
Eadric, Zion, dan Ned menoleh ke asal suara. Ketiganya terpesona melihat Ethelyne, meskipun tetap menggunakan cadar. Namun kecantikan dan aura yang dia keluarkan membuat siapapun dapat mengetahui wujudnya yang indah.
Ethelyne yang merasa tidak nyaman ditatap ketiganya memeluk tubuhnya sendiri. “Jangan menatapku seperti itu! Kau mau kucongkel matamu, hah?!”
“Galak sekali, kau itu hanya seorang pelayan.
Bagaimana mungkin kau berani mencongkel mata majikanmu.”
“Hah? Benarkah? Kau ingin melihatnya?” tanya Ethelyne di dengan tatapan datar dan sangat mengintimidasi, bahkan tidak ada yang akan menyangka kalau dia adalah gadis polos yang lemah.
Eadric berdehem. “Lupakan saja, dia adalah pelayan baru dan tidak mengetahui peraturan di kerajaan.” Dia melempar jubahnya. “Kenakan jubah itu, jangan sampai mengekspos dirimu nantinya.”
“Cih, kenapa tidak memberikannya dari tadi?” gerutu Ethelyne sambil memakan jubah Eadric yang kebesaran.
“Satu hal lagi, ikut aku nanti ke tabib.”
“Untuk apa?”
“Warna rambutmu sangat mencolok karena sangat sedikit orang yang memiliki warna rambut dan mata yang sama, oleh sebab itu. Aku akan meminta tabib untuk membuatkan obat yang dapat mengubah warna rambutmu.”
“Itu tidak perlu.” Ethelyne menjentikkan jarinya, warna rambutnya perlahan-lahan berubah menjadi oranye. Begitupun dengan warna matanya yang berwarna emas. “Aku bisa menggunakan sihir sederhana untuk memanipulasi warna rambut dan mataku, tapi karena sihirku yang lemah. Aku tidak bisa mempertahankan wujud ini dalam waktu yang lama.”
“Berapa lama kau bisa mempertahankan wujud ini?” tanya Eadric setelah terdiam cukup lama, dia sedikit terkejut melihat penampilan Ethelyne yang kini benar-benar mirip dengan Alyssa.
“Sekitar 12 jam, tapi karena aku memanipulasi warna mataku. Kemungkinan hanya bisa bertahan selama 10 jam.”
“Itu lebih dari cukup, Ned. Siapkan pakaian untuk Zion.”
“Eh?? Apa aku juga harus berpakaian sederhana?” tanya Zion malas.
Eadric menatapnya datar. “Ya!”
Zion yang mendengar jawaban Eadric berdecak, meskipun dia telah menduga jawabannya. Tapi rasanya masih tidak rela jika dia harus berpakaian sederhana untuk bertemu wanita-wanita cantik.
“Untuk sementara, Willa akan melindungimu dalam kegelapan.”
Seorang gadis berpakaian hitam muncul di samping Ethelyne, dia berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan. “Saya siap melaksanakan perintah.”
“Eum, terima kasih,” kata Ethelyne kikuk. ‘Padahal kan, tidak perlu. Aku bisa melindungi diriku sendiri, tapi ya sudahlah. Aku sedang lelah berdebat.’
Malam harinya, Ethelyne dan ketiganya telah sampai di rumah bordil. Ethelyne yang menyamar sebagai p\*elacur dibantu oleh Enia yang menjadi kaki tangan Eadric selama hampir sepuluh tahun.
“Mami, cobalah dulu. Dia sebenarnya gadis yang cantik, hanya saja. Dia sangat pemalu sampai-sampai menutupi wajahnya,” bisik Enia berusaha meyakinkan pemilik bordil.
“Hem, apa kau yakin? Aku merasa tidak yakin sama sekali, meskipun bentuk tubuhnya sangat ok. Tapi wajah adalah yang utama.”
“Jangan khawatir.” Enia melirik Ethelyne yang sedari tadi hanya diam dengan wajah yang terus tertutupi cadar. “Saya jamin, dia adalah gadis yang cantik.”
“Nyonya Rose, izinkan saya untuk memperlihatkan bakat saya terlebih dahulu.” Ethelyne yang semula bermalas-malasan mulai angkat bicara, dia berjalan ke arah keduanya dan berdiri di antara Enia dan Mila.
“Apa bakatmu?”
“Saya bisa memainkan berbagai macam alat musik …” Ethelyne menatap Enia. ‘Berpedang, beladiri dan banyak lagi,’ lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
“Hem~ siapa namamu tadi?”
“… Isla.”
