Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
124. Masa Lalu


__ADS_3

‘Eh, di mana aku?’ Ethelyne menoleh ke sekitaran, namun. Dia tak menemukan apapun kecuali kegelapan yang pekat.


Ethelyne mencoba melangkah, namun dia seolah menabrak sesuatu di depannya. Saat Ethelyne meraba-raba, dia menemukan sebuah dinding di depannya. Namun dia tak melihat apapun menggunakan matanya.


‘Apa yang ada di depanku? Dinding? Atau cermin transparan? Hm...’ Ethelyne menutup matanya. ‘Ada hal yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.’ Dia mulai meraba-raba dan menemukan ujung dari dinding tersebut.


Ethelyne membuka matanya, dia terus meraba-raba dan melewati dinding itu. Matanya langsung terpaku pada banyaknya orang yang tergeletak di tanah berlumuran darah, Ethelyne menutup mulutnya kaget.


Pandangannya teralihkan oleh suara pedang yang saling beradu, saat dia menoleh ke asal suara. Seorang gadis tengah melawan seorang pria menggunakan pedang tumpul di tangannya, gadis itu tampak kesusahan melawan pria yang kekuatannya tentu jauh lebih banyak dari dirinya. Namun, di mata gadis itu ada banyak rasa kebencian dan dendam yang tertanam.


Ethelyne menatap kasihan. ‘Gadis itu, kenapa bisa memendam kebencian sekuat itu? Apa dia dendam pada pria itu?’


“Sudah kukatakan, kau tidak akan bisa mengalahkanku,” kata pria itu sambil menghindar dan menyerang.


“Diam! Aku tidak akan menyerah sampai aku berhasil memenggal kepalamu, dasar iblis sialan!” teriak gadis itu penuh amarah, dia melancarkan serangan yang tak beraturan. Jelas sekali dia tidak memiliki bakat berpedang.


Pria itu menangis pedang gadis itu dan membuat pedang itu terpental cukup jauh, dia langsung memanfaatkan kesempatan tersebut dan mengarahkannya pedangnya ke leher gadis itu.


“Percuma saja, kau sudah mati.”


“Heh, bahkan jika aku mati sekalipun. Aku akan menyeretmu bersamaku!”


“Jangan melakukan hal yang sia-sia, Seraphine. Lebih baik kau patuh padaku atau aku akan menghancurkan seluruh keluargamu juga.”


“Heh, fufufu.” Gadis yang dipanggil Seraphine itu tertawa kecil, dia menatap pria di depannya dengan rendah. “Patuh? Jangan harap! Mari kita mati bersama-sama, Allen!” Seraphine mengangkat tangannya ke atas langit, di telapak tangannya tampak sebuah formasi kecil yang digambar menggunakan darah.


“Formasi itu--”

__ADS_1


“Pemanggilan roh! Datanglah!!”


Tiba-tiba, angin bertiup sangat kencang. Ethelyne yang berada tak jauh dari tempat kejadian pun diterpa angin.


‘Kenapa tiba-tiba ada angin kencang??’ Saat Ethelyne kembali membuka matanya, seorang pria sudah muncul di tengah-tengah Seraphine dan Allen, pria itu memiliki sepasang sayap dan tanduk, tidak seperti roh. Tapi lebih mirip, Iblis.


Pria itu tampak tersenyum. “Tidak kusangka yang memanggilku kali ini adalah seorang gadis kecil.”


“Aku mohon, asal kau bisa menghabisi orang itu.” Seraphine menunjuk Allen. “Maka aku akan mengorbankan jiwaku!”


“Hm? Memangnya kenapa aku berpikir jiwamu begitu berharga sehingga bisa membayarku?”


Seraphine tampak gelisah, dia mengepalkan tangannya sembari menggertakkan gigi. “Aku, aku memiliki jiwa suci.”


“Huh?”


‘Oh, dia hampir mirip sepertiku,’ batin Ethelyne yang diam memperhatikan semua yang terjadi di depannya.


“Jiwa suci? Menarik, baiklah. Akan kukabulkan keinginanmu.”


Seraphine langsung saja jatuh ke tanah yang penuh genangan darah.


Pria itu kemudian berbalik ke arah Allen yang tampak siaga dengan pedang panjang di tangannya.


“Sepertinya kau bukan roh, siapa kau sebenarnya??”


