Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
117. Curiga


__ADS_3

“Silahkan, Nona Ethelyne.”


“Hehe, terima kasih Meli. Omong-omong, di mana Kathel? Aku tidak melihatnya lagi setelah keluar dari kamarku kemarin.”


Meli yang sibuk mengusap kulit apel tiba-tiba terdiam, dia tersenyum tipis namun terkesan dipaksakan. “Yang Mulia sedang berada di ruang kerjanya, beliau meninggalkan pekerjaannya selama beberapa hari untuk merawat Nona. Jadi pekerjaannya menjadi sangat menumpuk kali ini.”


“Ternyata begitu.” Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengigit apel di tangannya, dia diam-diam melirik Meli yang bertingkah aneh. ‘Sudah jelas dia bohong, aku sudah mencari Kathel di seisi istana sejak tadi pagi. Tapi tidak menemukannya di mana-mana, kemana dia sebenarnya?’ Ethelyne berdiri dan membuat Meli mendongak. “Aku akan ke dunia manusia dan menemui Eadric.”


“Tunggu sebentar, Nona!” kata Meli sembari berdiri, dia tampak gugup dan tergesa-gesa.


“Ada apa?” Ethelyne menatap Meli bingung, dia sedikit memiringkan kepalanya.


“Itu, sebenarnya...” Meli berkata dengan terbata-bata, dia memainkan jemarinya sembari melirik kesana-kemari mencari alasan.


“Hm?”


“S-sebenarnya, sebenarnya Yang Mulia meminta Anda untuk menjaga Istana ini saat beliau pergi, ya, seperti itu! Hahaha.” Meli tertawa dengan kaku.


“Ah, begitu ya.” Ethelyne tersenyum. “Bukannya sebelumnya kau bilang Ethel ada di ruang kerjanya?”


“S-soal itu...” Meli melirik ke arah lain dengan keringat dingin yang mengalir di dahinya.


“Jujur saja sebenarnya apa yang terjadi!”


“A-anu, sebenarnya. Yang Mulia Pangeran... Yang Mulia pangeran Eadric...”


“Apa?”


~♥~


“Apa, apa-apaan ini??” gumam Ethelyne tak percaya. “Kenapa bisa...”


Beberapa jam yang lalu, di istana alam iblis.


“A-anu, sebenarnya, sebenarnya Yang Mulia pangeran Eadric sudah...”


“Katakan yang jelas!” kata Ethelyne tegas.


Meli memejamkan matanya dengan erat. “Sebenarnya, sebenarnya Yang Mulia pangeran sudah bertunangan.”


“Eh? Bohong kan? Tunggu, tunggu! Sepertinya aku salah dengar.” Ethelyne menggosok telinganya.


“T-tidak, Nona Ethelyne. Sejak Anda tak sadarkan diri, Yang Mulia Raja di alam manusia tiba-tiba mengadakan pesta pertunangan Yang Mulia Pangeran dengan Putri Grand Duke, saat Yang Mulia mengetahuinya. Beliau marah besar.” Meli menunduk dengan sedih. “Beliau menghampiri Yang Mulia pangeran, tapi beliau tidak dibiarkan bertemu dengan pangeran dan diusir.”

__ADS_1


“Ha-ha-ha, kau bercanda kan! Ini semua hanya candaan kan! Ah, aku yakin, aku pasti masih bermimpi.” Ethelyne menepuk-nepuk pipinya tak percaya.


“Tolong hentikan, Nona.” Meli segera menahan kedua tangan Ethelyne. “Y-yang Anda dengar itu semuanya benar, Yang Mulia pangeran... sudah bertunangan.”


~♥~


‘Eadric, bagaimana bisa dia...’ batin Ethelyne yang masih tak percaya, dia menghampiri seorang gadis kecil dengan pakaian lusuh. “Permisi, apa yang terjadi di sini?”


“Ah, apa kakak tidak tau? Pesta pertunangan Yang Mulia pangeran ditentukan dan acaranya akan berlangsung selama seminggu penuh, calon tunangan Yang Mulia adalah Nona Sela, Putri satu-satunya Grand Duke Brown.”


“A-ah, begitu ya. Terima kasih sudah memberitahuku.” Ethelyne tersenyum manis meski wajahnya tampak pucat.


“Apa kakak baik-baik saja? Wajah kakak terlihat pucat, bagaimana kalau kakak istirahat di rumahku dulu? Aku yakin ibu akan senang menerima kakak.”


“Terima kasih ya, gadis kecil. Tapi aku baik-baik saja.” Ethelyne mengusap kepala gadis kecil itu, dia kemudian membuka kepalan tangannya. Tiba-tiba, muncul lima koin emas di telapak tangannya, Ethelyne menyerahkan koin emas itu pada gadis kecil tersebut. “Ini untukmu, bawalah pulang dan jangan perlihatkan pada siapapun kecuali ibumu ya,” katanya dengan sebelah mata berkedip.


Gadis itu menerima koin emas itu dengan mata berbinar, dia menatap Ethelyne dengan senyum termanisnya. “Terima kasih, kakak cantik!”


