Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
49. Negosiasi (2)


__ADS_3

Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah Eadric, tatapannya yang tenang justru membuat Eadric semakin emosi.


“Di mana dia?!” tanya Eadric menahan amarah.


“Kenapa? Apakah dia sebegitu berharganya hingga kau sampai berani ingin membunuhku?” Ethelyne menaikkan sebelah alisnya.


“Aku tanya sekali lagi, di mana Rimuru berada?!”


“Pfft, hahaha.” Tawa Ethelyne terdengar menggelegar di istana, gadis itu tertawa lepas seolah baru saja mendengar lelucon.


“Beritahu aku sekarang atau kau akan mati!” desis Eadric yang terlampau marah.


“Kau pikir, aku akan takut dengan ancamanmu? Sayang sekali, meskipun kau membunuhku. Kau tidak akan bisa bertemu gadis itu lagi, dia telah mati. Tapi bukan aku yang membunuhnya loh, dia bunuh diri dengan energi sihir yang meledak, doar!” kata Ethelyne dengan nada kekanak-kanakannya. “Tapi jujur saja, darahnya sangatlah lezat. Sayang sekali bonekaku itu harus mati.”


Ethelyne menggenggam pergelangan tangan Eadric, tiba-tiba. Eadric melepaskan cekikanya.


“Tanganku, tiba-tiba mati rasa.” Eadric mendongak dan menatap Ethelyne yang berjalan ke arahnya, sedikit demi sedikit jarak antara keduanya terkikis hingga Ethelyne berdiri tepat di depannya. Bahkan sangat dekat hingga Eadric dapat merasakan hembusan napas gadis itu di pipi kanannya.


“Tapi, jika kau ingin menggantikannya. Maka mungkin aku bisa memikirkannya, jika darahmu terasa lezat. Aku akan menghidupkan gadis itu kembali, tapi jika benar-benar tidak sesuai seleraku. Maka kau tidak akan pernah melihatnya lagi, satu hal lagi. Kerajaan Iblis tidak akan pernah menghentikan perang,” bisik Ethelyne dengan suara pelan dan lembut.


Eadric tiba-tiba merasa familier dengan suaranya, dia melirik Ethelyne dan membuat tatapan keduanya saling bertemu.


Ethelyne melangkah mundur dengan kedua tangan di belakang, dia tersenyum manis hingga matanya menyipit. “Semuanya berada di tanganmu, pikirkan baik-baik.” Ethelyne berbalik dan berjalan menaiki tangga. “Negosiasinya akan dilanjutkan seminggu lagi, Mili. Antar kedua tamu untuk pergi.”


Mili mengangkat sebelah tangannya. “Yang Mulia, izinkan saya memukul pria tidak sopan itu!”


“Izin ditolak, antar keduanya keluar dengan selamat. Jika tidak.” Ethelyne melirik Mili dengan tatapan tajam.


Gadis itu menelan salivanya. “B-baik.” Dia segera menarik Ned dan Eadric secara paksa keluar dari istana.


Ethelyne menghela napas pelan, dia menaiki tangga sambil melepas cadarnya. “Merepotkan, aku ingin bersantai saja. Ah, aku hanya ingin tiduran dan berbicara dengan putri imutku.”




“Yang Mulia, apa yang Ratu kerajaan iblis bisikkan pada Anda?” tanya Ned yang merasa aneh dengan aura yang sedari tadi dikeluarkan Eadric, bahkan saat ditarik keluar pun. Pria itu hanya diam termenung seolah memikirkan sesuatu.