“Hebat, ternyata kau bisa tau ya. Benar, aku bukan roh. Aku iblis di bawah perintah Tuan Kaisar Iblis, sepertinya gadis itu salah menggunakan mantra saat itu.” Pria itu melirik Seraphine sekilas sebelum kembali menatap Allen. “Yah, itu bukan urusanku. Setelah mendapat bayaran, maka aku harus menjalankan tugasku.” Dia menjentikkan jarinya.

__ADS_1


Tiba-tiba, muncul sebuah cahaya tepat di jantung Allen. Dia tampak kesakitan sebelum berubah menjadi abu.


Pria itu tersenyum. “Menarik sekali, dengan jiwa suci yang kuat ini. Aku bisa menjadi lebih kuat lagi!” Dia melirik ke arah Ethelyne.


Awalnya, Ethelyne tak menyadari hal itu. Namun, ketika pria itu terbang ke arahnya, barulah Ethelyne sadar kalau pria itu dapat melihat keberadaannya. Dia hendak pergi, namun. Kakinya seolah ditahan oleh sesuatu, tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak.


Pria itu berhenti di depan Ethelyne, dia tersenyum. “Aku sudah menunggumu, jiwa yang dikorbankan.”


“Apa? Apa maksudmu? Dan kenapa kau bisa melihatku??” tanya Ethelyne dengan penuh kebingungan.


Namun, pria itu tak menjawab. Dia justru mendekat dan mencium bibir Ethelyne, namun. Kejadian itu hanya berlangsung 1 detik karena pria itu langsung menembus tubuh Ethelyne dan berubah menjadi serpihan sihir.


Yang paling anehnya, serpihan-serpihan sihir itu seolah terhisap masuk ke tubuh Ethelyne.


Gadis itu memegang kepalanya yang terasa sakit. ‘Apa...’ Matanya terasa berat, dia mulai menutup matanya. Namun, Ethelyne tetap bersikeras mempertahankan kesadarannya, tapi pada akhirnya. Dia tetap tak bisa mempertahankan kesadarannya dan tertidur. ‘Aku... kenapa...’


~♥~


“Apa ini yang kau maksud sebagai penyihir terhebat?” tanya Kathelyne dengan tatapan rendah.


“Diam saja kau! Kau membuatku pusing.” Zachary menunjuk Kathelyne dengan raut kesal.


Sudah hampir tujuh hari sejak Ethelyne tak sadarkan diri, selama itu juga. Kathelyne tak henti-hentinya merendahkan dan mengomeli para penyihir yang mengobati Ethelyne. Para penyihir itu, kalau tidak terkena serangan mental, pasti menjadi gila.


Kathelyne berdecak, dia berjalan ke arah balkon kamar. Kathelyne menatap lurus ke depan. ‘Siapa yang menanam benih iblis di jantung Ethel? Terlebih lagi, kenapa dia bisa menanam benih iblis itu sementara ada energi murni yang menetap di sana. Bukankah seharusnya energi murni itu menghancurkan benih iblis yang tertanam, tapi kenapa semuanya malah tenang dan sunyi seperti ini? Karena kejadian waktu itu, pernikahan di pengkhianat itu dan penyihir jelek itu jadi tertunda, aku tidak tau kapan pernikahan ini akan terjadi lagi. Tapi... jika Ethel terbangun dan mendengar kabar kalau si pengkhianat- maksudku si Eadric itu dan si jelek itu menikah, apa yang akan dia rasakan? Apa dia akan menangis? Apa dia akan mengurung diri di kamar?’ Kathelyne menjambak rambutnya frustasi. ‘Tidak boleh!’ batinnya dengan tatapan serius. ‘Jika yang kubayangkan itu nyata, maka aku tidak akan membiarkan mereka menikah dan menghancurkan hati adikku! Tidak akan pernah, bahkan jika aku harus. Membunuh gadis p*lacur itu,’ Dia menatap dingin. ‘Benar juga, kalau kuhabisi p*lacur itu, Eadric pasti tidak akan bisa menikah dengannya dan pernikahan ini akan dibatalkan. Maka dengan itu, Ethel tidak akan menangis karena patah hati.’ Kathelyne tersenyum. ‘Tentu saja, kenapa aku baru kepikiran sekarang? Membunuh p*lacur lemah sepertinya itu hanyalah sepotong kue bagiku, bahkan bawahanku yang paling lemah bisa menghabisinya dengan cepat. J*lang sialan! Kau akan menerima akibat karena membuat adikku yang cantik itu menangis!!’


~♥~~♥~

__ADS_1


__ADS_2