
Seperti perjanjian kemarin, Ethelyne kini menjadi pelayan di kerajaan Iceworld. Ternyata, pria yang ditolongnya kemarin adalah pangeran ke6 dari 11 bersaudara.
Sungguh naasnya, dia juga bertemu Zachary yang ternyata adalah pangeran dari kerajaan yang sama. Untungnya, Zachary tidak tau identitasnya yang sebenarnya. Dan Pangeran ke6, Eadric. Mengizinkannya untuk memakai cadar untuk menjaga diri.
Meski dirinya sekarang menjadi Rimuru, tapi kekuatannya yang tidak stabil bisa saja berakibat buruk bagi dirinya sendiri.
‘Cih, kenapa aku masih belum bisa mengontrol kekuatanku dengan baik? Untung saja warna rambutku hanya berubah di malah hari, jika saja dilihat oleh orang lain. Apa mereka akan menyebutku penyihir? Pasalnya, di dunia manusia hanya beberapa orang yang memiliki sihir dan termasuk bangsawan atau rakyat yang jenius.
Ethelyne mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia kemudian berjalan ke arah cermin berukuran sedang di ujung kamar. Ethelyne menyentuh permukaan cermin, seketika cermin itu menjadi seperti air. Dia melirik sekitaran, Ethelyne melangkah masuk ke cermin dan menghilang. Tepat saat dia menghilang, cermin kembali ke keadaan semula seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun berbeda dari seorang pria berpakaian hitam yang sedari tadi mengawasinya dari jauh. ‘Saya harus melaporkan hal ini pada Yang Mulia! Gadis itu adalah penyihir, dia bisa mengubah cermin menjadi genangan air dan melewatinya seolah melakukan teleportasi. Apa jangan-jangan, Yang Mulia juga sudah tersihir oleh penyihir jelek itu?! Tidak bisa dibiarkan! Aku harus menyelamatkan Yang Mulia!’
“Hormat hamba pada Yang Mulia Ratu.” Loreen bersujud bersama beberapa pelayan lainnya.
“Jangan berlebihan, kenapa kalian memintaku kemari?” tanya Ethelyne yang duduk di salah satu sofa di temani novel bergenre komedi dan action.
“Yang Mulia, total iblis yang dibasmi bulan ini meningkat pesat dari bulan sebelumnya. Mungkin saja, para manusia berniat menyerang kerajaan iblis saat kekurangan banyak prajurit.”
Ethelyne melirik Loreen yang memberi laporan, dia menutup novel dan meletakkannya di sampingnya. Ethelyne bersandar sambil bersedekap dada. “Apa mereka benar-benar berpikir bisa mengalahkan kerajaan iblis setelah kebangkitanku?”
“Te-tentu saja tidak, Yang Mulia. Para manusia belum mengetahui kebangkitan Anda, maka dari itu. Mereka nekat menghabisi prajurit dan warga kita.”
Mata emas Ethelyne menatap datar Loreen yang sedari tadi bersujud sambil melapor, dia menghela napas. “Kalian bisa berdiri, beritahu prajurit yang lain untuk saling waspada. Jika melihat manusia yang muncul di portal iblis … habisi saja mereka.”
__ADS_1
“Akan hamba sampaikan, hamba permisi undur diri.” Loreen berdiri dan berjalan pergi diikuti pelayan yang lain.
Pintu besar itu mulai tertutup perlahan-lahan setelah kepergian Loreen.
“Kau pikir kau siapa bisa memerintah prajuritku sesuka hati.”
Ethelyne melirik ke asal suara, seorang pria tampan berperawakan tinggi berdiri di depan pintu yang telah tertutup. Dia dengan langkah besar berjalan ke arah Ethelyne dan mencekiknya.
“Hanya karena kau seorang Demon Queen, kau pikir kau bisa memerintah kerajaan ini lebih baik dariku!”
“Apa kau benar-benar berpikir begitu, Pangeran kedua?” tanya Ethelyne dengan senyum tipis, dia seolah tidak merasakan sakit apapun meski kakaknya, Zen. Mencekiknya dengan sangat keras. “Sayang sekali, kau seharusnya memikirkan sisa umurmu yang tinggal sedikit. Bukankah sia-sia jika kau menjadi Raja, lagipula. Kau itu tidak bisa menang melawanku.”
Ethelyne terperosok ke lantai, dia mengusap darah yang mengalir di mulutnya. Ethelyne berdiri dan menatap tembok yang kini rusak, tatapannya beralih ke Zen yang mengeluarkan aura hitam pekat. “Wah, sepertinya aku membuat harimau marah.”
