Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
9. Kerajaan Iblis


__ADS_3

“Tidak kusangka kau akan kembali ke kerajaan ini, Ethelyne.”


Ethelyne yang semula menatap ke luar jendela menoleh ke arah pintu, di sana. Terdapat seorang Ryan dengan raut wajah datar dan mata merah darah.


“Hm, lalu kenapa? Kau ingin mengusirku?” tanya Ethelyne sinis.


“Tidak, aku senang kau kembali sebelum penobatanku.” Ryan dengan santainya berjalan masuk dan menarik salah satu kursi, dia duduk menghadap Ethelyne sambil bersedekap dada. “Jadi, apa kau akan tinggal di sini selamanya?”


“Huh, jangan pernah berharap. Aku tidak akan kembali jika tidak terpaksa.” Ethelyne membuang muka dengan ekspresi kesal.


“Ternyata begitu, aku pikir kau akan tinggal di sini dan menjadi Putri Mahkota selanjutnya.”


Ethelyne yang mendengar ucapan Ryan lantas menoleh ke arah pria itu dengan kening berkerut. “Putri Mahkota? Lalu bagaimana dengan Kak Zen?”


“Zen di penjara karena melakukan penyeludupan.”


“Penyeludupan?” Ethelyne menatap bingung Ryan.


Pria itu mengangguk dengan wajah pasrah. “Dia menyeludupkan monster dan menjualnya secara ilegal, justru hukuman penjara adalah yang teringan. Tapi karena hal itu, banyak iblis yang komplain karena menurut mereka aku pilih kasih.” Ryan mengangkat bahunya, dia menatap Ethelyne. “Jadi Putra Mahkota itu benar-benar melelahkan, apalagi setelah Ayah mati. Tugasku semakin berat karena harus bertanggung jawab sebagai Raja di saat yang bersamaan.”


“Huh, jadi maksudmu. Kau ingin menjadikanku Putri Mahkota agar tugasmu menjadi lebih ringan?” Ethelyne mengibaskan rambut panjangnya. “Jangan berharap, aku tidak akan pernah mau menjadi Putri Mahkota apalagi membantumu. Biar saja kau mati karena stres.”


“Jahatnya, kenapa aku bisa punya adik jahat sepertimu sih?” kata Ryan dengan ekspresi sedih sekaligus kecewa.

__ADS_1


Ethelyne menatapnya jijik. “Jangan bersikap begitu! Kau itu akan menjadi Raja, jika kau bersikap menjijikkan begitu di depan para rakyat. Apa yang akan mereka pikirkan nanti.”


“Tidak masalah.” Ryan berdiri dan berjalan keluar, dia memegang gagang pintu dan menoleh ke arah Ethelyne dengan senyum licik. “Aku hanya akan bersikap begini di depanmu, selain itu. Harap persiapan dirimu, calon Putri Mahkota.” Ryan melambaikan tangannya sebelum menutup pintu.


Ethelyne berdecak kesal, dia kembali menatap ke luar jendela sembari menopang dagu. ‘Apa yang harus kulakukan? Jika Kak Ryan menjadi Raja Iblis … apa kelak aku harus membunuhnya?’ Ethelyne menelungkupkan wajahnya. “Ah, aku lelah. Aku ingin di telan bumi saja dan menghilang.”


~♥~


“Master, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Laurie sambil mengetuk pintu, saat tidak mendengar jawaban. Dia membuka pintu dan melihat Ethelyne yang tengah menelungkupkan wajahnya, tepatnya sedang tertidur. Laurie berkacak pinggang, dia berjalan masuk dan meletakkan keranjang berisi macam-macam kue di meja. Laurie berjalan ke arah lemari dan membukanya, dia mengambil selimut dan berjalan ke arah Ethelyne. Laurie dengan pelan-pelan menyelimuti Ethelyne. “Tidurlah yang nyenyak, Master. Saya pasti akan berusaha untuk membawa Anda pergi dari sini,” katanya sambil mengusap rambut Ethelyne lembut, dia kemudian berjalan keluar.


Saat menutup pintu, Laurie dikejutkan dengan kehadiran Loreen yang tiba-tiba muncul di sampingnya. “Loreen! Jangan mengangetkanku seperti itu!”


“Di mana Yang Mulia Putri?” Loreen melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka, dia hendak membuka pintu namun dihalangi oleh Laurie.


Loreen terdiam, dia berbalik. “Aku akan kembali dan memberitahukan Yang Mulia secara langsung,” katanya sambil berjalan pergi.


