Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
81. Pesta (2)


__ADS_3

Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah sang tamu utama, dia berdiri dan membuat kelimanya menoleh. Ethelyne berjalan turun menuju sang tamu utama, dia mengambil segelas cairan merah pada pelayan yang sedang mengantar minuman.


Dia berhenti di hadapan seorang pria tampan berambut biru tua dengan warna mata yang sama.


“Selamat karena telah menyandang gelar Raja Iblis, Tuan Wil.”


“Haha, Anda terlalu murah hati. Yang Mulia, saya bisa mencapainya karena bantuan Anda.”


“Bersulang untuk Raja baru.” Ethelyne mengangkat gelas di tangannya, begitupun Raja Wil dan membuat gelas keduanya bertemu dan menimbulkan suara.


“Sepertinya Anda masih menyukai wine setelah sekian lama.”


“Sekarang sudah tidak terlalu.” Ethelyne menatap cairan merah di dalam gelas. “Akhir-akhir ini, suasana hatiku sering kali ini buruk.”


“Ah, begitu ya.”


Keduanya kembali berbincang layaknya kenalan lama.


Di atas singgasana, 'seorang pria' mengepalkan tangannya menahan amarah. ‘Siapa pria itu?? Kenapa dia bisa kenal dengan Rimu-Ethelyne?? Apa mereka teman?’


Kecemburuannya itu terlihat jelas di wajahnya, Zachary yang duduk di sampingnya menepuk pundak pria itu. “Sabar, lagipula. Iblis seperti dia tidak pantas untuk kau, Kak.”


Eadric dengan raut kesal menepis tangan Zachary kasar. “Bukan urusanmu!”


“Matilah!! Ratu Iblis!!”


Teriakan itu mengalihkan perhatian semua iblis dan manusia yang ada di aula, beberapa dari iblis terkejut melihat kejadian di hadapan mereka.


Sebuah pedang menembus dada Ethelyne, bahkan darah menetes dari ujung pedang yang menembus punggungnya.


“Ha-hahaha!!” Iblis yang menusuk Ethelyne tertawa gila. “Aku berhasil membunuhnya!! Aku berhasil!!”


“Ethelyne!!” Aelene, Zachary, Eadric, Ned, dan Zion berdiri dari singgasana mereka. Kelimanya tampak terkejut.


“Kau! Beraninya--” Wil hendak mengeluarkan pedangnya namun ditahan oleh Ethelyne.


“Apa maksudmu membunuhku?” tanya Ethelyne dengan raut wajah poker, dia menatap datar iblis yang bola mata dan tangannya tampak bergerak ketakutan.

__ADS_1


“Bagai-bagaimana bisa?? Pedang ini sudah dilumuri darah suci, bagaimana …”


“Darah suci?” Dahi Ethelyne tampak mengerut, iblis pria itu melepas gagang pedang dan hendak berlari sekuat tenaga. Namun dia justru berlari di tempat.


Ethelyne dengan kekuatannya mengangkat iblis pria itu ke langit dengan asap gelap yang muncul di punggungnya, dia mencekik leher pria itu dan membuatnya susah bernapas.


“Katakan yang sebenarnya! Apa maksudmu dengan darah suci?? Siapa gadis suci yang kau bunuh dengan pedang ini?!”


“A-aku, t-tidak … tau.”


“Tidak mau mengaku juga rupanya.” Ethelyne berdecak, dia melirik Wil yang berdiri di hadapannya. “Tarik pedang ini keluar, itu benar-benar menggangguku beraktivitas.”


“Tapi, Yang Mulia …”


“Sudahlah, lakukan saja!”


Dengan berat hati, Wil memegang gagang pedang. Dia menariknya dengan penuh hati-hati sambil memperhatikan ekspresi yang dikeluarkan gadis itu, namun. Ratu Kegelapan itu hanya diam tak bergeming dengan raut wajah datar sembari menatap pedang yang ditarik keluar secara perlahan-lahan seolah dia tidak merasakan sakit sama sekali.


Saat pedang itu benar-benar keluar dari tubuhnya, jantungnya yang awalnya ditusuk pedang menjadi pulih dan kembali berdetak. Begitupun dengan kulitnya yang kembali pulih dengan cepat.


“Argh!!” teriak iblis pria itu menggema.


“Katakan yang sebenarnya atau kau akan benar-benar mati hari ini.”


“A-ku … Prilly …”


“Prilly?”


Seorang prajurit iblis mendekat dan membungkuk. “Maaf atas ketidaksopanan saya, Yang Mulia. Prilly adalah Putri dari pria ini, dari yang saya dengar. Dia ditahan oleh manusia dan dikurung, pria ini terpaksa melakukannya demi menyelamatkannya Prilly.”


