
Tiga tahun sudah berlalu, namun bagi gadis berambut cokelat dengan mata merah darah itu. Waktu telah berlalu sampai sepuluh tahun, yang dia lakukan hanyalah berkunjung ke dunia atas setiap hari dan mengerjakan dokumen-dokumen yang selalu menumpuk di meja kantornya.
Ethelyne mengacak rambutnya sambil membaca satu dokumen di tangannya, dia benar-benar sangat pusing. Otaknya seolah buntuh tanpa siapapun di sampingnya.
“Cukup!!” Ethelyne berdiri dan melempar dokumen di tangannya ke lantai. “Aku benar-benar sudah muak dengan dokumen-dokumen sialan ini!!”
Api tiba-tiba muncul dan membakar meja beserta dokumen-dokumen di atasnya, selain itu. Dokumen yang dilemparnya pun ikut terbakar menjadi abu.
“Hahaha! Hancurlah kalian dokumen merepotkan!!”
“Astaga, Yang Mulia. Apa yang terjadi?? Kenapa tiba-tiba terjadi kebakaran?” panik Meli, dia segera berlari mencari air untuk mematikan api.
Meli lupa bahwa Ethelyne memiliki tiga sihir setelah kehilangan jiwa sucinya, sihir kegelapan, sihir api, dan sihir air.
Ethelyne yang melihat hal itu hanya menghela napas, dia berjalan menjauh dari kebakaran dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. “Gareth, Verlin.”
Dua pria berpakaian hitam layaknya ninja muncul di belakang Ethelyne sambil berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan.
“Ya!”
“Bagaimana wabah yang menyebar di kekaisaran?”
“Seperti yang Anda katakan sebelumnya, Yang Mulia. Wabah sudah mulai menghilang berkat bantuan dari sihir gelap Anda, jika dilakukan pembersihan secara menyeluruh. Saya yakin, kita bisa menghilangkan wabahnya tanpa tersisa.”
“Lakukan saja yang terbaik, aku tunggu hasilnya.” Ethelyne berjalan menjauh dari ruang kerjanya.
“Kami mengerti, Yang Mulia!”
Keduanya menghilang dalam sekejap mata, Ethelyne dengan raut yang tidak bisa diartikan. ‘Tinggal dua tahun lagi, tenanglah. Tenang!! Tinggal dua tahun lagi sebelum kau bertemu lagi dengannya.’ Tanpa disadari, dia berjalan ke arah kamar tamu. Tempat kelima tawanan 'spesialnya' berada.
“Ethel! Lama tidak bertemu!” Aelene berteriak sambil berlari ke arah Ethelyne tepat setelah pintu terbuka.
Gadis itu masih terdiam seolah mencerna apa yang baru saja terjadi. “Lepaskan,” kata Ethelyne dingin.
Aelene melepas pelukannya dengan raut wajah sedih. “Kenapa kau sangat dingin? Kau baru menemui kami setelah tiga tahun berlalu, setidaknya. Tersenyum sedikit, kumohon.”
Ethelyne berdecak. “Aku tidak akan kemari jika tidak salah jalan.”
“Ethelyne …”
“Apa?” tanya Ethelyne ketus.
“Apa … bagaimana keadaan Eadric? Apa dia benar-benar tidak bisa disembuhkan?”
Ethelyne melirik ke arah Eadric, dia menghela napas panjang. “Itu bukan urusanku, lagipula. Kenapa dia bisa tidak sadarkan diri sih?? Merepotkan sekali tau tidak!”
“Ethelyne! Setidaknya--”
“Sstt, diam atau mati.” Ethelyne menatap tajam Zachary, dia melirik yang lain. “Tapi karena kalian adalah tawananku yang berharga, aku akan membantu kalian.”
Aelene tersenyum seolah tidak perduli dengan ucapan Ethelyne yang lain. “Terima kasih.”
Ethelyne berdecak sambil membuang muka.
__ADS_1
“Ethelyne Envuella, maukah kau menikah denganku?”
“Eh??” Ethelyne menatapnya tercengang, otaknya tiba-tiba berhenti berkerja.
Begitupun dengan pekerja yang berada di taman samping istana, mereka tampak syok menyaksikan kejadian di depan mereka.
“Kau … apa maksudmu?! Apa kau tidak tau! Aku sudah memiliki tunangan!!”
“Aku tau.” Pria itu berdiri dan menatap Ethelyne serius. “Tapi kalian hanya bertunangan kan, bukan berarti aku tidak bisa mendapatkanmu lebih dulu. Lagipula, aku adalah Pangeran dari kerajaan Victoria. Sementara tunanganmu itu, dia hanyalah Putra Duke yang tidak berguna--”
“Diam!!” teriak Ethelyne dengan tangan terkepal. “Jangan pernah menghina Erik! Tidak perlu kau pangeran ataupun kaisar sekalipun, aku tidak akan menikah dengan kau!!”
