Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
91. Ilusi Kematian (2)


__ADS_3

‘Eadric?’ Ethelyne memegang kepalanya yang kembali terasa sakit, entah kenapa. Muncul ingatkan hitam putih di pikirannya sekilas. ‘Kenapa nama itu terdengar familier? Apa aku pernah mendengarnya? Tapi di mana?’


“Hah, kau pasti sangat ketakutan kan.” Glory bersedekap dada dengan senyum puas. “Tentu saja, tunanganku itu adalah orang yang paling hebat dan kuat di dunia,” katanya bangga meski keringat dingin tampak bercucuran di wajahnya.


Ethelyne melirik dingin Glory, dia menurunkan kedua tangannya dan menatap gadis itu tajam. “Oh, benarkah?”


Glory yang terintimidasi dengan tatapan itu langsung melangkah mundur dengan raut wajah ketakutan. “Kau, kau mau apa??”


Ethelyne melangkah ke arah Glory dengan langkah pelan. “Menurutmu?” Dia mengangkat sebelah tangannya, entah kenapa. Tiba-tiba muncul sebuah tato teratai di punggung tangannya bersamaan dengan munculnya api gelap yang melayang di telapak tangannya.


“B-bagaimana bisa kau menggunakan sihir gelap?? Jangan-jangan, kau. Kau itu, iblis!!”


“Ah, benarkah?” Ethelyne terus melangkah maju bersamaan dengan langkah Glory yang mundur.


Glory yang merasa tidak aman berbalik dan melarikan diri, Ethelyne yang melihat hal itu mengarahkan api gelap ke arah gadis itu. Namun seseorang sudah lebih dulu menepuk bahunya dan membuatnya tersadar, api gelap di tangannya seketika menghilang bersamaan dengan tato teratai yang memudar.


“Loh, apa yang terjadi?” tanya Ethelyne sambil menatap kanan-kiri. “Erik? Kenapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya menemani Tina.” Dia menatap Erik yang berdiri di belakangnya dan menepuk pundak tadi.


“Ah, kau terlalu lama. Jadi Tina menurutku untuk mengajakmu ke sana, bagaimana sakit kepalamu?”


Ethelyne tersenyum manis. “Aku sudah baik-baik saja, lebih baik kita menemui Tina segera atau dia akan mengomel-ngomel nantinya.” Dia berjalan dan melewati Erik dengan langkah tergesa-gesa. ‘Huh, bikin kaget saja. Tapi kenapa Erik tiba-tiba muncul? Dan kupikir tadi aku sedang duduk deh, aneh sekali. Apa otakku sudah karatan sampai melupakan hal hanya dalam hitungan detik?’


Erik yang ditinggal sendiri masih diam tak bergerak. ‘Apa yang terjadi padanya tadi? Memang, akhir-akhir ini. Lyne jadi aneh, apa Lyne baik-baik saja ya? Apa lebih baik kulaporkan pada Yang Mulia permaisuri?’




“Lyne! Ibu dengar, kau bertemu Glory hari ini. Apa kau baik-baik saja? Dia tidak melukaimu kan? Apa kau merasa sakit?” tanya wanita berambut pirang sambil menatap Ethelyne dengan serius, dia permaisuri kerajaan Gizeweith. Fiona Envuella.



“Ih, ibu! Aku baik-baik saja, lagipula. Aku tidak selemah itu sampai bisa dikalahkan oleh gadis semacam Glory!”



Fiona tampak bernapas lega, dia menuntun agar Ethelyne duduk di sampingnya. “Kau benar-benar membuat ibu khawatir, sayang. Apa kau sungguh baik-baik saja? Jika perlu, ibu akan meminta Sir Leo untuk mengawalmu.”



“Ibu!” rengek Ethelyne. “Lyne tidak suka dikawal, ibu tau kan. Lyne merasa tidak nyaman jiwa diawasi orang lain!”



“Tapi sayang, akan berbahaya jika kau tinggal di luar sendirian. Dan juga, jika bukan karena Erik. Kau pasti tidak akan memberitahu Ibu tentang pertemuanmu dengan Glory kan.”



“Itu hanya masalah sepele, Bu. Untuk apa mengabari ibu?”



“Boho~ anakku melupakan ibunya setelah besar,” kata Fiona sedramatis mungkin.



“Ibu, bukan seperti itu. Tolong berhenti menangis.”


__ADS_1


“Tomat! Kau membuat ibu menangis lagi ya!” Tiba-tiba, seorang pria dengan pakaian khas kerajaan membuka pintu dengan kasar sambil berteriak.



