
“Kakak yang itu.” Gadis kecil itu menunjuk ke satu arah, Ethelyne mengikuti arah yang ditunjuk gadis itu.
Saat menemukan orang yang ditunjuk sang gadis, bola matanya tiba-tiba bergetar. ‘Eadric, kenapa dia bisa ada di sini? Terlebih lagi … bersama mereka semua??’
“Rimuru!”
Ethelyne mengalihkan pandangannya ke samping, dia semakin terkejut saat melihat Aelene yang berjalan ke arahnya dengan napas tersengal-sengal. ‘Bukankah informan mengatakan kalau mereka semua ada di kerajaan! Kenapa mereka bisa ada di ibukota?!’ Ethelyne berusaha menetralkan rasa keterkejutannya, dia menatap gadis kecil itu dan mengusap kepala gadis kecil itu lembut. “Terima kasih atas saputangannya, tolong rahasiakan hal ini ya,” katanya dengan sebelah mata yang dikedepankan.
Gadis kecil itu tersenyum senang, dia mengangguk cepat. “Apa boleh kupeluk?”
Ethelyne berkedip polos, dia terkekeh geli dan memeluk gadis kecil itu. “Gadis kecil, apapun yang akan kulakukan selanjutnya. Kuharap, kau akan selalu mempercayaiku.”
“Iya! Aku pasti akan selalu mempercayai Kakak Lady!”
Ethelyne melepas pelukannya, gadis kecil itu berlari pergi. Namun bukan ke orang tuanya, melainkan ke arah Eadric bersama keempat pria lainnya.
“Rimuru,” panggil Aelene yang terdengar ragu.
Ethelyne berdiri dan menatap Aelene dengan senyum tipis yang terkesan lembut. “Apa Anda memanggil saya, Nona?”
“Kau, kau Rimuru kan!“
Ethelyne memiringkan kepalanya bingung. “Rimuru? Siapa Rimuru?” tanyanya pura-pura tidak tau. ‘Astaga, kenapa dia sangat peka sih??’
“Rimuru! Kenapa kau selalu menghilang? Aku sangat mengkhawatirkanmu! Aku tidak ingin kau pergi lagi!”
“Maaf, Nona. Tapi aku bukanlah gadis yang kau cari.”
“Berheti berpura-pura! Meskipun kau berada di wujud yang berbeda sekalipun, aku akan tetap mengenalimu! Kau adalah adikku satu-satunya! Kakak mana yang tidak akan mengenali adiknya sendiri??”
Raut bingung di wajah Ethelyne perlahan-lahan menghilang, dia tersenyum tipis. “Benar juga, tidak mungkin ada kakak yang melupakan adiknya. Tapi, aku benar-benar bukan Rimuru. Namaku adalah Ethelyne, Ethelyne Virgian.”
“Jangan berpura-pura lagi!” Aelene menunduk sambil mengepalkan tangannya erat, dia mengkhawatirkan gadis itu setiap saat. Namun saat keduanya bertemu, Rimuru justru berpura-pura tidak mengenalinya.
__ADS_1
Ethelyne tetap mempertahankannya senyumannya. “Aku benar-benar bukan …” Dia menutup mulutnya dengan saputangan, segera Ethelyne menyembunyikan saputangan itu dan terus menatap Aelene dengan senyuman. “Seseorang memang seringkali mirip, saya mungkin mirip dengan gadis yang Anda cari. Tapi saya bukan dia, Nona.”
“Berhenti berpura-pura!!”
“Nona Aelene! Tolong bersikap sopanlah pada Lady!” kata seorang rakyat yang mulai kesal karena ucapan Aelene yang terdengar menyebalkan, bahkan gadis itu memanggil gadis suci dengan nama orang lain.
“Benar! Jangan membuat Lady semakin marah!”
“Benar! Pergi saja jika kau hanya ingin membuat kekacauan!”
“Semuanya, harap tenang. Semuanya bisa diselesaikan dengan baik.” Ethelyne mengalihkan pandangannya ke arah Aelene. “Jika sudah tidak ada yang bisa dibicarakan, bolehkan saya pergi?”
“Anda akan ke mana, Lady?”
“Apa Anda tidak ingin menetap di ibukota?”
“Tolong tinggalkan di sini, Lady!”
“Kami mohon, tinggallah disini!”
Barulah Aelene menyadari sebelah warna mata Ethelyne yang merah, dia melangkah mundur dengan tatapan tak percaya.