“Tidak ada apa-apa, ayo segera kembali dan melaporkannya pada Raja.” Eadric mempercepat langkahnya dan meninggalkan Ned yang masih diam berdiri di depan istana, dia menatap istana di belakangnya. ‘Aneh, kenapa aku merasa familier dengan Ratu iblis itu? Di mana aku pernah bertemu dengannya ya? Tatapan matanya itu, sangat mirip dengan … Gadis penyihir.’



~~~♥~~~



“Mama, lihat. Luna membuatkan karangan bunga yang indah untuk Mama,” kata Luna dengan semangat sambil menunjukkan karangan bunga yang dibuatnya.

__ADS_1



“Cantiknya, Mama yakin. Luna pasti membuatnya untuk Mama dengan tulus.” Ethelyne menerima karangan bunga itu dengan senyum lembut. “Anak Mama sudah besar ya, sebentar lagi juga akan keluar dari sini. Ah, padahal Mama merasa baru kemarin kau lahir. Tapi kau sekarang sudah sebesar ini.”



“Mama, Luna itu terlahir dari sihir. Tentu saja bisa tumbuh dengan cepat, terlebih lagi. Apa Mama akan melupakan Luna ketika Luna besar nanti?” tanya Luna dengan mata berkaca-kaca.



“Siapa yang bilang? Bagi Mama, Luna adalah anak kesayangan Mama.” Ethelyne memeluk Luna gemas. “Sayang, apa kau akan sedih saat orang-orang mengejekmu tidak memiliki Papa?”



“Tidak, bagi Luna. Mama sudah cukup untuk Luna, lagipula. Untuk apa Luna mendengarkan ucapan mereka, Luna hanya akan menjadi milik Mama dan selalu begitu.”



Ethelyne melepas pelukannya, dia menatap Luna dengan tatapan sayu. “Andaikan saja benar-benar begitu, tapi kau tidak mungkin selalu mengingat Mama. Mungkin saja, suatu saat nanti. Kau akan menyukai seorang pemuda tampan dan menikah, setelah memiliki anak nanti. Kau akan menjadi sangat sibuk sebagai seorang istri dan juga ibu, kau tidak mungkin mengingat Mama lagi.”



“Itu tidak benar! Luna akan selalu ingat tentang Mama, jika bisa. Luna akan mengukur nama Mama di pikiran Luna, dengan begitu. Luna tidak akan pernah melupakan Mama!”



“Baik, baik. Mama juga berharap begitu, Luna tidak boleh melupakan Mama ya … ah, sudah waktunya Mama untuk pergi. Jika ada waktu, Mama akan berkunjung ke sini lagi.”




Jiwa Ethelyne perlahan-lahan menjadi transparan dan menghilang, Luna duduk di karpet yang berada di tengah ladang bunga sambil menikmati teh melati layaknya sedang bertamasya. “Enaknya, Luna akan menunggu kedatangan Mama sambil menikmati makanan ringan dan juga pemandangan bunga yang indah. Meskipun Luna sangat tidak sabar untuk melihat bagaimana bentuk dunia manusia itu, tapi Luna akan tetap menunggu sampai Mama benar-benar membawa Luna keluar.”



~~~♥~~~



“Master! Saya sangat merindukan master!” Laurie berlari ke arah Ethelyne dengan tangan terentang dan bersiap memeluk gadis itu, namun nahasnya. Ethelyne menghindar dan membuatnya memeluk udara dan terjatuh ke lantai. “Aww.”



“Jangan memelukku! Kenapa kalian ada di sini? Bukankah seharusnya kalian masih menjalani hukuman.” Ethelyne menatap Laurie dan Vio sambil bersedekap dada, entah kenapa. Dia lebih sering melihat keduanya bersama.



“Master, aku sangat merindukan kau. Lagipula, kami muncul di sini karena ingin memberi kabar penting.”

__ADS_1



“Kabar apa?”



Laurie dan Vio saling menatap. “Nona, Laurie baru saja menemui Naga bernama Fel. Sepertinya, naga itu bisa memprediksi masa depan, dalam waktu dekat. Akan ada wabah yang menghabisi semua manusia tanpa tersisa.”



“Oh,” kata Ethelyne dengan wajah datar seolah tak tertarik dengan topik. ‘Jadi yang dikatakan Luna itu benar? Jadi Luna memang bisa melihat masa depan?’



“Sepertinya Nona tidak begitu terkejut.”



Ethelyne duduk di sofa panjang di kamarnya. “Ya, aku tidak perduli sih. Tapi satu hal pasti, jangan beritahu siapapun soal wabah ini!”



“Saya mengerti, Nona.”



“Master, kenapa Anda tidak ingin ada yang tau?”



“Bukan urusanmu, kalian cukup menuruti perintahku dan sisanya. Serahkan saja padaku.”



“Tunggu, apa Master--”



“Baik, Nona.” Vio langsung memotong ucapan Laurie dan menarik tangan gadis itu pergi.



“Lepaskan, aku ingin bicara hal penting dengan master!”



“Diam, jika kau tidak ingin dikurung lagi. Lebih baik kita pergi sekarang, kau bisa mengatakannya saat suasana hati Nona sudah membaik.”


__ADS_1


Laurie kini diam dan mengikuti langkah Vio yang menjauh dari kamar Ethelyne. “Omong-omong, kenapa kita keluar kamar? Kenapa tidak masuk ke ruang waktu?”


__ADS_2