Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
94. Ilusi Kematian (5)


__ADS_3

“Woah, aku tidak sangka akan ada taman bunga seindah ini di tengah hutan. Bagaimana kau bisa tau letaknya?” tanya Ethelyne dengan tatapan takjub.


“Apa kau suka? Tempat ini adalah tempat saat pertama kali aku dan kau bertemu, saat itu. Tempat ini masih dipenuhi pohon-pohon yang rindang, tapi berkat bantuan Josua. Tempat ini jadi taman bunga yang indah, apa kau tau.”


“Hem?”


“Ketika kita menikah nanti, aku ingin kita membuat rumah di hutan ini. Jadi, setiap kau bangun. Kau akan langsung melihat taman bunga yang indah.”


Ethelyne mengalihkan pandangannya. “Dasar!”


“Aku tidak bercanda loh.” Erik menggenggam kedua tangan Ethelyne dan menatap gadis itu serius. “Ethelyne Envuella, aku ingin kau jadi pendamping hidupku selamanya. Tidak perduli apapun yang terjadi nantinya, aku hanya akan mencintaimu sepenuhnya dan tidak akan berpaling ke gadis lain.”


Ethelyne menatapnya dengan senyum. “Kuharap kau bisa menepati janjimu, Erik.”


“Aku berjanji akan memenuhi semua ucapanku tadi.”


Ethelyne yang melihat raut serius Erik terkekeh kecil. “Baik, baik. Akan kutunggu sampai kau siap untuk menikahiku, tapi jika kau terlalu lama. Mungkin saja aku akan berpaling ke pria lain.” Dia memasang raut semenyedihkan mungkin.


“Gadis pintar.” Erik tersenyum sambil mengacak rambut Ethelyne.


“Ihh! Rambutku jadi berantakan kan!” kesal Ethelyne sambil merapikan rambutnya, namun kembali diacak-acak oleh Erik. “Erik!”


“Hahaha, baik. Baik, tidak akan kuganggu lagi. Tunggu di sini, aku akan mengambil sesuatu.” Erik berlari pergi dan meninggalkan Ethelyne di depan hamparan bunga.


Gadis itu menatap sosok pria yang dicintainya makin menjauh dan menghilang dalam hutan, Ethelyne menghela napas. Dia menatap bunga-bunga di hadapannya. ‘Kenapa perasaanku sangat aneh? Ada apa denganku sebenarnya? Aku seolah tidak bisa mengerti diriku sendiri, kupikir. Aku merasa kosong karena Erik tidak ada di dekatku, tapi setelah kucek tadi. Aku tetap merasa kosong meski dia ada di sampingku.’


“Itu karena kau kehilangan setengah hatimu.”


Ethelyne menoleh ke asal suara, tatapannya berubah waspada saat melihat pria asing berambut biru yang berjalan ke arahnya dengan santainya.


“Siapa kau! Jangan mendekat atau kau akan menyesal!”


“Tidak perlu khawatir, aku tidak akan melukaimu.” Pria itu berhenti dalam jarak lima langkah dari Ethelyne, dia menatap datar gadis di hadapannya. “Lama tidak bertemu, jiwa suci.”


“Jiwa, jiwa suci?? Apa maksudmu??” tanya Ethelyne bingung, dia sama sekali tidak mengerti dengan yang dikatakan pria asing di hadapannya.


“Seharusnya kau tidak tinggal di sini terlalu lama, Lady Ethelyne Virgian. Teman-teman dan keluargamu menunggumu di dunia nyata.”


“Apa, apa maksudmu sebenarnya??” Ethelyne melangkah mundur menjauhi pria itu. “Keluarga dan teman-temanku ada di sini, aku tidak mengenal kau sama sekali! Pergi dan jangan menemuiku lagi.”


“Maaf, Lady Ethelyne. Tapi aku tidak bisa pergi tanpa membawamu.” Pria itu semakin mendekat dan membuat Ethelyne melangkah mundur terus menerus.


Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung berbalik dan berjalan pergi. Namun anehnya, pria asing itu tiba-tiba muncul di belakangnya dan membekap mulutnya.


“Hmph!!” Ethelyne berusaha memberontak, namun kesadarannya perlahan-lahan menghilang. Tiba-tiba, muncul banyak memori layaknya kaset rusak di otaknya. Rasa sakit membuatnya ingin berteriak, penglihatannya semakin mengabur dan menggelap. ‘Ingatan … siapa itu?’




“Mika, apa yang terjadi pada Ethelyne?!” tanya Ethelyne sambil menggoyang-goyangkan bahu Mika dan membuat roh cahaya itu pusing.



