
“Aduh, bukankah kau cukup keterlaluan. Gareth.”
“Maafkan saya, Nona. Tapi saya menerima perintah langsung dari Yang Mulia Ratu agar tidak membiarkan Anda terluka bahkan sesentil pun.” Gareth tiba-tiba saja muncul di samping ketiga mayat sambil berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan.
“Aku tau kok.” Ethelyne tersenyum hingga matanya menyipit. “Hanya saja, bukankah terlalu berlebihan untuk membunuh mereka. Terlebih lagi … kau terlihat tidak bisa menahan diri lagi.” Dia menatap mata merah darah Gareth yang tampak bercahaya, tangan pria itu pun tampak sedikit bergetar.
“Maafkan saya karena tidak bisa menahan nafsu, Nona Ethelyne.” Gareth menunduk merasa bersalah, dia sendiri kini benar-benar tidak kuat lagi menahan nafsu para iblis.
Ethelyne menghela napas. “Ini bukan kesalahanmu.” Dia mengibaskan tangannya ke arah Gareth, muncul pernak-pernik di tempat Ethelyne melambaikan tangannya. Pernak-pernik itu seolah terbang ke arah Gareth dan menempel di tubuh pria itu. “Aku hanya bisa menahan nafsumu sampai tiga jam saja, lebih baik kembalilah ke dunia bawah sementara waktu dan pulihkan dirimu. Karena kekuatan suciku, akan membuatmu lebih mudah kelelahan dan kehabisan energi sihir.”
“Tapi …”
“Jangan khawatir.” Ethelyne tersenyum. “Aku bisa menjaga diriku sendiri, lebih baik segera kembali sebelum kau menerkam manusia di sini.”
“Baik, kalau begitu. Saya permisi undur diri.” Gareth langsung menghilang dan hanya meninggalkan jejak-jejak sihir gelap.
Ethelyne menatap datar ketiga mayat di hadapannya, dia menghela napas. “Laurie.”
Sebuah cahaya muncul di hadapannya dan membentuk seorang gadis, Laurie. Gadis itu langsung menghamburkan pelukan.
“Master, akhirnya kita bertemu lagi. Saya sangat merindukan master,” kata Laurie sambil mendusel manja.
“Lama tidak bertemu, aku juga merindukanmu. Laurie, bagaimana keadaanmu hari ini?”
“Saya sangat baik berkat master, berkat ikatan kontrak kita yang menjadi kuat. Penyembuhan diri saja menjadi sangat cepat, secepat regenerasi iblis. Itu benar-benar keren!”
“Syukurlah, daripada itu. Aku ingin meminta tolong, bersihkan tempat kejadian ini tanpa tersisa sedikitpun.” Ethelyne menatap ke arah ketiga mayat.
Laurie mengalihkan pandangannya mengikuti arah tatapan Ethelyne. “Mudah saja!” katanya bangga, dia menjentikkan jarinya. Seketika muncul lingkaran sihir berwarna pink di bawah ketiga mayat, lingkaran sihir itu bercahaya dan langsung menghilang bersamaan dengan hilangnya ketiga mayat. Bahkan kepala ataupun jejak darah tidak tersisa sedikitpun.
“Kau membawanya kemana?”
“Tempat pembuangan sampah,” kata Laurie dengan santainya.
Ethelyne menghela napas. “Kau ini … tidak perlu terlalu berlebihan seperti itu. Sudahlah, kau bisa kembali.”
“Ok, sampai bertemu lagi.” Laurie melambaikan tangannya dengan tubuh yang perlahan-lahan menguap ke udara.
‘Tumben sekali dia menurut, sudahlah. Lebih baik aku segera ke sana sebelum gelap.’ Ethelyne berjalan pergi dengan santainya.
__ADS_1
“A-aku senang kau baik-baik saja.”
Ethelyne tersenyum. “Aku juga senang kau baik-baik saja, sepertinya Kathel memperlakukanmu dengan baik ya. Aelene.”
“Bagaimana … kabarmu akhir-akhir ini?” tanya Aelene sambil memainkan jemarinya gugup, ini adalah kedua kalinya dia berbicara dengan Ethelyne setelah lima tahun berlalu di kamar yang bagai sangkar burung.
“Aku baik-baik saja. Maaf ya, kau jadi seperti seekor burung yang dikurung dalam sangkar dalam lima tahun ini. Kau pasti sangat tersiksa kan.”
“Itu bukan masalah, aku senang kau bisa kembali dengan selamat.”
“Syukurlah, bagaimana pertunanganmu dengan Zachary? Aku harap kalian selalu bahagia.”
