
“Ibuku, dia. Dia dibunuh dengan tragis oleh Raja Iceworld yang sangat menjijikkan itu!!” Napas Ethelyne tiba-tiba tercekat, dia menatap Ned dengan mata berkaca-kaca. Ethelyne menahan air matanya agar tidak keluar, ingatan-ingatan yang dilaluinya bersama Earlene dan ingatan tentang kematian Earlene seolah berputar-putar di pikirannya. “Kalian tau apa.” Suara Ethelyne terdengar sangat pelan. “Manusia hina seperti kalian tidak akan bisa bertahan sampai 500 tahun, tapi kami para iblis. Kami selalu memendam semua perasaan yang kami alami selama seribu tahun! Ingatan-ingatan yang tidak bisa dihapus hanya terus berputar di otak kami dan membuat kami menderita, kalian tidak tau! Betapa menderitanya bangsa iblis yang kehilangan keluarganya karena keegoisan manusia!!”
Tanpa sadar, air mata yang sedari tadi dia tahan mengalir tanpa pemberitahuan. Sungguh, Ethelyne merasa sangat sakit di hatinya. Setiap mengingat kata-kata Earlene, dia selalu berusaha untuk tidak menghabisi manusia. Dia selalu berusaha melindungi mereka sampai menghabisi rakyatnya sendiri, namun apa bayarannya. Dia justru mendapatkan balasan yang membuatnya benar-benar sangat muak terhadap manusia yang sangat egois.
“Kalian tidak tau bagaimana--” Ethelyne langsung terdiam saat seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang, otaknya tiba-tiba loading. Dia tidak bisa mencerna apapun yang dia lakukan dan katakan barusan. “Apa maksudnya ini?” tanyanya dengan nada datar, Ethelyne tidak lagi menangis tapi jejak air mata masih terlihat jelas di pipinya.
“Rimuru, kenapa kau melakukan hal ini?”
Ethelyne menahan napasnya. “Apa, yang kau katakan? Aku adalah Ethelyne! Rimuru telah mati sejak dulu.”
“Tidak.” Eadric menggeleng. “Aku tau, itu kau. Suara dan tatapanmu membuktikan semuanya, kenapa. Kenapa kau berpura-pura menjadi Ratu iblis? Apa kau dipaksa oleh mereka? Jawab aku, Rimuru. Kenapa kau selalu meninggalkanku tanpa pemberitahuan ataupun pesan apapun, kau tidak tau. Aku merasa sedih, sangat sedih. Setiap kali kau pergi, hatiku terasa tidak tenang dan pikiranku hanya terus menampilkanmu. Kenapa, kenapa kau tidak pernah kembali padaku setelah hari itu?”
“Sudah kukatakan, aku bukan Rimuru! Aku adalah Ethelyne Virgian Blisterzz, aku adalah Ratu kegelapan. Aku bukanlah gadis bodoh itu, Rimuru telah mati.” Ethelyne menghela napas. “Kau sungguh bodoh ya.” Nada bicaranya tiba-tiba berubah. “Kau bahkan berpikir aku adalah dia, pfft. Sungguh lucu, bagaimana mungkin gadis yang telah mati hidup kembali?”
“Aku tau, itu kau. Kau tidak bisa membohongiku sama sekali, kembalilah bersamaku. Aku akan membantumu bebas dari mereka, Rimuru. Ikutlah aku pulang.”
“Sudah aku katakan!” Ethelyne menjatuhkan pedang yang dia pegang, dia melepaskan pelukan Eadric dan berbalik menatap pria itu tajam. “Aku bukanlah Rimuru! Gadis itu telah mati, dia mati karena ledakan energi sihir yang kuat. Entah kau menerimanya atau tidak, tapi dia telah mati dan tidak akan kembali lagi!!” teriaknya marah, Ethelyne memijat pelipisnya. “Kembalilah, negosiasi kalian telah gagal. Jangan pernah menemuiku lagi, jika tidak. Saat kalian menyentuh portal ke dunia iblis, maka kalian akan terbakar menjadi abu.” Dia menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun.
Bersamaan dengan itu, asap hitam yang sedari tadi mencekik Glory hingga pingsan menghilang di udara.
“Kenapa, kenapa kau lagi-lagi meninggalkanku? Apa kau masih belum puas terus pergi dan menghilang dari hadapanku??” tanya Eadric bergumam.
