranya?”


“Aku tidak tau.” Ethelyne melepaskan anting-antingnya. “Yang pasti, dia menggunakan bahan-bahan yang akan membuat seseorang tak sadarkan diri atau bahkan mati karena terkejut.”


“Maksudmu?” Eadric mengerutkan keningnya, dia sama sekali tak mengerti ucapan Ethelyne sama sekali.


“Jantung, paru-paru, hati, usus, semua organ dalam manusia dibutuhkan untuk membuat ramuan itu. Mungkin akan terasa menjijikkan, tapi temanku mencampurkan organ dalam ke racunnya. Kau akan tau apa maksud dari perkataanku ketika mendatangi rumahnya.”


“Begitu, ya? Omong-omong, kenapa warna rambutmu menjadi cokelat? Apa kau masih memanipulasi warna rambutmu?”


Barulah Ethelyne tersadar tentang warna rambutnya, dia tersenyum kikuk. “Y-yah, aku ingin melihat penampilanku dengan warna rambut yang berbeda. Ternyata tidak buruk.” Ethelyne menutup matanya, saat dia membuka matanya lagi. Warna rambut dan matanya telah kembali biru, barulah dia bernapas lega. ‘Aku pikir aku akan ketahuan, untung saja Eadric sudah tidak curiga jadi tidak membuatnya bertanya banyak hal.’


“Begitu ya? Cepat ganti pakaianmu, kita akan segera kembali ke istana.”


“Ok.”




Ethelyne meregangkan otot-otot bahunya. “Eugh, aku sangat lelah.”



“Istirahalah sebentar, masih memerlukan banyak waktu untuk kembali ke istana.” Eadric menatap ke luar jendela dengan wajah malas.



“He'em.” Ethelyne menutup matanya, tidak berselang lama. Dia tertidur sambil bersandar di kereta kuda.



“He, Eadric. Bukankah gadis ini sangat mirip dengan Alyssa?” bisik Zion pelan, dia melirik Ethelyne. Tangannya terasa gatal untuk menarik cadar yang selalu menutupi wajah gadis itu.

__ADS_1



“ … ”



“Hei! Aku sedang berbicara dengan kau!”



“Memang apa urusanmu, apa kau ingin mengambilnya lagi?”



Zion bersedekap dada. “Tidak juga sih, mau bagaimanapun. Aku akan tetap setia dengan Alyssa seumur hidupku.”



“Oh.”



“Cih, tidak asik sekali.” Zion menoleh keluar jendela, dia terdiam sambil mengamati pepohonan di sekitar. “Apa kau juga merasakan hal aneh?” tanyanya berbisik.



Eadric hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya.



“Apa menurutmu, pria yang menjalankan kereta kuda bukanlah bawahanmu?”




“Hem? Ada apa?”



“Tuan Duke, beberapa-- argh!”



Setelah teriakan itu, suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Zion yang merasa ada yang aneh segera turun dari kereta kuda, pandangannya langsung terarah ke Eadric dan yang tengah berhadapan dengan banyak bandit dalam jarak yang cukup jauh dari kereta kuda.



“Wah, wah. Kenapa si Eadric itu tidak memanggilku untuk bersenang-senang?” Zion melangkah ke arah Eadric dan berdiri di sampingnya. “Aku tidak tau kau sedang bermain permainan yang menarik.”



“Jangan banyak mengoceh, ayo kita habisi mereka semua sebelum Rimuru bangun.” Eadric mengambil belati yang tersembunyi di balik pakaiannya, dia melempar satu belati ke arah Zion dan menyerang para bandit terlebih dahulu.



“Oh ayolah, seharusnya kau mengajakku bermain.” Zion mengangkat belati di tangannya dan membantu Eadric menghabisi para bandit.


__ADS_1


Di tengah kesibukan keduanya, seseorang menyelinap ke kereta kuda dan menyandera Ethelyne yang masih tertidur lelap.



“B-berhenti melawan atau gadis ini akan mati!” kata seorang pemuda tergagap-gagap.



Eadric dan Zion berhenti menyerang, keduanya menoleh ke asal suara.



“Jangan menjadi pengecut dengan menyandera seorang gadis! Jika berani, lawan aku sendirian!” teriak Zion, dia hendak melangkah maju namun langsung dihentikan oleh Eadric. “Eadric, kenapa kau hanya diam dan berdiri saja??”



“Tetap di sana, dan jatuhkan senjatamu,” gumam Eadric pelan.



“Kenapa kau melakukan hal ini??”



“Menurut saja.”



Zion berdecak, dia melempar belatinya ke belakang. Begitupun dengan Eadric yang meletakkan belatinya.



Seorang bandit turun dari kuda dan memungut kedua belati itu, dia kembali ke ketuanya dan menyerahkan kedua belati itu.



“Kami tidak akan melawan, lepaskan gadis itu sekarang.”



“G-gadis ini sepertinya sangat berharga bagimu, j-jika begitu. A-aku akan membunuhnya saja.” Pemuda itu mendekatkan belati hingga menggores leher Ethelyne dan mengeluarkan darah.



Tiba-tiba, Ethelyne memegang belati itu dan membuat si pemuda tidak bisa menggerakkan belati meski telah menggunakan energi sihirnya.



“Berisik sekali, apa kalian tidak bisa diam sebentar saja?” tanya Ethelyne sambil membuka matanya, dia melirik belati yang kini menyentuh lehernya. Ethelyne menggenggam pergelangan tangan pemuda itu hingga hampir saja remuk.



Untungnya, pemuda itu dengan cepat melepaskan belati dan hendak kabur. Namun Ethelyne tak juga melepaskan cengkeramannya.



“Hoamm, jangan pernah berpikir untuk kabur setelah menganggu tidur siangku.” Ethelyne menjentikkan jarinya, dua serigala berbulu abu-abu dengan mata merah darah tajam tiba-tiba keluar dari bayangannya.


__ADS_1


Kedua serigala itu segera menerjang pemuda itu dan mengakarnya, menggigitnya, dan memakannya hidup-hidup.


__ADS_2