Ethelyne yang melihat hal itu memutar bola matanya malas, pria tampan itu melangkah ke arah Fiona dan memeluknya sambil menatap Ethelyne kesal.



“Kau selalu saja membuat ibu menangis! Kau harus dihukum mati!” kata pria itu ikut mendramatisasi.



“Kakak, berhenti berakting. Ibu juga, sampai kapan kalian ingin mengusiliku sih?”



Pria itu yang tadinya berpura-pura menangis berdecak, dua melepas pelukannya dari Fiona. “Setidaknya ikuti saja dramanya, kau tidak lihat ibu sangat mengkhawatirkanmu.”



Ethelyne menghela napas, dia berjongkok di di hadapan Fiona. “Ibu, ibu tau kan bagaimana sikapku. Aku tidak akan terluka meski tidak ada Erik ataupun Sir Leo di dekatku, lagipula. Aku bisa menjaga diriku sendiri, bu.”



“Gavin, kau lihat kan. Adikmu ini sudah tidak mau mendengarkan kata-kata ibu lagi, dia seharusnya dihukum!” Fiona menatap Pria bernama Gavin Envuella.



“Benar Bu, dia harus dihukum!” kata Gavin mendukung.



Ethelyne menarik napas dalam-dalam, dia menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. “Kalian ini …”




“Ada apa ini?” tanya pria berseragam kesatria itu, keduanya melangkah masuk menghampiri ketiganya.



“Boho~ ayah, Kakak ke1. Kakak ke2 dan Ibu menindasku, Boho~” Ethelyne menghapus air mata buayanya.



Pria itu langsung menatap tajam Gavin yang gelagapan.



“Tidak kak, itu tidak benar. Lyne sedang berpura-pura, ibu dan aku tidak pernah menindasnya.”



“Jadi menurutmu, Lyneku berbohong??” Bukannya mereda, tatapan tajam pria itu justru menatap Gavin seolah siap menebas leher pria itu kapanpun juga.



“T-tidak seperti itu kak, aku. Aku tidak bilang Lyne berbohong,” kata Gavin gelagapan.

__ADS_1



“Lalu?” Pria itu bersedekap dada dengan tatapan tajam yang masih terarah ke Gavin, sementara pria paruh baya itu duduk di samping sang Permaisuri dan mengusap rambut Ethelyne.



“A-aku, maksudnya …” Gavin melirik Ethelyne yang tertawa diam-diam. ‘Lyne sialan!’



“Apa hah?”



“I-itu, semuanya hanya kesalahpahaman. Iya, benar kan. Lyne.” Gavin mengalihkan pandangannya ke Ethelyne, dia menatap memohon gadis itu.



Dengan cekikikan, Ethelyne mengangguk kecil. Dia menutup mulutnya namun masih belum bisa meredakan tawanya saat melihat ekspresi memelas Gavin.



“Begitu ternyata.” Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah keluarganya yang lain. “Omong-omong, tumben sekali kalian semua berkumpul di sini. Ada masalah apa?”



“Bukan masalah serius kok.” Ethelyne berdiri dan mendorong satu kursi mendekat, dus kemudian mendudukkan pria itu.



“Kau tidak perlu melakukan hal itu, bagaimana jika kau terluka?”



“Aku baik-baik sja, lagipula. Aku ini gadis yang hebat kan, aku bahkan--”



“Xander! Pokoknya, Lyne harus dikawal 24 jam!!” kata Fiona hang langsung memotong ucapan Ethelyne.



“Sebenarnya ada apa Bu?”



“Apa kau tidak tau?? Lyne tidak sengaja bertemu Glory siang ini, bagaimana jika gadis itu melukai Lyne?? Ibu tidak akan membiarkannya hidup tenang jika sampai membuat Lyne tersayang terluka bahkan jika hanya lebam saja!”



“Apa?? Lyne, apa kau terluka? Di mana? Apa masih sakit? Apa berdarah?”



Ethelyne yang kembali di bolak-balik hanya menatap jengah. “Aku baik-baik saja, Kak. Aku tidak terluka sama sekali, bahkan sedikitpun tidak.”



“Benar?” Xander menatap penuh penyelidik Ethelyne yang mengangguk, dia menatap fokus mata gadis itu dan berusaha mencari kebohongan namun gagal. “Huh, baiklah kalau kau tidak terluka. Tapi Sir Leo dan Sir Rey akan melindungimu 24 jam, Kakak akan segera mengirim mereka kemari.”

__ADS_1



“Ihh! Tidak perlu~ Lyne bisa menjaga diri sendiri!”


__ADS_2