Ned masih diam di tempatnya tak bergeming, dia masih syok saat melihat Eadric yang tiba-tiba memeluk Ratu iblis dan memanggilnya Rimuru. ‘Apa Yang Mulia menjadi gila karena kehilangan gadis penyihir itu? Meskipun tatapan Ratu iblis benar-benar mirip dengannya, tapi mau bagaimanapun. Ratu iblis bukanlah gadis penyihir.’ Ned menghela napas. ‘Kami pada akhirnya pulang tanpa hasil apapun.’
‘Sialan! Apa-apaan pria bodoh itu!’ Ethelyne memukul tembok hingga meninggalkan bekas retakan, dia benar-benar telah berusaha menahan gejolak emosi yang sedari tadi ingin dia luapkan.
__ADS_1
“Ada apa, Nona? Kenapa Anda terlihat sangat emosi?” tanya Vio yang entah sejak kapan bersandar di pintu, Laurie tengah duduk manis sambil memakan cemilan.
“Cih, tidak ada apa-apa.” Ethelyne menarik kursi dan duduk dengan raut wajah gusar. ‘Ingin sekali aku mencekik pria itu sampai mati, bagaimana dia bisa mengenaliku meski tertutupi cadar? Bodoh, sepertinya. Aku hanya bisa mempercepat perangnya.’
“Master, persiapan pesta penobatan Anda sebentar lagi akan selesai. Apa Anda tidak ingin berjalan-jalan untuk melihat hiasan-hiasan di jalanan?”
“Laurie, beritahu Meli dan Loreen. Pesta penobatan ini akan ditunda sampai lima bulan setelah perang selesai.”
“Eh, tapi kenapa? Aku ingin memakan makanan enak di pesta penobatanmu.”
“Oke! Akan segera saya laksanakan!” kata Laurie sigap, dia tentu tidak ingin berakhir di ruang gelap. Ruangan yang kosong tanpa penerangan apapun, sangat gelap. Bahkan dipasangi anti-magic untuk mencegah seseorang kabur, bahkan dia yang sebagai hewan spirit tidak akan bisa lari ketika dimasukkan ke ruang gelap tersebut.
Ethelyne menghela napas pelan. “Vio.”
“Ya, Nona.”
__ADS_1
Vio langsung berjalan keluar sambil menyeret Laurie sebelum memberitahu pekerjaannya, Ethelyne yang melihat hal itu kembali menghela napas. “Syukurlah pria itu sangat peka dan cepat tangkap, jika dia seperti Laurie. Maka aku bisa gila berlama-lama dengan mereka.” Dia bersandar di sandaran kursi, Ethelyne menutup matanya. Tidak berselang lama, sebuah barier mengelilinginya. Dia terlelap dalam sekejap, perlahan-lahan. Aura dengan warna yang berbeda mulai menguar dari tubuhnya dan berusaha menerobos barier.
~~~♥~~~
“Luna, bagaimana kabarmu? Maafkan Mama yang baru sempat mengunjungimu.”
“Tidak apa-apa, Mama. Luna mengerti, Mama pasti juga sibuk di luar sana. Luna sudah senang jika Mama bisa menemui Luna setiap hari,” kata Luna dengan senyum manisnya yang langsung membuat hati Ethelyne berbunga-bunga.
Suasana hatinya pun berubah setelah menemui sang anak kesayangan. “Ah, gadis kecilku yang manis. Senyummu itu selalu membuat ibu bahagia, tunggulah sebentar lagi. Akan Mama pastikan, Mama akan membawaku keluar dari sini secepat mungkin.”
“Luna yakin, Mama akan melakukannya secepat mungkin. Tapi Mama juga tidak boleh sedih, Luna akan sedih jika Mama sedih.”
Ethelyne terdiam, dia tersenyum lembut sambil mengusap pipi Luna. “Mama baik-baik saja, Sayang. Mama hanya merasa sangat sedih karena baru bisa menemui Luna sekarang.”
“Mama tidak berbohong kan, Luna tidak selalu bisa melihat masa depan. Jadi Luna tidak bisa selalu memastikan apa Mama benar-benar baik-baik saja atau tidak, Luna sangat khawatir pada Mama.” Luna memeluk Ethelyne erat. “Luna tidak suka jika Mama terluka, Luna ikut terluka saat melihat Mama sedih.”
__ADS_1
“Maafkan Mama, sayang. Akan Mama pastikan, lain kali. Mama tidak akan terluka lagi, Mama tidak akan membiarkan Luna merasa sakit. Mama akan menjaga diri Mama demi Luna,” Ethelyne mengusap punggung Luna lembut.