“Begitu, ya. Siapa yang menyuruhmu?”


“Put-riku …”


Ethelyne menghilangkan asap gelap dan membuat pria itu langsung terjatuh ke lantai. “Jika kau memberitahuku pelakunya, maka aku berjanji akan menyelamatkan putrimu dan membiarkan kalian tetap hidup.”


“Apa itu benar?” tanya pria itu sembari terbatuk-batuk.

__ADS_1


“Hm.”


Iblis pria itu menunduk dengan kedua tangan di atas paha yang terkepal, air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan. “Putriku … dia ditangkap oleh Manusia dan dijadikan sandera, mereka mengancam. Jika aku tidak membunuh Ratu iblis, maka dia akan membiarkan putriku mati di bawah sinar matahari.”


“Siapa nama pria yang menyuruhmu?”


“Frenzy, Frenzy Elrond.”


“Elrond?” Tatapan Ethelyne beralih ke Eadric dan Zachary yang tampak terkejut.


“Beraninya kau menuduh kakakku!!” teriak Zachary marah, dia berjalan ke arah iblis pria itu tergesa-gesa dan bersiap memukul pria itu. Namun tangannya sudah lebih dulu dililit oleh asap gelap.


“Jangan menyerang rakyatku, atau akan kupastikan kau kehilangan sebelah tanganmu.” Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah Iblis pria yang masih menunduk sambil menangis dalam diam. “Apa informasimu itu benar? Tapi aku sendiri yang datang dan menggunakan formula sihir teleportasi dan memindahkan semua orang yang ada di kerajaan Iceworld.”


“Kakak pertama tidak ada di kerajaan saat itu.” Eadric melangkah menuruni tangga dan berdiri di hadapan Zachary yang memegang pergelangan tangannya yang memerah. “Dia melakukan survei ke benua lain.”


“Begitu ternyata …”


“D-darah suci yang ada di pedang itu adalah milik, milik … Lady Earlene Virgian.”


Jantung Ethelyne berhenti berdetak tiga detik, dia seolah disambar petir di siang hari. Matanya tampak bergetar, begitupun dengan kepalan tangannya yang disembunyikan di balik gaun. “Ibu …??”


“B-benar, p-pedang ini adalah warisan dari Raja Aelous untuk Pangeran Pertama.”


Tiba-tiba, atmosfer di sekitaran berubah. Mereka yang ada di aula tiba-tiba merasa sesak dan seolah kesakitan di hati mereka, kecuali para manusia yang hanya merasa sesak.


“Tidak, mungkin.” Tanpa diminta, air mata mengaliri pipi Ethelyne. “Ibu … darahnya …”


Tiba-tiba, asap gelap menguar dari tubuhnya tanpa terkendali. Asap itu segera melilit tubuh iblis pria layaknya ular dan menjeratnya, perlahan-lahan. Tubuh iblis pria itu tertutup asap gelap sepenuhnya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan dari dalam asap. Darah mengalir keluar menembus asap, saat asap itu perlahan-lahan menghilang. Daging cincang langsung jatuh ke lantai, bahkan bola satu bola matanya menggelinding ke lantai dan tepat di depan kaki Zachary. Seluruh organnya dicincang habis.


Sebuah cahaya muncul di dalam daging cincang itu, cahaya itu terbang keluar. Namun tidak jelas terlihat karena tertutup darah, Ethelyne menangkap cahaya itu. Cahaya di telapak tangannya perlahan-lahan meredup, dia menunduk sambil menatap datar sebuah benih di tangannya. Tanpa merasa kasihan, Ethelyne menghancurkan benih itu menjadi bubuk.


Seketika, muncul suara teriakan yang menggema di aula. Suara itu terdengar sangat putus asa dan memilukan.


“Kasihan sekali,” gumam Ethelyne yang masih bisa didengar oleh orang-orang di sekitarnya, dia mendongak dengan sebelah mata berwarna emas. Kepalanya memiring ke kiri. “Kau seharusnya tidak mencoba membunuhku dengan darah ibuku sendiri. Iblis rendahan sepertimu tidak pantas hidup … tapi, warna darahmu cukup indah. Aku suka.” Dia tersenyum, Ethelyne melirik prajurit yang masih berdiri di belakang Wil. “Kumpulan darah dan daging cincangnya, mari hadiahkan untuk putrinya tersayang saat kita berhasil merebutnya kembali,” katanya dengan senyum manis yang justru terlihat mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2