“Baik, Isla. Aku akan memberimu kesempatan, kau akan naik ke panggung dan memainkan … seruling?”
“Baiklah, Nyonya. Saya akan menunjukkan bahwa saya layak, Enia. Bisa antar aku ke belakang panggung?”
“Kau ingin melakukan apa?”
Ethelyne tersenyum di balik cadarnya. “Sesuatu yang menarik.”
~~~♥~~~
“Maaf membuat kalian semua menunggu, seorang gadis cantik akan melakukan penampilan terakhir sebelum acara ini si tutup,” kata Enia dengan suara lantang.
“**Gadis cantik? Aku tidak berpikir dia akan secantik Enia**.”
“**Tidak asa yang bisa menandingi kecantikan Dewi Enia**.”
“**Apa menurutmu, gadis baru itu lebih cantik dari Enia**?”
“**Tidak tau, lihat saja dulu**.”
Eadric yang tengah duduk di lantai kedua bersama Ned dan Zion memperhatikan semua hal yang terjadi di bawah, ketiganya dengan santai meminum teh sambil memperhatikan sekitaran.
“Mari kita sambut, gadis cantik yang mendapatkan hati semua orang. Isla.” Enia menoleh ke belakang tiba-tiba. Lampu padam, satu lampu menyorot ke tengah-tengah panggung.
Seorang gadis berambut pirang dan gaun putih yang indah duduk di ayunan sambil memainkan seruling yang mengeluarkan suara merdu.
‘Semangatlah, kami hanya bisa berpegang pada keberhasilanmu. Rimuru!’ batin Enia sambil memberi semangat di samping panggung.
Tidak berselang lama, Ethelyne yang sedari tadi menutup matanya mulai membuka matanya secara perlahan hingga terlihat bola mata berwarna emas yang indah. Dia berdiri dan meletakkan seruling di ayunan.
__ADS_1
Ethelyne tersenyum tipis, dia sedikit membungkuk sambil mengangkat ujung gaunnya. “Terima kasih telah menyaksikan penampilan saya,” katanya dengan suara lembut.
Cadar Ethelyne perlahan-lahan memudar dan berubah menjadi banyak permata, dia menatap pertama di tangannya dengan senyum tipis. Cadarnya telah menghilang dan terlihatlah wajah cantik nan imut yang telah lama dia sembunyikan.
Ethelyne melirik ke depan, matanya tanpa sengaja menatap ke arah ketiga pria yang terkesiap sekaligus tertegun.
“**Lihat, betapa cantiknya dia**.”
“**Dia pasti seorang Dewi**!”
“**Aku tidak menyesal datang kemari**.”
“**Aku melihat seorang Dewi yang sangat cantik**!”
Ethelyne melempar permata di tangannya ke langit, permata itu tiba-tiba berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan berterbangan mengelilinginya. Salah satu kupu-kupu hinggap di jari telapak tangan Ethelyne. ‘Untungnya semuanya berjalan lancar.’
‘*Saya senang semuanya berjalan lancar, tapi Anda telah memperlihatkan wajah Anda. Master, apa Anda tidak khawatir akan ada yang mengenali Anda*?’
‘Jangan khawatir …’
Kupu-kupu yang berterbangan berubah menjadi banyak bunga sakura yang langsung menghujani Ethelyne selama 5 detik, setelah itu. Bunga-bunga terbakar api dan menjadi abu, Ethelyne dengan senyum manisnya berbalik dan berjalan pergi.
‘Aku adalah Demon Queen sekarang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.’
‘*Maksud Anda*?’
‘Apa kau tidak tau?’ Ethelyne masuk ke salah satu kamar dan duduk di kursi, dia menghapus riasan mata dan lipstiknya. Warna rambut Ethelyne kembali berubah cokelat, namun warna matanya tetap berwarna emas. “Ini adalah warna mataku yang asli, sepertinya. Setengah dari jiwa iblisku telah membuat jiwa Demon hancur lebur dan hanya menyisakan energi dan kekuatan sihirnya yang sangat kuat.”
“Penampilan yang indah, Nona Isla.”
Ethelyne menatap seorang pria dari pantulan cermin, dia tersenyum tipis sambil menyisir rambutnya. “Saya tidak menyangka akan bertemu Anda di sini, Tuan Dior.”
“Heh, kau mengenaliku rupanya.”
__ADS_1
Ethelyne meletakkan sisir di meja, dia kemudian berdiri dan berjalan ke arah Pria yang dipanggilnya Dior. Ethelyne dengan senyum tipis yang menawan menyentuh wajah tampan Dior, namun sedetik kemudian. Sebuah panah menembus perutnya.