
Ryu melepaskan rambut Rio yang dipegangnya dan membuat kepala Rio jatuh ke lantai dan menggelinding, meninggalkan banyak darah di lantai.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya pun jatuh ke lantai dan mulai menghilang.
Solara masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tubuhnya terbujur kaku dan mulai menghilang sedikit demi sedikit sama seperti Rio.
Ryu melirik Solara, dia berkacak pinggang. “Jadi kau melakukan perjanjian darah dengan Rio ya? Huh, sayang sekali. Padahal seandainya kau tidak melakukan perjanjian darah dengan mengorbankan jiwamu, kau tidak akan mati meski aku membunuh Rio.. sayang sekali kau juga akan menghilang bersama dengannya, padahal aku juga ingin punya anjing yang setia.”
“Kau..” Solara menggertakkan giginya menahan amarah, urat-uratnya di wajahnya samar-samar terlihat. Solara ingin sekali menghancurkan kepala gadis di depannya, namun. Tubuhnya yang perlahan hancur tidak bisa melakukan apapun. “Dasar makhluk hina!! Kuharap kau mati dengan mengeri--”
Sebelum Solara menyelesaikan ucapannya, dia sudah lebih dulu menghilang bersama Rio.
Ryu menatap sisa debu dari mayat Rio. Dia tiba-tiba memuntahkan darah, napas Ryu menjadi tersengal-sengal. ‘Batasanku hanya sampai di sini ya?? Seandainya aku tidak langsung menghabisinya, aku pasti akan kehabisan tenaga lebih dulu, apalagi kekuatanku belum beradaptasi dengan sempurna. Sialan!’ Ryu berdiri tegak dan menjilat darah di bibirnya, dia menatap datar. “Kau sangat kasihan, Rio. Sejak dulu, kau selalu menjadi anak yang polos dan gampang percaya. Kau itu seorang iblis, yang diperlukan iblis hanyalah kekuatan, bukan kasih sayang. Rio, aku heran kenapa kau bisa bertahan hidup sampai saat ini dengan sikap yang seperti ini.” Ryu tersenyum tipis. “Kau memang kuat,” gumamannya jujur. “Aku tidak akan bisa sekuat dirimu, kau tetap bertahan dengan sikap yang selalu jujur dan percaya pada siapapun. Aku tidak bisa seperti dirimu.. mungkin itu sebabnya, aku memilih jalan lain, menjadi Dewa Iblis dengan membunuh orang-orang di sekitarku. Aku menjadikanmu alat untuk menghabisi Ayahanda, aku menghabisi Ibunda.. dan sekarang, aku juga menghabisimu. Sekarang, tidak ada lagi keluargaku di dunia ini, dengan begini. Aku pasti, bisa mendapatkan kekuatan yang lebih kuat kan? Kekuatan yang bisa kugunakan, agar orang lain tidak menginjak-injak diriku lagi. Agar aku.. bisa melindungi, orang yang kucintai..”
“Kamu mau? Kamu bisa memilikinya jika kamu mau~”
Ryu menutup sebelah matanya dengan tangan. ‘Sialan!’ Dia mendongak dan menatap ke langit-langit. “Kenapa aku terus teringat dengan senyum manismu itu? ...”
~♥~
“Apa kau melihat Ethelyne?”
“Tidak.”
“Permisi apa kau melihat Ethelyne? Dia sangat mirip denganku dan warna matanya berwarna biru.”
“Maaf aku tidak lihat.”
Aliya yang sedang membeli beberapa barang menoleh ke asal suara, dia melihat Kathelyne yang tampak resah dan cemas.
__ADS_1
“Kenapa dia ada di sana?”
“Saya tidak tau, Tuan Putri. Tapi sepertinya beliau sedang mencari Nona Ethelyne.”
“Kak Ethelyne?? Bukannya kak Ethelyne menemuinya?” Aliya berinisiatif mendekat. “Kak, kakak mencari kak Ethelyne?”
Kathelyne menganggukkan kepalanya, dia terus mengigit kukunya resah.
“Bukannya Kak Ethelyne pergi menemui Kakak?”
“Menemuiku?” bingung Kathelyne. “Aku tidak pernah bertemu Ethelyne sejak pagi, apa kau pernah melihatnya?”
Aliya menganggukkan kepalanya. “Saat hendak kemari, aku tidak sengaja bertemu Kak Ethelyne. Dia tampak terburu-buru dan saat aku tanya, dia bilang dia mau menemui Adiknya. Kupikir adik yang dimaksud itu Kakak.”
“Adik??” gumam Kathelyne dengan kening berkerut. ‘Sejak kapan Ethel punya adik?? Dia juga tidak menemuinya sejak pagi tadi, kemana kau sebenarnya??’
“Ethelyne pasti sudah muak dengan kalian berdua dan mencari adik baru.”
“Hei, hei, tenanglah. Itu kan hanya ucapanku saja, mungkin dia sedang mencari angin sendirian. Atau..” Zion melirik Kathelyne yang juga menatapnya dengan kening berkerut.