“Owhh, manisnya.” Ethelyne mengacak rambut gadis kecil itu gemas. “Omong-omong, siapa namamu? Aku Ethelyne.”


“Namaku Aliya, kak Ethelyne bisa memanggilku apa saja.”


“Eum, kalau begitu, kupanggilkan Liya saja ya. Tidak apa-apa kan?”


Ethelyne tersenyum lembut, entah kenapa. Melihat senyum manis Aliya membuat beban di hatinya menghilang.


“Alya!!”


Ethelyne dan Aliya menoleh ke asal suara bersamaan, seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh berjalan ke arah keduanya dengan terburu-buru. Wanita itu langsung memeluk Aliya. “Sayang, kau darimana saja?? Kenapa kau tiba-tiba menghilang? Kau membuat ibu sangat khawatir.”


“Maaf, ibu. Aliya ingin membelikan ibu roti. Tapi yang yang Aliya bawa tidak cukup, untungnya. Ada Kakak yang baik hati ini.” Aliya melepas pelukannya dari wanita itu dan menatap Ethelyne. “Berkat kakak cantik ini, Aliya bisa membelikan makanan yang lebih baik untuk ibu,” lanjutnya sambil menatap wanita itu.


Wanita paruh baya itu tampak menutup mulutnya menahan haru, dia memeluk Aliya. “Maafkan ibu, sayang. Gara-gara ibu, kau juga jadi menderita begini.”


“Ini bukan kesalahan ibu.” Aliya membalas pelukan wanita itu.


Ethelyne hanya diam di tempat dengan senyum tipis, menatap keduanya dalam diam. Meski begitu, ada tatapan rindu dan sedih yang amat dalam di matanya, Ethelyne menyeka air matanya dan tersenyum. “Karena Liya sudah memiliki uang, bagaimana kalau mengajak ibu ke restoran untuk makan?”


“Iya!” kata Aliya semangat. “Ayo ibu, kita ke restoran. Ibu bisa makan enak di sana!”


“Tapi... kita tidak punya uang sebanyak itu.”


“Jangan khawatir, Nyonya. Saya akan mentraktir Anda hari ini sebagai ucapan terima kasih.”

__ADS_1


“Apa yang Anda katakan, Nona? Seharusnya saya yang berterima kasih, Anda sudah membantu Putri saya dan bahkan memberinya uang. Tidak pantas jika Anda yang mentraktir saya,” kata wanita itu sungkan.


Ethelyne tersenyum. “Tidak apa-apa, Nyonya. Lagipula, Liya adalah anak yang manis.” Dia menunduk dan menatap Aliya sambil mengusap surai gadis itu, Ethelyne kemudian mendongak menatap wanita paruh baya itu. “Saya juga ingin meminta tolong sedikit, jadi jika tidak keberatan...”


“Eum... baiklah, tapi jika kita bertemu lain kali, biarkan saya yang mentraktir Anda,” kata wanita itu mantap.


Ethelyne terus memasang senyum manisnya. “Tentu.”


“Mari makan di restoran!” kata Aliya menyela keduanya.


Ethelyne terkekeh kecil melihat tingkah Aliya. “Baik, baik, mari kita ke restoran.”


Aliya menggandeng tangan Ethelyne dan tangan sang ibu kemudian menarik keduanya memasuki sebuah restoran.


“Hati-hati, jangan sampai kau terjatuh,” kata wanita itu khawatir.


Ethelyne membiarkan gadis kecil itu menariknya kemanapun, dia diam-diam melirik ke arah pintu istana yang tak jauh dari tempat ketiganya, pintu itu tampak dijaga dengan ketat oleh delapan prajurit. ‘Eadric...’


~♥~


“Selamat siang, Pangeran Eadric, apa saya mengganggu Anda?” tanya seorang gadis cantik saat membuka pintu, senyumnya semanis madu dengan dua mata berwarna pink, rambutnya yang juga berwarna pink tampak selaras dengan gaun yang dikenakannya.


Eadric yang tengah menatap ke luar jendela hanya melirik gadis itu sekilas sebelum kembali melamun.


Gadis itu tersenyum sendu. “Pangeran Eadric, Anda mengabaikan saya lagi. Padahal saya ini tunangan Anda loh.”


~♥~~♥~


Jeng... Jeng...


Protagonis dalam novel muncul😯


Kalau beneran Ethelyne masuk ke dalam novel, kayaknya tunangan Eadric (alias Sela) bakal jadi pemeran utamanya ya. Soalnya Mimin pengen deskripsiin sosok Sela itu sebagai sosok yang sempurna. Tapi Mimin ga tau mau nulisnya gimana😥 jadi nulisnya sebisa Mimin aja.


Omong-omong, setelah sekian episode akhirnya protagonis pria kita muncul juga ya. Kira-kira, Eadric Nerima pertunangan itu karena dia suka Sela atau karena hal lain?


Humm, tunggu aja klarifikasinya di episode yang akan datang 😉


Sampai jumpa lagi and... See you in the next episode


(\_/)


( °·°)

__ADS_1


( >💌 thanks for reading


__ADS_2