Bagaimana dia tidak khawatir, setelah sebulan sejak terakhir kali dia menemui jiwa sucinya. Semuanya masih berjalan lancar, namun sebulan kemudian. Dia mendapat kabar kalau energi yang dihisap jiwa sucinya tidak wajar dan bisa saja terjadi ledakan energi.



“T-tenanglah dulu, aku juga tidak tau apa yang terjadi.”

__ADS_1



“Bagaimana aku bisa tenang! Kau bilang kalau semuanya baik-baik saja, lagipula. Bukankah Murry dan William juga bilang kalau semuanya baik-baik saja, kenapa hal ini tiba-tiba terjadi?!”



“Tolong tenanglah, Ratu. Saya dan para roh lainnya akan mengecek keadaan terlebih dahulu, karena jika terlalu berbahaya. Bahkan Tuan William dan Murry juga akan--”



“Aku tidak perduli pada mereka! Pokoknya, stabilkan energi sihirnya segera atau kau akan habis di tanganku!” Ethelyne sempat melirik jiwa sucinya, dia dapat dengan jelas melihat energi sihir yang berbeda-beda masuk ke dalam tubuh jiwa sucinya itu tanpa bisa dikendalikan. ‘Semoga kau benar-benar baik-baik saja.’ Ethelyne berbalik dan berjalan keluar dari Gua. ‘Sial! Apa yang harus kulakukan sekarang?’



~~~♥~~~



“Yang Mulia, ada kabar buruk!”



“Diamlah sebentar, kabar apa sampai kau terlihat sangat khawatir dan tergesa-gesa?” tanya Ethelyne yang sedang dalam suasana hati yang buruk.



Tawanan Anda yang bermata ungu itu, dia sedang tidak sadarkan diri. Teman-temannya yang lain juga tidak tau apa yang terjadi.”



“Astaga! Dia tidak minum racun lagi kan??”




Ethelyne berdecak. “Dia pikir aku tabib yang bisa diperintah sesuka hati?! Minta tabib untuk mengecek keadaan pria itu, setelah itu. Beritahu keadaannya padaku.” Dia duduk sambil memijat pangkal hidungnya. ‘Jika bukan karena teringat dengan dia, aku pasti membiarkanmu mati. Dasar pria merepotkan!’



“Yang Mulia!”



Ethelyne menggeram marah, dia mengepalkan tangannya. “Apa lagi sih?!”



“Begini, begini. Khem, sebenarnya. Saya datang kemari untuk memanggil Anda makan siang, ini perintah dari Meli.”



Ethelyne menatap Mili penuh amarah, dia menggerakkan tangannya. Seketika tubuh Mili terangkat dan terlempar hingga menabrak dinding.



“Yang Mulia … apa kesalahan saya?” tanya Mili yang terduduk di lantai.


__ADS_1


“Kau masih bertanya?? Kau tidak lihat suasana hatiku sedang buruk dan kau mengajakku makan?! Kau gila ya!”



“Tapi kan, saya tidak tau apa-apa.” Mili menatap Ethelyne dengan raut wajah sedih.



Gadis itu berdesah frustasi, dia berdiri dan menatap Meli dingin. “Beritahu semua orang untuk tidak menganggu dan mencariku!” Ethelyne berjalan keluar kamarnya.



“Eh?? Anda mau kemana?”



Ethelyne melirik Mili yang berdiri dan menatapnya bingung. “Berburu darah.”



Mili yang mengerti ucapan Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau begitu, selamat jalan. Jangan terlalu lama atau Meli akan menggangguku lagi.”



“Diam atau kau akan jadi mangsa pertamaku!”



Mili langsung menutup mulutnya dan mengangguk.



Ethelyne menarik napas dalam-dalam, dia berjalan pergi dengan aura mengintimidasi. ‘Orang-orang bodoh itu! Aku ingin mencakar mereka sampai mati!!’



~~~♥~~~



“Lyne, apa kau baik-baik saja? Lyne!”



Ethelyne membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah raut wajah khawatir Erik. Ethelyne bangun sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. “Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?”



“Aku juga tidak tau, aku baru saja kembali dan menemukanmu di sini. Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat dan tidak berenergi, bagaimana jika kita kembali sekarang atau keluargamu akan khawatir.”



Ethelyne mengangguk kecil, dia hendak berdiri. Namun anehnya, kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali ‘Kakiku …’



“Apa kau tidak bisa berdiri? Kalau begitu.” Erik berjongkok di depan Ethelyne. “Naik ke punggungku, aku akan menggendongmu kembali.”


__ADS_1


“Em, terima kasih.”


__ADS_2