
Ethelyne menggeleng, dia menggenggam kedua tangan Aelene. “Kalau itu mau Aelene, Rimuru akan turuti. Tapi Aelene juga tidak boleh membuat diri sendiri kelelahan, jika Aelene sudah tidak sanggup lagi. Aelene bisa mencari Rimuru.”
“Ok, adik manisku yang imut. Dan lagi, panggil aku kakak. Mengerti!” Aelene mencubit hidung Ethelyne pelan.
“Aww, sakit,” cicit Ethelyne sambil memegang hidungnya yang sedikit memerah. Dia menatap Aelene dengan ekspresi polos bercampur kesal. “Iya, Kakak Aelene!” tekannya.
“Anak baik.” Aelene memeluk Ethelyne dengan eratnya. “Jika kau benar-benar sudah tidak sanggup lagi, maka datanglah padaku. Kau bisa menganggapku sebagai teman cerita ataupun tempat bersandar, Rimuru. Istana ini penuh dengan kebusukan, kau tidak boleh mempercayai siapapun di sini. Jika kau benar-benar sudah lelah mendengar ucapan pelayan-pelayan itu, kau datanglah padaku. Jika ingin menangis, temui aku. Aku akan menjadi tempat yang membuatmu merasa aman, dan satu hal lagi.” Aelene melepas pelukannya dan menatap serius Ethelyne. “Jika mereka mengganggumu, balas saja mereka. Rimuru kan, pernah mengalahkan 5 serigala sendirian.”
“Iya~ Rimuru pasti ingat.”
“Anak baik, Kakak akan keluar. Kau tetaplah di sini dan jangan pergi kemana-mana.” Arlene berjalan keluar, dia sempat menatap Ethelyne dengan tatapan lembut sebelum menutup pintu kamar.
Ethelyne yang tidak lagi merasakan kehadiran Aelene menghela napas panjang, dia duduk di tepi kasur dengan kedua tangan sebagai tumpuan. “Andaikan saja kau tau, bahwa ucapanku barusan bukanlah bualan. Aku benar-benar pernah menghabisi iblis serigala sendirian.”
(795 Tahun yang lalu)
Ethelyne kecil yang dibawa ke hutan gelap dan ditinggalkan sendirian di tengah hutan oleh tangan kanan Zen, saat itu. Dia masih berumur 5 tahun.
Ethelyne kecil yang tidak tau apa-apa terus bersenandung senang sambil menunggu Zen yang belum muncul setelah satu jam menunggu, di tangannya terdapat belati tajam yang diberikan Meli.
Tiba-tiba, lima ekor serigala iblis muncul di depannya dengan air liur mengalir dan tatapan membunuh yang dilontarkannya untuk Ethelyne kecil.
Ethelyne yang saat itu masih manusia dan tidak mengerti apapun terpaksa membunuh kelimanya demi melindungi diri, di tengah genangan darah dan mayat para serigala. Dia menangis sesegukan, apalagi darah yang terciprat padanya dan juga mayat serigala yang berada di sekitarnya membuatnya ketakutan dan trauma.
“Ibu, Ethel. Takut, Ethel ingin pulang,” cicit Ethelyne sesegukan. Dia menatap belati yang penuh darah di tangannya. “Apa, apa ini sebabnya Meli memberiku belati? Apa dia tau kalau mereka ingin membunuhku? Tapi kenapa, kenapa Meli tidak menghentikan mereka?”
“Yang Mulia, kenapa kau bisa di sini? Dan apa-apaan semua ini?”
Ethelyne menoleh ke asal suara, dia berdiri dan langsung berlari ke arah Harvey dan memeluk sebelah kakinya. “Huaa!! Harvey, Ethel sangat ketakutan di sini!!”
Harvey mengusap kepala Ethelyne, dia menggendongnya dan tidak membiarkannya melihat mayat serigala iblis ataupun genangan darah. “Cup, cup. Tidak apa-apa sekarang, kita akan kembali ke kerajaan. Yang Mulia tidur saja dan lupakan semuanya.”