Aelene tediam sejenak, dia tersenyum manis. “Pertunangan kami baik-baik saja … Ethel,” panggilnya ragu.
“A-apa kau bisa hadir di upacara pernikahanku nanti?” tanya Aelene gugup.
Ethelyne menatap Aelene tanpa berkedip, detik selanjutnya. Dia tersenyum manis. “Jika bisa.” Senyum di wajahnya berubah menjadi tipis. ‘Sayang sekali, mungkin kita semua memang tidak ditakdirkan. Tidak, hanya aku saja yang tidak ditakdirkan.’
“Aku akan senang kalau kau datang, jadi kumohon. Datanglah.” Aelene menutup matanya dengan kedua tangan yang disatukan di atas dada memohon.
Ethelyne terdiam sejenak. “Baiklah, sebagai balasannya. Maukah kau mengulurkan tangannya dan menutup mata?”
__ADS_1
“Tentu saja!” Dengan semangat, Aelene mengulurkan kedua tangan dan menutup matanya.
Senyum di wajah Ethelyne perlahan-lahan meluntur, dia menatap datar Aelene yang tersenyum dengan mata tertutup. ‘Sayang sekali ya, kita tidak akan bertemu ataupun saling kenal lagi. Maaf karena aku tidak bisa memenuhi janjiku, Aelene.’ Ethelyne menggenggam kedua tangan Aelene, dia menatap serius gadis itu. Ethelyne mengambil pisau di atas meja dan mengiris tangannya dan telapak tangan Aelene.
“Ssth,” ringis Aelene. “Sebenarnya kau sedang apa? Ethel.”
“Tolong diamlah sebentar, rasa perihnya hanya akan sebentar saja.” Ethelyne meneteskan darahnya di luka Aelene, dia menutup matanya saat melihat cahaya di luka goresan panjang di tangan Aelene. ‘Dewi, tolong bantu aku. Lindungilah mereka semua, berikanlah berkahmu dan biarkan mereka melupakanku.’ Ethelyne membuka matanya. “Aelene Tiatha Alys, mulai saat ini. Kau tidak pernah kenal dengan Ethelyne ataupun Kathelyne, selama ini. Gadis itu hanya ada di alam mimpimu dan hanya bunga tidur.”
“Ethel, apa yang …” Tiba-tiba, rasa kantuk yang tak tertahan menyerang Aelene. Dia masih berusaha untuk tetap sadar meski kelopak matanya sangat berat untuk dibuka.
“Jangan khawatir dan tidurlah, serahkan semuanya padaku. Aku akan menjagamu dan semua orang dari balik bayangan.”
Aelene langsung ambruk, gadis itu tertidur lelap.
“Tidurlah yang nyenyak.” Ethelyne mengusap kepala Aelene lembut. “Mimpi yang indah dan semoga kau tidak akan mengingatku lagi setelah bangun bagi.” Dia berbalik dan berjalan pergi sambil memakai tudung jubahnya. ‘Sisa mereka berempat, merepotkan sekali kalau harus mendatangi mereka satu-satu. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah nasib.’ Kabut asap putih seperti angin \*\*\*\*\*\* beliung mengelilingi Ethelyne, kabut itu menghilang bersamaan dengan hilangnya aura keberadaan gadis itu.
Seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan berjalan keluar dari tempat persembunyiannya, orang itu adalah gadis pelayan dengan rambut cokelat dan mata biru yang seindah samudera. ‘Apa yang baru saja pergi itu … Lady suci??’ Dia menggeleng cepat. ‘Sadar Willa! Kau seharusnya segera melaporkan semua yang kau dengar pada Master!’ Dia menutup matanya dan langsung menghilang tanpa jejak sedikitpun.
~~~♥~~~
Sesampainya di istana matahari, Willa langsung berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan. Pakaian pelayannya telah diubah menjadi pakaian berwarna hitam.
__ADS_1
“Master, saya …” Willa tidak lagi melanjutkan ucapannya saat melihat Eadric yang tertidur sambil menelungkupkan wajahnya, caranya tidur benar-benar mirip seperti Aelene saat selesai 'dihipnotis'. “Master!” Willa berdiri dan mengetuk-ngetuk meja beberapa kali agar Eadric sadar namun percuma. ‘Bagaimana ini? Apa Master juga sudah terkena sihir dari Lady suci? Jika itu benar, maka bukankah Yang Mulia juga akan melupakan Lady suci! Tidak boleh! Aku harus … Ned! Di mana si bodoh itu berada?!’ Dia celingak-celinguk mencari keberadaan Ned namun tak menemukannya. ‘Tumben sekali dia tidak mengekori master seperti anak ayam.’