“Lalu kenapa kalau aku mencintainya? Lagipula, dia adalah tunanganku!” Ethelyne menarik napas dalam-dalam, dia menatap datar Pria bermata ungu di hadapannya. Eadric Desberado. “Dengar, sampai kapanpun! Aku tidak akan menikah denganmu! Bahkan jikapun aku tidak punya pilihan, maka aku akan lebih memilih mati daripada bersamamu!”
“Heh? Benarkah?” Eadric menatap datar Ethelyne, dia telah berada di kerajaan Gezeweith selama hampir dua tahun. Tapi dia masih belum bisa membuat Ethelyne mencintainya ataupun mengingat kejadian di dunia nyata.
Eadric berjalan mendekat dan mencengkram rahang Ethelyne. “Lalu, bagaimana jika tunangan tercintamu itu tidak sengaja 'kecelakaan' dan mati? Apa kau akan menikah denganku setelah itu?”
Dengan raut marah, Ethelyne menepis tangan Eadric. “Sampai kapanpun! Aku tidak akan menikah denganmu!!” Dia berbalik dan berjalan pergi, namun lagi-lagi. Siluet ingatan seseorang muncul di kepalanya disertai rasa sakit yang amat kuat, Ethelyne memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.
“Ethelyne, apa kau baik-baik saja?” tanya Eadric khawatir, dia memapah Ethelyne.
Namun tangannya sudah lebih dulu ditampar oleh si empu. “Jangan coba-coba menyentuhku!” peringatnya dengan tatapan tajam. ‘Sialan! Ingatan-ingatan ini benar-benar menggangguku!’
__ADS_1
“Apa kau yang menolongku?”\#
“Maka jangan menyesalinya. Kau- Rimuru, mulai hari ini. Kau akan menjadi pelayan di kerajaanku.”
“Aku tidak suka melihat kau dekat-dekat dengannya!”
“Apa kau cemburu?”
“Untuk apa?”\#
‘Ingatan … apa sebenarnya itu? Siapa Rimuru? Apanya yang menolong? Dan kenapa aku menanyakan hal aneh pada orang asing?’ Ethelyne memegang kepalanya dengan raut bingung. ‘Dan tempat apa itu? Tempat yang asing, apa itu rumah bordil? Tapi kenapa aku ke sana? Aku bukan menjadi p\*elacur kan??’ Dia menggelengkan kepalanya cepat. “Sadarlah, Lyne! Itu bukan ingatanmu sama sekali, itu pasti efek samping akibat kepalamu terbentuk dua tahun yang lalu!” gumamnya menyakinkan dirinya sendiri, dia mengangguk membenarkan ucapannya. Dengan langkah cepat, Ethelyne berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Eadric yang ditinggal sendiri berdesah frustasi, dia mengacak rambutnya. ‘Kenapa kau belum ingat sih? Ethelyne, sampai kapan aku harus menunggu agar kau kembali?’
~~~♥~~~
“Bocah sialan!! Beraninya dia membuat putri kecilku menangis!” Raja Gezeweith, Dion Envuella. Dia menggenggam kertas di tangannya hingga koyak.
“Yang Mulia, kita harus melakukan apa? Jika kita menjadikan Pangeran Victoria sebagai tawanan, kemungkinan besar kita bisa mengambil alih kerajaan Victoria. Tapi jika Tuan Putri tau, maka Tuan Putri akan sangat kesal pada Anda.”
Dion kembali duduk di kursi kerjanya sambil memijat pelipisnya. “Lalu, kita harus melakukan apa pada bocah yang sudah melukai hati putriku??”
Tangan kanan Dion sekaligus kakak permaisuri Fiona, Addison Aethelred. Memegang dagunya berpikir. “Bagaimana jika kita buat Tuan Putri dan pangeran ketiga bertunangan?”
“Apa kau gila?! Lyne dan Erik saling mencintai, keduanya tidak mungkin mau memutuskan pertunangan mereka. Selain itu, Lyne akan semakin membenciku jika tau hal ini.”
“Tapi kita tidak ada cara lain, Yang Mulia. Karena jika kita menawannya tanpa sebab, maka bisa saja terjadi perang. Jika kita membuat Tuan Putri dan Pangeran ketiga bertunangan, kita bisa memiliki alasan agar Pangeran ketiga tetap tinggal di sini lebih lama lagi. Selain itu, kita bisa membuat Pangeran ketiga mengalami skandal dan membuat Tuan Putri patah hati. Dengan begitu, kita memiliki alasan yang kuat untuk menahannya. Lagipula, Anda sangat menyayangi Tuan Putri. Kan?”
__ADS_1