__ADS_1
Ethelyne mengusap wajahnya kasar, dia berbaring telentang di atas kasur dengan pandangan yang terus fokus ke langit-langit kamar. “Seharusnya aku yang melindungimu, aku senang. Kau bisa menganggapku sebagai teman dan tidak menjauhiku seperti yang lainnya.” Ethelyne bangun dan menyentuh cadar yang menutupi wajahnya. “Bagaimana jika kau tau wujudku yang sebenarnya? Apa kau akan tetap menganggapku sebagai teman atau justru menjauhiku, Aelene. Meskipun pada akhirnya kau akan membenciku, tapi aku senang menikmati hari-hari kita sebagai teman. Aku akan melindungimu dari apapun, kau adalah temanku yang berharga.” Dia meletakkan kepalan tangannya di depan dada, Ethelyne tersenyum miris. “Aku tidak takut di rundung ataupun dibenci, aku hanya takut. Kau menjauhiku seperti yang lain, apa kau akan menganggapku sebagai monster seperti yang lainnya?” Dia menatap ke luar jendela. “Bagaimana ya, nasibku setelah kau pergi. Tidak ada ibu, tidak ada ayah. Kedua kakakku bahkan ingin membunuhku.” Ethelyne tertawa hambar. “Aku ini memang anak pembawa sial ya, seharusnya tidak ada yang dekat-dekat denganku. Hah, aku benar-benar lelah dengan kehidupan pura-pura ini. Untuk apa hidup abadi jika aku selalu kesepian.”
Air mata mengalir di pipinya, Ethelyne menunduk sambil mengeratkan kepalan tangannya. “Ibu, Ayah. Aku sangat merindukan kalian, kapan kalian akan datang dan membawaku pergi bersama?”
~~~♥~~~
“Yang Mulia, beberapa kali kami menemukan manusia yang menyelinap ke dunia iblis. Kami berhasil melumpuhkan mereka dan mendapatkan daftar nama mereka,” kata Seorang prajurit sambil menyerahkan sebuah kertas berisi nama-nama manusia yang masuk ke dunia iblis.
Ethelyne dalam mode Demon Queen mengambil kertas itu dan membacanya, dia tersenyum tipis. “Tidak kusangka, bahkan sepuluh prajurit yang dilatih jenderal perang juga akan masuk ke dunia iblis.”
Ethelyne melirik prajurit itu, dia menyerahkan kertas itu kembali. “Mudah saja, pertama. Patahkan kaki dan tangannya, kedua potong lidahnya. Ketiga, kebiri mereka. Keempat … eum.” Ethelyne memegang dagunya berpikir keras.
“Keempat, cambuk mereka. Kelima, taburi luka mereka dengan garam, dan bubuk lada.”
Ethelyne menjentikkan jarinya. “Benar sekali! Kau, lakukan yang aku dan Ryan ucapkan tadi!”
__ADS_1
“Perintah Anda akan dilaksanakan.” Prajurit itu berdiri dan undur diri.
Ryan berjalan ke arah Ethelyne yang seolah tengah menghitung sesuatu. “Sepertinya kau sedang memikirkan dunia manusia itu, apa sebegitu baiknya di dunia manusia?”
Ethelyne melirik Ryan, dia tersenyum tipis. “Heh, aku tidak berpikir Pangeran Mahkota ingin ikut campur dalam urusan Ethelyne di dunia manusia.”
“Ethelyne?” Ryan baru menyadari warna mata Ethelyne yang berwarna emas, dia segera berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan. “Maafkan ketidaksopanan Pangeran ini, hamba tidak tau bahwa Anda yang berdiri di hadapan hamba.”
“Tidak masalah, tidak masalah.” Ethelyne mengibaskan tangannya. “Lagipula, suasana hatiku sedang baik. Omong-omong, bagaimana keadaan Zen? Apa dia tidak kesakitan lagi?”
“Saya tidak mengerti ucapan Anda sama sekali,” kata Ryan dengan posisi yang masih sama.
Ethelyne duduk di singgasana dengan wajah bosan, dia menopang dagunya malas. “Yah, bagaimana ya? Aku mengambil inti jiwanya sebagai sandera.”
“Apa??” Ryan menatap terkejut Ethelyne, bagaimana mungkin gadis itu mengambil inti jiwanya. Inti jiwa yang menjadi penopang hidup seseorang, Ryan bahkan menjadi bingung mengapa Zen masih hidup setelah inti jiwanya dikeluarkan.
__ADS_1
Ethelyne mengangguk. “Hm, memang benar. Aku mengeluarkan inti jiwanya kemarin karena membuatku kesal, tapi jangan khawatir. Aku tidak akan membunuhnya kok. Aku menggunakan Roh pelindung untuk menopang hidupnya, tapi ingatkan dia. Jika dia tidak patuh dan inti jiwanya tidak akan kembali dalam sebulan, dia akan mati membusuk. Kau tau kan, tanpa inti jiwa. Iblis tidak bisa bertahan hidup sama sekali.”