Saat Loreen benar-benar menghilang dari lorong, barulah Laurie menghela napas lega. Dia menoleh ke arah pintu dan menutupnya dengan rapat, Laurie memegang gagang pintu. Dia menutup matanya dan bergumam mantra aneh. “Aku Golden Dragon, berharap para peri melindungi Masterku dari segala hal jahat.”


~♥~


Seminggu telah berlalu sejak Laurie merapal mantra, sejak saat itu. Tidak ada iblis yang bisa masuk ke kamar Ethelyne melalui apapun, bahkan Ryan yang menggunakan kekuatannya tetap tidak bisa merusak mantra yang di buat Laurie.


Seminggu itu juga, Ethelyne hanya berdiam di kamarnya tanpa niatan kemana-mana. Dia seolah kehilangan jiwa dan hanya terus duduk di pinggir jendela sambil menatap ke luar.

__ADS_1


“Master, waktu penobatannya sudah dekat. Kita harus pergi sebelum waktu itu tiba, saya sudah menjelajahi seluruh istana dan menemukan lorong rahasia yang bisa membawa kita langsung keluar dari kota. Anda harus bersiap! Kita akan kabur siang ini! Maka …” Laurie terdiam, dia menatap khawatir Ethelyne yang hanya melakukan satu kegiatan setiap harinya. Yaitu duduk di pinggir jendela sambil terus menatap keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun, seberusaha apapun Laurie mengajaknya berbicara. Dia hanya terus diam layaknya mayat hidup. “Master,” gumamnya prihatin, Laurie menggeleng cepat. “Tidak boleh begini! Master, saya tetap akan berusaha membantu Anda untuk keluar! Apapun yang terjadi, saya akan mengeluarkan Anda dan tidak akan membiarkan iblis itu memakan jiwa manusia Anda!” Dia menarik tangan Ethelyne dan berjalan ke arah pintu, Laurie membuka pintu sedikit dan menatap lorong yang terlihat sepi.


Dia menghela napas lega. ‘Sepertinya semua pelayan sedang sibuk mempersiapkan banyak hal di aula, ini adalah kesempatan yang bagus untuk kabur!’ Laurie membuka pintu dan lari sambil menarik Ethelyne ke lorong rahasia yang ditemukannya, saat hendak berbelok. Harvey tiba-tiba berjalan dari arah berlawanan dan membuat Laurie segera bersembunyi di balik patung-patung yang berjejeran. ‘Bagaimana ini? Bagaimana jika tangan kanan Putra Mahkota itu menemukan kami??’


Tiba-tiba, sebuah aura gelap menguar dari Ethelyne. Laurie yang menyadari hal itu tiba-tiba menjadi takut, apalagi aura gelap yang mengintimidasinya dan membuat nyalinya ciut. “Master,” cicitnya.


Ethelyne menutup matanya, dia perlahan-lahan terbang. Aura gelap yang menguar dari tubuhnya semakin banyak hingga menutupi seluruh kerajaan.


“Apa, apa yang terjadi?”


“Yang Mulia, harap tenang. Penobatan Anda akan-- eh??” Harvey yang tiba-tiba muncul dengan wajah panik langsung berubah bingung saat melihat Ethelyne dan Laurie, dia celingak-celinguk seolah mencari sesuatu. “Di mana Yang Mulia Putra Mahkota? Bukankah seharusnya dia kesal karena mungkin penobatannya tidak berjalan lancar.”


“H-harvey, i-itu.” Laurie menunjuk ke arah Ethelyne dengan wajah terkejut sekaligus ragu.


Harvey yang merasa bingung dengan sikap Laurie mengikuti arah tangan gadis itu, matanya langsung membulat saat melihat Ethelyne yang terus saja mengeluarkan aura gelap tanpa bisa dikendalikan. “Yang Mulia Putri, harap tenang! Apa yang membuat Anda marah?”


Laurie menelan salivanya. “Ini, ini bukan karena Master marah. Tapi, ini adalah kebangkitan jiwa iblisnya!!”


“Apa?? Kenapa bisa? Terlebih lagi, auranya. Kenapa auranya bisa lebih kuat dari Yang Mulia Putra Mahkota??”


“Aku tidak tau, kau harus membantuku menggagalkan kebangkitannya!” Laurie mengeluarkan sebuah pisau air yang berbentuk seperti bumerang, dia melempar pisau air itu ke arah Ethelyne namun sayangnya pisau itu justru dipantulkan oleh sesuatu.


~♥~~♥~

__ADS_1


__ADS_2