“Rimuru, kau …”
Aura yang terus menguar dari lingkaran sihir perlahan-lahan memenuhi seluruh kerajaan Iceworld seperti kabut, saat mulai menghilang. Barulah terlihat jelas barier yang dipasang mengelilingi semua kerajaan Iceworld.
“Rimuru, apa yang ingin kau lakukan?”
“Silahkan tebak sendiri, Kakak Aelene.”
Entah kenapa, senyum manis di wajah Ethelyne membuat Aelene merasa tidak nyaman. Tiba-tiba, sebuah kabut muncul dari bawah tanah dan mengejutkan mereka semua.
Para rakyat menatap ke arah Ethelyne yang mulai tidak terlihat karena kabut yang semakin banyak.
__ADS_1
“Lady, tolong ampuni kami.”
“Tolong redakan kemarahan Anda!”
“Tolong jangan menghancurkan kerajaan ini.”
“Jangan khawatir.” Ethelyne melirik ke arah keempat pria tersebut. “Kalian akan berada dalam tidur nyenyak yang aman, bermimpilah dengan indah. Setelah kalian terbangun nantinya, kalian akan membangun dunia yang baru.”
Entah bagaimana, satu-persatu rakyat yang berada di sana jatuh dalam tidur hingga hanya tersisa keenam orang itu.
“Rimuru, kenapa kau melakukan hal ini?”
“Kau pasti tau akan hal itu, Kakak Aelene.” Ethelyne melirik ke belakang Aelene, tepatnya ke arah keempat pria yang berdiri di belakang Aelene. “Ah, kalian datang juga ya? Sepertinya informasi yang kudapatkan salah.” Dengan senyum manis, dia berucap.
“Rimuru, jangan bilang kau telah …”
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Namaku adalah Ethelyne Virgian, dan seperti yang Kakak duga. Aku adalah seorang iblis, bukan hanya iblis sih. Tapi Ratu iblis.” Warna matanya yang merah tampak sedikit bercahaya. “Ada apa? Kalian terlihat sangat marah, apa kalian pikir kalau aku ini palsu?”
“Kau bukan Rimuru! Rimuru tidak pernah bersikap seperti itu apapun yang terjadi!” teriak Aelene.
“Hm, benarkah?”
Sebuah barier mengelilingi mereka, kabur yang awalnya menutupi pandangan mereka mulai menghilang. Namun di luar barier, kabut justru semakin tebal dan mereka tidak bisa melihat apapun.
“Sepertinya kau sungguh terkecoh ya.” Warna rambut Ethelyne perlahan-lahan berubah biru, dengan sihir kamuflase. Warna mata merahnya pun berubah biru. “Lihatlah, ini kan. Wujud Rimuru yang kalian maksud,” katanya dengan kedua tangan yang direntangkan. “Sayang sekali.” Ethelyne menurunkan tangannya dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin. “Wujudku yang sebenarnya adalah ini, sebagai seorang Ethelyne Virgian!”
“Tidak mungkin! Kau pasti berbohong! Kau meniru penampilan Rimuru demi mengelabui kami kan!” Aelene tetap saja tidak bisa menerima kebenarannya.
Ethelyne berdecak. “Buang-buang waktu.” Pandangannya tiba-tiba mengabur, Ethelyne melangkah mundur dengan pandangannya yang semakin menggelap.
“R-rimuru?”
Saat Ethelyne membuka matanya lagi, kedua warna matanya telah berubah merah sepenuhnya. “Kau ini, selalu memaksakan diri ya. Kau bahkan sampai menghabiskan semua energi sucimu hanya demi membuat barier dan berbicara omong kosong dengan manusia,” omel Ethelyne pada dirinya sendiri, tatapannya beralih ke arah Eadric. “Ah, jadi kau pria yang dimaksud jiwa bodoh itu? Ck, ck, ck. Dia bahkan sampai menggunakan setengah kekuatan sucinya hanya agar kau bisa berkontrak dengan Serigala salju, kasihan sekali.”
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Eadric dengan kening berkerut.
“Kau itu tidak tau apa pura-pura tidak tau?? Kau ingat, bunga lima warna itu.” Ethelyne menunjuk ke arah jantung Eadric. “Bunga itu memiliki hubungan dengan Serigala salju, saat kau meneteskan darahmu ke bunga itu. Kau telah menjalin kontrak dengannya, dasar gadis bodoh itu.” Dia berkacak pinggang seperti ibu-ibu yang bersiap mengomel. “Dia menggunakan setengah kekuatan sucinya, lalu memberikan 70% kekuatan luar biasa dari bunga dan juga menjadikan Vio sebagai hewan kontrak untuk manusia. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirnya.”