Mata Kathelyne tiba-tiba membulat. “Bocah sialan itu! Jika Ethel benar-benar ada di sana, aku pasti akan menghabisinya!” gerutunya dan berubah menjadi asap.
“Huh, terobsesi sekali.” Zion mengalihkan pandangannya ke arah Aliya yang juga menatapnya tajam meski justru kelihatan imut, dia menepuk kepala Aliya. “Jangan jauh-jauh dari istana,” katanya sambil berjalan pergi dengan tangan yang dilambaikan.
“Bukan urusanmu! Zion jelek!!”
‘Ucapannya kasar sekali,’ batin Zion sambil melirik Aliya yang berjalan pergi, dia kembali menatap lurus ke depan dengan raut datar. ‘Semoga kau baik-baik saja, Ethelyne. Kuharap, kau bisa tetap hidup dan bersatu dengan Eadric nantinya.’
~♥~
__ADS_1
“Ethelyne..”
“Ethelyne...”
“Ethelyne...!”
Ethelyne sontak membuka matanya, dia melirik kesana-kemari dengan raut bingung. ‘Siapa yang memanggilku?’
“Ethelyne..”
“Ethelyne..”
‘Tunggu, suara ini..’ Ethelyne meletakkan tangannya di depan telinga. ‘Suara yang bergema di telingaku, apa yang terjadi? Di mana aku? Kenapa aku berada di ruangan gelap? Apa aku dikurung? Apa aku masih ada di kerajaan? Atau aku dibawa ke suatu tempat??’
“Ethel~yne...”
Ethelyne membeku, suara familier itu langsung muncul di belakangnya. Dia menoleh dengan mata memerah menahan air mata. ”I-ibu..”
Earlene, wanita yang tampak mirip dengan Ethelyne itu tersenyum lembut dan merentangkan kedua tangannya.
“I-ibu..? Ini, ini benar-benar ibu kan??” Ethelyne berusaha menahan air matanya, dia berlari dan memeluk Earlene. “Huaa, aku sangat merindukan ibu. Aku, aku pikir aku tidak akan bisa bertemu ibu lagi. Kenapa, kenapa ibu meninggalkan aku?? Kenapa ibu tidak menyayangiku sama sekali?!”
Earlene balas memeluk Ethelyne, dia mengusap surai sang Putri dengan lembut. “Ibu menyayangimu, sayang~ ibu tidak bermaksud meninggalkanmu, tapi tugas ibu untuk melindungi manusia membuat ibu melakukan hal ini.”
”Itu hanyalah tugas! Kenapa ibu sampai mengorbankan nyawa ibu demi tugas yang tidak penting itu!” protes Ethelyne tanpa melepas pelukannya.
Namun, Earlene mendorong tubuh Ethelyne pelan dan membuat gadis itu terpaksa melepas pelukannya. Dia menatap bingung Earlene yang tampak menatapnya serius dengan raut datar. “Ethelyne, mungkin bagimu. Ini hanya tugas biasa, tapi bagi ibu. Ini adalah tugas yang sangat berarti.”
“Kenapa ibu tidak membiarkan para manusia itu mati? Mereka itu jahat, mereka melakukan apapun demi keegoisan mereka sendiri,” kata Ethelyne dengan air mata berlinang.
__ADS_1
“Sayang~” panggil Earlene lembut, dia mengusap air mata Ethelyne. “Tidak semua manusia itu jahat,” katanya dengan penuh kelembutan. “Setiap manusia itu punya sikap yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menentukan bagaimana orang lain bersikap. Tapi kita bisa melindungi orang-orang baik dengan kekuatan yang kita miliki... Apa kamu tahu? Ibu dulu adalah seorang yatim piatu yang dibuang di jalanan, Ibu hidup dengan sangat susah, jika ibu kelaparan, ibu hanya bisa mencari makanan sisa, jika ibu haus, ibu hanya bisa minum air kotor. Tapi sejak ibu bertemu Tuan Murry, hidup ibu berubah. Tuan Murry memberi ibu tempat tinggal, makanan dan air yang layak. Ibu juga mendapat banyak teman, ibu sangat bahagia. Dibandingkan dengan hidup ibu yang dulu, ibu menyukai kehidupan sekarang. Mengorbankan nyawa bagi ibu adalah balas budi untuk Tuan Murry dan Tuan William, ibu tidak sedih karena mengorbankan nyawa ibu demi orang-orang. Ibu justru sangat bahagia, melihat orang lain tersenyum dan berkumpul kembali bersama keluarga mereka merupakan kebahagiaan sendiri bagi Ibu. Jadi, Ethelyne, kamu mau kan meneruskan usaha ibu. Kamu mau kan membantu manusia-manusia yang lemah?” Earlene menggenggam kedua tangan Ethelyne dengan erat, air matanya mulai mengalir. “Ibu tidak ingin melihatmu mati seperti ini, Ethelyne. Ibu mohon, berusahalah, bertahanlah dan tetaplah hidup. Setidaknya, jika bukan untuk ibu. Lakukanlah untuk orang-orang yang kau sayangi. Ibu.. mohon~”
~♥~~♥~