Zen menyeringai, mata merah darahnya tampak sedikit bercahaya. “Kau pikir, kau bisa mengalahkanku hanya karena menjadi Demon Queen? Kau tetaplah Ethelyne si gadis lemah itu, kau tidak akan bisa mengalahkanku bahkan jika kekuatanmu bertambah sepuluh kali lipat.”
“Ck, ck, ck.” Ethelyne menggeleng dengan wajah prihatin, dia menunjuk Zen dengan senyum tipis yang selalu menghiasi wajahnya. “Kau sangat payah, Kakak. Kekuatanku bukan bertambah sepuluh kali lipat, tapi … sepuluh ribu kali lipat.” Ethelyne berjalan ke arah Zen dengan langkah santai. “Dan satu hal lagi, asal kau tau. Aku bukanlah Ethelyne si lemah, tidak. Aku memang bukan Ethelyne, aku adalah … eum.” Dia memegang dagunya berpikir. “Aku sebenarnya tidak punya nama, jadi panggil saja aku Ethel. Bukankah itu nama yang indah? Ethel dari Ethelyne.”
Zen berdecak dengan wajah jijik. “Kau pikir bualanmu itu akan membuatku takut?”
__ADS_1
“Bualan, ya?” gumam Ethelyne dengan senyum manis namun terkesan mengerikan. “Maka mari kita lihat, apa yang kukatakan itu asli atau hanya bualan semata.” Dia mengangkat sebelah tangannya ke arah Zen. “Wahai para kekuatan gelap, datanglah. Temui aku, hadirlah di depanku. Tunduklah pada penguasa kegelapan, atas nama Demon. Keluarlah dan biarkan dia mengalami kesakitan, kepedihan, dan keputusasaan.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, sebuah bola sihir hitam berukuran sedang keluar dari dada Zen. Bola itu mengarah ke Ethelyne dan diam di atas tangan gadis itu.
Zen tiba-tiba merasakan sakit di dadanya, dia tiba-tiba merasa sesak dan seolah ditusuk oleh pisau berkali-kali dan dikuliti. Zen bertekuk lutut sambil memegangi dadanya dan mengerang kesakitan.
Melihat hal itu, Ethelyne hanya tersenyum. Matanya menyipit. “Sekarang, jiwamu ada padaku. Hidup dan matimu ada di tanganku, jadi.” Dia berjongkok di depan Zen. “Patuhlah atau kau akan menghadapi kematian yang paling menyakitkan.”
“Kau pikir, kau bisa … membunuhku. Argh!!”
“Heh.” Ethelyne berdiri, tiba-tiba sebuah pedang hitam pekat muncul di tangannya. Ethelyne mengangkat pedang itu dan langsung menusukkannya tepat di bahu Zen, dia kemudian berjongkok sambil menikmati wajah kesakitan pria yang menjadi kakak tirinya itu. “Sepertinya kau lupa akan sesuatu, meskipun aku adalah Ethel. Tapi, kekuatan suci yang diturunkan oleh Earlene tetap menjadi milikku. Ingatlah satu hal, aku. Ethelyne, pengganti dari gadis suci terdahulu. Telah bangkit bersamaan dengan kebangkitan jiwa Demon Queenku, jadi kakakku tersayang. Aku bisa membunuhmu kapanku aku mau.”
Ethelyne berdiri dan berdiri dan berjalan pergi, tepat saat pintu tertutup. Pedang yang masih menusuk lengan Zen lenyap menjadi abu, namun anehnya. Luka yang disebabkan oleh pedang itu tidak dapat sembuh, rasa sakit yang diamalinya juga mulai berkurang seiring waktu.
Zen berdiri sambil memegang bahunya yang berdarah, tangannya terkepal menahan amarah. ‘Lihat saja nanti, aku pasti akan membalas dendam dan menjadikanmu budak darahku!’
~~~♥~~~
“Um, sepertinya kata-kataku tadi benar kan? Sepertinya jiwa gadis suci memang bangkit bersamaan dengan jiwaku, atau. Mungkin juga tidak?” Ethelyne menyentuh dagunya dengan jari telunjuk, dia tersenyum sambil terus berjalan mengikuti lorong. “Lupakan saja, itu tidak penting. Lagipula, aku tidak akan membiarkan Ethelyne mengambil alih jiwaku seperti saat kebangkitan.”
__ADS_1